
Selesai masak, Mutia mengambil piring dan meletakkannya diatas meja, mengambil air minum dan mulai makan.
Baru dua suap yang masuk ke dalam mulutnya, pintu terbuka dengan jelas suaranya terdengar.
"Pasti dia pulang. Biarkan saja." ucap nya dan terus menikmati makanannya.
"Mir...Em..Ir." panggilan itu terhenti saat dia melihat seorang perempuan tengah duduk makan di dapur Emir.
Tak jauh beda Mutia juga terkejut mendengar seseorang memanggil nama suaminya, itu artinya pria yang masuk ke dalam rumahnya bukanlah suaminya, jadi Siapa dia?'
Muncul pertanyaan, "Siapa gadis itu? dan apa hubungannya dengan Emir?"
"Siapa kau?" tanya pria itu dengan wajah galaknya, pria itu memindai Mutia dari atas sampai bawah.
Mutia menoleh, memandang wajah pria itu yang tak jauh beda dengan wajah suaminya.
Tak berniat menjawab, Mutia malah asyik menikmati makan malamnya.
'Tambah lagi pria nyebelin, apa ini kembaran emir?' tanyanya dalam hati, namun enggan untuk bertanya langsung.
Merasa dicuekin, Pria itu duduk di depan Mutia, menatap gadis itu dengan tatapan penuh tanya.
Aneh kenapa Mutia bersikap seolah tidak melihatnya, karena penasaran pria itu lebih dulu angkat bicara,
"Hei siapa kamu?"
Hening karena Mutia tak berniat meladeninya Gadis itu seakan tidak terusik dengan kehadirannya Membuat Pras jadi emosi,
"Siapa kau!!! tanya Pras, kali ini dengan nada lebih tinggi. sengaja memprovokasi Mutia agar-agar itu takut.
Mutia menilh sekilas, lalu kembali menyuapkan makanan je mulutnya, "Aku.. aku pemilik rumah ini," jawabnya santai.
"Harusnya aku yang bertanya siapa kamu? berani masuk rumah orang sembarangan, kamu maling?"
"Kau pemilik rumah ini, mimpi!" ejek pria muda itu yang bernama Prasetya. Bahkan dia sengaja terkekeh memancing emosi Mutiara.
Pras adalah adik sepupu Emir yang merupakan anak dari pamannya yang bernama Dirga.
"Ya sudah kalau kau rak percaya,"
"Tunggu, apa kau pembantu Emir!"
"Aku istrinya, puas;" sahut Mutia membalas tatapan tajam Pras, gadis itu tak mau terlihat kalah, meski di dalam hatinya sedikit takut.
"Bohong, kau pasti telah berbohong, katakan siapa kau sebelum aku mengusir mu." ancamnya.
"Kau mengusir ku?" silahkan jika kau bisa?" ejek Mutia, Setelah itu Mutia berdiri membawa piringnya ke westafel lalu mencucinya
"Cih, gadis tak tau malu," sungut Pras yang masih terdengar jelas oleh Mutia, namun dia tidak membalas
Merasa dicuekin, Pras berbalik dan duduk di sofa.
Tak hanya itu, Pria itu sengaja menghidupkan televisi dengan suara yang lumayan kencang. Lalu
berjalan ke dapur mengambil cemilan dan duduk, makan sambil nonton televisi.
'Bagaimana bisa dia santai itu padahal dia tidak mengenalku bukannya takut atau apa dia justru santai mengusirku, keren!' batin Prasetya, memuji Mutiara di dalam hatinya,
aku jadi penasaran dimana si cunguk mendapat kan gadis sw keren itu, hahahha..." Pras tersenyum sendiri. Dia juga yakin jika Emir pasti kesulitan seperti nya dalam menghadapi Mutiara.
Mendengar suara televisi yang begitu bising, Mutia mendatangi pria itu, "Tolong pelan kan, aku tidak bisa istirahat."
"Siapa kau mengaturku!"
