Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku

Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku
Hanya Salah Paham


...BAB 64...


...Hanya Salah Paham...


Setelah mengantarkan Sinta pulang sampai rumahnya, Fadil pun pulang ke rumah dulu untuk mandi dan berganti pakaian.


Bu Marjuki menghentikan gerak tangannya yang mengaduk kopi di cangkir ketika melihat Fadil sudah keluar dari kamarnya, dengan sudah berpakaian rapi.


"Fadil, darimana kamu semalam sama Sinta, kenapa baru pulang?" tanyanya dengan dahi berkerut cemas.


"Maaf Bu, semalam Fadil belum sempat ngasih kabar ke Ibu. Kalau semalam itu Sinta terserempet motor. Jadi Fadil bawa dia ke Rumah Sakit dulu, dan menemaninya disana..." sahutnya sambil mengancingkan lengan kemejanya.


"Ya Tuhan Dil-Dil! Kasihan Sinta... Ini semua gara-gara kamu sih mutusin dia..." dumel Bu Marjuki seraya menggelengkan kepalanya.


"Terus gimana sekarang keadaannya?" tanyanya lagi, seraya menarik kursi dan duduk di hadapan putranya yang terhalang oleh meja makan.


Fadil menghela nafasnya. "Alhamdulillah Bu, untungnya tidak parah hanya terkilir dan luka ringan saja dan Sinta sudah aku antar pulang tadi pagi..."


"Syukurlah kalau gitu. Kamu juga sih Dil, pikir-pikir dulu kalau mau nerima Sinta, kalau ujung-ujungnya bakal kamu putusin juga..."


Fadil kembali menghela nafasnya, lalu menyesap kopi buatan Ibunya sejenak sebelum ia bicara lagi.


"Maunya aku begitu Bu. Tapi Fadil nggak enak sama Mbak Farah. Dia yang udah comblangin aku dan Sinta. Katanya siapa tahu Fadil cocok sama Sinta, dan biar Fadil cepat melupakan Lyra, tapi kenyataannya sampai saat ini pun Sinta tak bisa membuatku jatuh cinta lagi Bu..." jelasnya. "Ibu tahu, justru sekarang Fadil malah jatuh cinta pada wanita lain..." sahutnya dengan pipi yang mendadak memerah.


"Eh, siapa?"


"Dia... Rubi Bu, adiknya Raffa..."


"Rubi?!" Bu Marjuki tampak tercengang, lantas menutup mulutnya yang sudah terbuka, Fadil mengangguk kepala lagi dan tersenyum lebar.


"Kamu suka sama dia Dil, sama Rubi?!" tanya Bu Marjuki masih tak percaya.


"Iya Bu, dan rencananya Fadil juga ingin segera melamar Rubi. Biar cepat halal." ujarnya tersenyum sipu lagi.


Bu Marjuki tampak menganggukkan kepalanya dengan mata membulat sempurna.


"Lalu, Sinta bagaimana Dil? Kasihan juga dia kan kamu putusin begitu saja?! Ibu sih terserah kamu mau nikah sama siapa, itu hak kamu dan Ibu itu tak pernah mau maksain anak-anak Ibu, yang penting kamu sudah ada calon istrinya. Cuman saja Ibu juga jadi kepikiran sama Sinta..." tukas Ibunya dengan wajah sedih, tak tega melihat Sinta yang sudah dia anggap sebagai putrinya sendiri.


Fadil tertegun, lagi perkataan ibunya membuat Fadil semakin merasa bersalah pada Sinta.


"Semalam katanya, Sinta akan berusaha merelakan Fadil. Semoga saja Sinta benar-benar ikhlas melepas Fadil, Bu..."


"Syukurlah kalau dia berkata begitu, semoga Sinta juga cepat mendapatkan jodohnya yang terbaik..." ucap Bu Marjuki tulus.


"Aamiin..." Fadil mengusap wajahnya mengaminkan doa Ibunya untuk Sinta.


Karna hanya kalimat doa-lah yang bisa mewakili. Di saat kita tak bisa lagi membantu apapun untuk oranglain.


Tak terasa waktu pun bergulir dengan cepat. Pekerjaan yang menyita waktu dan tenaga membuat perut Fadil keroncongan. Ia pun teringat jika siang ini kekasihnya akan datang membawakannya makan siang. Rasanya Fadil sudah tak sabar lagi menunggu kedatangannya.


Fadil melirik jam arlojinya dan mengerutkan keningnya. "Sudah mau jam dua belas. Kenapa dia belum datang juga?" gumamnya mulai resah.


Tok


Tok


Tok


Fadil mendongak ke arah pintu. Bibirnya tersenyum mengembang. Itu pasti Rubi... gumamnya yakin dalam hati. Lantas Fadil berdiri dan merapikan sedikit rambutnya sambil bercermin di kaca lemari.


"Masuk.." perintahnya.


"Pak!" seorang wanita muda menengok di balik pintu.


"Eh Len?!" Fadil terkejut, dia mengira yang datang dan mengetuk pintu ruang kerjanya adalah Rubi. Tapi ternyata asistennya sendiri.


"Pak, ini tadi ada yang nitip makan siang buat Bapak..." ujarnya.


"Dari siapa?" tanya Fadil mengerutkan keningnya terheran, setelah menerima bekal makan itu.


"Dari wanita Pak... Katanya maaf nggak bisa nemuin Bapak langsung. Tadi pagi sekali kan dia juga datang kemari nyariin Pak Fadil... Emangnya Pak Fadil nggak nemuin dia?" tanya Leni dengan ekspresi bingung.


