
Caca menghabiskan hari itu dengan masak bersama Mommy, makan bersama dan bersenda gurau. Mereka sangat bahagia setelah badai besar yang membuat mereka semua sedih.
Azhar berjanji akan segera mengurus dokumen untuk melegalkan pernikahan mereka secepat mungkin. Mommy menawarkan Caca untuk merayakan besar-besaran pernikahan mereka, namun Caca menolaknya. Ia tidak butuh pengakuan semua orang, yang ia inginkan hanya hidup bahagia dengan Azhar.
Malam hari, dengan berat hati Azhar mengantar Caca pulang ke rumah Mama. Sebenarnya, Azhar masih ingin bersama dengan Caca, namun Caca meminta izin untuk membereskan dulu barang-barangnya sebelum akhirnya pindah ke rumah Mommy nantinya.
Azhar bagai seorang pacar yang tak mau lepas dari kekasihnya. Ia terus menggenggam tangan Caca dan seakan tak rela berpisah meski hanya sebentar saja.
"Besok pagi aku jemput kamu lagi ya!" ujar Azhar.
"Untuk apa? Aku 'kan sudah tidak kerja lagi di kantor kamu? Lebih baik, aku manfaatkan waktu luangku untuk beresin barang-barang aku. Mommy bilang, katanya nanti sopir Mommy yang akan datang ke sini dan membawakan semua barang-barang aku. Nanti kita ketemuan langsung saja ya di rumah Mommy!" jawab Caca.
"Iya juga sih. Ah jadi nyesel aku udah pecat kamu! Seharusnya, kita bisa terus jadi sekretaris dan bos di kantor, kita bisa kerja bareng, bermesraan bareng dan selalu bersama-sama terus. Tak apa, aku lebih memilih kamu untuk menjadi istri aku di rumah. Biar nanti aku mencari sekretaris baru yang bisa aku suruh-suruh terus. Kamu enggak usah terlalu capek sekarang. Kamu harus menjadi Nyonya Azhar mulai sekarang!"
Caca hanya bisa tersenyum. Tiba-tiba pikirannya sedang beralih pada Julie. Mama baru saja mengirim pesan, katanya akan menginap di rumah sakit. Papa juga sudah mengantarkan baju ganti untuk Mama.
Caca jadi kepikiran, kalau dia menjadi Nyonya Azhar lalu bagaimana dengan Julie? Apakah wanita itu akan menerimanya begitu saja?!
Akhirnya mereka sampai di depan rumah Caca. Hari sudah malam dan tetangga sekitar rumah Caca sudah mengunci pintu dan bersiap tidur. Azhar membukakan pintu mobil untuk Caca. Setelah mencium pipi Caca, Azhar pamit pulang. Ia terlihat beberapa kali menengok ke belakang seakan tak ingin berpisah sedetik pun dari Caca.
Caca melambaikan tangannya pada Azhar. Setelah memastikan kalau Azhar sudah pergi, Caca pun masuk ke dalam rumah. Papa membukakan pintu dengan mata mengantuk. Papa tidak banyak bertanya, dari wajah Caca sudah menyiratkan semua jawaban yang ingin ia ketahui.
Rumah terasa lebih kosong karena Mama tidak ada di rumah. Caca masih bingung kenapa Mama mau merawat Julie? Kalau Caca berada di posisi Mama, mungkin ia akan sangat marah karena anaknya berkorban begitu besar pada wanita yang dianggap tidak pantas mendapatkannya.
Mama berbeda. Hati Mama ternyata dengan mudahnya memaafkan. Bahkan Mama mau mengurus wanita yang sudah membuat anaknya pergi selamanya.
****
Keesokan harinya, setelah mengemas semua pakaian Caca memutuskan untuk pergi ke rumah sakit sekaligus membawakan makanan untuk Mama. Caca juga membawa buah untuk Julie.
Masih ada rasa empati dalam diri Caca, dan yang pasti Caca harus melaksanakan amanat terakhir Kak Baim. Meski kesal dan sebal dengan Julie, ternyata Caca lebih tak ingin melihat kakaknya sedih. Ia pun melakukan apa yang menurutnya akan membuat kakaknya bahagia.
