
"Kita akan menjadi pasangan yang saling mencintai sampai kapanpun. Kenapa? Karena aku tahu, kamu tulus mencintaiku. Hanya dengan kamu, aku bisa membedakan mana cinta dan mana obsesi. Dengan kamu aku yakin kita saling mencintai." Azhar melepaskan pelukannya dan menatap wajah Caca dengan lekat.
"Sabar ya, aku pasti akan mengakui ke seluruh dunia kalau kamu adalah milikku." janji Azhar.
Caca mengangguk sambil tersenyum. Azhar lalu teringat sesuatu. "Oh iya, waktu kita pulang dari Bali siapa yang kamu temui di bandara?"
"Oh... Mas lihat ya? Itu teman yang aku kenal di apartemen ini. Kita suka ketemu di supermarket dan saat buang sampah. Akhirnya kita berdua join naik taksi bareng deh sampai apartemen." jawab Caca, sedikit menyembunyikan informasi kalau cowok tersebut tinggal tepat di samping rumahnya.
"Jangan terlalu dekat ya dengan cowok lain. Aku enggak suka milikku dekat dengan yang lain. Kamu cuma punya aku!" ujar Azhar dengan tegas.
"Posesif banget sih suamiku ini? Sudah siang nih, ayo kita berangkat kerja!" ajak Caca.
Azhar dan Caca pun berangkat bersama. Caca tak lagi turun dekat kantor, mereka bersama sampai lantai tempat mereka bekerja. Caca pun sudah cuek dan kalau ada yang bertanya ia akan mengatakan kalau Azhar sekalian lewat dekat rumahnya. Beres. Persetan mau digosipi apa pun. Dengan kekuasaan Azhar gosip dapat langsung dihempaskan.
Azhar dan Caca sedang mengobrol sambil tertawa ketika keduanya terkejut melihat Julie yang sudah menunggu di sofa depan ruangan Azhar. Tawa di wajah Caca menghilang, sedangkan Azhar wajahnya langsung mengeras karena kesal.
"Nanti saja kamu buatkan saya tehnya, Ca. Kamu periksa saja laporan untuk meeting siang hari ini dulu!" perintah Azhar sebelum berpisah dan masuk ke ruangannya.
"Baik, Pak."
Julie berdiri dan berjalan mengikuti Azhar masuk ke dalam ruangan suaminya. Ia melirik ke arah Caca dengan tatapan sinis dan tak suka yang tidak dapat disembunyikan. Meski begitu Caca tetap tersenyum ramah. Senyum penuh kepura-puraan.
"Untuk apa kamu datang ke kantor aku pagi-pagi? Mau mencari keributan dan membuatku malu di depan karyawanku?" ujar Azhar dengan pedas seraya membuka jas miliknya dan menaruhnya asal.
"Aku tak akan mencari keributan, Zha. Masalah kita memang belum selesai dan kamu semalam pergi begitu saja. Aku mau kenal dengan teman kamu!"
"Jangan suka seenaknya melakukan apa yang kamu mau! Kamu saja belum mengenalkan aku dengan Baim. Sudah pulanglah!" usir Azhar.
"Aku akan pulang kalau kamu berjanji akan pulang ke rumah malam ini. Kita selesaikan semua permasalahan kita di rumah. Kalau kamu tidak pulang, maka aku akan datang lagi ke kantor kamu!" ancam Julie.
"Tak usah mengancam aku! Aku akan pergi ke tempat yang menurut aku membawa ketenangan, bukan ke rumah yang seperti berada di neraka." balas Azhar.
"Aku makin yakin kalau kamu punya selingkuhan, Zha. Ingat, kita menikah saja butuh pengorbanan yang sangat besar. Semudah itu kamu mengkhianati rumah tangga kita hanya demi wanita murahan itu?!" Julie kembali tersulut emosinya. Diusir Azhar benar-benar melukai harga dirinya. Ia datang ke kantor Azhar ingin menyelesaikan permasalahan mereka tapi malah mendapat sambutan yang tak diinginkan.
"Jangan sembarangan kamu mengatai dia. Dia bukan wanita murahan. Dia wanita baik-baik! Jaga ucapan kamu!" balas Azhar tak kalah emosi.
