Sebatas Nikah Kontrak

Sebatas Nikah Kontrak
AKu takut


to...tolong..." terdengar suara rintihan dari dalam, membuat Emir sedikit panik dan segera melangkah masuk ke dalam dengan senter hape, berjalan cepat menuju kamar Mutiara.


Kosong, mutiara tidak ada disana, timbul rasa cemas di hati pria itu, dimana keberadaan mutiara, dan apa yang terjadi padanya.


"Ara...kamu dimana? Ara..." panggil Emir dengan suara sedikit kuat,


"A..aku disini, tolong, aku takut." ucapnya terisak.


Emir segera mencari sumber suara , ditemani temaram lampu senter ponsel di tangannya. Akhirnya Emir berhasil menemukan nya. Gadis itu duduk meringkuk di depan tangga. Kedua tangannya diletakkan di kepala untuk menutupi dirinya yang ketakutan.


"Ara..." Emir mendekat dan memegang pundak wanita itu.


Mutiara berjingkat kaget dia semakin meringkuk dalam, menyembunyikan wajahnya dari cahaya yang menyenter dirinya.


"Aaaaa..."


"Tenanglah, ini aku Emir."


Ara mengangkat kepalanya dan langsung memeluk Emir begitu dia mengetahui jika pria di depannya itu adalah suaminya.


'Emiiir..."


Tak ada rasa sungkan yang ada dia memeluk erat dan sangat erat pria yang berjongkok di hadapannya itu.


"a..aku takut..." bisiknya di sela tangisan.


"Ayo..." setelah melihat sang gadis lebih tenang, Emir membawanya duduk di sofa. "kamu duduk disini, saya mau cari lampu,"


Seketika mutiara mengeratkan pelukannya, dia tidak mau melepaskan Emir, rasa takut membuatnya lupa jika pria di depannya ini adalah musuhnya.


"sebentar saja,"


"tidak, aku takut, jangan tinggalkan aku,"


Emir mendesah, "baiklah ayo." ucapnya setelah beberapa kali menghembuskan napas.


Emir dan Mutia berjalan bersisian. Mutia mencengkeram erat lengan Emir, sepertinya dia sangat takut berjauhan dengan pria itu, Emir terus berjalan menuju dapur dan mencari lilin.


Dia menyalakannya kemudian. seketika seluruh ruangan menjadi lebih terang.


"sudah, tenanglah sekarang sudah terang bukan?" ucap Emir,.gadis itu mengangguk namun tangannya masih enggan terlepas, masih kuat mencengkram lengan kekar di sebelah nya.


"Kamu duduklah disini, aku akan mengambil kan mu minum,"


"tidak, jangan tinggalkan aku, aku ikut!" ucapnya lagi semakin mengeratkan pelukannya.


Emir mendesah dengan napas berat, dia membenci situasi sekarang ini. Bagaimanapun posisi mereka saat ini begitu dekat, dan dia adalah lelaki normal.


"Bisa jauh sedikit nggak?"


"Enggak, nanti kamu pergi ninggalin aku,"


"Enggak, aku janji tapi jangan nempel-nempel." dengus Emir yang kembali bersikap ketus.


"Tidak," sahutnya ngotot.


Meski Emir memarahinya, gadis itu tetap ngotot tak mau melepas kan pria itu. Akhirnya Emir mengalah dan mereka berjalan bersisian. Dengan tangan Emir yang masih di genggam kuat oleh Mutiara.


"Sejak kapan lampunya mati?"


"Sejak tadi," sahut Mutia pelan


"Aku mau cek dulu,"


"Aku akan melihatnya, kau disini saja," bentak Emir


"Tapi..."


Emir menatap kesal dengan adanya Mutia di sini bukan semakin mempercepat malah semakin memperlambat dirinya untuk menyalakan lampunya.


"Kamu bisa dengar aku kan?"


"Iya, tapi..."


"Atau kamu aja yang memanjat? biar aku tunggu di bawah"


"Mana aku tau!"


"Makanya jangan gangu aku, udah kamu diam disini, pegangin nih tangganya, Ok!"


"Iy,.. iya... cerewet."


"Maaf,"


"Argh.... sudahlah, buruan."


Gadis itu membuat Emir geleng kepala, sayangnya dia juga justru terlihat sangat imut.


Baru saja Emir menaiki kursi untuk memeriksa, lampunya menyala pria itu terkejut, tangga bergoyang dan terjatuh menimpa tepat pada tubuh Mutiara, dan akhirnya mereka berdua terguling ke bawah bersama.


