Pesona Penggoda Nakal

Pesona Penggoda Nakal
Boom Pertama Diledakkan


Hari libur ini Caca habiskan dengan membereskan apartemennya. Membawa semua pakaian kotornya dan berniat pergi ke laundry.


Saat keluar dari apartemen, Caca berpapasan dengan Eza yang juga membawa baju kotornya. "Loh? Mau laundry juga?!" tanya Caca.


"Iya. Kamu mau laundry dimana?!" tanya Eza yang tersenyum senang melihat kehadiran Caca.


"Di BPP alias Bisnis Plus Plus. Kamu?!"


"Sama dong! Wah bisa bareng nih!"


"Bisa dong! Sekalian aku traktir kamu kopi ya di cafe yang ada di atas BPP. Itung-itung nyicil bayar hutang!" ajak Caca.


"Beneran nih? Aku sih enggak nolak! Ayo naik mobil aku aja! Biar enggak berat bawa cuciannya!" ajak Eza yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Caca.


Caca dan Eza berjalan ke parkiran mobil dan naik mobil sedan milik Eza. Ternyata Eza juga memiliki beberapa koleksi mobil di parkiran. Caca kagum pada Eza, masih muda namun sudah sukses dengan perusahaan yang dirintisnya.


BPP berada tak jauh dari apartemen mereka. Sebuah ruko dengan parkiran mobil yang lumayan padat kalau weekend seperti ini. Untunglah Eza masih kebagian tempat parkir.


Caca membeli koin untuk mencuci. Ia memasukkan koin dalam mesin cuci yang sudah ia masukkan baju kotornya beserta air dan sabun. Eza pun berbuat demikian.


Selesai dengan cucian, Caca membayar jasa setrika yang disediakan di BPP. Ia lalu mengajak Eza nongkrong di cafe yang berada di atas usaha laundry sambil menunggu baju mereka selesai disetrika.


"Dua es kopi, dua croissant rasa cinnamon hazelnut dan dua risol." pesan Caca pada kasir cafe.


Sambil menunggu pesanannya datang, Caca lalu duduk di tempat duduk yang sudah ditempati Eza. Eza terlihat begitu tampan meski hanya mengenakan kaos dan celana training. Beda memang aura orang kaya. Berkilau dari jauh.


"Tunggu ya, es kopi dan cemilannya lagi disiapin." ujar Caca.


"Santai. Kita toh lagi nunggu cucian disetrika. Lumayan antri juga tadi. Kita bisa ngobrol lebih lama." ujar Eza.


"Enak nih ada laundry kayak gini. Bisa santai dan nyuci enggak terbebani." puji Caca. "Oh iya, gimana pekerjaan kamu di Bali? Udah selesai semua? Puas enggak pelanggan kamu?!" tanya Caca.


"Puas dong. Eza gitu loh! Kalau aku udah turun tangan untuk terjun langsung ke lapangan semua pasti beres." jawab Eza dengan penuh kebanggaan.


"Beda deh kalau bos mah! Kamu tuh hebat loh, Za. Masih muda tapi udah sukses dengan perusahaan kamu. Salut aku tuh sama orang yang bisa membuat perusahaan dan merekrut karyawan. Bisa mengkaryakan diri sendiri dan membuat lapangan pekerjaan untuk orang lain. Keren!" Caca mengacungkan dua jempolnya untuk Eza.


Eza tersipu malu mendengar pujian Caca. "Bisa aja kamu mujinya."


Percakapan mereka terhenti kala pesanan Caca datang. Es kopi langsung mereka sikat, cuaca panas memang paling pas minum es kopi.


"Ehem!" Eza berdehem pelan. "Maaf, Ca. Aku mau nanya, tapi kamu jangan marah ya!"


"Mau nanya apa?!" tanya Caca seraya mengambil sebuah risol yang masih panas dengan tisu dan mulai memakannya sambil meniup-niup risol agar dingin.


"Kemarin waktu di Bali aku melihat kamu di restoran sedang mengobrol dengan seseorang. Akrab banget. Aku... foto kamu buat aku tunjukkin sama kamu." Eza menunjukkan foto Caca. Nampak di foto ia sedang mengobrol sambil tertawa dengan Azhar.


Caca menaruh risol yang ia makan di atas tisu, "Boleh kirimin fotonya enggak ke aku?!"


Eza mengernyit heran. Bukannya menjawab pertanyaan, Caca malah terlihat tertarik dengan foto yang Eza ambil. "Kamu enggak marah aku ambil foto diam-diam?"


