
Di sebuah pagi yang cerah. Ferisu terbangun dengan keadaan lengan yang keram.
Urrggh, kenapa rasanya lengan bagian kanan ku begitu sakit. Dan kenapa rasanya sedikit panas...
Ferisu pun membuka matanya secara perlahan, dan kaget karena melihat Licia yang tidur sambil memeluk dirinya.
Kenapa dia bisa tidur disini!?.
"Euhmm, aku tak akan melepaskan mu tuan kelinci". Gumam Licia mengigau saat tidur.
Kelinci? apa dia sedang mengigau?.
Ferisu pun berusaha membangunkan Licia dengan cara menggoyangkan tubuhnya dan menyuruhnya untuk bangun.
Licia yang merasa tidurnya terganggu ku pun mulai membuka mata nya secara perlahan. Ia menggosok matanya sambil menguap dalam keadaan setengah tidur.
"Apwa swudwah pwagi?". Gumam Licia sambil menguap.
"Ya, ini sudah pagi". Balas Ferisu.
"Ehm? adwa Ferisu-swama, hwehe". Gumam Licia sambil memeluk Ferisu dengan wajah gembira.
"Hei, putri. Bangunlah". Ucap Ferisu membangunkan Licia.
Namun Licia tetap saja tidak bangun, pada saat itu Ferisu secara tidak sengaja melihat bagian antara bahu dan leher Licia yang terbuka. Karena hal itu, hasrat vampirnya yang pernah meminum darah Licia menjadi terbangun.
"Euugghhmm!! ahmm, Fe~Ferisu-sama. Pe~pelan-pelan sakit..". Ujar Licia saat taring Ferisu menusuk ke tubuhnya.
Di luar tenda...
Takeo yang ingin menemui Ferisu terhenti akibat mendengar suara desahananya Licia.
"Ada apa Takeo-san?". Ujar Takumi.
"Ah, tidak. Kita akan temui Ferisu-sama nanti saja". Ujar Takeo.
"Ahaha, tuan sangat bersemangat sekali pagi ini". Gumam Takumi saat mendengar suara di tenda itu.
Para goblin pun membagi pekerjaan mereka, ada yang berburu, mencari kayu dan berpratoli agar tak ada monster yang mendekat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ahhmm! huh, hah". Desah Licia dengan nafas terengah-engah.
"Maaf, aku tak bisa mengendalikan diriku". Ujar Ferisu dengan perasaan tak enak sambil melepas gigitan nya.
"Ehmm, tak apa. Lagi pula itu adalah hal yang normal bagi vampir yang sudah memiliki pasangan darah". Ujar Licia.
Mereka berdua pun keluar dari tenda dan melihat para goblin yang sudah menyiapkan sarapan.
"Kami sudah menyiapkan sarapan untuk anda Ferisu-sama dan Licia-sama". Ujar Takeo.
"Terima kasih". Ujar Licia.
"Apa semalam, ada hal yang terjadi?". Tanya Ferisu sambil duduk makan.
"Tidak, semuanya aman terkendali". Ujar Takumi.
Saat Ferisu menyuap 1 sendok makanan itu, para goblin menjadi tegang karena takut rasa nya tidak sesuai dengan Ferisu.
"Eumm, ini enak!". Ujar Ferisu.
Para goblin pun menghela nafas lega mendengar hal itu.
"Siapa yang memasak?". Tanya Ferisu.
"Itu saya Ferisu-sama". Ujar goblin.
"Kamu kalau tak salah, Maia?". Ujar Ferisu.
"Ya, berkat nama yang anda berikan dan bantuan dari yang lain saya bisa berevolusi menjadi goblinas. Karena hal itu saya mendapatkan sebuah skill Coocking". Ujar Maia.
"Begitu yah". Ucap Ferisu.
Setelah selesai sarapan, merekapun membereskan tenda nya dan mulai melanjutkan perjalanan.
Waktu pun berjalan dengan begitu cepat dan sudah 3 hari terlewati hingga pada akhirnya mereka sampai di salah satu kota di pinggiran wilayah elf.
Namun, kota itu terlihat habis mengalami peperangan. Karena terdapat berbagai kerusakan pada bangunan dan tembok yang mengelilingi kota.
Kota itu bernama Sprigan, sama seperti Azpire kota ini juga merupakan kota para petualang. Sprigan adalah kota yang berisikan petualang elf yang kebanyakan memiliki keahlian di pedang dan busur panah.
Walau menggunakan pedang dan busur, mereka juga tetap bisa menggunakan sihir, walau tak sekuat penyihir yang menekuni sihir.
Pada saat Ferisu berjalan mendekat ke kota itu, tiba-tiba sebuah anak panah melesat dan jatuh tepat di depan kakinya.
"Siapa kalian!". Teriak seorang elf dari atas dinding benteng kota.
"Kami hanya pengembara, yang sedang dalam perjalanan menuju ke ibu kota Elven Garden". Jawab Ferisu.
