Putra Kembarku

Putra Kembarku
Episode 123


" Luna"


" Mommy"


Edar merasakan tubuh istrinya gemetaran sambil memejamkan matanya.


" Astagfirrah, Luna bisa berdiri" pekik Ayu, hebohnya, Cinta membesarkan matanya.


Edar tersenyum mengelus hijab istrinya. " Sayang buka matamu lihat sekarang kita ada dimana" kata Edar. Luna menggelengkan kepalanya.


" Mommy bisa berdiri yeay" kata Alfatih yang bahagia. Luna merasakan kakinya basah pelanmembuka matanya terlihat Edar tersenyum padanya.


" Sayang lihatlah sekarang kita ada dimana dan rasakan kakimu, sayang" kata Edar, mengelus pipinya.


" Kak ayo bawa Luna ke atas dulu Gilang akan memeriksanya " kata Gilang, Edar menggendong Luna keluar dari kolam.


Di balik dinding Ningsih sangat marah karena rencananya gagal. " Sial kenapa Edar harus datang, sekarang apa yang harus kulakukan sekarang. Aku harus menghubungi orang itu untuk membantuku kabur dari sini" kata Ningsih.


Dilla atau Ningsih segera menghubungi Nandhu. " Halo tuan, anda harus menolong saya rencana yang saya susun gagal dan sepertinya kepala pelayan disini mulai mencurigai saya" kata Dilla, dengan berbisik.


" Baik tuan saya akan menunggu anda" kata Dilla.Dilla mulai membereskan barangnya karena dia tahu pak Rudi selalu mengawasi gerak geriknya selama beberapa hari ini


Sebuah apartemen


Nandhu menikmati minuman wine dalam gelasnya. " Nandhu, apa kamu tidak menolong wanita itu?" Abimana.


" Untuk apa aku menolongnya kukira dia dapat dimanfaatkan baru saja beberapa hari dia sudah dicurigai, biar saja dia menolong dirinya sendiri" kata Nandhu meminum wine, Abimana hanya menggelengkan kepalanya.


Kediaman Perkasa.


Dengan hati- hati Edar menggendong Luna ke ruang tengah. " Kak biar Gilang periksa dulu" kata Gilang. Edar membiarkan Gilang memeriksa Luna.


Luna merasa tenang. " Gilang bagaimana?" Edar, memegang tangan Luna dengan khawatir. " Dari yang ku periksa itu adalah gerakan rifleks dari luna, untuk memastikannya Luna harus di periksa ke rumah sakit" kata Gilang.


" Pak Rudi jelaskan sebenarnya apa yang terjadi?" kata Edar. " Tuan, sepertinya ada yang sengaja menumpahkan minyak dekat kamar tuan muda, hingga kursi roda nyonya muda tidak terkendali" kata Pak Rudi, menatap Edar.


" Pak dimana pelayan baru itu" kata Audyen dengan dinginya. " Saya belum melihatnya sejak nyonya muda mengalami hal ini" kata Pak Rudi.


" Vino segera check CCTV di rumah ini, Aidyen takkan mengatakan hal ini jika dia mencurigakan sesuatu" kata Edar.


" Baik tuan" Vino dan Dion segera memeriksa CCTV yang dipasang dalam rumah, Dilla sudah ketakutan dia sempat mendengar perkataan Edar ketika sendang mengamati keadaan.


" Tuan Nandhu mana, kenapa dia belum juga memberi kabar padaku. Jangan dia hanya memanfaatkanku saja" kata Dilla, dengannmenggigit tangannya karena ketakutan.


" Aku harus kabur sekarang sebelum mereka menangkapku, benar aku harus kabur" kata Dilla, dengan sembunyi Dilla kabur melalui pintu keluar.


Ketika dia sudah sampai di pintu belakang Vino berhasil menangkapnya, gerak geriknya terekam sangat jelas melalui CCTV sehingga Vino cepat bergerak sedangkan Dion memeriksa CCTV mungkin ada yang lainnya.


Luna menangis dalam pelukan suaminya ada rasa menyesal dalam hatinya karena dia sempat kesal pada Edar.


" Mas Luna minta maaf, hiks hiks" kata Luna. " Sayang kamu tidak salah, saat itu mungkin mas tidak memiliki bukti untuk mendukung pembenaran dari sisi mas" kata Edar, mencium kening mas.


" Sekarang mas sudah memilikinya" kata Luna, dengan lirihnya. Edar menanggukan kepalanya.


Vino menarik Dilla ke hadapan Edar, Dion juga sudah menyelesasikan semua yang dia cari.


" Ningsih"


...,...