"Oh... Sudah mulai terang-terangan ya kamu membela wanita itu?! Oke, aku akan cari tahu sendiri! Akan aku hancurkan wanita yang sudah kamu bela itu dengan tanganku sendiri!" Julie lalu pergi meninggalkan ruangan Azhar. Julie berjalan melewati Caca yang berdiri sambil menunduk hormat.
Baru beberapa langkah Julie melewati Caca, ia berbalik badan dan menghampiri Caca. "Ada yang bisa dibantu, Bu?" tanya Caca dengan ramah dan sopan.
"Kamu bilang sama saya, siapa wanita yang suka Azhar temui!" tanya Julie seenaknya.
"Wanita?" Caca pura-pura bingung dan tak mengerti pertanyaan Julie. "Wanita siapa ya Bu?"
"Jangan pura-pura enggak tau deh kamu! Kamu tuh sekretarisnya Zha. Kamu pasti tahu siapa saja yang dekat dengan Zha!" balas Julie.
"Ma-maaf, Bu. Saya benar-benar tak tahu. Selain kepala bagian di kantor ini, Bapak tak pernah menerima tamu wanita lain. Saya kurang tahu wanita mana yang ibu maksud!" jawab Caca dengan tenang dan tetap menjaga sopan santunnya.
"Baik, Bu."
Julie lalu pergi dengan angkuhnya meninggalkan Caca yang tersenyum dalam hati. Puas karena bom pertama berhasil membuat kedua pasangan itu berantem hebat.
Caca lalu membuatkan teh hangat dan menaruhnya di meja Azhar. Ia mengambil jas milik Azhar dan menggantungnya di gantungan jas seperti biasa. Nampak suaminya sangat kesal dan marah karena pagi-pagi Julie sudah mengajaknya bertengkar.
Caca berinisiatif memeluk Azhar dari belakang seraya mengusap dadanya. "Jangan marah terus. Banyakkin istighfar, niscaya kemarahan dalam diri kamu akan mereda."
Caca memang pintar menasehati Azhar, namun nasehat tersebut tidak ia lakukan untuk dirinya sendiri. Kemarahannya pada Julie malah membuat dendamnya semakin membara saja.
Azhar memegang tangan Caca, "Makasih ya, Sayang! Kamu selalu menenangkan aku. Meredakan amarah aku. Membuat aku nyaman. Aku sangat bersyukur sudah menikahi kamu!" Azhar pun mengecup tangan Caca, membuat jantung Caca kembali berdegup kencang.
"Iya. Itu 'kan tugas aku sebagai istri kamu. Minum dulu tehnya, Mas. Biar lebih tenang dan bisa lanjut bekerja lagi."
Azhar tersenyum, "Tentu. Mari kita bekerja. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan!"
"Semangat!" Caca mengepalkan tangannya memberi Azhar semangat.
"Semangat!"
Sementara Azhar bekerja, Caca kembali mempersiapkan untuk menjatuhkan bom kedua. Diaktifkannya SIM Card milik Baim dan mengirimkan foto yang diambil Eza ke Julie. Tak lupa mengirimkan pesan yang membuat keadaan makin panas.
"Masih percaya kalau suami kamu lelaki baik-baik saya? Lihat saja foto yang aku kirimkan sama kamu! Apakah lelaki baik akan sedekat itu dengan wanita lain sementara istrinya menunggu di rumah?"
Setelah memastikan pesan terkirim, Caca kembali menonaktifkan SIM Card miliknya. Ia menyelesaikan pekerjaannya dan pulang seorang diri ke apartemen.
"Caca!"
Caca menoleh dan melihat Eza melambaikan tangannya dari kedai kopi depan apartemen ketika Caca baru saja turun dari ojek online.
"Sini!"
Caca tersenyum dan berjalan mendekat.
"Kamu mau minum apa? Kali ini aku yang traktir!" ujar Eza.
"Boleh deh. Kebetulan aku haus. Aku mau es kopi gula aren. Less ice biar gula dan kopinya lebih berasa." request Caca.
"Mantap nih selera minum kopinya! Aku pesankan dulu. Silahkan duduk Nona Caca!" Eza menarik kursi untuk Caca duduk.
"Terima kasih, Bang Eza!"
****