Pesona Penggoda Nakal

Pesona Penggoda Nakal
Keluarga Bahagia


Azhar menepuk kasur kosong di sampingnya. Caca yang baru memakai skincare menghampiri suami tercintanya dan masuk ke dalam pelukan terhangat di muka bumi ini.


"Lelah? Mau aku pijat?" tanya Azhar.


"Kok kebalik ya? Seharunya aku yang nanya. Mas lelah apa enggak? Kalau lelah, biar aku pijat!" tanya balik Caca.


"Enggak. Mas enggak lelah kok. Mas bahagia. Hari ini seakan semua beban dalam hidup Mas tuh udah terangkat. Mas kini bisa bahagia dengan keluarga yang membuat hati Mas merasa nyaman. Ada kamu, Mommy yang sekarang bahagia semenjak dekat dengan kamu, Mama dan Papa yang kini punya kesibukan baru membantu bisnis Julie. Aku makin mensyukuri semua kebahagiaan ini. Sekarang aku mau kita lebih bahagia lagi dengan kehadiran anak-anak kita."


"Anak-anak?" tanya Caca.


"Ya. Anak-anak. Aku mau punya banyak anak dari kamu. Aku mau rumah Mommy ramai dengan suara tertawa, teriakan mereka saat bermain dan suara tangis saat mereka berebut mainan. Aku mau Mommy makin bahagia lagi. Aku mau menghapus semua kesalahanku dengan membuat Mommy bahagia di sepanjang usianya."


"Ah... So sweet...."


Azhar mengecup kening Caca dengan penuh cinta. "Iya dong! Semanis kamu yang sudah menambah warna dalam hidup aku. Senakal kamu yang sudah memporak-porandakan hati aku. Dan tentunya secinta aku sama kamu."


Azhar mulai mencium bibir Caca dengan lembut. Menikmati setiap cinta di antara mereka. Kini hanya ada cinta dan cinta yang menghiasi rumah tangga mereka.


****


Setahun kemudian...


"Ma, Mama enggak capek 'kan? Kalau Mama capek bilang ya sama aku! Aku akan pijitin Mama, buatin Mama air jahe, ajak Mama jalan-jalan di Mall dan membacakan cerita!" ujar Julie sambil menahan tawanya karena sudah menggoda Mama.


"Memangnya Mama anak kecil? Mama maunya denger kamu ngaji! Suara kamu bagus ternyata. Setiap malam Mama dengar kamu selalu mengaji di kamar Baim. Rasanya tenang dan tentram deh rumah Mama." Mama menata nasi yang sudah dibungkus kertas dan ia tata agar rapi dan gampang diambil.


"Iya, Ma. Aku juga merasa lebih tenang dan bisa tidur dengan lelap sehabis mengaji. Enggak sia-sia aku ikut Mama ke pengajian setiap hari. Selain tambah ilmu juga bisa membuat batinku seakan kenyang dengan siraman rohani." Julie yang bertugas menata aneka lauk yang telah dibuatnya bersama Mama sejak subuh tadi. Ada ayam goreng, ikan goreng tepung, sayur capcay dan kerupuk.


Hari ini rencananya Julie akan menyumbang makan siang untuk para penghafal Al-Quran di salah satu rumah tahfiz yang letaknya agak di dalam perkampungan. Ternyata selama ini Baim adalah donatur tetap di sana. Julie melanjutkan apa yang kekasih hatinya lakukan semasa hidup.


Julie mengangkat piring plastik yang dibawanya lalu ditaruh bersebelahan dengan sendok. Mama kali ini tugasnya menyusun air mineral gelas yang sudah diangkut Papa dari dalam mobil.


"Mama suka dengan perubahan demi perubahan yang kamu lakukan, Nak. Teruskan. Niscaya kebaikan akan kembali juga sama kamu. Buktinya usaha toko roti yang kamu buat maju pesat dalam setahun, padahal kamu hanya les membuat roti sebentar loh! Itu artinya kamu anak yang cerdas. Mama bangga sama kamu!" puji Mama dengan tulus.


Julie terharu mendengarnya. Julie menghampiri Mama dan memeluknya. "Julie akan terus membuat Mama bangga sama Julie. Akan Julie buktikan kalau Julie adalah anak Mama yang membanggakan!"


