Reinkarnasi Menjadi Vampire Membawa Perdamaian Di Dunia Lain

Reinkarnasi Menjadi Vampire Membawa Perdamaian Di Dunia Lain
Chapter 12 : Hati


Di siang hari Ferisu dan Licia pergi ke guild petualang untuk mengambil sebuah quest. Karena ia masih berada di rank G, Ferisu hanya bisa mengambil quest rank F yang merupakan 1 tingkat dari ranknya.


Di rank F, ia mengambil misi pemusnahan goblin. Total goblin yang di perlukan untuk quest itu adalah 10.


"Aku ambil quest ini". Ujar Ferisu di meja resepsionis.


"Rank F pembasmian goblin, tolong hati-hati Ferisu-san". Ujar Filia.


"Ya..". Balas Ferisu.


Saat berjalan keluar dari kota, Licia pun menatap Ferisu dengan tatapan bingung dan heran. Ferisu yang menyadari hal itu pun bertanya pada Licia.


"Apa ada yang aneh?". Tanya Ferisu dengan heran.


"Eh? ah, iya... Ferisu-sama adalah seorang vampir bukan? dan vampir itu berasal dari ras demon, begitu pula dengan para goblin. Jadi saya heran kenapa Ferisu-sama mengambil misi dimana harus membunuh 1 ras sendiri". Jelas Licia.


"Eh? Goblin itu juga termasuk ke ras demon, bukannya monster?". Gumam Ferisu yang kaget mengetahui hal itu.


"Aa... Haha, seperti nya aku lupa". Ujar Ferisu sambil tertawa.


"Hmmm... Apakah kita mau ganti quest?". Tanya Licia.


"Tidak, kita akan tetap menyelesaikan quest ini". Balas Ferisu.


Licia pun hanya bisa mengangguk setuju, ia tak tau apa yang di fikirkan oleh Ferisu. Bagi Licia ras demon juga merupakan musuh dari ras elf, walau dunia sudah berdamai tapi tetap saja sering terjadi konflik dengan ras lain. Terlebih lagi ras demon yang haus akan peperangan.


Ras demon pada dasar nya juga punya wilayah sendiri, namun terkadang ada beberapa dari mereka yang hidup berkelana dan membangun sebuah desa atau rumah di tempat terpencil.


Setelah berjalan cukup lama mereka pun sampai di sebuah hutan yang berada tak jauh di kota Azpire. Di hutan itu hanya ada monster dengan rank rendah seperti kelinci tanduk dan serigala hijau.


"Menurut kertas questnya ada seseorang yang melihat beberapa goblin di hutan ini". Ujar Ferisu.


"Ehm..". Angguk Licia.


Setelah menelusuri hutan cukup lama, mereka berdua pun akhirnya menemukan sebuah desa goblin berada di kedalaman hutan.


Ketemu juga, jika di lihat-lihat desa ini sepertinya masih baru..


"Tuan apa kau akan bertarung dengan para goblin?". Tanya Kuro dengan telepati.


Aku tak tahu juga, apa para goblin punya kecerdasan dan bisa berbicara?


"Tentu saja, bukan hanya goblin hampir semua ras demon bisa berbicara". Ujar Kuro.


Jadi Orc, Ogre, Troll, dan lainnya juga?


"Iya, itu benar tuan". Balas Kuro.


"Huft... Ayo kita mendekat". Ujar Ferisu pada Licia.


"Eh? kita akan memasuki desanya?". Tanya Licia dengan heran.


"Yah, begitulah". Balas Ferisu.


Secara perlahan Ferisu dan Licia masuk ke desa tersebut, begitu pula dengan para goblin yang sudah siap bertarung karena melihat seorang manusia memasuki wilayah mereka.


"Apa kalian bisa menurunkan senjata kalian? kami datang kesini bukan untuk bertarung". Ujar Ferisu dengan senyum simpul.


"Dasar manusia licik, kau kira kami akan tertipu?". Ujar goblin.


"Tipuan? Aku benar-benar datang kesini tanpa keinginan untuk bertarung". Balas Ferisu dengan muka polos.


"Jadi apa tujuan mu datang kesini jika tak ingin membunuh kami!?". Teriak goblin itu.


Ferisu pun mengeluarkan sebuah kertas dari sakunya. Kertas itu adalah quest yang saat ini sedang ia jalan kan.


"Aku hanya ingin meminta 10 potong telinga kanan kalian untuk bukti penyelesaian quest ini". Ujar Ferisu dengan senyum simpul.


"Jangan bercanda kau manusia!!!". Teriak goblin itu dengan ketus.


