
" Luna" teriak mereka terkejut melihat keadaan luna yang berantakan dan terduduk di bawah.
Oek, Oek, Oek. Tangisan Anindira sangat memilukan. " Cinta bawa keluar Anindira " kata Gilang, Cinta segera membawa Anindira keluar agar dia lebih tenang.
" Sayang, bantu mas angkat Luna ke atas kasurnya, sepertinya mas harus memberitahu kak Edar" kata Gilang. Sebelum menghubungi Edar Gilang melihat HP luna di lantai.
Ada apa ini, apa semuanya terhubung, sebaiknya segera memberitahu kak Edar sebelum keadaan semakin sulit" kata Gilang.
Gilang keluar sebelum itu meminta pelayan membersihkan kamar Luna. Ayu merapikan tempat tidur Luna yang berantakan dan menyelimuti Luna.
" Aunty mommy kenapa? " Alfatih menangis, Aidyen berada di samping Luna. " Sayang mommy sedang sakit sekarang kalian jaga mommy disini, ayo kita berdoa dulu agar mommy sembuh" kata Ayu, dengan senyuman.
Cinta membawa Anindira ke kamarnya dan menidurkannya sebelah putranya. " Anindira tenang sayang aunty yakin daddymu akan menyelesaikannya" kata Cinta, mencium Anindira dan putranya.
Gilang menuju ke ruang kerja Edar dia yakin jika di luar pasti ada yang mendengarnya. Ningsih tertawa puas dalam kamarnya mengingat keadaan Luna tadi sangat rapuh.
Markas.
" Kalian sudah menemukan orang yang akan menyamar menjadi pelayan di rumah kata Edar." Sudah tuan dia salah satu kenalanku dia bisa menjadi pelayan" kata Vino, memperkenalkan seorang gadis yang masih muda
" Siapa dia?" Edar. " Namanya lilis tuan, sria baru lulusan SMA dia tetangga orangtua saya di kampung" kata Vino.
" Dia dapat dipercaya" kata Edar, dia tidak ingin kecolongan nantinya. " Tuan tenang saja saya sudah menanggap kak Vino sebagai kakak saya sendiri, jadi saya tidak mencewakan kak Vino" kata Lilis.
Edar menanggukan kepalanya." Tunggu, Gilasng menelepon " kata Edar, ada perasaan takut seakan terjadi sesuatu dan wajah Luna melintas dalam bayangannya.
Tiba- tiba Dion mengingat sesuatu. " Tuan bukankah itu hari pertama nona Dilla metting dengan kita di restoran xxx dan saya sempat izin waktu itu, apa terjadi sesuatu saat itu?" Dion.
" Ya wanita itu sempat menggodaku, memangnya ada apa Gilang" kata Gilang, ketakutan. " Kakak minta Vino check CCTV waktu itu dan juga CCTV di perusahaan ketika Dilla mendatangkan perusahaan kak waktu itu" kata Gilang.
" Kakak akan mengurusnya sekarang apa yang terjadi disana Gilang" teriak Edar. Gilang menghela nafasnya.
" Kakak harus tenang Gilang akan mengatakannya" kata Gilang. " Baiklah kakak akan mecoba untuk tenang" kata Edar.
" Kak sepertinya kejadian di restoran xxx ada yang mengambil gambar kalian, tapi disini hanya ada kalian berdua Dion tidak ada " kata Gilang.
" Jelaskan lebih rinci ,Gilang" kata Edar. " Kak sepertinya wanita itu menggunakan foto kalian untuk menanggu Luna, kak sebaiknya pulang besok dan jangan lupa rekaman CCTV itu. Gilang yakin Luna akan percaya pada kakak dia sangat membutuhkan kakak" kata Gilang.
Edar memejamkan matanya dan air matanya sudah mengalir. " Gilang tolong jaga Luna dulu, kakak akan membawanya besok" kata Edar.
" Kak, semoga sukses " kata Gilang, memutuskan panggilannya. Edar menyandarkan keoalanya ke sofa.
Edar menatap kedua kepercayaannya. " Kalian sudah mendengarnya kan aku ingin semuanya beres besok pagi dan Lilis besok bersiap" kata Wdar.
" Baik tuan" seru mereka. Dion dan Vino segera mengumpulkan rekaman CCTV yang di minta oleh Edar, sedangkan Lilis juga bersiap.
Dion segera menuju Perusahaan Perkasa Group untuk menchek CCTV, Dion sudah menghubungi satpam agar memudahkannya.
Vino meretas CCTV di restoran xxx semalam karena kejadiannya sudah cukup lama. Edar juga menyiapkannya agar Luna kembali percaya padanya.