Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku

Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku
Fadil Yang Posesif


...BAB 24...


...Fadil Yang Posesif...


Setelah makan siang bersama di Restoran, mereka pun berpisah di tempat parkiran, karna Lyra sudah berjanji akan pergi ke toko perhiasan bersama Fadil.


"Tante pergi dulu ya sayang, Tante masih ada urusan sama Om Fadil." Lyra mengusap pipi Keyla. Hatinya pilu sekali, rasanya ia tak rela berpisah dengan gadis kecil itu. Apalagi setelah melihat perubahan berat badan Keyla yang menurun.


Belum ada satu minggu kami tak bertemu, tapi tubuh Keyla terlihat kurus, ada apa dengannya? Apa mungkin, Keyla begitu sangat merindukanku? gumam Lyra dalam hatinya, terenyuh.


"Kenapa Tante cepat-cepat pergi sih? Kenapa tak ikut ke rumah Key saja seperti dulu. Kita main bareng Tante..." rajuknya dengan tatapan penuh harap dan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Maafkan Tante sayang, Tante tidak bisa. Karena Tante harus..."


Lyra menjeda ucapannya, kepalanya tertunduk dalam, rasanya berat sekali untuk mengatakan. Kalau sebenarnya dia akan menikah dan tak bisa menemaninya seperti dulu lagi, bahkan untuk bertemu pun, Ibunya sudah tidak mungkin mengijinkannya lagi.


"Tante harus apa?" tanya Keyla yang masih menunggu perkataan Lyra.


"Lyra, bisakah kita bicara sebentar? Ada hal yang ingin ku katakan padamu..." alih Raffa, menghampiri Lyra dan putrinya yang sedang berdiri di antara mobilnya dan mobil Fadil.


"Bicara saja disini. Kenapa perlu bicara berdua." Fadil menimpali dan lekas mendekati Lyra, merangkul pundaknya seraya menatap tak suka pada Raffa.


Fadil dan Raffa memang bukan teman dekat. Tapi hanya teman satu kelas saja saat mereka masih SMA dulu. Hubungan mereka menjadi dekat karna Raffa pernah memeriksakan Keyla yang sakit ke Rumah Sakit. Kebetulan Fadil lah dokter yang merawat dan mengobati Keyla.


"Tidak bisa, ini pembicaraan yang sangat serius. Aku hanya ingin membicarakannya berdua dengan Lyra." terang Raffa.


Raffa tak peduli jika Fadil tidak menyukainya. Tapi Raffa harus katakan segera soal Keyla yang masih sangat membutuhkan Lyra di sampingnya. Raffa sudah berniat untuk membicarakannya sejak kemarin. Agar cepat mendapatkan jalan keluar dari permasalahan yang pelik ini.


Fadil mendengus kasar. "Seserius apa sih, sampai harus di bicarakan berdua saja?" tanyanya dengan nada yang ketus.


"Mas, ku mohon sebentar saja..." Lyra menahan lengan Fadil, memohon padanya agar di beri ijin sebentar untuk mengobrol bersama Raffa.


Fadil kembali menghembus kasar nafasnya. Hatinya sedikit melembut hanya dengan melihat tatapan Lyra yang memohon. Mau tak mau Fadil harus bisa menahan rasa cemburunya.


"Baiklah, tapi jangan lebih dari sepuluh menit." pesannya. Lyra mengangguk berjanji.


"Sayang, Papa mau kesana sebentar sama Tante Rara. Kamu tunggu disini dulu sama Om Fadil ya..." pesan Raffa pada putrinya.


"Baik Pa..." Keyla mengangguk menurut, lalu ia duduk menunggu di dalam mobil Papanya yang pintunya sudah terbuka.


Raffa dan Lyra pun berjalan menjauh dari mereka. Mencari tempat yang nyaman untuk bicara.


Fadil memincingkan matanya tak suka melihat Raffa yang terus saja mencari kesempatan mendekati calon istrinya itu. Apalagi setelah tahu jika Raffa dan Lyra ternyata adalah mantan kekasih. Kekhawatiran Fadil semakin menjadi, karna bisa saja mereka berdua akan kembali saling mencintai.