"Syukurlah anda baik-baik saja Licia Hime-sama!". Ujar para kesatria elf.
"Yah, aku baik-baik saja. Terima kasih karena sudah menghawatirkan saya". Ujar Licia sambil tersenyum.
"Licia-sama, siapa mereka?". Tanya kesatria elf.
"Mereka adalah orang-orang yang telah menolong saya dan membantu saya selama ini". Ujar Licia.
"Dan pria disana?". Ujar kesatria elf karena melihat putri mereka begitu menempel pada Ferisu.
"Dia adalah Ferisu-sama yang telah menyelamatkan saya saat penyerangan manusia. Sekaligus su~suami saya". Ujar Licia sambil memeluk tangan Ferisu.
"Eh? eeeeeeehhhh!!!!". Teriak semua elf.
"Suami!? putri apa anda sedang bercanda?". Ujar kesatria karena tak percaya.
"Tidak! saya tidak bercanda!". Ujar Licia dengan serius.
Para elf pun mengarahkan semua tatapannya pada Ferisu.
"Hmmm!? sepertinya aku sudah tak bisa mengelak lagi, huft...". Gumam Ferisu dengan senyum terpaksa.
"Baiklah, saya tak akan menanyakan hal ini lebih lanjut lagi. Kami akan mengirimkan pesan ke ibu kota jika putri berada di kota ini". Ujar kesatria itu.
Kesatria itu pun melihat orang-orang yang berjubah dan menutupi wajah mereka. Karena hal itu kesatria itu pun meminta mereka untuk membuka tudung kepala nya.
Para goblin pun menoleh kearah Ferisu semua.
"Hmm? ah. Kalian bisa membuka nya". Ujar Ferisu.
Goblin pun membuka tudung nya, para elf pun terkejut karena melihat ada 15 Hobgoblin dan Goblinas, serta 5 lagi sudah mendapatkan class job.
Takeo (Hobgoblin Warior), Takumi (Hobgoblin Shaman), Maia (Goblinas Chef), Humia (Goblinas Priest) dan Amaya (Goblinas Magician).
"Tenang lah, mereka semua bukanlah musuh". Ujar Licia.
"Baiklah, jika memang itu yang putri bilang". Ujar kesatria itu, karena ia tau jika Licia memiliki kemampuan untuk mengetahui niat jahat seseorang.
Mereka semua pun di per boleh kan masuk ke kota, pemimpin kota itu pun menyambut mereka dengan sambutan hangat dan membiarkan Ferisu beserta para goblin untuk menginap di mansion walikota.
Mereka akan pergi menuju ke ibu kota 2 hari lagi, karena menunggu persiapan lingkaran sihir teleportasi. Selama di kota sprigan Ferisu berjalan berkeliling kota itu dengan Takumi untuk mengumpulkan informasi.
Tentu saja para elf yang ada di kota itu memandang Ferisu dan Takumi dengan tatapan sinis mengingat Ferisu sedang berada dalam wujud manusia dan Takumi yang berasal dari ras iblis.
"Sepertinya kita tak disambut disini". Ujar Ferisu pelan.
"Yah, lagi pula mereka baru saja mengalami peperangan". Ujar Takumi.
Saat berjalan-jalan Ferisu pun bertemu dengan kesatria yang ia temui di gerbang sebelumnya.
"Apa kau sedang mencari sesuatu?". Ujar kesatria itu karena melihat Ferisu menoleh kesana kesini.
"Tidak, hanya saja kerusakan kota ini lumayan parah. Apa perangnya begitu besar?". Tanya Ferisu.
"Tidak, pasukan musuh hanya ada sekitar 50 orang. Tetapi ada 5 orang dari mereka yang benar-benar kuat, karena hal itulah kami mengalami kerugian yang begitu besar". Jawab kesatria itu.
"Hmmm, apa ke-5 orang itu pahlawan?". Ujar Ferisu.
"Kenapa kau bilang jika mereka adalah pahlawan!?". Tanya kesatria itu.
Apa negara / ras lain tidak mengetahui soal pemanggilan pahlawan di kerajaan Rigle?
"Ah, soal itu aku hanya pernah mendengar rumor kalau kerajaan Rigle melakukan ritual pemanggilan pahlawan". Jelas Ferisu.
"Begitu yah, kalau itu benar. Maka, soal kekuatan ke-5 orang itu. Wajar saja mereka memiliki kekuatan seperti monster!". Ujar kesatria itu dengan ketus.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Apa benar kekuatan mereka sekuat itu?
"Yah, pahlawan biasanya memiliki status dan skill yang lebih kuat dari kebanyakan orang". Ujar Kuro dengan telepati.
Aku paham, jadi aku tetap harus meningkatkan kekuatan ku lagi yah.
"Hei, apa kau tak apa?". Ujar kesatria itu karena melihat Ferisu yang melamun.
"Eh? ah aku baik-baik saja. Kalau begitu sampai nanti dan terima kasih atas informasi nya". Ujar Ferisu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TO BE CONTINUE...