Sebatas Nikah Kontrak

Sebatas Nikah Kontrak
Sombong


Sebuah mobil berhenti tepat di samping Mutia berdiri dan pria itu kemudian menurunkan kaca mobilnya "Yuk, sekalian." ajaknya dengan ramah.


"Tidak, terima kasih. Aku akan menunggu angkutan umum saja lagi pula aku sudah memesan ojek." bohong gadis itu.


Pria itu terkekeh "sudah tidak usah bohong, aku tahu tidak ada angkutan yang akan lewat sini. Buruan daripada kamu aku skors karena terlambat sampai di kafe." ucapnya membuka pintu.


Mutia berpikir sejenak lalu memilih setuju, karena memang sangat sulit mencari kendaraan di daerah ini. Pria muda itu tersenyum, "Apa kau tinggal di sekitar sini?" tanyanya ramah.


'Sudah ku duga pria ini pasti ada maunya, ternyata dugaan ku benar, dia mau mencari tau tentang ku? tapi untuk apa dia menyelidiki ku? huh!' ucapnya dalam hati


"Iya Pak." sahut Mutia


"Kebetulan sekali saya juga tinggal di gedung itu, tepatnya dilantai lima apartemen, kamar nomor 100" jelas Faisal


Mutia tidak menjawab lagi, dia hanya tersenyum tipis.


"Oh ya kita belum sempat kenalan nama saya adalah Faisal dan Saya adalah Bos kamu di cafe, tapi itu bukan kafe saya. Saya hanya bertugas mengelolanya saja." bohong Faisal lagi. Melihat wajah tak nyaman Mutia karena dia menyebutkan dirinya bos di perusahaan.


'Sepertinya gadis ini anti sekali dengan orang-orang kaya, maaf kan aku jika aku harus berbohong agar bisa mendekatinya.Nanti setelah dia jatuh cinta padaku baru aku akan mengatakan yang sebenarnya. Sungguh gadis yang menarik dan aku semakin penasaran dengannya'


"Siapa nama kamu?" tanya Faisal lagi yang coba bersikap ramah.


"Mutiara Pak,"


"Nama yang bagus.Boleh kita berkenalan lebih jauh, maksud saya berteman begitu,"


"Maaf Pak, sepertinya kurang pas, saya hanyalah bawahan di kantor Bapak, bagiamana mungkin seorang bawahan berteman dekat dengan bos,"


"Loh kenapa?"


"Saya hanya karyawan biasa pak, saya enggak mau ada rumor tak sedap antara bapak dengan saya nantinya."


"Tidak, saya murni ingin berteman dengan kamu tanpa ada alasan lain, dan jika kamu kurang nyaman jika kita terlihat akrab di kantor tak masalah kita bisa berteman di luar kantor toh kita searah bukan."


"Tapi Pak, saya tetap tidak bisa, Maaf"


"Nggak ada alasan Tia, saya suka sama kinerja kamu dan cara kamu menaklukkan pelanggan kemaren. Saya senang sekali karena kamu bisa membuktikan jika kamu tidak bersalah."


"Saya minta maaf untuk masalah itu Pak, saya janji kejadian seperti itu enggak akan terulang lagi."


"Loh saya justru bangga loh sama kamu, kamu itu keren."


"Stop Pak, saya turun disini saja." ucap gadis itu yang minta turun di jalan tidak jauh dari kafe tersebut."


"Kenapa?" lagi Faisal terkejut tapi dia memilih menuruti kemauan gadis itu. Faisal menepi dan mematikan kendaraannya.


"Saya enggak mau jati fitnah pak, terima kasih tumpangan nya."


Mutia segera turun dan berjalan kaki, Faisal hanya menatapnya sambil tersenyum hangat.


"Gadis yang Luarbiasa, kamu tau semakin kau jual mahal semakin aku menyukaimu." ucap Faisal yang langsung melajukan mobilnya ke kantor, dia tidak jadi ke kafe.