"Om!"


Fadil terkejut. Lalu menoleh pada Keyla yang memanggilnya. Sedang Keyla menatap Fadil dengan tatapan yang heran.


"Iya Key?!" tanya Fadil tersenyum masam lalu berjalan mendekatinya. "Ada apa?"


"Om, kenapa akhir-akhir ini Keyla lihat Om Dokter sering barengan sama Tante Rara?" tanyanya polos.


Fadil tersenyum mengembang saat Keyla bertanya tentang dirinya dan Lyra. "Tentu saja kami selalu barengan, karna sebentar lagi Om Dokter akan menikah sama Tante Rara..." terangnya.


Tak ia pungkiri hatinya sangat bahagia. Karna akan menikahi wanita yang ia sukai sejak dulu.


Keyla terbelalak kaget. "Om Dokter, dan Tante Rara mau menikah?!" pekiknya gelagapan. Fadil mengangguk tersenyum.


"Iya Key, bagaimana menurutmu? Tante Rara cocok kan jadi istrinya Om?!"


Keyla menggeleng pelan kepalanya, tak percaya. Mata bulatnya memerah panas.


****


"Kamu ingin bicara apa? Apa ini menyangkut Keyla?" tanya Lyra setelah mereka berdua dudukan di kursi taman Restoran.


"Iya. Ini soal Keyla, sudah empat hari ini dia mogok sekolah." ujar Raffa mendesah frustasi. Mengusap wajahnya yang sedikit lelah. Lyra terkejut, lantas menatap Raffa.


"Apakah dia, juga susah di suruh makan?" tanya Lyra, raut cemas pun kini tergambar di wajahnya. Raffa mengangguk kecil.


"Lalu, aku harus apa? Pernikahanku dengan Mas Fadil tinggal tiga minggu lagi. Kamu tahu kan, Ibuku sangat marah setelah tahu kedekatan kita lagi. Ibu bahkan membatasi aku pergi keluar rumah, dan Fadil selalu diminta untuk menemaniku kemanapun aku pergi..." lirihnya. Apa daya Lyra pun tak bisa melakukan apapun untuk Keyla.


Lyra menggigit erat bibir bawahnya rasanya dia ingin sekali teriak kencang, karna hatinya yang terus tertekan di bawah perintah ibunya. Lyra tak bisa membantahnya, karna itu akan membuat kesehatan ibunya jadi terganggu. Lyra khawatir hubungannya dengan Ibunya akan renggang hanya karna mereka berbeda pemikiran.


Raffa semakin kalut dan bingung, begitupun dengan Lyra yang tak kalah bingung.


"Apa kamu benar-benar yakin akan menikah dengannya?" tanya Raffa tiba-tiba.


Lyra sesaat bergeming dengan pertanyaan Raffa. Lalu ia menganggukkan kepalanya sedikit ragu. Sebenarnya hatinya ingin menolak. Tetapi kesehatan Ibunya lebih penting dari segala-galanya.


"Iya, aku yakin..." ucapnya pelan.


Raffa menghela nafas dalam, memandang nanar ke arah taman bunga di depannya. Perih, itulah yang tengah Raffa rasakan saat ini. Mungkin inilah yang dulu Lyra rasakan, saat dirinya akan menikahi Dania.


Raffa pun pasrah dengan semua keadaan yang ada, walau sebenarnya hatinya tengah tersiksa batin dengan perasaan cintanya terhadap Lyra. Cinta yang tak kunjung bersama.


Mereka berdua sama-sama belum terpikirkan dan menemukan jalan keluar. Tapi Lyra akan berusaha lagi, agar paginya dapat ke rumah Raffa untuk menemani Keyla.


Lalu keduanya kembali berjalan ke parkiran. Pikiran yang tak fokus membuat Lyra nyaris saja terjatuh karna tersandung sandalnya sendiri. Kalau saja Raffa tak cekatan menahan pinggang rampingnya.


Lyra spontan menoleh ke samping belakang Raffa, keduanya saling menatap dengan jantung yang sama-sama berdebar kencang.


