
Pagi hari aku bangun dengan cepat agar tidak telat berangkat kesekolah,sedangkan kakak masih tertidur pulas disamping kasur ku.
aku segera bergegas untuk bersiap siap untuk pergi kesekolah,namun ayah memanggil ku saat itu.
"Putri,kemari lah nak" seru ayah yang sedang duduk diruang tamu,sambil membaca koran yang baru diantar pagi ini.
"Ada apa ayah?" tanyaku dengan menyimpan banyak keheranan dalam hati ku.
"Hari ini kamu tidak usah pergi kesekolah dulu,karena ayah akan membawa mu menjumpai seseorang.bersiap siap lah,ayah akan menunggu mu dimobil" jelas ayah dengan suara nya yang terbata bata seperti menyimpan rahasial lain dibalik ini.
"Oke ayah." jawab ku dengan ketidak mengertian akan perkataan ayah tadi,tapi aku tidak memburu ayah dengan berbagai pertanyaan karena aku tahu itu hanya semangkin membuat dia untuk tidak ingin menjawab.
saat aku sudah berisiap siap,terdengae suara ayah dan nenek yang tengah berdebat dikamar tamu,dari suara itu terdengar bahwa ayah sangat kesal dengan perkataan nenek.
"Lalu apa dayamu?jika kau terus memaksakan kehendakmu seperti ini,maka kau akan kehilangan putri mu."ulang nenek dengan nada yang sedikit meninggi.
"Aku akan terus berusaha untuk hidup mati Putri ku ini ibu."sambung ayah lagi,seakan menolak permintaan nenek tadi.
Nenek terdiam,dan ayah hanya termenung,lalu nenek berkata lagi dengan sedih.
"Dari awal ini sudah salah mu,yang membiarkan putri mu untuk melangkah lebih jauh,sekarang kau sudah tidak bisa mengubah nasib."tutur nenek lagi menatap dengan ayah.
"Aku bisa!" ucap ayah dengan lantang,seperti tidak takut apa yang akan ada dihadapan nya nanti.
Apa yang dibicarakan nenek dan ayah dari kemarin malam,aku sendiri belum tahu apa maksud pembicaraan mereka itu?bahkan mereka membicarakan nya secara diam diam,sampai ibu dan kakak juga tidak tahu.
(Didalam perjalanan...)
Ayah menghela napas dalam dalam dan wajah nya tampak sedih,seperti ingin mengatakan sesuatu namun masih dia tahan.sampai aku,tak sampai hati untuk melihatnya seperti itu.
"Sudah ayah,hanya suara ku masih sedikit serak." aku menyahut pelan.
"Kalau begitu berjuang lah...." kilah ayah.dengan perkataan yang menurutku sangat aneh.
"Maksudnya ayah?"
Suara ayah melemah,menghela napas lagi,dan mendesah.seakan yang terasa bahwa helaan napasnya tadi pelampiasan kekecewaan nya yang ia tahan tahan dalam hati nya.lalu sesaat sesudah terdiam sambungnya lagi.lirih dan sepatah-patah kata keluar dari mulutnya.
"Ayah merasa bersalah terhadap mu,disaat saat seperti ini ayah tidak bisa melakukan apapun untuk mu nak." jelas ayah,dengan suara yang semangkin parau.seperti amat jauh suara itu ke luar dari mulutnya.sorot mata ayah yang memandang terlempar jauh menerawan keluar.
"Kedepannya aku akan baik baik saja kok ayah." kilah ku dengan berusaha untuk tersenyum,agar ayah tidak terus murung seperti ini.
Namun ayah hanya mengangguk nganguk pelan,tetapi sulit bagi ku untuk menangkap arti anggukan kepala ayah itu.
"Kemana kita akan pergi ayah?" lirih ku
"Kerumah teman ayah untuk berobat." balas ayah dengan merana.
Aku khawatir dengan ucapan ayah ini,siapa yang ingin berobat?dan siapa yang sakit?tapi aku tak berani bertanya lebih,karena itu hanya akan membuat ayah marah nantinya.
"Stopp ayah!!!" teriak ku yang menghentikan stir mobil,karena melihat ada anak kecil yang melitas untuk menyebrang.
"Ada apa?" tanya ayah,yang sepertinya keheranan dengan ku.
"Itu ayah hampir saja menabrak anak kecil yang ingin menyebrang!" jelasku
"Dimana?..."