
Emir pulang kerumahnya dan tidak menemukan istri nya disana, ada rasa heran dan penasaran di dalam hatinya, apa sebenarnya pekerjaan Mutia?
Namun niatnya itu dia urungkan dia kembali teringat kepada kekasihnya Ratih.
Mutiara bukan apa-apa jika dibandingkan dengan Ratih, dan Emir lebih tertarik mencari tahu di mana dan sedang apa kekasihnya itu, daripada mencari tahu tentang Mutiara.
Brian mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang, "cari tau apa yang di lakukan oleh Ratih dan dimana keberadaan nya sekarang,"
"baik tuan."
Setelah itu Emir memutuskan untuk membersihkan diri, mungkin dengan berendam air hangat bisa mengurangi beban pikirannya.
Selesai mandi, Emir memutuskan untuk pergi, saat yang sama istrinya tiba di rumah.
kali ini Mutiara pulang menggunakan ojek, dia menolak keras ajakan Faisal.
Sesampainya di rumah wanita itu mandi dan memasak, perutnya keroncongan, dia lapar karena tidak sempat makan siang tadi di kantor.
triiing ponselnya berbunyi, Mutiara langsung mengangkat nya, berbagai macam pertanyaan muncul di kepalanya,
"halo mutia.."
"Ya halo bik,"
"apa kabar?"
"aku baik bik, Bagiamana dengan Mama?"
"Alhamdulillah operasi ibumu berjalan lancar, tapi kami.masih harus tinggal disini selama enam bulan kedepan."
"Alhamdulillah, tidak apa-apa bik, yang terpenting Mama segera sembuh, aku sudah sangat bahagia.
"Iya nak, apa kamu bahagia? bagaimana sikap suamimu?" tanya bibik dengan rasa khawatir
"Alhamdulillah mutia baik bik dan mas Emir juga baik kepada Mutia."
"Alhamdulillah, bibik juga senang mendengarnya, jaga diri ya nak, assalamualaikum."
"waalaikum salam, iya bik, aku pasti akan jaga diri, bibik tenang saja, sampaikan salam ku pada Mama." ucap mutiara
Panggilan terputus, Mutiara menatap langit-langit kamar, agar air matanya tidak turun, "Maafkan aku bik, karena aku telah berbohong kepada bibi dan juga Mama, aku terpaksa melakukannya bik, Maafkan aku."
Mutiara ternyata sudut matanya yang berair kemudian meletakkan ponselnya, dia makan dalam kesendirian.
Selesai makan, Mutiara Kembali ke dalam kamar, hatinya masih sangat sedih, mengingat dia telah membohongi ibunya, satu-satunya wanita yang paling menyayanginya.
Tapi mau bagaimana lagi, semua dia lakukan demi kebahagiaan ibunya tidak lebih.
**
Dan sebuah klub malam, Emir duduk bersama dengan Joe, salah satu sahabatnya.
"lo kenapa?"
"Dia lagi patah hati," sahut Faisal
"Sialan lo, " maki Emir tapi kedua temannya itu justru tertawa.
"Apa lo dah dapat info dimana Ratih?"
"sudah lah bro, lupakan Ratih, bukankah lo udah punya istri, siapa namanya?"
"Ara..."
"Doi cantik kan?" tanya joe
"lumayan,"
"Btw, gue perhatiin sejak tadi lo diam aja, lo udah enggak tertarik ma cewek?" ejek Jo pada Faisal.
Karena biasanya pria itu pasti minum di temani seorang cewek, hidupnya selalu penuh dengan wanita. Tapi kali ini dia duduk manis di samping Lala.
"Gue mau tobat,"
"tobat, hua.. hahahaha.." terdengar suara ejekan dari kedua temannya.
"Gue serius kali ini, kalau tuh cewek mau terima cinta gue, gue janji gue akan jadiin dia yang terakhir dalam hidup gue,"
"Segitunya, emangnya seperti apa tuh cewek,"
"biasa aja dan dia juga sederhana,"
"Jangan bilang dia bawahan lo atau.."
"Iya, dia salah satu karyawan gue, yang tak sedikitpun melirik gue, padahal jelas-jelas dia tahu kalau gue adalah bosnya, dan lagi gue pernah di tolak saat mau nganterin dia pulang,"
"hua hahaha...." tawa Emir dan Joe. pecah, namun yabg ditertawakan tidak merasa malu.
"gue jadi penasaran sama tuh cewek, kapan lo kenalin ke kita kita,"
"nanti kalau dia udah mau terima cinta gue,"
"Kelamaan..."
"Ok, gue tunggu, gue juga penasaran cewek seperti apa yang bisa naklukin casanova kayak loe."
Ketiga pria itu pulang jam sebelas malam, Emir melajukan mobilnya pelan, dan saat di lampu merah, tidak sengaja dia melihat bayangan wanita yang mirip dengan kekasihnya, Emir kaget, dan kembali menoleh.
Sekali lagi dia melihat wanita yang berada di mobil merah itu sangat mirip dengan Ratih, kekasihnya.
Tanpa pikir panjang, Emir melajukan mobilnya menabrak lampu merah demi mengejar mobil tersebut, tak lagi dihiraukannya makian dan cacian yang orang-orang layangkan untuknya.
Sayangnya mobil tersebut melaju kencang, dan dia tertinggal, "Sial!!!" maki Emir memukul stir mobilnya kuat.
Emir sangat yakin jika gadis di dalam mobil itu adalah Ratih, lantas kenapa dia harus bohong? kenapa dia mengatakan jika dia berada di luar negeri, ada apa ini sebenarnya?
Apa benar dia selingkuh? dan photo itu....
argh ...
lagi Emir memukul keras stir mobilnya, meluapkan semua kekesalannya.
Jam satu malam Emir baru tiba dirumahnya, dan saat memasuki rumah, semua gelap, tak sedikitpun ada cahaya, dia merogoh ponsel nya untuk menyala kan senter, Emir terkejut mendengar suara teriakan.
"to...tolong...."