
Setelah mengaktifkan Balance Sword : Chaos Mode, Ferisu bergerak dengan begitu cepat menuju ke arah naga tersebut. Hanya dalam sekejap ia memotong kedua sayap naga tersebut hingga membuatnya jatuh ketanah. Tapi, ia tak bisa terlalu berlama-lama karena kekuatan dari pedang itu bisa menyerap energi sihirnya dengan begitu cepat.
Karena tak kunjung menemukan sumber sihirnya, Ferisu pun menuju ke garis depan dan memberikan sebuah serangan kegelapan dengan jangkauan yang luas. "Darkness haze!" sebuah serangan berupa kabut kegelapan yang dapat membunuh siapapun yang terkena kabut tersebut.
Tetapi sebelum mengeluarkan serangan itu, Ferisu memberikan sebuah pembatas sihir agar pasukan dari kerajaan Holan tak terkena kabut tersebut. Hanya dalam satu serangan tersebut, ribuan monster mati tak bersisa. Setelah semua monster mati, Ferisu dapat merasakan energi sihir yang memanggil para monster tersebut.
"Ketemu!" setelah itu ia pun terbang dengan cepat menuju ke sumber energi sihir tersebut.
Saat sampai disana ia melihat sebuah kristal sihir yang begitu pekat dengan energi kegelapan, saat Ferisu hendak menyentuhnya kristal itu tiba-tiba pecah dan mengeluarkan sebuah monster.
"Chimera!?"
Sebuah monster dengan gabungan dari tiga hewan yakni singa, kambing dan ular. Dengan begitu cepatnya kepala ular dari monster itu menghantam Ferisu dengan keras hingga membuatnya terpental ke langit.
"Eugh.. serangan nya lebih kuat dari naga barusan? chimera ini lebih kuat dari naga..." gumam Ferisu yang terbang di atas langit.
Pada saat itu tubuhnya terasa begitu berat akibat penggunaan Balance Sword, yang membuat energi sihir miliknya terkuras sangat banyak. "Apa aku harus mundur..." gumamnya karena merasa tak akan bisa mengalahkan chimera tersebut.
Ferisu pun mematikan kekuatan dari pedang tersebut dan terbang kembali menuju ke benteng ibu kota. Namun saat ia mendarat di atas dinding benteng, para kesatria dan penyihir mengarahkan semua senjata mereka pada Ferisu.
"Agh, sial... aku terlalu banyak menggunakan kekuatan ku..." gumam Ferisu terbata-bata hingga membuatnya hampir kehilangan kesadaran.
Sebelum ia pingsan, Meian berubah ke wujud manusia dan menopang Ferisu. "Kalian semua, turunkan senjata kalian!" ujar Meian dengan keras hingga membuat semua kesatria itu diam tak bergemin sampai menjatuhkan semua senjata mereka.
"Huh.. huf... sebaiknya kalian berfokus untuk mengalahkan bos monster tersebut..." ucap Ferisu dengan sempoyongan menunjuk ke arah Chimera yang mulai mengamuk dan mengarah ke benteng.
"Hump, hanya satu ekor chimera. Itu bida di atasi oleh pahlawan suci dengan mudah" ujar kesatria itu dengan sombong.
"Benarkah? kurasa pahlawan sekaligus akan kesulitan me..la..wannya.." ucap Ferisu yang akhirnya pingsan akibat kehabisan energi sihir.
"Tuan!" teriak Meian yang panik.
Saat itu Meian membuat sebuah dinding sihir menggunakan kekuatannya untuk melindungi Ferisu dari kesatria kerajaan Holan. Selama di dalam pelindung ia menggunakan telepati untuk memanggil Licia, Yuki dan Shiro agar datang ke atas dinding benteng.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di garis depan ketiga pahlawan yang memimpin pertempuran terpaku diam saat melihat sebuah sosok iblis yang terbang dan menghabisi ribuan monster hanya dalam sekejap. Mereka kebingungan dengan apa yang terjadi, tetapi saat iblis itu terpental ke langit dan mundur kembali ke benteng.
Ketiga pahlawan itu merasa ada sesuatu yang tidak beres, dan benar saja seekor chimera dengan kristal hitam di dahinya mengaum dengan keras. Karena auman intimidasi dari monster itu, para kesatria yang energi sihirnya lemah menjadi panik dan ada juga yang sampai pingsan.
"Oi, Kibe... kurasa monster itu bukan monster biasa..." ujar Haru yang menyadari kekuatan dari chimera tersebut.
"Iya, dia berbeda dengan chimera yang kita temui di dalam dungeon" jawab Kibe yang merasakan perbedaanya.
