Sebatas Nikah Kontrak

Sebatas Nikah Kontrak
d


Dimadu


Ibu Neneng yang merupakan ibu kandung Nayla hari ini berencana akan menjenguk putrinya. Semalam setelah dia mendapat kabar dari Nayla bahwa Nayla sedang mengandung anaknya, bu Neneng tidak bisa tidur. Dia ingin sekali bertemu putri satu-satunya itu sehingga pagi-pagi sekali bu Neneng sudah bersiap-siap pergi ke rumah Nayla.


Setelah hampir satu jam perjalanan dengan naik angkutan umum, bu Neneng pun sampai di rumah putrinya. Hari ini hari Minggu dan bu Neneng libur membuat makanan yang biasa dititip ke sekolah-sekolah sehingga bu Neneng berencana berlama-lama ngobrol di rumah putrinya.


Sampai di depan pintu rumah Nayla terlihat suasana rumah masih sangat sunyi. Bu Neneng langsung memijit bel yang ada di dekat pintu.


“Assalamualaikum...” Tidak lama kemudian pintu pun terbuka yang dibuka oleh Reza sendiri.


“Waalaikumsalam...” jawab Reza langsung menyelam tangan ibu mertuanya itu.


“Kenapa Ibu nggak ngasih kabar kalau mau datang. Kalau Ibu rencana kemari kan bisa Reza jemput jadi Ibu nggak perlu repot-repot naik angkutan umum.”


“Nggak apa-apa nak Reza. Ibu udah biasa kok naik angkutan umum.”


“Mari Bu, silakan masuk. Nayla masih di dapur sedang memasak.”


Bu Neneng langsung masuk ke dalam rumah. Dia tampak senang melihat menantunya yang begitu ramah.


Begitu sampai dapur dilihat Nayla sedang menyiangi sayur daun singkong yang akan dimasaknya. Begitu melihat wajah ibunya, Nayla langsung terkejut.


“Ibu....” ucap Nayla dan langsung berlari memeluk ibunya.


“Ibu sehat kan?” tanya Nayla.


“Alhamdulillah ibu sehat Nak. Kamu sendiri gimana?” tanya bu Neneng sambil mengelus kepala putrinya.


Nayla menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


“Ibu senang melihat kamu sehat dan bahagia seperti ini.”


“Nayla juga senang melihat Ibu sehat dan bisa datang ke rumah kami.”


Bu Neneng yang melihat kedekatan Reza dan Nayla merasa sangat bahagia karena di awal pernikahan bu Neneng tau bagaimana Reza tidak menyukai Nayla. Bu Neneng sempat khawatir kalau nantinya Reza tidak dapat mencintainya. Ternyata kekhawatiran bu Neneng selama ini tidak terbukti karena bu Neneng sudah melihat sendiri bagaimana Reza memperlakukan Nayla dengan baik.


Seperti pagi ini Reza dengan setia menemani Nayla memasak di dapur. Bahkan Reza juga ikut membantu istrinya memasak. Hal inilah yang membuat bu Neneng merasa sangat senang.


“Ibu, silakan duduk dulu di ruang tengah. Nayla, kamu temani ibu ngobrol di ruang tengah ya biar aku yang menyelesaikan masakkannya,” pinta Reza pada istrinya.


“Memangnya Mas bisa?” tanya Nayla tidak percaya.


“Kamu nggak yakinkan aku bisa memasak?” tanya Reza sambil tersenyum.


“Mana mungkin Mas bisa memasak sementara mas aja dari dulu nggak pernah masak. Yang masak selalu bi Ijah,” ucap Nayla ikut tertawa.


“Kalau kamu nggak percaya, nanti aku buktikan ya. Tapi kalau aku bisa memasak, awas kamu,” ucap Reza sambil tertawa.


“Iya...” tantang Nayla.


Keduanya terlihat sangat mesra membuat bu Neneng hanya senyum-senyum sendiri. Bu Neneng yang malu melihat kemesraan menantu dan putrinya pura-pura tidak melihatnya. Dia melihat ke arah lain karena bu Neneng sebenanrnya merasa malu apalagi saat Reza selalu menunjukkan kemesraannya di depan ibu mertuanya. Reza sesekali mengelus pipi Nayla mesra membuat bu Neneng malu sendiri melihatnya.


Setelah Reza meminta Nayla untuk menemani bu Neneng di ruang tengah akhirnya Reza masak sendiri di dapur.


Nayla langsung melepaskan rasa kangennya pada ibunya. Keduanya pun ngobrol sangat asik di ruang tengah.