Para goblin pun bergerak bersamaan dan menyerang ke arah Ferisu. Namun Ferisu bisa membaca semua pergerakan para goblin dan menghindarinya.


"Apa-apaan manusia itu? Dia menghindari semua serangan kami...!?". Gumam goblin.


"Aku hanya meminta telinga kalian, setelah itu aku akan menyembuhkannya". Ujar Ferisu sambil menghindari serangan para goblin.


Goblin yang memimpin penyerang itu pun melirik ke arah Licia dan menyuruh teman-teman nya menyerang Licia.


Ferisu yang mengetahui hal itu pun memasang sebuah sihir perisai dari elemen angin.


Terlebih lagi goblin yang memberi perintah itu, dia bisa menganalisis sesuatu dan bahkan bisa memberi perintah yang bagus seperti mengincar putri elf yang menjadi orang yang harus ku lindungi untuk membuka celah ku.


"Humpf..". Ferisu pun tersenyum kecil.


"Tch... apa yang kau tertawakan manusia!". Ujar goblin dengan ketus.


"Hahaha, tidak, aku hanya kagum pada kalian yang sangat terampil dalam pertarungan kelompok". Balas Ferisu dengan santai.


"Kami tak butuh pujian dari mu!". Ujar goblin itu dengan ketus.


"Haah... Seperti nya kalian ini, tak bisa mengerti jika tak di pukul yah. Kau tau jika aku serius ingin membunuh kalian, aku tak akan memasuki desa ini terang-terangan, dan menyapa kalian". Ujar Ferisu sambil meloncat mundur dan membuat jarak dengan para goblin.


"Lalu untuk apa kau datang kesini!". Balas goblin.


"Sudah ku bilang bu-". Ujar Ferisu.


Swwoofftt!!!


Sebuah anak panah melesat cepat mengarah ke arah Ferisu.


Ferisu pun menangkap anak panah itu dan mematahkannya. Secara perlahan orang yang menembakan anak panah itu pun keluar. Bentuk tubuh dan ukurannya berbeda dengan para goblin di desa itu.


Bentuk dan ukurannya berbeda, apa dia hobgoblin?


Tanpa sepatah katapun, hobgoblin itu pun menyerang Ferisu dengan palu kayu yang ia bawa. Tapi tetap saja percuma, perbedaan level nya dengan Ferisu sangat lah jauh.


Baamm!!!


Ferisu pun menendang hobgoblin itu hingga terlempar dan menghantam salah satu rumah hingga hancur.


Eh... Padahal aku hanya menyentuhnya sedikit


"Ketua!". Teriak goblin biasa.


"Serang dia!". Teriak goblin.


"Huft... Keras kepala sekali...". Gumam Ferisu sambil menghela nafas pendek.


Ferisu pun menggunakan skill intimidasi sehingga membuat semua goblin berhenti dan secara perlahan mundur karena rasa takut akibat intimidasi.


Krekk...! Bamm... !


Hobgoblin yang terpental itu pun bangun dari tumpukan rumah yang hancur dan berjalan secara perlahan menuju ke arah Ferisu.


Kukira dia sudah mati, yah syukurlah jika dia masih hidup.


Saat sudah berada di depan Ferisu, Hobgoblin itu tiba-tiba bersujud pada Ferisu.


"Eh!? apa yang kau lakukan?". Tanya Ferisu sambil melihat hobgoblin itu.


"Sa~saya mohon! Dengan nyawa saya sebagai bayarannya, tolong lepaskan goblin yang lain". Ujar Hobgoblin itu meminta belas kasih.


Hah? goblin meminta belas kasih, dan bahkan dia rela mengorbankan nyawanya untuk keselamatan goblin yang lain...


Hmmph... seperti nya aku sudah mendapat jawaban nya..


5 Menit sebelum menemukan desa goblin..


"Hei Licia, bagaimana pandangan ras mu pada ras demon?". Tanya Ferisu.


"Mereka ras yang bengis, keji dan suka membunuh? Ah, maaf aku tak bermaksud-". Ujar Licia.


"Tak apa, katakan saja". Balas Ferisu.


"Ahem.. Ettoo... Seperti yang ku katakan tadi, ras demon dikenal sebagai ras yang bengis, keji dan suka membunuh. Bukan hanya ras elf, tetapi ras lain juga memandang ras demon demikian. Terlebih lagi ras manusia, mereka sering berperang dengan ras demon dimasa lalu, hingga mereka memanggil pahlawan dari dunia lain dan berhasil mengalahkan raja iblis dari ras demon". Ujar Licia.


"Begitu yah...". Gumam Ferisu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


TO BE CONTINUE....