Emir berada di atas Mutiara dalam posisi yang cukup intim, tak ada jarak diantara mereka, bahkan deru napas Emir hangat menerpa pipi gadis itu.


Beberapa saat kedua nya terdiam, dengan tatapan dalam, Emir melihat mata bening Mutia yang menatapnya tanpa kedip, Emir juga menatap dalam dan coba menyelami hati gadis itu.


"Eh.. minggir"


Mutiara yang lebih dulu tersadar dan meminta Emir bangun, dia juga mendorong dada Emir.


Emir tak bergeming, ada sesuatu yang menarik dirinya untuk berlama-lama dalam posisi intim ini, bahkan Emir tak berniat untuk bangun.


"Emir.."


"Apa? bukankah kau menyukainya?"


"Apa?'"


"Kau menginginkan ini kan?"


Mata mutiara melotot, "Awa.."


Cup...


bibir Emir mendarat tanpa permisi, mendarat tepat di bibir gadis itu, sontak saja mata mutiara membola, dia terkejut dengan tindakan Emir yang tiba-tiba. Beberapa detik pikirannya kosong, dan gadis melayang.


Saat kesadarannya tiba, dia mendorong keras Emir hingga pria itu jatuh terjengkang ke belakang. Diiringi bogem mentah yang sukses mendarat di pipi kanannya.


"Kau..." geram Emir


bukannya berterima kasih malah mendorong dan memukul dirinya hingga jatuh.


Mutiara tak menjawab dia berlari menuju kamarnya. Membanting pintu dengan keras dan mengusap bibirnya kasar.


Kecupan itu masih sangat jelas terasa, mutiara tidak terima dan mencuci bibitnya berulangkali di wastafel.


Sementara Emir juga tersadar sesuatu, dia tidak menyangka akan berbuat seperti itu pada gadis yang kini berstatus istri nya itu.


Emir sendiri tak.habis pikir, bagaimana bisa dia terbawa suasana dan malah mencium istrinya, padahal dia jelas jelas memiliki kekasih yang sangat dia cintai.


Emir bangun dan berjalan ke belakang, mencuci tangan dan mengembalikan tangga ke tempatnya.


Dia melirik jam yang ada di ruang tamu sudah menunjukkan pukul dua lewat, Emir bangkit dan memutuskan untuk tidur.


Di dalam kamar, Emir masih belum bisa memejamkan matanya, bayangan wajah mutiara kembali muncul dan menari di pelupuk matanya.


Tanpa sadar dia mengusap pipinya , bekas pukulan mutiara. "sial kenapa masih sakit, kuat juga gadis itu, aku rasa dia pernah ikut bela diri sbelumnya.


Auw... Emir mengusap rahangnya berulangkali.


Tak hanya Emir yang tidak bisa tidur, Mutiara juga sama, yang ada gadis itu berguling diatas ranjangnya, kiri dan kanan.


Entahlah rasa itu masih begitu jelas terasa basah dan hangat, tubuh mutiara bergidik ngeri.


Diambilnya selimut dan dia menutupi seluruh tubuhnya, dari atas sampai ke bawah berharap dengan begitu bisa menghilangkan pikirkan tentang ciuman otu.


Emir sendiri tak.habis pikir, bagaimana bisa dia terbawa suasana dan malah mencium istrinya, padahal dia jelas jelas memiliki kekasih yang sangat dia cintai.


Emir bangun dan berjalan ke belakang, mencuci tangan dan mengembalikan tangga ke tempatnya.


Dia melirik jam yang ada di ruang tamu sudah menunjukkan pukul dua lewat, Emir bangkit dan memutuskan untuk tidur.


Di dalam kamar, Emir masih belum bisa memejamkan matanya, bayangan wajah mutiara kembali muncul dan menari di pelupuk matanya.


Tanpa sadar dia mengusap pipinya , bekas pukulan mutiara. "sial kenapa masih sakit, kuat juga gadis itu, aku rasa dia pernah ikut bela diri sbelumnya.


Auw... Emir mengusap rahangnya berulangkali.


Tak hanya Emir yang tidak bisa tidur, Mutiara juga sama, yang ada gadis itu berguling diatas ranjangnya, kiri dan kanan.


Entahlah rasa itu masih begitu jelas terasa basah dan hangat, tubuh mutiara jadi bergidik ngeri.


Diambilnya selimut dan dia menutupi seluruh tubuhnya, dari atas sampai ke bawah berharap dengan begitu bisa menghilangkan pikiran tentang ciuman itu.