
"Aku akan mengadukan Mu kepada Nenek," ancam Pras
Emir yang baru saja melangkah kembali berballik dan menatap tajam pria muda yang tersenyum remeh di depannya itu, tatapan itu sungguh sangat Emir benci.
"kau tidak akan bisa menang dariku kak," ucap Pras dengan entengnya yang langsung menyulut emosi di hati dan wajah Emir, anak muda itu mengancamnya.
"Apa maumu? kau ingin Perusahaan?'
"Kau akan tau nanti, tapi sepertinya perusahaan bukan hal yang begitu mengkhawatirkan, karena kau lebih tertarik dengan istrimu,"
Pernyataan Pras itu membuat Emir terkekeh, "Hahaha, apa kau sampai kehabisan stok wanita hingga kau menyukai istriku? atau jangan-jangan kau memiliki penyakit?''
"entahlah kak, tapi melihat wajah cantik kakak ipar sepertinya aku jatuh cinta, aku penasaran dengan dirinya, dan aku akan membahagiakannya karena aku tau kau telah menyia-nyiakan wanita secantik dia."
"Jangan coba mendekati istriku atau kau akan menyesal,"
"Apa kau pikir aku takut, tidak!!!" sahut Pras terkekeh. "Aku menyukai Mutiara, dia sangat berbeda dan kali ini aku serius."
"Kau!!!"
"Hahahah kau takut?"
"Tidak, dan aku yakin istriku tidak akan tergoda dengan pria seperti mu."
"Ok, kita buktikan, tapi jika aku berhasil membuatnya jatuh cinta kau harus berjanji akan melepaskan dia untukku,"
"Itu hanya ada dalam mimpimu," sahut Emir, lalu dia melangkah pergi.
**
Seperti yang di katakan oleh Pras, dia memang jatuh cinta pada wanita galak itu.
Pras membeli buket bunga dan mengirimkan nya pada Mutiara, tak lupa ungkapan cinta yang manis menggoda.
Tak hanya itu, dia sengaja mencari tau asal usul Mutiara, sengaja ingin mengenalnya lebih jauh. Dan alangkah terkejutnya Pras saat tahu gadis galak itu belum pernah memiliki kekasih.
Sementara di dalam ruangannya, Emir menjadi tidak fokus, pikirannya terganggu dengan ucapan Pras tadi yang secara terang-terangan mengajaknya berperang.
Kesal berpikir sendiri dan tak menemukan jawaban pria itu segera menghubungi istrinya, "aku tunggu di kafe senja, jam 12, jangan telat."
Mutiara sedikit terkejut mendapat pesan dari suaminya itu, ini pertama' kalinya Emir mengajaknya bertemu dan makan siang bersama, setelah mereka resmi menikah. "Ada apa?" sebuah pertanyaan yang tak mampu dia jawab muncul di kepalanya.
Setelah menimbang akhirnya mutiara memutuskan untuk pergi menemui suaminya. Dengan menggunakan taksi, dia sampai di kafe yang di sebutkan Emir dan melangkah masuk ke dalam.
Tak sulit menemukan Emir, karena pria itu sudah berpesan pada resepsionis sebelumnya.
Dan disinilah mereka sekarang, duduk berdua di sebuah ruang VVIP, yang sunyi. Tak seorang pun yang coba untuk memulai pembicaraan.
Lima menit diam membisu Mutiara menyerah, gadis itu memutuskan untuk bicara lebih dulu, "Ada apa kamu mengajak ku bertemu?"
"Kenapa? tidak boleh!" sahut Emir marah dengan pertanyaan Mutiara yang menurutnya terlalu to the point.
"Jika kau mengajak ku bertemu untuk saling diam, di rumah juga bisa, atau kau hanya ingin mengerjai ku? Jika iya, kau sudah berhasil dan aku akan pergi."
"Apa aku sudah mwngijinkan kau pergi?"
Mutiara menatap kesal, Emir terkekeh merasa menang karena telah berhasil membuatnya kesal, "Seorang istri harus patuh pada perintah suaminya," lanjut pria itu
"Apa maumu!"
"Tidak ada, "
"lalu ini apa?"
"Aku hanya ingin makan siang."
"Aku tidak lapar, kau makanlah."
"Bagaimana jika aku memakan'mu?"
Mata mutiara membola mendengar ucapan suaminya itu,