Pesona Penggoda Nakal

Pesona Penggoda Nakal
Mengakhiri Segalanya


"Kakak?" batin Julie.


Rasa penasaran pun melingkupi Julie. Ia berjalan mendekat dan sangat terkejut membaca nama yang terukir di batu nisan yang Caca letakkan buket bunga.


Mulut Julie sampai terbuka dan ia tutup dengan tangannya. Kaki Julie langsung lemas dan ia hampir terjatuh.


"Katakan ini bohong! Kamu memainkan sandiwara apalagi?!" tanya Julie tak percaya. Mata Julie mulai digenangi air mata dan kembali membaca nama di atas batu nisan. Takut dirinya salah membaca.


Julie tak percaya, namun nama dan tanggal lahir yang tertera memang benar milik Baim. Baim-nya.


"Untuk apa?!" tanya Caca seraya menghapus air mata yang menetes di wajahnya. "Kenyataan sampai kapan pun tak mungkin bisa ditutupi!"


Julie menggelengkan kepalanya. Masih tak bisa percaya apa yang Caca katakan. "Bohong! Aku tidak percaya sama kamu! Jelas-jelas semalam Baim menghubungi aku dan kami janjian hari ini. Beberapa hari lalu juga! Foto kamu dan Azhar juga dia yang kirimkan! Jangan main-main kamu!" kecam Julie dengan nada bergetar karena marah.


Caca lalu mengeluarkan Hp miliknya dan menelepon nomor Julie. Julie pun melihat siapa yang meneleponnya. Tertulis nama Baim. Julie gantian menatap Caca yang menunjukkan kalau dirinya yang sedang menelepon Julie.


"Aku yang selama ini menghubungi kamu. Aku yang mengirim semua foto itu! Aku yang selama ini menyamar menjadi Kak Baim dan mengirimkan buket bunga untuk kamu!" jawab Caca dengan suara datar.


"Enggak! Enggak mungkin! Aku masih bertemu Baim di malam aku ulang tahun! Kami masih menghabiskan malam bersama! Kamu bohong!" Julie masih saja tak mempercayai Caca.


Kembali Caca menghubungi seseorang dengan nomor Baim. Tak lama orang tersebut mengangkat telepon Caca. Mereka pun melakukan video call.


"Orang ini maksud kamu?!" Caca menunjukkan Hp miliknya pada Julie. Kembali Julie terkejut.


"Dia? Tunggu, siapa dia? Kenapa mirip sekali dengan Baim?!" Julie sampai mengucek matanya. "Apa yang kamu rencanakan?!"


Caca mengambil Hp miliknya dan berbicara pada Yudi sepupunya. "Aku akhiri semuanya, Bang!"


"Yang kuat ya, Ca!" pesan Yudi sebelum mengakhiri panggilan telepon mereka.


Caca memasukkan Hp miliknya ke dalam tas dan mengeluarkan bunga mawar yang ia bawa lalu menaburkannya di atas makam Baim. "Rencanaku adalah menghancurkan hidup kamu, seperti kamu yang sudah membuat Kak Baim mengakhiri hidupnya."


"Mengakhiri? Maksud kamu apa?!" Julie mulai meneteskan air mata.


"Di hari kamu menikah dengan Azhar, hari itu pula Kak Baim mengakhiri hidupnya. Di hotel tempat kalian seharusnya berbulan madu."


"Tunggu, bagaimana kamu tahu? Siapa kamu?" tanya Julie sambil menatap Caca dengan lekat.


"Masih tak mengenali siapa aku?!" cibir Caca.


"Jangan bilang kamu... Cantik? Kamu adiknya Baim?" mata Julie kembali membulat. Ia tak percaya kalau Cantik adik Baim yang pernah diperkenalkan padanya selama ini berada di sampingnya dan bahkan menjadi perusak rumah tangganya.


Caca mengusap batu nisan Baim dengan penuh kasih sayang. Seakan sedang menyentuh Kakaknya. "Di hari kamu bahagia, di hari itu pula Kakakku mengakhiri hidupnya. Bukan hanya Kakak yang kamu bunuh, keluargaku juga kamu hancurkan! Mama terlalu bersedih sampai down. Papa yang tak lagi punya semangat menjalani hidup. Serta cibiran tetangga yang terus membicarakan keluarga kami. Semua karena keserakahan kamu!"


