
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya,entah masalah apalagi setelah ini.
"Putri,kau sudah datang?" sapa tania yang sudah berdiri di depan gerbang,dengan pandangan yang mondar mandir.
"Ya,buruan buka pagar nya sebelum ketahuan warga." desah ku,agar tania dapat membantu ku membuka nya.
Belum lagi kami masuk kedalam rumah tua ini,langit sudah tampak gelap seperti akan datang badai besar,dedaunan mulai berterbangan karena tiupan angin yang kencang.
"Sudah ayo," pekik tania dengan wajah nya yang datar,aku merasa beruntung memiliki teman seperti nya yang tidak memikirkan diri nya sendiri.
"Kenapa langit tiba tiba gelap?seperti ingin turun hujan badai,bukankah masih jam 09:58?" kata ku dengan suara pelan,yang menahan langkahan kaki ku untuk berjalan masuk kedalam.
"Buruan masuk,buat apa berdiam diri lagi disini? kau ingin tahu kan jawaban dari semua hal yang menimpahmu belakangan ini? maka kau harus masuk untuk mencari tahu nya." desah tania yang membujuk ku untuk masuk.
"Baiklah..." balas ku dengan wajah merengut,karena merasakan seperti ada hal yang menjanggal.
Teman ku tania langsung mendobrak pintu rumah tua ini dengan sangat keras,sampai terbuka.(astaga sungguh wanita tangguh!)
Belum masuk sampai dalam tania yang tadi nya merasa seperti pemberani,tiba tiba mundur kebelakang ku untuk bersembunyi.(dasar,penakut)
"Kenapa kau bersembunyi?" tanya ku dengan nada yang sedikit bercanda.
"Ti..tidak kok,aku kan tidak tahu jalan nya,lebih baik kamu yang menuntun ku." jelas nya dengan tersenyum paksa.
"Baiklah." balas ku,dengan membuang muka ke kanan,karena ingin tertawa dengan sikap tania yang tiba tiba berubah menjadi penakut.
Aku meraba kantung celana ku,untuk mengambil senter handphone,agar bisa menerangi tempat jalan kami yang gelap nanti nya.
"Prangggg!!" suara benda jatuh,seperti nya dilempar dari atas.
"Apaan sih gitu aja teriak! itu cuman benda yang jatuh dari atas,buat apa sih takut." kata ku dengan tegas,namun Jantung Kusudah berdebar dengan sangat kencang.
"Kamu aneh,siapa sih yang gak takut dengar benda jatuh dari atas,padahal di dalam rumah ini cuman ada kita berdua." jelas nya yang berargumen panjang.
"Ya sudah deh,gak usah di perpanjang lagi."ujar ku dengan menuntun jalan ke arah dapur,karena aku masih penasaran dengan ruangan itu.
"Putt,kamu sebenarnya juga takut kan?" tanya tania,dengan maju ke depan menghalangi jalan ku,itu membuat ku kaget.
"Iya aku takut,tapi aku berusaha untuk berani." balas ku dengan kesal.
Tania tidak berbicara lagi dia hanya menatap ku dengan serius,aku memalingkan pandangan ku ke samping untuk tidak menatap mata nya itu.
"Sudah lah,ayo jalan." seru nya dengan suara enteng.
Kami terus berjalan ke arah dapur,tapi aku sangat heran melihat kursi kayu jepara yang ada di ruang tamu berada di dapur,dengan meja kecil di hadapan nya.
"Kenapa bisa kursi dan meja ini berada di dapur? apakah ada yang memindahkan nya?" gumam ku dengan pelan.
Saat aku memalingkan pandangan kebelakang untuk berbicara dengan tania,dia menghilang kemana dia.
"Tania!tania!tania!"teriak ku tiga kali yang memanggil namanya dengan suara panik.
"Tania kamu dimana? jangan bercanda dong,ini gak lucu buat di jadikan bahan lelucon." teriak ku lagi dengan tegas.
"Tania,kamu dimana? keluar lah!" teriaku yang terus memanggil namanya seperti orang gila.
"Putri tolong Aku!"