Tak jauh dari sana Fadil telah melihatnya, kedua tangannya terkepal kencang di sisi tubuhnya. Fadil pun berjalan cepat menghampiri mereka.


Fadil menarik tangan Lyra yang tubuhnya masih dalam pelukan Raffa.


"Ayo kita pergi, kita masih punya urusan!" titahnya pada Lyra, dengan tatapan tajam yang tak lepas ke arah Raffa.


Fadil membuka pintu mobilnya dan menyuruh Lyra untuk masuk ke mobil. Lyra menatap sendu pada Keyla yang sudah meneteskan air matanya di samping mobil Papanya.


"Key..." gumamnya lirih.


"Ayo jangan buang-buang waktu kita, Lyra!" tegasnya.


Fadil mendesak Lyra agar segera masuk ke dalam mobilnya. Dengan berat hati Lyra menurutinya. Setelah Lyra masuk ke mobil. Fadil menyusul masuk, lalu pergi dari sana melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan mereka. Tanpa pamitan terlebih dulu. Sebab amarah dan cemburu telah menguasai hatinya. Ia tak peduli lagi dengan sikap ramahnya pada teman, atau pada anak kecil yang selalu ia hibur dengan candanya.


Raffa menarik nafasnya dalam-dalam. Menatap getir kepergian mereka.


"Papaa...." Keyla menangis lantas berlari memeluk Raffa.


"Ada apa sayang kenapa kamu menangis?" Raffa mengusap pipi Keyla yang sudah basah dengan air mata.


Keyla menggeleng kepala. "Katakan padaku Papa, kalau Om Dokter itu bohong. Dia nggak akan nikah sama Tante Rara, kan?!" lontarnya bertanya, dengan isak tangis yang menyayat hati.


Raffa terpaku, tenggorokannya tercekat, hatinya ikut merasakan sakit dan sesak. Lantas Raffa mengangguk pelan. "Iya sayang... Tante Rara, akan menikah dengan Om Fadil." lirihnya.


Keyla menggeleng cepat, ia semakin menangis sesenggukan. Lagi-lagi hatinya terluka dengan kenyataan ini. Itu artinya apa yang selalu ia harapkan selama ini, menjadikan Lyra sebagai Mamanya hanyalah dalam angan-angannya saja.


****


"Ada apa denganmu? Kenapa kamu jadi kasar begitu Mas?"


"Kenapa kau tidak bertanya pada dirimu sendiri? Kamu benar-benar tidak menghargaiku, Lyra. Aku ini calon suamimu! Harusnya kamu bisa menjaga sikapmu sebagai calon istriku! Inilah yang aku dan Ibumu tak suka, jika kamu masih berhubungan dengan anak itu lagi! Lihatlah lelaki itu, dia masih saja mencari-cari kesempatan untuk mendekatimu!" timpalnya dengan nada menyentak.


Fadil tak bisa lagi menahan amarah di hatinya. Dia benar-benar cemburu. Sangat cemburu.


"Mas Fadil, kenapa pikiranmu itu sempit sekali? Aku dan Keyla dekat sebelum aku tahu siapa Papanya. Jadi jangan asal bicara dan menuduhku dulu, Mas Raffa hanya butuh saran dariku. Keyla belum bisa aku tinggalkan, gadis kecil itu masih membutuhkan aku. Lalu aku harus bagaimana? Mengertilah sedikit saja di posisiku. Aku sayang Keyla, karna bukan Papanya. Tapi Keyla adalah putri dari sahabatku. Sahabatku yang telah meninggal dunia..." lirihnya dengan dada yang sesak, seketika air matanya tumpah.


"Aku ingin sekali merawatnya jika bisa. Tapi aku tahu, dan itu tidak mungkin. Karna ada hati lain yang harus aku jaga, perasaanmu dan juga Ibuku..."


Fadil menarik nafasnya kasar. "Jika kamu seperti ini terus. Aku akan mempercepat pernikahan kita. Belajarlah untuk melupakan dan tak terlalu memperdulikan oranglain."


Fadil menginjak pedal gasnya lebih kencang dan meluncur pergi ke sebuah toko mas, tempat sebagai tujuannya tadi.


Bersambung...


...****...