
...BAB 8...
...Kedekatan Putri Dan Mantannya...
Senyum Raffa yang tadi ikut terbit melihat Keyla yang ceria pun, seketika memudar setelah ia melihat siapa wanita anggun yang di hampiri putrinya tersebut.
"Ly-Lyra..." pekiknya pelan.
Raffa membulatkan matanya tak percaya, menelan kasar ludahnya yang sulit masuk itu. Tak sangka, ia akan bertemu lagi dengan wanita di masalalunya. Wanita yang telah ia lukai hatinya secara sengaja dan Raffa sadar akan hal itu, karna demi sebuah ambisinya untuk menikahi sang pujaan hati. Raffa tega mempermainkan hati wanita lugu dan polos seperti Lyra.
"Tante Raraa!" Keyla memeluk pinggang Lyra dengan erat. Lyra terkekeh kecil seraya mengusapi puncak kepala gadis kecil itu.
"Keyla, kamu dengan siapa kemari?" tanyanya lembut.
"Key sama Papa disana Tante...!" Keyla menunjuki Raffa dari kejauhan.
"Oh ya sama Papamu!" Lyra tersenyum ikut senang dengan kebahagiaan yang terpancar jelas di wajah gadis kecil itu, tak seperti pertama kali bertemu. Wajahnya begitu muram dan penuh amarah.
Lantas Lyra pun menoleh tersenyum pada pria yang barusan di sebut Keyla adalah Papanya tersebut. Namun senyuman itu pun menghilang berganti dengan ketegangan di wajahnya. Lyra terpaku, matanya membulat lebar dengan jantung yang berdegup sangat cepat. Tatkala dia tahu siapakah Papanya Keyla sebenarnya?
Keduanya kini saling menatap dari kejauhan dengan perasaan yang sama-sama berkecamuk dan canggung. Lyra segera memalingkan pandangannya ke sembarang arah. Dia pun tak menyangkanya, akan bertemu lagi dengan seseorang yang pernah ia cintai, namun sebenarnya orang yang tak ingin lagi ia temui dalam hidupnya.
"Tante, kenapa wajah Tante jadi pucat gitu?!" tanya Keyla terheran-heran menatap wajah Lyra yang berubah tegang. Lyra terkesiap kaget, lantas kembali tersenyum kaku menatap gadis kecil itu.
"Eh, Tante tidak apa-apa kok sayang..." jawabnya tergugup.
"Yuk Tante sini, Key kenalin Tante sama Papa Key!" ajaknya menarik cepat tangan Lyra dan berjalan menghampiri Raffa yang juga masih mematung di sana.
"Papa!" panggil Keyla sambil tangan kecilnya terus memegangi tangan Lyra.
Raffa menarik nafasnya perlahan lantas buru-buru memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana untuk menghilangkan rasa kegugupan di hatinya. Jantungnya berdebar lebih cepat tak seperti biasanya. Karena sempat di kejutkan oleh kedekatan sang putri dengan mantan kekasihnya tersebut.
"Pah!" panggil Keyla lagi.
"I-iya sayang?!" Raffa menunduk gugup menatap putrinya yang terus mendongak melihat ke arahnya yang juga sama-sama jadi terdiam seperti Lyra.
"Ini Tante Rara yang tadi pagi Key ceritain..." jelasnya lagi.
"Oh ya." Raffa mengangguk kecil, setelah ingat cerita Keyla tadi pagi. Raffa memberanikan diri menatap Lyra dari jarak yang dekat, namun Lyra seolah terus menghindari kontak mata dengannya.
"Hallo, saya Raffa Papanya Keyla..." Raffa mengeluarkan satu tangan kanannya yang tadi bersembunyi di kantung celananya karna gugup, lantas mengulurkannya untuk berjabat tangan dengan Lyra. Menepis semua rasa canggungnya.
Lyra mengangguk seraya tersenyum tipis "Lyra..." jawabnya singkat.
Demi tak ingin membuat Keyla bertanya-tanya dengan sikap mereka yang aneh. Lyra pun ikut berpura-pura berkenalan dengan Raffa di depan Keyla.
Cepat-cepat Lyra melepas tangannya dari genggaman tangan Raffa yang terasa dingin baginya. Lalu Lyra melirik pada wanita yang ada di samping Raffa yang kini wanita itu tengah mengapit tangan kirinya di lengan milik Raffa dengan manja. Seolah mengingatkan pada Lyra jika Raffa adalah miliknya seorang.
Wajahnya terlihat angkuh, dengan tatapan yang sinis memandangi Lyra dari atas kepala hingga bawah kakinya.
Raffa menoleh sekilas pada Viona di sampingnya, lalu kembali menatap Lyra setelah Raffa melepas pelan tangan Viona. Ia merasa tak enak hati bila mengumbar kemesraan di depan wanita yang pernah di sakitinya dulu. Raffa pun terbatuk kecil dan ingin memperkenalkan wanita di sampingnya pada Lyra.
