
Azhar membaca pesan yang Julie kirimkan. Beberapa kata cinta dan ungkapan kangen dikirimkan oleh Julie. Semuanya tak ada yang membuat hatinya berdegup kencang. Tidak seperti dulu.
Azhar merasa dirinya kini sudah banyak berubah. Hubungannya dengan Julie sudah baik-baik saja meski sempat memanas karena insiden karangan bunga dan cokelat. Namun kenapa hatinya kini merasa hampa.
Azhar menatap Caca yang baru selesai sholat. Celingukan mencari keberadaannya di tengah cafe yang ramai ini.
Azhar melambaikan tangannya. Caca melihat Azhar dan tersenyum lalu menghampiri suaminya. Melihat senyum Caca, kembali membuat hati Azhar menghangat.
Jantung Azhar pun kembali berdegup kencang. Azhar aneh dengan perasaan yang ia rasakan.
"Benarkah kini aku mencintai Caca?" tanya Azhar pada dirinya sendiri.
"Mas pesan apa?" tanya Caca yang duduk di depan Azhar. Wajahnya terlihat lebih segar sehabis sholat.
Azhar kembali terpukau dengan Caca. "Eh itu, aku pesan risol dan teh tarik. Agak lama datangnya. Mungkin baru digoreng saat aku pesan. Kamu mau pesan apa?"
Caca melihat menu yang ada di atas meja. "Semuanya enak! Aku mau semua!"
Azhar tersenyum mendengar perkataan Caca. "Yakin? Baru makan nasi Padang loh!"
"Oh iya ya! Yaudah aku mau pesan cemilan aja. Es teller kayaknya enak. Nanti aku minta risol kamu ya!"
"Iya!" Azhar mengusap rambut Caca dengan penuh kasih.
Mereka menikmati live musik sambil memakan cemilan. Mengobrol dengan akrab dan saling mengenal lebih jauh lagi.
"Kamu selama kuliah sering pulang enggak, Ca?" tanya Azhar.
"Enggak, Mas. Kalau sering pulang nanti Papa kasihan. Lebih baik uangnya ditabung buat bayar kostan."
"Memang enggak bayar semesteran?!" tanya Azhar lagi.
"Enggak, Mas. Aku kan dapat beasiswa. Gratis. Papa hanya bayar kostan dan uang makan aku sehari-hari saja. Kalau uang jajan aku suka membantu membuat skripsi. Lumayan uangnya. Bisa buat jajan sesekali dan makan angkringan sepuasnya."
"Kamu kerja sambil kuliah? Bisa?" Azhar semakin penasaran dengan kehidupan Caca.
"Iya, Mas. Kasihan Papa kalau membiayai aku semuanya. Papa 'kan bukan hanya membiayai aku seorang." Caca menyadari kesalahannya.
"Maksud kamu? Memangnya Papa membiayai siapa lagi?!" tanya Azhar.
"Ya... Biayain Mama, Mas. Aku kerja juga karena aku mau mandiri. Tak mau menyusahkan Papa dan Mama. Biar mereka bisa menikmati hidup mereka tanpa khawatir dengan biaya aku kuliah."
"Wow... Keren ih kamu!" semakin kagum saja Azhar dengan Caca. "Waktu aku kuliah dulu malah aku menghabiskan semua uang jajan, tabungan dan bahkan kartu kredit yang aku punya sampai over limit."
"Oh ya? Buat apa?" tanya Caca.
"Buat... Beliin barang-barang kesukaan Julie. Barang-barang branded yang ia jual saat kami putus dengan alasan tak punya uang." terdengar nada kecewa dalam suara Azhar.
Caca melihat kesempatan emas untuk membuat Azhar semakin tidak menyukai Julie. "Dijual? Bukannya pemberian dari orang tersayang sebaiknya disimpan ya? Memang Bu Julie sampai segitu susahnya ya, kok barang pemberian Mas sampai dijual segala?!"
"Itulah salah satu yang membuat aku kecewa. Julie terbiasa hidup enak. Meski hidup tanpa orang tua, namun ia diwarisi uang asuransi yang menjamin hidupnya sampai ia selesai kuliah. Kami putus sebelum lulus kuliah. Julie bilang, ia butuh uang untuk bertahah hidup sampai mendapat pekerjaan. Jadi ya... Dijual semua deh." kata Azhar.