Caca kini menatap Julie dengan tatapan yang menyeramkan. Perpaduan antara tatapan marah, sedih dan kecewa yang bercampur jadi satu. "Itu semua karena kamu! Karena itulah aku berniat menghancurkan hidup kamu! Aku akan merebut semua yang kamu miliki. Semua kebahagiaan di atas tangis air mata keluargaku akan aku rebut!"


Julie beberapa kali menggelengkan kepalanya. Ia masih belum percaya apa yang Caca katakan.


"Awalnya aku mau merebut semuanya. Aku berhasil. Aku merebut satu demi satu milikmu. Aku merebut cinta Azhar. Aku merebut kasih sayang Mommy. Aku..." Caca mengusap air mata yang jatuh di wajahnya. "Aku memiliki semua yang kamu miliki. Aku juga... Mencintai Azhar, lelaki yang seharusnya tak aku cintai."


Air mata kembali membasahi wajah Caca. Rupanya ia juga merasakan sakit. Ia tak mau melakukan semua ini. Ia juga tersiksa. Tersiksa karena ia mencintai Azhar dan sudah begitu mendalam.


Caca menghapus air matanya dengan kasar. "Namun baru kemarin aku tahu apa penyebab Kak Baim mengakhiri hidupnya. Bukan karena kamu menikah dengan Azhar dan Kak Baim patah hati. Bukan. Kalau alasan itu pasti akan kubuat hidup kamu menderita seumur hidup!"


"Karena... Kak Baim mencintai kamu!"


Julie terbelalak kaget. "Maksud kamu?"


"Kak Baim mengakhiri hidupnya untuk..." Caca tak kuasa berbicara. Air matanya tumpah ruah dan ia berkata sambil terbata. "Mendapatkan uang asuransi. Permintaan terakhir Kak Baim adalah aku harus memberikan uang tersebut agar kamu bisa hidup bahagia dan tak perlu menikah dengan Azhar. Agar kamu tak punya hutang dan hidup baik bersama lelaki yang akan mencintai kamu apa adanya. Bodoh sekali bukan Kakakku?"


Julie kini benar-benar duduk di atas tanah. Tubuhnya seakan lemah tak ada tenaga. Air mata sudah membanjiri wajahnya. "Kamu bohong! Kamu bohong 'kan? Enggak! Enggak boleh Baim!"


Julie menyeret dirinya dan kini memeluk nisan Baim, seperti memeluk Baim yang sebenarnya. "Enggak mungkin ini Baim! Enggak mungkin!" Julie menangis penuh penyesalan. "Enggak mungkin 'kan Sayang? Kamu enggak mungkin ninggalin aku! Enggak!"


"Kita sudah janji, aku hanya sebentar dengan pernikahan aku! Aku akan kembali sama kamu! Hanya kamu yang aku cintai, tapi kenapa kamu pergi meninggalkanku? Kenapa kamu sebaik itu sama aku! Huaaaa...."


Caca juga ikut menangis. Ia sedih melihat nasib Kakak yang sangat baik dan sayang padanya. Caca menatap Julie. Wanita itu menangis meraung-raung, menyesali semua perbuatannya.


"Aku akan mentransfer uang pemberian Kak Baim demi menjalankan pesan terakhirnya. Pergunakanlah dengan sebaik mungkin. Hidup yang benar seperti yang Kak Baim minta dan.... maaf telah merusak rumah tangga kamu!" ucap Caca dengan tulus.


Caca lalu berbalik badan hendak kembali ke kantor. Betapa terkejutnya ia saat melihat lelaki berjaket sedang menatapnya dengan penuh rasa kecewa.


"Mas... Azhar?!"


Caca sampai mundur satu langkah karena terlalu terkejut. Sementara Julie seakan tak peduli dengan keadaan sekitar. Ia terus menangis sambil memeluk makam Baim.


Azhar menggelengkan kepalanya dan sorot matanya menyiratkan kekecewaan yang mendalam. "Tega kamu melakukan ini sama aku, Ca?! Tega kamu menipu aku hanya demi obsesi kamu untuk membalas dendam?! Aku pikir kamu tulus sama aku! Aku pikir kamu memang yang terbaik yang Allah berikan untukku, tapi apa?! Kamu enggak lebih baik dari wanita matre itu!"


****