
Setelah selesai mendaftar sebagai petualang dan menjual material monster di guild, Ferisu pun mempunyai uang yang cukup banyak karena monster yang di jualnya termasuk monster tingkat tinggi.
Ferisu pun memasuki penginapan untuk menyewa kamar untuk tinggal di kota ini.
"Permisi, apa ada kamar yang kosong?". Tanya Ferisu pada pemilik penginapan.
"Ya, tapi hanya ada satu". Ujar pemilik penginapan karena melirik ke arah Licia.
"Ah, begitu yah. Kami akan mencari penginapan lain saja". Ujar Ferisu sambil berjalan ke arah pintu.
Namun dengan sigap pemilik penginapan itu berjalan dan mendorong Ferisu kearah kamar yang di katakan oleh pemilik penginapan itu.
"Sudahlah, sudahlah, menginap saja disini. Ku jamin pelayanannya sangat baik, begitu pula dengan makanannya". Ujar pemilik penginapan.
"Kami akan cari penginapan lain saja...". Ujar Ferisu saat tiba di pintu kamar.
"Apa kau yakin? kekasih mu ini akan tidur di luar malam ini jika kau tak menemukan penginapan yang lain". Ujar pemilik penginapan.
"Kenapa semua orang selalu mengira jika aku menjalin hubungan dengan elf ini!?. Memang benar jika aku punya tanggung jawab untuk mengantarnya ke kerajaan elf ". Gumam Ferisu dalam hatinya.
"Huft... Baiklah, lagi pula hari sudah mulai gelap". Ujar Ferisu sambil menghela nafas.
"Haha.. Seharusnya kau mengatakannya dari tadi, semoga langgeng ya". Ujar pemilik penginapan itu sambil menepuk punggung Ferisu dan mendorong nya masuk ke kamar bersamaan dengan Licia.
Kamar itu hanya memiliki 1 buah kasur besar untuk 2 orang tidur. 1 Buah sofa dan meja kecil, serta lemari.
"A~aanoo... Fe~Ferisu-sama... Sa~saya masih belum si~siap...". Ujar Licia sambil menundukkan kepalanya dengan muka memerah.
A~apa yang di pikirkan gadis ini!? Huft... Yah aku bisa menebak apa isi pikirannya, seorang laki-laki dan perempuan tinggal di satu ruangan...
Tidak-tidak apa yang kau pikirkan Ferisu!
Dalam fikiran nya Ferisu sedang berdebat dengan dirinya sendiri. Hingga akhirnya dia mendapatkan sebuah solusi.
"Huft... Kau tidur saja di kasur, aku akan tidur di sofa". Ujar Ferisu.
"Eh?". Gumam Licia terkejut.
"Ada apa? kalau kau masih tak bisa tidur, aku akan tidur di luar saja". Ujar Ferisu.
"Tidak! a~aku... Tak keberatan jika tidur 1 kasur dengan Ferisu-sama...". Ujar Licia dengan malu-malu.
"Tapi akulah yang keberatan, aku belum pernah berhubungan dengan wanita di kehidupan ku sebelumnya. Yah bisa di bilang aku sudah mempertahankan title jomblo ku selama 21 tahun". Gumam Ferisu dalam hatinya.
"Tidak, kau tidur saja di kasur. Aku akan tidur si sofa". Balas Ferisu.
Licia pun menerimanya dan pada malam hari itu, setelah selesai makan Licia pun tidur di kasur.
Saat berbaring di atas sofa, Ferisu menatap keluar jendela sambil memikirkan hal yang akan di lakukan nya untuk kedepan.
Aku sudah keluar dari hutan itu, aku bisa saja langsung pergi menuju ke kerajaan Rigle untuk membalas mereka.
Tapi... Aku harus mengantarkan elf ini terlebih dahulu kembali ke kerajaan nya. Selain itu, aku juga penasaran dengan dunia ini, aku ingin berpergian dan berpetualang ke berbagai tempat.
"Hei, Kuro... apa diriku sudah kuat?". Tanya Ferisu dengan telepati.
"Yah, tuan sudah cukup kuat! tapi tetap saja masih ada musuh yang lebih kuat". Ujar Kuro.