Fadil membulatkan matanya lantas berdiri dari kursi. "Apa, wanita itu memiliki mata bulat, rambutnya sebahu juga memiliki poni?" tanya Fadil.


"Iya Pak..." angguknya tersohok.


Fadil mengeluarkan ponselnya penasaran, lantas memperlihatkan foto Rubi. "Apakah dia orangnya?"


"Iya dia, Pak!" jawab Leni lagi. Fadil semakin membulatkan matanya lebar.


Jadi, tadi pagi Rubi kemari. Tapi kenapa dia tak langsung menemuiku? Apa jangan-jangan, dia telah melihatku bersama Sinta?! pekik Fadil dalam hatinya cemas.


"Sekarang dia dimana Len?"


"Sudah pulang lagi Pak, dia hanya nitip bekal ini untuk Bapak..." jawabnya.


Fadil membuang nafasnya kasar. Lantas mengambil kunci mobil dan ponselnya di meja. Lalu bergegas pergi keluar dan mencari Rubi, siapa tahu ia masih bisa mengejar Rubi.


Fadil melangkah cepat melewati lorong-lorong Rumah Sakit besar itu sambil terus menghubungi nomer Rubi namun ternyata panggilannya tak juga di angkat-angkat Rubi.


Fadil semakin gelisah, dia khawatir Rubi akan marah dan salah paham.


"Rubi dimana kamu? Cepat angkat teleponku..." decaknya kesal.


Fadil telah berada di parkiran mobil lantas sekilas ia melihat mobil Rubi yang hendak melaju keluar dari parkiran.


Tanpa pikir panjang lelaki jangkung itu lekas berlari cepat mengejarnya.


"Rubi, stop Rubii!" teriaknya yang lekas menghentikan mobil kekasihnya.


****


"Tolong dengarkan dulu penjelasanku, yang kamu lihat tadi pagi tidak seperti bayanganmu, Rubi..."


Fadil berlutut di depan Rubi seraya menggenggam erat tangannya. Matanya tak berkedip menatap lembut dan cemas pada wanita yang ia sayangi.


Rubi menarik tangannya lagi dengan paksa. Memalingkan wajahnya, tak ingin melihat tatapan Fadil yang mampu menghanyutkan hati dan pikirannya.


"Apa yang ingin kamu jelaskan lagi, Kak? Semua sudah jelas di depan mataku sendiri. Jika Kak Fadil benar-benar mencintaiku, Kak Fadil tak akan mungkin bohongi aku! Bukankah Kakak bilang, semalam tadi Kakak menjaga pasien anak kecil? Tapi kenyataannya kau menemani Sinta. Itu sudah membuktikan kalau Kakak tidak pernah serius padaku. Jujur padaku Kak, sebenarnya Kak Fadil masih berhubungan sama Sinta 'kan?!" lontar Rubi, yang kini dia berani menatap Fadil dengan mata berkaca-kaca penuh kecewa.


Saat ini mereka berdua berada di taman belakang Rumah Sakit. Kebetulan tempatnya juga tak terlalu ramai. Fadil yang memaksa Rubi untuk bicara untuk menjelaskan kebenarannya. Namun kebenaran itu seolah tertutupi mata batin Rubi, sebab sudah terlanjur melihat Fadil yang terlihat begitu perhatian menyuapi mantan kekasihnya.


Fadil menggeleng kepalanya lagi lalu kembali meraih tangan Rubi dengan lembut. Tatapannya tak lepas memandang bola matanya yang indah.


"Kamu salah paham sayang... Ya, semalam aku memang terpaksa bohong padamu soal aku menjaga pasien anak. Itu karna aku ingin menjaga perasaanmu. Tadi malam Sinta datang ke rumahku, dia meminta kedua orangtuaku untuk menikahinya. Sinta tak terima aku putuskan. Lalu Bapak Ibuku ikut marah karna kelakuanku, dan memaksaku mengantarnya pulang. Dalam perjalanan pulang, Sinta tak berhenti menangis dan dia mengancamku akan bunuh diri jika aku masih tetap memutuskannya dan menjalin hubungan denganmu. Dia keluar dari mobilku lalu terserempet motor, lalu aku bawa ke Rumah Sakit. Percaya atau tidak itulah kebenarannya Rubi... Aku bersumpah padamu, bahwa yang kuceritakan ini tidak bohong. Lalu soal tadi yang kamu lihat itu, dia meminta aku untuk menyuapinya. Dia bilang dia akan belajar melepas dan merelakanku, asal aku memberinya sedikit perhatian untuk terakhir kalinya. Maaf kalau aku sudah membuatmu sakit hati karna sikap perhatianku pada Sinta..." ucapnya dengan tutur yang lembut berharap Rubi akan percaya dan tak marah lagi.


"Apa kamu tidak bohong Kak?"


"Tidak sayang, jika kau tak percaya padaku. Ayo kita temui orangtuaku sekarang juga... Mereka yang akan menjelaskannya nanti padamu, dan sekalian aku juga ingin mengatakan pada mereka, bahwa aku serius ingin menikahimu..." ucap Fadil tersenyum lembut dan mengembang.


Rubi tertunduk malu, lantas mengangguk cepat. Seketika wajah kesalnya tadi berubah merah merona. Tampak jelas sorot matanya saat ini memancarkan kebahagiaan.


"Terimakasih sayang, sudah percaya padaku..." ucap Fadil yang lalu mengecup lembut punggung tangan Rubi.


Bersambung...


...****...