"Uhuk, inii_"
"Hallo perkenalkan, saya Viona. Calon istrinya Mas Raffa itu artinya saya juga calon ibu sambungnya Keyla..." terang Viona buru-buru menyela ucapan Raffa untuk menjelaskannya pada Lyra, seraya mengulurkan tangan putih mulusnya.
"Oh..." Lyra membulatkan kecil mulutnya dan mengangguk dengan paham. Lalu membalas jabatan tangan calon istri Raffa dengan senyuman manis di bibirnya.
Seketika ia jadi teringat dengan cerita Ambar tadi pagi. Lyra menoleh memandangi lagi wajah polos Keyla yang juga sedang menatapnya dengan senyuman.
Jadi, Keyla adalah putrinya Dania dan Raffa, pantas saja melihat Keyla seperti tak asing bagiku. Ternyata wajahnya begitu mirip dengan Dania waktu kecil. Ya Tuhan... Berarti Dania sudah meninggal dunia... gumamnya lirih dalam hati.
Kedua mata Lyra jadi berkaca-kaca, dia masih belum percaya akan di pertemukan dengan putri dari mendiang sahabat kecilnya dan juga mantan kekasihnya yang pernah menggores luka di hatinya.
"Em... Kalau begitu Tante pamit pulang dulu ya Key! Tante sedang di tunggu oleh Ibu Tante di rumah..." ujar Lyra pada Keyla seraya mengusap lembut pipi Keyla yang putih dan bulat itu. Keyla buru-buru menarik tangan Lyra serta menggoyangnya cepat.
"Yah Tante... Kok cepat-cepet pulang sih?! Kenapa Tante tak ikut makan siang juga sama Key dan Papa?!" sahutnya dengan raut yang sedih, tanpa sadar ucapan Keyla sudah menusuk hati Viona, seolah keberadaannya disana tak dianggap sama sekali.
"Sayangku, Keylaa... Tante ini mau pulang. Kan disini juga sudah ada Tante Viona yang nemenin Key dan Papa makan siang..." ujar Viona, buru-buru membujuk calon anak tirinya itu. Melepas tangan Keyla yang terus betah memegangi tangannya Lyra.
Keyla menatap sinis pada Viona seraya menepis kasar tangannya. "Siapa yang ajak ngobrol Tante sih? Key kan lagi bicara sama Tante Rara!" ketusnya yang sedikit menyentak itu.
Sontak wajah Viona memerah padam menahan geram. Jujur, jika saja tidak ada Raffa di dekatnya, Viona sebenarnya sudah ingin menjewer telinga anak itu kencang-kencang.
"Sayang... Tante Rara harus pulang karna ada urusan. Jadi biarkan Tante Rara pulang dulu ya..." bujuk Raffa.
Sebenarnya ada banyak hal yang ingin Raffa sampaikan juga kepada Lyra, namun situasinya saat ini sangat tak mendukung. Selain ingin meminta maaf atas kebodohannya di masalalu, dia pun ingin menyampaikan sesuatu penting tentang Dania. Dalam pikiran Raffa, Lyra pasti bertanya-tanya padanya kenapa sekarang malah bersama dengan wanita lain dan bukannya dengan Dania? Raffa ingin menjelaskan bahwa Dania telah meninggal sejak melahirkan Keyla pada Lyra.
Namun Raffa pun tak tahu, sebenarnya Lyra juga sudah tahu dari Ambar tadi pagi. Hanya saja Nyonya ambar tak memberitahukan nama Dania padanya.
Lyra menelan pelan ludahnya, dia pun baru mengetahui ternyata Nyonya Ambar adalah Ibu kandungnya Raffa.
Keyla kembali cemberut masam, dan Lyra menjadi tak tega melihatnya. "Em begini saja, gimana kalau kapan-kapan kita berdua makan bareng di tokonya Tante?!" saran Lyra.
"Benaran Tante?!" binar cerah kembali terpancar di mata bulat itu, Lyra pun mengangguk dengan cepat. "Ya udah kalau gitu, besok pulang sekolah Key mampir ke toko Tante lagi. Kita makan siang bareng!" sahutnya girang.
"Oke, Tante tunggu Key besok di toko ya! Sekarang Tante pamit pulang dulu... Dadah Key..." Akhirnya setelah lumayan lama di bujuk, Keyla dapat mengerti.
"Dadaah Tante!" balas Keyla seraya melambai tangannya ke atas.
Lyra pun melenggang pergi meninggalkan mereka, menaiki motornya di parkiran. Dia melambai ke arah Keyla yang terus melihatnya dengan senyuman sendu seolah gadis kecil itu tak menginginkan Lyra pergi jauh darinya. Begitupun dengan Raffa, yang sejak tadi Lyra perhatikan Raffa memasang wajah sedihnya. Ada apa dengan gerangan? Lyra pun tak ingin memikirkannya.