Tiba-tiba Vera keluar dari kamarnya dalam keadaan sudah rapi seperti akan pergi. Dia langsung menemui Reza yang sedang memasak di dapur.


“Reza, aku pergi dulu ya,” ucap Vera.


“Tapi ini hari Minggu, bukankah salon tutup kalau hari Minggu?” tanya Reza.


“Aku ada urusan dengan teman aku,” ucap Vera sambil berlalu pergi dari pintu samping.


Reza yang tidak mau ribut dengan Vera karena sedang ada ibu mertuanya di rumahnya akhirnya membiarkan Vera pergi tanpa banyak pertanyaan.


“Siapa wanita itu Nayla?” tanya bu Neneng sambil melihat ke arah pintu samping.


Saat Nayla menoleh ke pintu samping tidak ada terlihat seorang pun kaluar dari sana.


“Wanita yang mana Bu?” tanya Nayla.


“Tadi ada wanita cantik yang berjalan dari arah dapur dan kemudian keluar dari pintu samping.”


Nayla berpikir sesaat dan kemudian dia baru ingat kalau di rumah ini hanya ada dua orang wanita yaitu dirinya dan Vera.


“Maksud Ibu, Vera?” tanya Nayla lagi.


“Siapa Vera itu?” tanya bu Neneng lagi.


Nayla diam sesaat karena dia bingung harus menjawab apa pada ibunya.


“Vera itu siapa Nayla, apa familinya Reza?”


Nayla yang tidak bisa berbohong akhirnya diam saja karena dia tidak berani untuk mengatakan yang sejujurnya.


“Siapa Vera, familinya Reza?”


“Bukan Bu...”


“Jadi siapa?”


Melihat Nayla seperti orang bingung akhirnya bu Neneng mendesak lagi.


“Kalau bukan famili, lalu siapa...?”


Melihat Nayla diam saja, kemudian bu Neneng yang merasa khawatir berkata lagi.


“Kalau teman kamu atau teman Reza, sebaiknya jangan kasih tinggal di sini lama-lama. Kalian kan belum lama menikah jadi godaan itu pasti ada. Ibu takut kalau nantinya Reza tergoda oleh wanita itu apalagi wanita itu kelihatannya sangat cantik.”


Bu Neneng yang melihat Nayla sejak tadi diam saja tanpa merespon ucapannya langsung bertanya lagi.


“Nayla, kenapa kamu sejak tadi diam saja. Sebenarnya siapa wanita tadi?”


“Ee...” ucapan Nayla pun terputus karena langsung dipotong oleh Reza yang baru muncul.


“Wanita tadi istri Reza, Bu,” jelas Reza.


“Maksud kamu apa Reza?” tanya bu Neneng heran.


“Maafkan Reza, Bu. Sebelum menikah dengan Nayla, Reza sudah berjanji akan menikah dengan Vera tapi papi tidak menyetujuinya. Tapi karena Reza sudah terlanjur berjanji pada Vera dan tantenya, akhirnya tanpa sepengetahuan papi, Reza diam-diam menikah dengan Vera.”


“Kamu benar-benar sudah gila Reza. Lalu gimana dengan Nayla, apa kamu tidak memikirkan perasaan Nayla?” Bu Neneng tampak emosi.


“Nayla nggak apa-apa dimadu Bu.”


“Nayla, apa kamu tidak memikirkan masa depan anak kamu nantinya. Apalagi kalian tinggal satu rumah dengan madu kamu. Ibu tidak bisa membayangkan gimana sakitnya perasaan kamu.”


“Bagi Nayla ini tidak masalah Bu, yang penting mas Reza tetap menyayangi Nayla.”


“Mana ada suami yang bisa bersikap adil pada kedua istrinya. Lebih baik kamu bercerai dari Reza dari pada hidup dimadu seperti ini, Nayla.”


“Ibu, jangan bicara seperti itu.” Nayla langsung menangis mendengar perkataan ibunya.


“Sekarang terserah kamu, yang penting Ibu nggak mau menginjakkan kaki ibu di rumah kalian ini lagi. Ibu sangat kecewa dengan kamu, Reza. Ternyata kamu telah mengkhianati cinta suci Nayla. Nayla benar-benanr mencintai kamu, tapi apa yang kamu lalukan. Kamu tegah menduakannya dengan alasan karena sudah terlanjur berjanji untuk menikahinya.”


Bu Neneng yang merasa kecewa langsung pulang ke rumahnya meskipun sudah dicegah oleh Nayla dan Reza. Sambil menangis bu Neneng pulang dengan naik angkutan umum. Perasaannya sangat kecewa dan sakit membayangkan nasib putrinya yang hidup dimadu.


@@@@@