Mama tersenyum dan menghapus air mata yang mulai menggenangi matanya. Julie sudah ia anggap anak. Baim seakan menitipkan kekasih hatinya untuk ia bimbing agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


"Kamu memang hebat!" puji Mama lagi.


"Siapa dulu dong? Anak Mama dan Papa!" ujar Julie dengan bangga. Julie melepaskan pelukannya dan membantu Mama menata buah-buahan di dekat air mineral. "Oh iya Ma, Caca datang juga 'kan?" tanya Julie.


"Datang katanya. Mau bawa cucu Mama juga! Ganteng loh cucu Mama! Mirip Nak Azhar!" ujar Mama penuh rasa bangga.


"Kamu tak mau hidup bahagia seperti mereka?" tanya Mama hati-hati. "Kamu bisa membuka lembaran baru dan menikah dengan lelaki yang mencintai kamu. Sejak kamu tinggal di rumah Mama, banyak yang sering berkunjung loh. Banyak yang tertarik sama kecantikan kamu!"


Julie menggelengkan kepalanya. "Aku sudah bahagia hidup sama Mama dan Papa. Aku bisa merasakan lagi kasih sayang kedua orangtua yang sudah lama tidak aku rasakan. Aku jadi dekat sama Allah berkat Mama yang tak bosan mengingatkanku untuk sholat. Aku sudah bahagia Ma. Toh cinta aku cuma untuk Baim seorang. Aku takut malah menyakiti hati pria lain nantinya."


Mama tersenyum. Hatinya bahagia mendengar anak lelakinya selalu menjadi pria yang dicintai Julie. Namun Mama tak mau egois. Ia juga mau Julie bahagia. "Kalau nanti ada pria yang mencintai kamu dengan tulus, Mama akan lebih bahagia lagi jika kamu bisa hidup bersama pria tersebut. Kamu tetap anak Mama dan Papa. Selamanya, tak akan pernah terganti. Jadi, jangan takut kalau menemukan pria baik maka Mama dan Papa akan marah. Kami justru bahagia!"


Julie hanya mengangguk pasrah. Ia iyakan saja perkataan Mama. Masalah jodoh nanti saja Allah yang mengatur.


"Ma!" panggil Caca dari kejauhan.


Caca menggendong putranya yang baru beberapa bulan lahir ke dunia ini. Anak nakal itu bahkan berlari sambil menggendong erat putranya. Membuat Mama memarahi perbuatannya tersebut.


"Dasar nakal! Anak kamu kok diajak lari-larian kayak gitu sih!" omel Mama. "Awas ya kayak begitu lagi!"


"Iya... Iya... Tuh liat aja baby aku senang. Tidurnya makin pulas." jawab Caca seraya mencium bayinya yang masih pulas dalam gendongannya.


"Mau Mama cubit kamu kalau kayak begitu lagi?!" ancam Mama membuat Caca takut.


"Ampun, Ma. Cubitan Mama pedas kayak mulut tetangga ha...ha...ha..." Mama ikut tertawa mendengarnya.


"Mana Azhar?" tanya Mama.


"Lagi ambil snack yang aku buat untuk dibagikan ke adik-adik kita." jawab Caca.


Julie ikut berbahagia bisa merasakan kehangatan keluarga Caca. Merasakan hal yang sudah lama tak ia rasakan. Rupanya dirinya lebih menginginkan kasih sayang dibanding apapun. Dalam hatinya sangat berterima kasih pada Baim. Berkat Baim dirinya bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.


Meski semua sibuk membagikan makanan, tak ada satu pun yang mengeluh. Mereka senang berbagi. Senang saat melihat orang lain bahagia.


Azhar menggendong buah hati mereka seraya merangkul Caca penuh cinta. Julie berdiri di antara Mama dan Papa seraya menggandeng tangan Mama dengan penuh kasih sayang. Saat pemilik rumah tahfiz menghitung mundur, semua memasang senyum terbaiknya.


"Siap ya! Satu... Dua.... Ti....ga cheeese!"


Cekrek...


Satu lagi foto berisi momen bahagia yang akan terpajang di rumah Mama dan Mommy. Akan menjadi pengingat kalau mereka akan selalu bahagia dan rukun seperti dalam foto.


...TAMAT...


*****


Terima kasih untuk semua yang sudah mendukung novel ini. Lanjut yuk baca novel baru aku judulnya Perangkap Cinta Carmen 😍😍😍😘😘😘