Sedangkan di belakang tubuh Keyla, Viona terus melihat dirinya dengan pandangan yang tak bersahabat. Jelas sekali kalau wanita itu tak menyukai Lyra, mungkinkah karna Lyra terlihat akrab dengan Keyla? Lyra ingat dengan perkataan Nyonya Ambar, bahwa Keyla tak pernah akrab dengan siapapun, makanya kenapa Nyonya Ambar terheran saat Keyla berubah baik dan patuh di depan Lyra.
Lyra segera memalingkan wajahnya ketika pandangan matanya bertemu lagi dengan Raffa, lalu bergegas memacu kendaraan roda duanya menuju jalanan.
Di perjalanan pulang ke rumah. Pikiran Lyra kembali terbayang pada masalalunya bersama Raffa. Dimana dia di putuskan oleh Raffa juga dirinya yang sempat marah pada Dania. Segenggam sesal menyelimuti hatinya sebab hari itu adalah hari terakhir dimana ia bertemu dengan Dania, sahabat kecilnya. Tak terasa bulir air bening pun terjatuh di pelupuk matanya. Namun segera Lyra menghapusnya dengan cepat.
Dania maafkan aku yang sudah memarahimu! Semoga semua amal ibadahmu di terima di sisi Allah dan segala dosa-dosamu di ampuniNya... isaknya dengan lirih, mendoakan tulus sahabatnya dari hati.
****
Saat makan malam bersama ibunya. Lyra pun berkesempatan untuk membicarakan soal mengasuh Keyla pada Ibunya.
"Mengasuh anak kecil?!" ulang Rukanda terkejut.
"Iya Bu..."
"Aduh Nduk, buat apa repot-repot ngasuh anak oranglain? Emang orang itu berani bayar kamu berapa hah? Bisa nggak dia ngegaji kamu melebihi hasil usaha di tokomu itu?!" berang Rukanda jelas sekali ia keberatan.
"Bu, Keyla membutuhkan seorang pengasuh dan Nyonya Ambar pun sudah tak sanggup mengurusnya. Karena Nyonya Ambar sudah sangat tua. Jangan khawatir Lyra tak akan sampai menginap di rumahnya kok, malam pukul delapan Lyra akan usahakan pulang ke rumah. Lyra juga akan cari pembantu untuk bantu-bantu Ibu di rumah nanti selama Lyra di luar..." Lyra mencoba merayu ibunya, semoga Ibunya mau mengijinkannya mengasuh Keyla.
Hanya saja Lyra belum berani bicara jika Keyla adalah putri dari mantan kekasihnya dengan Dania. Jika saja Ibunya tahu mungkin akan marah dan tak akan pernah mengijinkannya.
Rukanda membuang nafas kasar. "Ya sudahlah terserah kamu saja, Ibu juga dah capek larang-larang kamu terus. Tapi kamu juga harus ingat, sabtu depan kamu harus ikut Ibu ke rumahnya Bu Marjuki. Kita berdua di undang di acara aqiqah cucunya dari anak pertamanya."
"Cucunya?!" Dahi Lyra berkerut.
"Iya cucunya Bu Marjuki, dari anak perempuannya." jelas Rukanda.
"Ooh..." Lyra pun membulatkan mulutnya mengerti. "Baiklah Lyra akan ikut Ibu ke acara syukuran itu..."
Rukanda tersenyum senang. Baginya ini kesempatannya untuk menjodohkan Lyra dengan Fadil.
****
Pagi pun menyambut. Lyra ingat jika siang nanti Keyla akan mampir ke tokonya, ia pun berinisiatif untuk membuatkan bekal makan siang Keyla. Lyra membuka ponselnya, dan mencontoh bekal makan siang yang di sukai anak-anak di Youtube.
Dengan suka hati Lyra menata bekal makan siang, nasi dengan lawuh tumis sayuran dan ayam goreng disana. "Semoga Keyla suka dengan masakanku..." gumamnya tersenyum.
Lyra pun bergegas menaiki motornya setelah pamitan pada Ibunya. Keluar pagar dan melajukan motornya ke jalanan. Namun baru saja setengah jalan, tiba-tiba ban belakang motornya bocor.
"Ya ampun ada apa ini?!" Lyra terkejut lalu turun dari motor untuk melihatnya. Dia menghela nafas kencang setelah tahu penyebabnya.
"Ya Allah, kenapa bisa nginjek paku segala sih?!" keluhnya.
Tak jauh dari sana seorang lelaki turun dari mobil dan bergegas menghampiri Lyra. "Ada apa dengan motornya?" tanyanya.
Lyra menoleh ke samping atasnya. Karna saat itu posisi Lyra sedang berjongkok di depan motornya.
"Mas Fadil..." sahutnya kaget.
Bersambung...