Sebatas Nikah Kontrak

Sebatas Nikah Kontrak
Pesta perayaan


"Lo nggak lagi becanda kan? mana mungkin dia.."


Zia terkekeh, "mana mungkin apa? emang kenapa kalau Mutiara udah bersuami, kan tidak ada larangan untuk orang yang bersuami bekerja?"


"Bukan, tapi maksud aku.."


"udah deh buang jauh-jauh perasaan lo itu atau nanti akan kecewa," ucap Zia kemudian pergi dari sana, dia mengikuti Mutia untuk kembali bekerja.


Sementara pria itu masih berusaha menerima ucapan Zia, dia penuh rasa penasaran, "Apa benar Mutiara sudah menikah? lalu mana Suaminya? aku akan mencari tau," tekadnya.


Semua kembali dan fokus pada pekerjaan yang masing-masing, Mutiara dan Zia baru saja mengganti pakaiannya, jam dinasnya sudah berakhir, hanya menunggu teman-teman yang lain bersiap.


Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 malam, dan mereka semua bersiap-siap menutup kafe, sesuai dengan instruksi Faisal.


Bos mereka telah menunggu di tempat karaoke "Anda" yang merupakan tempat hiburan terbesar di kotanya.


Zia datang menghampiri Mutiara yang duduk di sudut, gadis itu menatap gelapnya malam.


Hatinya masih sakit mengingat ucapan suaminya.


Ada rasa kecewa, sedih dan tidak terima dengan perlakuan Emir yang seenaknya.


'Sampai kapan semua ini akan berakhir?'


"Tia, ayo! semua udah siap," panggil Zia membuyarkan lamunan nya. Gadis itu bangkit dan mengikuti sahabatnya itu pergi ke tempat tujuan bersama-sama.


Sesampainya disana, Faisal telah menunggu, jamuan makanan dan minuman juga sudah tersedia diatas meja.


Semua bersorak kegirangan, dan mulai berpesta, ada yang langsung makan, ada juga beberapa yang minum bir, ada yang menyanyi sambil menari, yang jelas mereka bersenang-senang malam ini.


Mutia memilih duduk di ujung, disebelahnya ada Toni, salah satu pria yang merupakan teman kerja nya.


Pria itu sejak tadi terus memperhatikan Mutiara, dan semakin penasaran melihat Mutiara yang sepertinya tidak nyaman.


"Kamu enggak mau ikutan gabung?" Toni mulai berbasa basi Menunjuk kearah sebagian besar pegawai yang menyanyi sambil menari.


Mutia menoleh dan kaget karena pria itu tepat berada di sampingnya dan jarak mereka juga sangat dekat.


Dia coba mundur dan menjaga jarak dari pria itu, sungguh dia merasa sangat tidak nyaman.


"Boleh aku temani?" tanyanya lagi tanpa merasa sungkan, padahal sangat jelas terlihat Mutiara tidak menyukainya.


"Maaf, aku.."


Mutiara merasa lega, akhirnya dia bisa menjauh dari Toni,


"Lo nggak nyaman kan?" bisik Zia


"Iya,"


"Hai tunggu" Toni sepertinya tidak mau melewatkan kesempatan emas ini, dia kembali mengejar kedua gadis itu,


Mutiara berjalan mengambil minuman, dan Zia duduk bersebelahan dengan Toni.


"Gue tau kali, kalau lo suka sama dia,"


"Bantuin aku Zia"


"Udah gue bilang doi punya suami,"


"Masa sih!"


"Bye..." Zia melambaikan tangan nya dan berjalan menghampiri Mutiara, " Menyebalkan" bisiknya pelan


"Siapa? Toni!" tanya Mutiara


"Iya, dari tadi dia juga nanyain lo,"


Mutiara diam saja,


"Lo nggak lagi becanda kan? mana mungkin dia.. "


"Dia suka sama lo,"


"Lo kan tau, gue nggak mau.."


"Paham cantik, tapi kayaknya dia orangnya maksa, dan nggak percayaan gitu, ya udah deh nggak udah bahas dia, kita have fun aja." ucap Zia


"Gue mau pulang." bisik Mutiara yang memang merasa tidak nyaman berada disana.


"Wait, aku akan mengantar mu,"


"Nggak usah, kalau kamu masih mau disini, aku bisa pulang sendiri,"


"No, kamu harus pulang dengan ku,"