"Bagaimana jika di bandingkan dengan ras lain seperti Flugel, Dragonoid, dan lainnya?". Tanya Ferisu.
"Soal itu, saya tak bisa menjawabnya. Selama saya di pakai oleh majikan saya yang dulu sebelum masuk ke hutan itu, saya belum pernah menemui ras seperti flugel atau pun dragonoid". Balas Kuro.
"Yah...". Balas Kuro.
...----------------...
Keesokan pagi nya, Ferisu dan Licia pun keluar dari kamar, menuju ke bar yang ada di penginapan itu untuk sarapan.
"Bagaimana kamarnya? Nyaman bukan?". Ujar pemilik penginapan.
"Yah, kamarnya cukup nyaman". Balas Ferisu sambil duduk di kursi.
"Haha.. Aku akan menyiapkan sarapan untuk kalian berdua". Ujar pemilik penginapan.
Setelah selesai sarapan Ferisu dan Licia pun pergi keluar untuk jalan-jalan melihat-lihat kota.
Kota Azpire di kenal sebagai kotanya para petualang, karena berada di pinggiran perbatasan dengan 3 wilayah ras. Di kota ini bukan hanya di huni oleh ras beastman saja tapi juga ada elf, manusia dan ras lain.
Saat sampai di pasar, Ferisu membeli berbagai rempah-rempah untuk persediaan dan karena ia ingin memasak makanannya sendiri.
"Hai pak, apa hanya ada ini saja disini?". Tanya Ferisu pada penjual rempah.
"Yah, kota ini lebih dikenal sebagai kota para petualang sehingga banyak toko yang menjual potion dan senjata. Jika kau ingin mencari lebih banyak rempah dan bahan makanan yang lain, aku merekomendasikan mu pergi ke kota Elven Garden itu adalah ibu kota kerajaan elf". Ujar pedagang itu.
"Apa kota itu memiliki berbagai rempah dan sayuran?". Tanya Ferisu.
"Tentu saja! ras elf adalah ras yang menyukai sayuran dan tak sedikit dari mereka yang menjadi petani sayuran dan rempah-rempah. Namun, saat ini sepertinya kondisinya sedang kacau". Ujar pedagang itu.
"Ah, soal peperang itu yah..". Ujar Ferisu pelan.
"Yah itu benar nak, aku dengar kalau kerajaan Rigle meminta putri dari kerajaan elf sebagai jaminan damai. Kalau tak salah mereka ingin menikahkan seorang pahlawan dengan putri elf itu". Ujar pedagang itu.
"Hmmm. Yah aku juga pernah mendengarnya, kalau begitu terima kasih atas informasi pak". Ujar Ferisu.
"Ya, tapi jangan terlalu nekat untuk kesana nak! kau bisa mencari rempah-rempah juga di wilayah para dwarft. Karena mereka tinggal di dataran tinggi, mereka punya sayuran dengan kualitas yang bagus!". Teriak pedagang itu.
"Yaa!". Balas Ferisu yang sudah berjalan cukup jauh.
Sesudah dari pedagang rempah-rempah itu ekspresi Licia menjadi murung.
"Ada apa putri?". Tanya Ferisu.
"Tidak, aku hanya kepikiran tentang ayah dan ibu...". Balas Licia dengan ekspresi murung.
"Kita hanya akn menetap di kota ini selama 3 hari, dan setelah itu kita akan pergi. Aku akan mengantarmu pulang ke tempat kedua orang tua mu". Ujar Ferisu.
"Benarkah!?". Ujar Licia sambil melihat kearah Ferisu.
"Yaa, tentu". Balas Ferisu sambil tersenyum simpul.
Yah dengan begitu, aku akan terbebas dari elf ini... Aku tak bisa membawa-nya pergi ke tempat yang berbahaya tanpa melindunginya. Yah, gampangnya aku cuma tak ingin melindungi seseorang yang belum bisa ku percaya dan membiarkannya melihat punggungku.
Mendengar hal itu, wajah murung Licia pun secara perlahan menghilang dan kembali tersenyum.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TO BE CONTINUE...