
Mendengar apa yang dikatakan Julie seakan mencabut duri yang menusuk jantungnya. Julie akan melepaskan Azhar tanpa Caca minta.
"Kamu tahu kenapa Baim memberikan uang yang banyak sama kamu?" pertanyaan Mama membuat Caca dan Julie menatap ke arah Mama.
Julie menjawabnya dengan menggelengkan kepala.
"Mama rasa Baim sudah tahu kalau semua hutang kamu sudah dilunasi oleh Azhar. Baim tuh anak yang kadang pemikirannya sangat jauh ke depan. Baim pasti membayangkan hidup kamu yang menderita selama menikah dengan Azhar. Kamu menikah dengan pria yang tak lagi kamu cintai dan Baim merasa sedih. Ia ingin kamu bahagia. Ia ingin kamu mencari kebahagiaan kamu sendiri,"
"Kamu tuh ibarat kepompong yang akan berubah menjadi kupu-kupu. Kamu tak dibiarkan berubah menjadi kupu-kupu yang cantik dan terbang bebas karena harus selalu bersembunyi. Baim tak mau itu. Coba pikir, kalau kamu jadi Baim apa yang akan Baim lakukan kalau punya uang banyak?!" tanya Mama dengan lembut.
Julie terlihat sedang mengingat sesuatu. "Baim mau membantu banyak orang kalau ia punya uang banyak." jawab Julie.
"Lalu kenapa kamu tidak melakukan apa yang selama ini Baim impikan? Dengan uang peninggalan Baim, kamu bisa membuat usaha yang keuntungannya bisa untuk membantu banyak orang. Secara tidak langsung kamu bisa mewujudkan cita-cita Baim bukan? Kamu juga bisa menjadi kupu-kupu cantik yang terbang dengan hati bahagia bukan?"
Julie mendengarkan perkataan Mama yang banyak benarnya. "Iya. Mama benar. Aku ingin membahagiakan Baim. Aku ingin melakukan apapun yang membuat Baim bahagia dan tenang di alam sana."
"Nah begitu dong! Kamu harus punya semangat hidup. Kamu tak bedanya dengan Mama. Kita sama-sama sedih kehilangan orang yang kita sayang. Kita sama-sama terluka. Namun kita tahu kalau kita masih bisa membuat orang yang kita sayang bahagia di atas sana!"
Julie lalu memeluk Mama, "Makasih banyak, Ma. Berjuta kata maaf tak akan mungkin bisa menghapus dosa yang Julie buat. Julie akan buktikan sama Mama kalau Julie akan membuat Baim bahagia di sana. Mama mau 'kan membantu Julie?"
Mama mengangguk seraya menghapus air matanya. "Iya. Pasti Mama bantu!"
Julie tersenyum. Ia lalu melepaskan pelukan Mama dan menatap Caca. "Aku akan bercerai dengan Azhar. Temanilah Azhar dan bahagiakan dia. Azhar lelaki baik. Aku yang membuatnya jadi lelaki jahat. Boleh aku meminta sedikit kasih sayang Mama dan Papa? Aku butuh nasehat mereka agar aku bisa menjalani hidup seperti yang Baim inginkan. Bolehkah?"
Caca mengangguk. "Boleh. Tapi jangan banyak-banyak karena Mama dan Papa punya aku seorang!" jawab Caca sambil tersenyum.
Julie balas tersenyum. "Makasih, Cantik. Aku akan tetap memanggil kamu Cantik agar panggilan itu tetap ada. Senang berkenalan dan bertemu langsung dengan kamu. Meski kita harus jambak-jambakkan dan menangis dulu agar bisa lebih dekat."
Caca tersenyum lebih lebar. "Jangan lupa belikan aku hair tonik karena rambutku banyak yang rontok!"
"Tentu. Aku akan belikan yang banyak!" keduanya pun tertawa bersama. Caca mendekat dan memeluk Julie. Mama tersenyum melihat keakraban keduanya. Ia bisa membayangkan Baim bahagia di atas sana.
***
Beberapa hari kemudian...
Azhar dan Julie berpisah di depan pengadilan agama sambil tersenyum. Tak ada pasangan yang bercerai namun terlihat bahagia seperti yang mereka lakukan.
Azhar mengulurkan tangannya dan Julie membalas uluran tangannya. "Semoga kamu sukses dengan bisnis baru kamu! Aku harap kamu bisa hidup bahagia dan maaf atas semua rasa sakit yang telah kuberikan sama kamu!" ujar Azhar dengan tulus.