"Aku pemilik rumah ini,"
"Bagus lah tolong ambilkan aku juice, aku sedikit haus." ucap Pras tidak terkejut dan memerintah dengan gaya pongah.
"Kau bisa mengambil nya sendiri," dengus Mutiara lalu pergi.
'Benar kata nenek, dia gadis yang tak mudah di tindas, gadis tegas dan berprinsip, beda dengan gadis-gadis yang pernah dekat dengan Emir
Pilihan nenek memang sangat keren, aku yakin hidup Emir akan berubah setelah bergaul dengan istrinya.
"Mana juice nya?" tanya Pras setengah berteriak, Karena juice yang dia nanti tak kunjung datang dan si gadis terlihat duduk diam tak bergerak.
Pras tak bisa menyamar lebih lama, dia begitu gemes dengan Mutiara. Tak hanya cantik, tapi dia gadis yang berpendirian.
'Apa kabar Kakak Ipar, kenalkan aku Prasetyo, adik sepupu suamimu." ucap pria itu dengan senyum ramah, berbanding terbalik dengan gayanya tadi,
"Jadi, tadi ..." tanya Mutia kaget namun dia tak mau kalah, gadis itu melempar kan bantal kursi kepadanya.
"Aku suka padamu kak, Good girl."
"Kau berpura pura, Cih nggak lucu." ucap gadis itu marah
"Maaf kak, kenalkan namaku Prasetya dan senang berkenalan dengan kakak."
"Darimana kau tau aku istrinya Emir,"
"Dari nenek, dan nenek yang meminta ku datang kesini."
"Mau ngapaian? memata matai aku?"
"Tidak ada yang istimewa, nenek ingin memastikan kalian hidup bersama dan bahagia." sahut Pras.
Mutia membolakan matanya ,lalu menghela napas berat, "Aku, mana mungkin bisa." sahut mutiara
"Eh, enggak apa-apa, kalau kau masih mau disini menunggu kakakmu terserah tapi aku, aku mau istirahat.Bye..." sahut Mutiara berdiri siap melangkah menuju kamarnya.
"Oh ya, jika kau pergi nanti jangan lupa untuk mengunci kembali pintunya," jelas mutiara
Dia masuk ke dalam kamar dan bersiap untuk tidur.
**
Baru saja gadis itu memejamkan matanya, terdengar ketukan di balik pintu kamar. Awalnya dia berpura-pura tidak mendengar namun ketukan itu semakin keras tersebut, mau tak mau di a harus bangkit dan membuka pintunya.
"A.." Ucapan nya terhenti kala melihat pria yang berdiri di depannya ini bukanlah pria yang dia pikirkan. Karena sempat tersirat di kepalanya jika yang mengetuk pintu adalah suaminya yang baru pulang kerja.
"Mau apa lagi?" tanya Mutia dengan tatapan dingin
"Kakak ipar, kok gitu sih, Aku cuma pamit pulang, oh ya sampai kan salam ku pada suami mu, bye."
Setelah bicara pria itu pun berlalu pergi meninggalkan Mutia dengan perasaan mendongkol.
"Berpamitan? dia menggangu tidurku hanya dengan alasan tidak masuk akal ini!' omelnya dalam hati.
Namun gadis itu tak bisa berkata apapun lagi.
Dia juga berbalik dan siap masuk ke dalam kamar. Baru saja gadis itu berbaring, kembali ada suara yang menggangu nya,
"Apa lagi..." ketus Mutiara sambil buka pintu.
"Siapa yang datang bertamu ke rumah ku? Berani sekali kau membawa laki-laki lain, selama aku tidak ada dirumah." ucapnya tajam.setajam pisau.
"Tamu?"
"Iya, apa kau membawa kekasih mu kesini?" lagi Emir bertanya dengan penuh emosi
"Tunggu dulu tuan sombong. Siapa yang kau maksud?"aku?" tunjuknya pada dirinya sendiri.
"Aku membawa laki-laki lain ke dalam rumah ini? cih...tidak masuk akal," omelnya.