**


"Hai Tia," sapa Rini


"Hai Rin,"


"Kamu kelihatannya lagi kesal, kenapa?"


"Eh enggak.ada, " sahut Mutia terus berjalan masuk


"Tunggu, kamu kurang tidur, tuh mata kamu berkantung, hitam lagi" ucapnya memperhatikan wajah Mutia


"Eh, ini aku tadi malam begadang nonton bola."


"Kamu suka bola?" tanya Rini geleng kepala


"Iya, kenapa enggak boleh?"


Beberapa menit kemudian mereka keluar ruangan dengan seragam kerja lengkap.


"Pelayan," terdengar suara seseorang memanggil


Mutia mengambil daftar menu dan berjalan menuju meja tersebut, dia terkejut melihat Pras duduk disana.


"Mau pesan apa?" tanyanya coba bersikap profesional.


"Kakak, itu beneran kamu?" bukannya memesan Pras justru mempertanyakan Mutia.


"Iya ini aku, ada yang salah?" tanya Mutia ketus


Pras menatap tak percaya, "sulit di mengerti," gumannya pelan


"Tidak ada yang harus dimengerti, kamu mau pesan atau tidak?"


"Aku,.. mau kopi."


"Itu saja?"


"Iya,"


"Tunggu sebentar." ucap Mutia kemudian berlalu dari hadapan pria itu.


"Gadis yang aneh, dia istri dari seorang miliarder tapi memilih menjadi seorang pelayan, apa nenek mengetahui ini? Sebenarnya bagiamana rumah tangga mereka? Aku tidak menyangka kak Emir sekejam itu pada istrinya." guman pria itu.


Tapi aku juga enggak boleh gegabah, aku akan menyelidikinya dulu dan nanti jika dugaanku benar, aku akan melaporkan nya pada nenek, ini pasti akan sangat menyenangkan.


**


Emir sudah berada di dalam mobil, namun dia teringat akan berkasnya yang masih tertinggal di ruang kerja, mau tak mau di kembali ke rumah karena itu berkas penting untuk rapat pagi ini.


Emir berjalan menuruni tangga keluar dari kamarnya, dia ingin segera keluar namun perutnya terasa pedih, Penyakitnya kambuh lagi di tambah Emir belum sarapan pagi. Emir memegangi perutnya yang terasa sangat sakit.


Baru saja dia ingin menghubungi Pras, Pria itu teringat sesuatu. Tadi pagi istrinya memasak bubur untuknya. Sebuah harapan muncul dan Emir berjalan ke dapur berharap Mutia belum membuangnya.


Senyum tipis terbit saat melihat bubur tersebut ada, di dalam penghangat makanan. Hangat dan tampak menyelerakan sama seperti semalam. Tanpa pikir panjang, Emir langsung mengambilnya dan memakannya hingga habis. Setelah itu dia pun berangkat bekerja.


Tak butuh waktu Lama, Emir tiba di kantor. Emir berjalan santai memasuki kantor, perutnya tak lagi sakit, setelah memakan bubur dia memakan obat yang di berikan dokter. Baru saja dia berada di lobi dia bertemu dengan Pras.


"Kak, tunggu."


Pras setengah berlari menuju Emir yang berhenti, "Ada apa?" tanya pria itu ketus.


"Ada yang ingin aku bicarakan"


"Aku tidak punya waktu main-main denganmu." tolak Emir


"Ini tentang istrimu,"


"Sudah ku duga, apa yang ingin kau ketahui?" ejek Emir


"Apa kau tau istrimu bekerja?"


"Iya,"


"Dan kau mengijinkannya?"


"Iya, lagipula apa urusannya denganmu."


"Kau tau apa pekerjaannya?"


"Tidak, dan aku tidak tertarik untuk mencari tau, sudahlah kau hanya membuang-buang waktuku saja. Minggir." ucap Emir dengan sombongnya.


Pria itu melangkah masuk ke dalam meninggalkan Pras yang berdiri melihatnya sambil geleng kepala.


"Dasar pria bodoh" ucap Pras tersenyum miring.