Caca mengetuk pintu kamar ruang perawatan Julie dan masuk ke dalam. Nampak Julie sedang menangis sambil memegang tangan mama. Ia terlihat begitu menyesal akan semua kesalahannya di masa lalu. Rasanya kata maaf saja tak cukup untuk menggambarkan bagaimana penyesalan yang ia rasakan.
Caca memperhatikan dalam diam. Mama yang bersikap begitu lembut pada Julie dan Julie yang terlihat begitu menyesali perbuatannya. Mungkin saat melihat ini semua, Kak Baim akan begitu bahagia di sana. Bagaimana Julie dan Mama bisa saling menerima keadaan mereka dan berdamai dengan masa lalu.
Caca masih mau berdiri dan menonton semua pemandangan di depan matanya. Namun saat Julie mengangkat wajahnya, mata mereka bertemu. Julie kembali menangis penuh penyesalan.
Mama lalu meminta Caca mendekat. Dengan tatapan lurus ke depan, Caca berjalan mendekat. Mama mengulurkan tangannya pada Caca lalu menyatukan tangan Caca dan Julie.
"Ma-maafin aku, Ca!" ujar Julie dengan suara serak. Akhirnya ia berhasil mengeluarkan suaranya.
"Aku salah sama kamu! Aku salah sama keluarga kamu! Aku memang wanita jahat yang pantas dihukum!" tanpa diduga Julie mengangkat tangannya dan menampar wajahnya sendiri.
Caca dan Mama terkejut melihat apa yang Julie lakukan. Mama berdiri dan mencegah Julie menyakiti dirinya sendiri, Julie masih menyakiti dirinya sambil menangis. Caca ikut membantu Mama mencegah Julie menyakiti dirinya sendiri.
"Tenang dulu Julie. Jangan seperti ini! Istighfar!" nasehat Mama membuat Julie perlahan menghentikan perbuatannya dan mulai kembali menangis. Tangis penyesalan yang teramat memilukan hati yang mendengarnya.
"Aku sudah jahat! Aku manusia paling jahat! Tidak seharusnya aku hidup di dunia ini! Tidak seharusnya aku mendapat kebaikan Baim seperti ini huaaaa...."
Caca bisa merasakan penyesalan paling dalam yang dirasakan Julie. Kekasih hatinya berkorban begitu besar hanya untuk kebahagiaannya. Caca membiarkan Julie terus menangis sampai ia lega dan tenang setelah menumpahkan air mata yang seakan tak pernah kering.
"Sudah lega?" tanya Caca kemudian.
Julie mengangguk lemah.
"Kalau begitu, bisa kita bicara serius?" tanya Caca dengan tegas.
Julie kembali mengangguk. Rupanya kini Julie sudah bisa diajak bicara. Caca pun mulai melanjutkan perkataannya.
"Sesuai amanat Kak Baim, aku akan mengirimkan uang asuransi yang sudah cair ke rekening kamu. Bisa kamu beritahu berapa nomor rekening kamu?" Caca mengeluarkan Hp miliknya dan bersiap mencatat nomor rekening Julie. Ia akan ke bank nanti bersama Mama untuk mentransfer uang yang jumlahnya sangat besar tersebut.
Julie menggelengkan kepalanya. "Aku tak bisa menerimanya. Aku tak mau." tolak Julie. Siapa yang menyangka, Julie yang begitu menyukai harta dan kemewahan malah menolak uang dalam jumlah besar.
"Jangan begitu, Caca hanya ingin melaksanakan amanat Kakaknya. Katakan saja nomor rekening kamu agar tugas Caca sudah selesai." bujuk Mama.
Julie kembali menggelengkan kepalanya. "Aku... Tak bisa menerimanya. Semua hutangku sudah dibayarkan Azhar. Aku tak bisa menerima pengorbanan Baim. Aku... Tak pantas."
Julie kembali meneteskan air mata. Cepat-cepat ia hapus dan menguatkan dirinya. "Buat keluarga Baim saja." tolak Julie.
"Tapi-"
"Aku akan pergi. Aku akan menyerahkan Azhar sama kamu. Aku tak akan mengganggu hidup kamu lagi. Aku akan hidup benar sesuai keinginan Baim namun aku tak bisa menerimanya...."
***