*Itu buktinya" bentak Emir
"Kau salah justru aku yang ingin bertanya kepadamu, bagaimana orang lain bisa tahu password rumahmu sehingga dia dengan mudah masuk ke dalamnya."
"Siapa yang kamu maksud?"
"Pria bernama Prasetya. Dia bisa seenaknya masuk dan keluar dari rumah ini. seharusnya kau menghargai aku sebagai istrimu walau status kita hanya nikah kontrak dan di atas kertas tapi kau harus bisa menghargai privasi ku, tuan"
"maksudnya pras datang ke sini?" tanya Emir tak mempedulikan kemarahan Mutiara
"Iya dan dia menunggu mu,"
"Sekarang mana dia katakan dimana dia? Kenapa kau tidak memberitahuku?"
"sudah pergi." jawab Mutia singkat.
kemudian Gadis itu berbalik bersiap kembali masuk ke dalam kamarnya namun tidak puas dengan jawaban mutia, dia ingin meminta penjelasan Kenapa dan apa yang dilakukan oleh sepupunya di rumahnya.
"Tunggu!* pria itu menarik lengan istrinya agar kembali menghadapnya, "katakan apa yang pria itu lakukan di rumah ini?"
"Apa, Ya seperti yang biasa mungkin dia lakukan, datang, duduk layaknya pemilik rumah kemudian dia pergi karena mungkin kamu terlalu lama."
"hanya itu?"
" lalu kamu pikir apa lagi?" tanya Mutia dengan sedikit menaikkan nada suaranya.
Emir tersadar, "tidak ada," jawab nya lalu diam.
Mutiara berbalik dan kali ini melangkah secepatnya, naik ke atas menuju kamarnya Gadis itu sangat kesal dengan ucapan Emir barusan.
"Emangnya apa yang aku lakukan dengan sepupunya itu? apa dia pikir aku perempuan murahan? Dasar! dia yang berbuat jahat, dia yang menuduhku. Padahal dia yang memiliki kekasih. Kenapa dia menuduh aku yang selingkuh? lagi pula itu kan bukan urusannya, aku mau berteman dengan siapa, mau jalan dengan siapa, kenapa sekarang dia marah." omel mutiara di dalam hatinya.
Sementara Emir terdiam di tempatnya, sedikit bingung dengan sikap istrinya jelas terlihat jika mutiara itu marah.
"Kenapa aku harus marah? dan kenapa dia juga marah? AKu kan cuma tanya, apa yang dilakukan Pras di sini. dia kan tinggal jawab saja tanpa harus marah padaku." ucap Pras
Setelah berdiri beberapa saat dan merenung akhirnya Pras pun berjalan menuju kamarnya, tubuh lelahnya meminta untuk segera beristirahat.
Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 malam namun Emir belum bisa memicingkan matanya.
Perutnya terasa lapar. Tadi malam dia tidak makan malam, karena masih merasa sedikit kenyang.
Padahal dia makan jam 04.00 sore tadi, dan sekarang perutnya meronta minta diisi.
Pria itu berjalan menuju dapur mencari sesuatu yang bisa dimakan, siapa tau masih ada sisa makanan yang dimasak Mutiara.
Sayangnya dia tidak menemukan apapun di sana, hanya bahan makanan mentah yang ada di dalam kulkas.
Emir duduk sambil memegangi perutnya, tak kuat nahan lapar pria itu pun mengambil mie instan kemudian mulai memasaknya.
satu piring mie instan telah tersaji dan dengan lahap dia memakannya. selesai makan dia pun kembali ke atas untuk beristirahat.
Tepat jam 03.00 pagi perutnya terasa pedih teriris, pria itu pun bangun dan berusaha mencari obat lambung yang ada di dalam kamarnya sayangnya dia tidak menemukan obat itu setelah beberapa kali mencari.
Emir berjalan keluar kamar mencari obat tersebut di dalam tasnya barangkali masih ada tersisa di sana. perutnya yang sakit membuat langkahnya terhuyung, dan brugh....
Emir terjatuh pingsan.