
Di Perusahaan Perkasa Group Edar berdiri di dekat jendela dia sedang memandang kendaraan yang keluar masuk di perusahaannya.
Kret pintu terbuka masuklah Dion . " Tuan, wakil dari Perusahaan Avize Group dudah datang dan sekarang sedang menunggu di ruang rapat" kata Dion.
" Dion coba tanyakan ke Gilang kapan terapi untuk Luna dimulai, aku tidak sanggup melihat sedih" kata Edar, tanpa melihatnya.
" Akan sayang hubungi tuan Gilang, tuan" kata Dion. " Baiklah kita ke ruang rapat " kata Edar, berjalan menuju ke ruangan rapat dan disusul oleh Dion.
Pintu di buka oleh sekretarisnya dan mempersilahkan masuk. " selamat datang tuan Soni yang bersedia datang ke Perusahaan kami untuk membicarakan proyek yang akan kita bangun di kota xxx" seru Edar, memberi salam.
" Sama- sama tuan justru saya yang merasa terhormat karena dapat bekerja sama dengan anda" kata Soni.
" Silahkan duduk, Mira bagikan berkasnya" kata Edar. " Baik tuan" seru Mira. Mereka memulai rapatnya dan mendapatkan kesepakatan yang di sepakati bersama.
" Terima kasih tuan semoga saja kerja sama kita ini terus berlanjut" kata Soni. Edar menanggukan kepalanya dan mereka saling menjabat tangan.
" Mira antar mereka sampai di lobi" kata Edar. " Baik tuan, mari tuan Soni" ucap Mira.
Di kediaman Perkasa sedang kedatangan Ayu dan Cinta karena praktek mereka sudah selesai, memutuskan menemui Luna.
Mereka duduk di taman sambil menikmati cake orangtua Edar sedang keluar menemui sahabat lama mereka.
" Sudah lama kita tidak seperti ini" kata Ayu. " Ya padahal waktu itu kita masih kuliah dan sekarang kita memiliki keluarga kecil" kata Cinta.
" Nama putra kalian siapa?" Luna melihat kedua putra sahabatnya tidur di kereta bayi. " Putraku ini namanya Faiz Putra Firmansyah, dan ini putraku Zaky Putra Suratmaja" kata mereka.
" Nama yang bagus, eh putri kecil mommy kenapa sayang" kata Luna, melihat Anindiira terus melihat pintu di luar.
" Sepertinya dia sedang menunggu kakaknya Luna bukankah ini saatnya mereka pulang" kata Cinta, melirik arlojinya.
" Mommy, adik kalian dimana Kata Alfatih, dengan kerasnya Aidyen hanya diam. " Tuan muda nona Luna berada di taman sahabat nona datang" kata Pak Rudi.
" Ayo Ai kita harus memberi mommy ini" kata Alfatih membawa cake yang j nommy, Adik" kata Aidyen mencium pipi Luna dan Anin begitu pula Alfatih.
" Sayang mengapa kalian telat pulangnya" kata Luna. " Mommy tadi mobilnya mogok terus kami membeli ini cake rasa strowberri" kata Alfatih.
" Terima kasih sayang" kata Luna, Ayu memanggil pelayan untuk membawa pisau dan piring.
" Mommy disekolah kami ada acara" kata Alfatih, memakan cake. " Perayaan apa sayang?" Luna.
" Kata guru acaranya perayaan yang di selenggarakan tiap tahunnya" kata Aidyen. " Kapan acaranya di selenggarakan" kata Ayu tersenyum.
" Acaranya akhir tahun ini aunty biar terasa akhir tahun ini lebih seru, dan kelas kami akan mempersembahkan sebuah sandiwara" kata Alfatih.
" Berarti tiga bulan lagi " kata Cinta. Luna hanya diam mendengarnya ada rasa sakit dihatinya jika dia sehat pasti dapat membantu putranya.
" Luna kenapa diam saja ?" Cinta . Luna hanya menggelengkan kepalanya. Ayu dan Cinta tahu bahwa ada yang disembunyikan oleh Luna.
" Luna kita sudah bersahabat bertahun bahkan sekarang kita memiliki keluarga kecil, kami sangat menengalmu Luna kamu terlihat sedih akan sesuatu hal" kata Cinta, menatap intens dan Ayu memegang tangannya memberi kekuatan.
" Mendengar perkataan mereka hatiku sakit seakan aku tidak dapat membantu mereka dalam persiapan acara itu. Cinta dulu kita sering membantu mereka mempersiapkan semuanya jika ada acara di TK tapi sekarang" kata Luna, menangis.
" Mommy jangan menangis jika mommy menemani kami untuk latihan kami bahagia mommy" kata Aidyen , menghapus air mata Luna dan memeluknya diikuti oleh lainnya.
Dibalik dundung ternyata Edar mendengarnya sambil menagan kesedihannya. " Dion, kamu sudah menghubungi Gilang agar terapinya dimulai" kata Edar.
" Sudah tuan kata tuan Gilang besok siang mereka akan kesini" kata Dion. Edar menanggukan kepalanya dan menuju ruang kerjanya diikuti oleh Dion.