"Sebaiknya kita mundur terlebih dahulu" ujar Haru yang menyadari mereka tak akan bisa mengalahkan monster tersebut.
"Apa yang kau katakan!? bagaimana dengan para kesatria yng pingsan dan ketakutan? apa kita akan meninggalkan mereka begitu saja?!" ujar Yoruka yang tak setuju dengan keputusan Haru.
Ketika mereka sibuk berdebat chimera itu menembakkan sebuah bola api yang melesat dengan begitu cepat.
"Awas!"
"Kibe!" teriak Haru dan Yoruka dengan kawatir.
"Aku tak apa-apa... sebaiknya kita kembali terlebih dahulu..." ujar Kibe dengan terbata-bata.
"Tapi.. jika kita kembali monster itu akan menghancurkan dinding benteng ibu kota" ujar Yoruka.
"Kita minta para penyihir untuk membuat pelindung sihir, kurasa itu bisa memberikan waktu sedikit untuk menahan monster itu" ujar Haru.
Saat itu Yoruka pun setuju dan mau tak mau mereka harus mundur dan kembali menuju ke benteng. Mia pun menyembuhkan ketiga orang itu dengan kekuatan miliknya sebagai saint. Pada saat ia menyembuhkan ketiga pahlawan yang lain tiba-tiba terjadi sebuah kegaduhan di tangga benteng.
"Kalian kembalilah! disini berbahaya!" ucap kesatria dengan tegas.
"Tidak! cepatlah minggir!" balas seorang elf dengan serius.
Seorang gadis beastman pun tak tahan dan memukul kesatria itu hingga terjatuh. "Cepatlah naik!" ujar gadis beastman itu.
Ketiga gadis itu pun menaiki benteng dan menuju ke kerumunan kesatria yang mengelilingi Ferisu. Namun, mereka tak bisa mendekat akibat pelindung sihir yang di buat oleh Meian. Berbeda dengan para kesatria, ketiga perempuan itu bida memasuki pelindung sihir itu dengan mudah.
"Ferisu-sama!" teriak ketiga gadis itu dengan penuh kawatir.
Pada saat itu Elis terkejut karena mendengar nama tersebut, ia pun melihat ke arah pria dengan rambut putih tersebut dengan seksama. Saat itu juga ia menyadari jika mukanya mirip dengab seseorang yang ia kenal saat berada di bangku sma.
"Bohong... apa benar dia Ferisu-san...?" gumamnya dengan gemetaran.
...----------------...
Di dalam pelindung tersebut, ketiga gadis itu menyalurkan energi sihir mereka kepada Ferisu yang sedang tak sadarkan diri.
"Kalian bertiga tenanglah! tuan bukanlah orang yang lemah!" ujar Meian menenangkan ketiga gadis yng sedang panik tersebut.
"Tapi-"
"Kalian bertiga tahu bukan sekuat apa suami kalian itu?" ujar Meian dengan serius sembari menahan pelindung sihirnya.
Ketiga gadis itu pun tersadar dan mulai tenang "Maaf, kami kehilangan ketenangan" ucap Yuki sembari bangun berdiri dan melihat ke arah monster yang mendekat.
"Licia-chan, tolong jaga Ferisu-sama" ucap Shiro yang bangun berdiri di samping kakaknya Yuki.
"Apa yang ingin kalian berdua lakukan?" tanya Licia dengan heran.
"Tentu saja menghajar monster itu" ujar mereka berdua dengan tersenyum serius.
"Hentikan, itu terlalu berbahaya!" teriak Meian.
"Tak perlu kawatir Meian-san, apa kau lupa siapa kami berdua?" ujar Yuki sembari mengaktifkan blood break bersamaan dengan Shiro.
Pada saat itu ekor rubah mereka bertambah hingga menjadi 9, dengan garis-garis merah darah di sekujur tubuh mereka. Kekuatan sihir mereka juga meningkat dengan begitu pesat. "Kami berdua akan menahannya, selama itu aku percayakan pemulihan Ferisu-sama padamu Licia-san" ujar Yuki meloncat turun dari benteng, di ikuti oleh Shiro.
"Ya!" ujar Licia dengan serius.
Pada saat itu Licia menggunakan kemampuan spesialnya spirit control untuk mengumpulkan semua roh yang berada disekitar untuk berkumpul di sekelilingnya. Pada saat itu sebuah cahaya yang begitu hangat menyelimuti Ferisu dengan perlahan. Energi sihir yang di miliki oleh para spirit mulai di alirkan ke tubuh Ferisu untuk mengembalikan energi sihir miliknya.