
Azhar mengemudikan mobilnya menuju salah satu daerah yang terkenal dengan pusat kerajinan perak. Untunglah mereka datang sebelum tutup.
Azhar memilih beberapa perhiasan perak untuk Caca. Ingin membelikan semua tapi untuk apa? Azhar pun membuat keputusan untuk membeli sebuah gelang perak dengan motif yang sangat indah.
Setelah membayar, Azhar memakaiakan gelang di tangan putih milik Caca. Gelang tersebut terlihat bagus sekali dan cocok dengan warna kulit Caca.
"Ada lagi yang mau kamu beli?!" tanya Azhar pada Caca.
"Boleh aku beli dua gelang lagi? Aku mau belikan untuk Mommy dan Mama, biar mereka samaan."
"Boleh dong! Ambil saja apa yang kamu mau!" jawab Azhar. "Kamu tuh beneran istri yang perhatian banget ya sama orang lain?! Aku yakin kalau kamu tuh akan disayang sekali oleh Mommy kalau sampai Mommy tahu aku sudah menikah sama kamu."
Caca hanya tersenyum saja, ia tak mau memberitahu Azhar kalau Mommy sudah tahu tentang pernikahan mereka berdua. "Apa kita beritahu Mommy kamu saja ya tentang pernikahan kita? Aku rasa, Mommy nggak akan ngomong deh sama Ibu Julie?! Kamu tahu sendiri kan, Mommy bagaimana?!"
Azhar memikirkan perkataan Caca. "Boleh deh. Nanti kita ke rumah Mommy kalau sudah berada di Jakarta." janji Azhar.
Caca senang Azhar mau menuruti keinginannya. Puas membeli oleh-oleh, Azhar mengajak Caca makan malam di salah satu restoran mewah. Caca tak mau menolaknya kali ini. Sekali-kali mengikuti Azhar tak ada salahnya.
"Cepat sekali ya besok kita sudah harus pulang ke Jakarta. Tinggal aku nih yang pusing memikirkan cara supaya bisa menginap di apartemen kamu!" keluh Azhar.
Sudah Caca duga kalau Azhar akan mengarang berbagai alasan hanya agar bisa menginap di apartemen Caca. Menurut salah satu majalah yang Caca baca, ketika pria berselingkuh maka ia akan mulai berbohong. Kebohongan pertama akan diikuti oleh kebohongan berikutnya.
"Semua sudah sesuai alur yang aku pikirkan. Semakin dekat dengan tujuanku. Kak Baim, kematian Kakak tak akan sia-sia, aku pastikan itu!" batin Caca.
Caca menggenggam tangan Azhar. "Mas atur saja ya! Aku selalu nunggu kedatangan Mas kok."
Azhar tersenyum mendengarnya, "Aku janji akan sering mengunjungi kamu."
Malam terakhir Caca dan Azhar di Bali mereka habiskan dengan bersenang-senang semalaman. Caca membiarkan Azhar mengeksplorasi berbagai gaya yang diinginkan. Azhar pun merasa puas dengan Caca. Ia tak ingin segera pulang.
Selama di pesawat Azhar selalu menempel pada Caca. Ia tahu, sesampainya di Jakarta maka akan sulit menemui istri keduanya selain di kantor.
Julie menjemput Azhar di bandara. Ia melambaikan tangan sambil tersenyum lebar pada suaminya. Sementara saat melihat Caca, tatapan sinis ia keluarkan.
"Sayang! Aku kangen!" Julie langsung bergelayut manja pada Azhar. Memeluk Azhar dengan agresif dan mencium suaminya di depan umum.
Azhar berusaha mengelak dengan alasan malu, padahal Azhar melihat sendiri saat Caca membuang pandangannya karena tak sanggup melihat pemandangan di depan matanya tersebut.
"Ayo kita pulang, Sayang!" ajak Julie.
"Tunggu!" Azhar melepaskan tangan Julie, "Caca bareng kita aja ya!" Azhar tak mau melupakan istri sirinya.
Wajah Julie ditekuk. Mana mau ia satu mobil bersama Caca.
"Tak perlu, Pak. Saya bisa naik bus Damri." tolak Caca.
"Nah itu bagus. Sadar dia kalau bosnya lagi mau berduaan sama istrinya." ujar Julie dengan pedas.