Caca menggenggam tangan Azhar. "Yang sabar ya, Mas. Mungkin saat itu Bu Julie memang benar-benar butuh uang."
"Seharusnya tak sampai menjual semua pemberianku, Ca. Dia tak tahu saja bagaimana pengorbananku untuk membelikannya barang-barang yang ia suka. Omelan Mommy dan Papi udah jadi sarapan aku. Eh seenaknya saja dijual!" gerutu Azhar.
Caca lalu memegang kalung pemberian Azhar. "Aku akan menyimpan kalung pemberian Mas. Ini cara aku menghargai Mas. Jangan khawatir ya, Mas. Akan aku jaga seperti aku menjaga cinta Mas."
Deg...
Caca tak siap menerimanya. Ini terlalu cepat dan... Caca begitu tak siap.
Ia tak menyangka kalau dirinya akan secepat itu dicintai Azhar. Beberapa waktu lalu, ia hanya berstatus sebagai sekretaris Azhar tapi kini?
Jantung Caca berdegup semakin kencang. Azhar kini menatapnya dengan penuh cinta. Hampir saja jantungnya melompat keluar karena terlalu kencang berdetak.
"M-Mas... Aku..."
"Aku tahu kamu juga mencintaiku. Kamu menyerahkan mahkota kamu sama aku adalah hal yang paling istimewa buatku. Kamu yang terbaik, Ca!" Azhar memegang tangan Caca dan mencium punggung tangan Caca.
Caca tersipu malu. Ia menunduk sehabis mendengar pernyataan cinta Azhar. Ia sering mendengar dari cowok lain, tapi baru kali ini yang terasa begitu tersampaikan sampai ke hati.
"Apakah aku juga sudah mencintai Azhar? Ya, aku yakin aku semakin terjerat cinta Azhar. Kalau tidak, kenapa aku begitu senang mendengarnya? Sadar, Ca! Ini kesempatan bagus! Ini sesuai dengan rencana kamu!" batin Caca.
Caca tersenyum menyadari kalau rencananya sudah sesuai dengan yang ia susun. "Aku juga mencintai Mas Azhar. Mas lelaki baik."
"Tapi bodoh karena menikahi Julie." tambah Caca dalam hati.
"Aku begitu tersanjung karena Mas mencintaiku. Rasanya tak sia-sia aku memberikan kehormatanku pada Mas. Aku jaga hanya demi suamiku tercinta." Caca merasa aktingnya semakin jago saja. Lihatlah betapa Azhar tertipu dengan yang Caca lakukan.
"Aku yang beruntung, Ca. Kita jalan-jalan lagi yuk! Aku mau membelikan kamu sesuatu!"
"Oke! Aku sholat ashar dulu ya, Mas. Biar tenang perginya." pamit Caca.
"Kamu enggak ngajak Mas sholat?" tanya Azhar.
"Mas mau ikut?" ajak Caca.
"Aku... Belum bisa jadi imam sholat, Ca. Aku enggak-"
Caca memotong perkataan Azhar. "Enggak apa-apa. Kita sholat masing-masing. Yang penting Mas sudah mau sholat."
"I-iya. Mas mau."
"Nah begitu dong! Suami yang baik dan soleh, akan bersama dengan istrinya yang soleha di surga nanti."
"Aamiin. Ingatkan aku untuk terus menjadi suami yang baik dan soleh ya, Ca!"
Caca mengangguk. "In sha Allah, Mas. Ayo kita sholat!"
Caca mengulurkan tangannya, mengajak suaminya sholat. Azhar menerima uluran tangan Caca.
Mereka berjalan menuju bagian samping cafe, berpisah di tempat wudhu dan sholat di dalam mushola kecil secara masing-masing. Azhar sudah lama tidak memasuki mushola. Ia merasakan kedamaian dalam hatinya ketika memasuki mushola.
Kedamaian yang ia rasakan lebih terasa lagi saat ia mulai sholat. Meski agak lupa karena sudah lama tidak sholat, namun tidak membuat ketenangan dalam hatinya berkurang.
Caca sholat sambil menangis. Ia merasa dirinya begitu jahat. Rasa dendam dalam dirinya begitu besar dan ia belum bisa menghilangkan rasa amarah dalam dirinya terhadap Julie.
"Maafin Caca ya Allah... Maafin Caca...."
****