"Aamiin! Semoga Allah mengabulkan doa kamu. Semoga kamu bisa membahagiakan Caca dan Mommy. Titip salam aku untuk Mommy, katakan aku minta maaf yang sebesar-besarnya atas semua perbuatanku selama ini. Berbahagialah kamu dan jangan pernah tergoda wanita lain atau aku akan membantu Caca menjambak wanita itu!" ancam Julie sambil tersenyum.
"Sampai jumpa lagi, Zha. Terima kasih untuk semuanya!"
Azhar melihat Julie memasuki mobil taksi yang diberhentikannya. Menatap mantan istrinya pergi dengan perasaan lega. Rupanya pernikahan mereka adalah hal paling menyakitkan bagi semuanya. Sekarang, istrinya hanya satu. Caca seorang.
Azhar berjalan penuh semangat ke parkiran mobilnya. Mengemudikan mobil sambil bersenandung riang. Ia ingin pulang dan memeluk Caca seharian.
"Sayang!" Azhar memanggil Caca begitu sampai di rumah besar Mommy.
Bukan Caca yang menjawab panggilan Azhar melainkan Mommy yang keluar sambil memakai apron dengan wajah ada bekas tepung. "Apa Sayangku?!" tanya Mommy sambil tersenyum jahil.
"Bukan Mommy yang aku panggil!" cibir Azhar. Ia salim pada Mommy dan membersihkan tepung di wajah Mommy tersayangnya. "Masak apa sih sampai belepotan tepung seperti ini?!"
"Caca sedang mengajari Mommy buat bolen pisang. Ribet sekali, digulung, lipat, digulung lagi, lipat lagi sambil digilas dengan gilingan kayu. Capek tapi Mommy suka mengerjakannya. Kamu duduk dulu, Caca tadi mau mengangkat bolen pisang yang sudah matang. Duduklah! Mommy akan buatkan minum buat kamu!" Mommy terlihat begitu bersemangat.
Sejak Caca tinggal di rumah Mommy, wajah Mommy selalu bahagia. Mommy terlihat begitu bersemangat menjalani hari-harinya. Ada saja yang mereka berdua lakukan, mulai dari berkebun bersama, belanja ke pasar, masak, membuat kue bahkan menonton bioskop berdua.
Azhar terkadang harus mengalah karena Mommy seakan menguasai Caca. Semua yang Mommy lakukan maunya ditemani Caca. Azhar suka pura-pura cemburu kalau Mommy menguasai Caca.
Indra penciuman Azhar bereaksi saat harum bolen yang baru matang menyeruak memenuhi ruangan. Caca datang membawa bolen dan Mommy membuatkannya teh manis hangat.
"Wah nikmat sekali nih aku pulang langsung disuguhi makanan dan minuman dari dua wanita cantikku!" puji Azhar membuat Mommy dan Caca tersenyum senang karena dipuji.
"Bisa aja kamu!" Mommy menaruh teh manis di atas meja lalu duduk bersama Azhar.
Caca menaruh bolen buatannya lalu salim pada Azhar. Azhar malah menarik istrinya dan mencium kening Caca di depan Mommy, membuat Mommy protes melihat adegan mesra di depannya.
"Aduh mata Mommy ternodai. Jangan begitu dong! Kasihanilah janda tua ini! Jangan pamer terus!" goda Mommy.
Azhar dan Caca tertawa mendengarnya. "Mommy bisa saja!" Caca membenarkan duduknya dan bertanya pada Azhar mengenai hari ini.
"Bagaimana? Semua lancar?" tanya Caca.
"Alhamdulillah. Lancar. Tadi aku sudah membacakan talak pada Julie dan perceraikanku juga sudah diresmikan. Julie juga terlihat bahagia berpisah dariku. Hanya kami berdua pasangan yang keluar sehabis bercerai dengan bahagia. Kalau tahu begini sudah sejak dulu saja kami berpisah." jawab Azhar.
"Tak ada yang tahu garis hidup seseorang. Mulai sekarang, kamu dan Caca harus hidup lebih bahagia lagi. Jangan lupa, cucu pesanan Mommy!" ujar Mommy membuat Azhar dan Caca tertawa mendengarnya.
"Siap, My! Pesanan sedang dibuat ha...ha...ha..."
****