"Enggak. Malah aku senang. Makasih ya!" jawab Caca yang kini asyik dengan Hp miliknya dan mengacuhkan Eza. Ia menyimpan foto dari Eza untuk membuat serangan berikutnya. Serangan pertama adalah foto yang diambil Handy dulu.


Eza makin heran. "Kamu ngapain sih?"


"Ada deh! Oh iya, tadi kamu mau nanya apa?" Caca terlihat begitu bahagia. Sebuah bom berhasil ia lemparkan tinggal menunggu bom itu meledak saja.


"Itu... Kamu pergi dengan siapa? Kok akrab sekali?!" tanya Eza.


"Sama bos aku. Mungkin karena usia kami tidak terlalu jauh ya jadi aku sama dia seperti teman. Kita jalan-jalan sebentar di hari terakhir berada di Bali. Aku ditraktir di restoran, seperti foto yang kamu ambil." ujar Caca.


Caca ingat benar mereka makan malam di restoran mewah dan hanya mengobrol. Situasi dianggap aman menurut Caca. Eza pun percaya saja dan mereka kembali mengobrol sambil menunggu pakaian mereka selesai disetrika.


Sementara itu di tempat lain, Julie yang mendapat pesan dari Baim sontak membulatkan matanya. Ia menunggu Baim membalas pesannya beberapa hari ini namun balasan Baim membuat ia naik darah.


"Ini lelaki yang kamu nikahi? Lelaki yang tukang selingkuh? Karena lelaki ini kamu meninggalkan aku?!"


Sebuah foto dikirimkan. Foto dimana Azhar sedang makan es krim dengan Caca yang diambil oleh Handy. Wajah Caca diblur sehingga Julie tak mengenali siapa yang bersama Azhar. Nampak Azhar tertawa bahagia saat bersama cewek tersebut.


Julie lalu menelepon Baim dan kecewa karena nomor Baim kembali tidak aktif. "Sialan!" maki Julie.


Julie sangat marah dan merasa dikhianati oleh Azhar. Ia lalu masuk ke dalam kamar dan hendak meminta penjelasan Azhar.


Azhar sedang asyik menonton TV ketika Julie masuk dengan emosi. "Siapa ini, Zha?!"


Azhar melihat foto yang Julie perlihatkan dari Hp miliknya. Mata Azhar begitu terkejut mendapati foto dirinya sedang tertawa bersama Caca.


"Siapa wanita ini?!" tanya Julie sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Cuma... Teman." jawab Azhar singkat.


"Alah! Memangnya aku bodoh! Siapa dia Zha? Kamu selingkuh sama dia?! Kamu selingkuh di belakangku?" tanya Julie dengan nada tinggi.


"Aku bilang hanya teman, kenapa kamu tak bisa percaya sama aku sih? Selingkuh kamu bilang? Bukannya kamu yang selingkuh sama Baim?!" Azhar balik menuduh Julie.


Julie tak terima, ia hendak mencecar Azhar tapi kenapa ia kembali disudutkan. "Masalah Baim sudah selesai, Zha. Dia hanya salah satu fans aku. Enggak lebih! Tapi di foto ini, kamu terlihat akrab dan bahkan tertawa bareng. Siapa dia?! Pasti selingkuhan kamu bukan?!"


"Dia teman aku! Masih enggak percaya?!" balas Azhar.


"Oh ya? Aku tak percaya! Jika cewek di foto ini memang teman kamu maka kenalkan aku dengannya!" tantang Julie.


"Oke! Akan aku perkenalkan, asalkan kamu juga memperkenalkan aku dengan Baim! Adil bukan?!" balas Azhar.


"Enggak bisa dong! Dia fans aku dan aku tak ada hubungan apapun. Cewek ini terlihat akrab sama kamu, kalian pasti punya hubungan rahasia! Kamu pasti selingkuh 'kan?!" cecar Julie.


"Terserah! Capek aku sama kamu! Jelas-jelas kamu yang pertama kali menyembunyikan identitas Baim, dasar sok suci!" Azhar lalu mengambil kunci mobilnya.


Julie menahan kepergian Azhar. "Mau kemana kamu? Mau ke cewek itu?!"


"Mau kemana aku pergi, bukan urusan kamu! Di luar lebih membuat aku tenang dibanding bersama kamu!" Azhar menghempaskan tangan Julie dan pergi dari rumah.


****