"Tapi-" Azhar masih mau mengajak Caca namun Julie kembali bergelayut manja padanya sambil mengajaknya berjalan menjauhi Caca.
"Bye Caca!" Julie tak hiraukan protes Azhar. Dengan terpaksa Azhar berjalan mengikuti Julie, namun sebuah suara berat yang memanggil Caca membuat Azhar menghentikan langkahnya.
"Eza? Kok bisa barengan?!" tanya Caca yang berpikir Azhar tidak melihat dan mendengar namanya dipanggil.
Azhar berbalik badan dan melihat Caca yang tersenyum pada cowok tampan yang tadi memanggil namanya. "Tuh 'kan, Caca udah dijemput sama pacarnya!" ujar Julie. "Sudah ayo kita biarkan Caca sama pacarnya! Jangan diganggu!"
Julie mengajak Azhar yang masih dilingkupi rasa penasaran akan cowok tersebut pergi.
"Iya. Aku juga pulang hari ini. Udah selesai semuanya. Badan pegel semua nih!" ujar Eza seraya meregangkan tubuhnya.
"Sama nih, aku juga!" Caca juga meregangkan tubuhnya, pegal semalaman melayani Azhar.
"Kita pijat refleksi yuk! Mau enggak?!" ajak Eza.
"Dimana? Yang sakit gitu? Enggak ah! Aku enggak kuat!" tolak Caca.
"Iya sih sakit. Eh ngomong-ngomong kamu mau pulang naik apa, Ca?!" tanya Eza.
"Naik Bus Damri. Kamu?!"
"Naik taksi aja yuk! Aku yang bayar! Sayang tau kalau aku naik taksi sendirian!" ajak Eza.
"Patungan aja gimana? Aku bayar taksi setengahnya." nego Caca.
"Enggak usah. Kamu traktir aku cemilan aja. Kamu masih hutang traktir kopi dan tambah hutang cemilan, gimana?"
"Hmm... Makin banyak aja hutang aku! Yaudah, ayo aja deh."
Eza tertawa mendengar gerutuan Caca. "Nanti dicicil ya biar hutangnya enggak makin banyak. Ayo kita pulang!"
Caca dan Eza pun pulang bersama naik taksi. Eza membantu Caca menurunkan koper miliknya, bahkan membawakan sampai depan apartemen Caca. Keakraban di antara mereka semakin dekat saja.
Di tempat lain, Azhar terus dilanda rasa khawatir. Bayangan sesosok cowok tampan dan senyum hangat Caca saat melihat cowok itu terus saja membayanginya. Rasanya ia ingin segera ke apartemen Caca dan bertanya langsung siapa cowok tersebut.
"Sayang, kamu mau makan dahulu atau mau bermesraan dulu sama aku?!" tawar Julie yang sejak Azhar pulang selalu bergelayut manja, membuat Azhar tak bisa punya ruang meski untuk mengirim pesan ke Caca.
"Aku masih kenyang. Aku mau...." Azhar bingung mau apa. Ia teringat kalau sejak kemarin Caca sudah mengajaknya sholat. "Sholat maghrib dulu. Kamu mau ikut?!"
Julie melepaskan tangannya dari Azhar. "Kamu aja deh."
Akhirnya Azhar bisa lepas dari Julie. Ia pun pergi sholat. Sehabis sholat, Azhar kembali menghindar dari Julie. Istrinya sangat agresif sekali, beberapa kali merayunya untuk bermesraan. Azhar seperti kehilangan selera pada Julie. Ia sudah mendapatkan apa yang ia mau dari Caca.
"Aku gerah. Aku mau cari angin sambil merokok dulu ya!" Azhar kembali menghindar dan pergi ke balkon. Ia menyalakan rokok.
Julie tak patah semangat. Ia mengikuti Azhar dan memeluk suaminya dari belakang. "Sayang... Aku 'kan kangen sama kamu!"
Azhar terus saja mengepulkan asap rokok dan mengacuhkan Julie. Meski Julie menggodanya, ia tetap saja kehilangan selera. Sampai rokok Azhar habis dan ia pun menyerah. Julie jika meminta sesuatu dan tidak dikabulkan maka akan terus merengek. Ia biarkan Julie melakukan apa yang ia mau, namun Azhar sadar kemana hati dan perasaannya berada kini. Caca Cantika, si penggoda nakal yang sudah berhasil mengambil hatinya.
****