Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku

Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku
Dendam Seseorang


...BAB 33...


...Dendam Seseorang...


Setelah mendengar kabar kecelakaan yang menimpa Fadil. Bu Rukanda pun jatuh sakit. Beliau masih shock berat dan hanya bisa tidur berbaring di atas kasurnya. Dia begitu mengharapkan putrinya akan segera menikah di tahun ini bersama Fadil.


Namun takdir berkata lain, Fadil mengalami musibah. Semua sudah kehendak Allah ta'ala, dan mungkin ini bagian dari rencanaNya yang tidak kita ketahui juga tidak bisa dihindari. Kita sebagai manusia hanya wajib bersyukur di kala Allah memberi kita kesenangan dalam hidup, juga bersabar di kala kita di timpa cobaan. Bisa jadi musibah itu menyimpan banyak hikmah di baliknya. Entah itu dalam bentuk apa? Kita juga belum tahu, sebab itu masih misteri Ilahi.


"Ibu, makan ya... Kalau tak makan, sakit Ibu bisa bertambah parah..."


Lyra terus membujuk Ibunya agar mau makan. Lyra tahu jika Ibunya masih terpukul dengan kejadian ini. Pernikahan putrinya mendadak harus di batalkan dan rasa sesak itu masih memenuhi hatinya.


"Ibu belum tenang Lyra. Bagaimana dengan kabar Nak Fadil sekarang?" tanyanya.


Lyra menggeleng kepala. "Dia masih belum sadar Bu..." lirihnya, seraya kembali meneteskan air matanya. Lalu cepat-cepat mengusapnya lagi.


"Ya Allah, jika Fadil belum sadar-sadar juga. Lalu bagaimana dengan pernikahanmu, Nduk! Ibu tak ingin meninggal dalam keadaan kamu masih hidup sendiri. Ibu pengen lihat ada lelaki yang menjaga kamu, bertanggung jawab sepenuhnya sama kamu. Lalu kamu memberikan Ibu cucu yang banyak untuk temani di hari-hari tua Ibu... Melihat kamu bahagia, barulah Ibumu bisa hidup tenang jika nanti Ibu pergi menyusul Ayahmu di alam sana..." lirihnya tersedu-sedu.


"Ya Allah Bu... Kenapa sih Ibu selalu saja memikirkan hal itu? Saat ini kesembuhan Mas Fadil lebih penting dari apapun juga Bu... Masalah jadi menikah atau tidaknya kami, kita serahkan semuanya pada Allah. Jika memang Mas Fadil bukan jodoh yang di takdirkan Allah untuk Lyra, lalu kita bisa apa? Semuanya Allah lah yang menentukan, kita hanya bisa berusaha dan berdoa... Tapi Lyra yakin jika tidak ada yang sia-sia di dunia ini..."


"Tapi usia Ibu sudah tua nduk, Ibu juga sering sakit-sakitan... Sedang kamu belum juga menikah..." tukasnya lagi.


Bu Rukanda menghela nafasnya berat dan panjang. Mengingat lagi, ketika dirinya pingsan tak sadarkan diri, setelah mendengar berita buruk tentang calon menantunya itu.


Rukanda di bawa ke klinik terdekat dan di jaga oleh kedua anak buahnya Lyra. Sebab Lyra harus pergi ingin melihat keadaan Fadil di Rumah Sakit, Lyra pergi di antar oleh Raffa.


Tiba-tiba Rukanda merasakan ada sentuhan kecil di dahinya. Rukanda terkejut mendapati gadis kecil itu sedang mengelap keningnya dengan sapu tangan.


"Nenek, Nenek tidak apa-apa kan?" tanyanya mengerut keningnya cemas. Wajah lugunya menyiratkan perhatian yang tulus pada Rukanda.


Pelan, tangan Rukanda terangkat dan mengusap pipi Keyla. Rukanda tersenyum sendu memandangnya. Sebenarnya, Rukanda suka anak-anak. Apalagi kalau anak itu lahir dari rahim putrinya sendiri.


Pertama kali bertemu dengan Keyla, Rukanda juga menyukainya. Siang beberapa bulan lalu, pernah Lyra pulang ke rumahnya dan mengajak Keyla. Karena saat itu, Lyra ingin mengambil sesuatu barang yang terlupakan di kamarnya.


"Loh sudah pulang?" tanya Rukanda terheran melihat Lyra yang tak biasanya pulang di siang hari.


"Nggak bu, Lyra cuma balik lagi, ngambil kunci lemari di toko yang ketinggalan tadi pagi..." terang Lyra.


Lalu Lyra menengok ke belakangnya memanggil Keyla. "Key, sini masuk dulu! Salaman sama Nenek..." titahnya.


Rukanda mengerut kening. Lantas melihat seorang gadis kecil yang bersembunyi malu-malu di balik pintu masuk rumahnya yang terbuka.


Lyra tersenyum lebar lalu mengenalkan Keyla pada Ibunya. Bu Rukanda pun gemas melihat gadis mungil itu. Dulu Rukanda sama sekali belum tahu jika Keyla adalah putrinya Raffa dan Dania.


"Dia Keyla bu, anak yang ku asuh itu..." bisik Lyra pada Ibunya. Rukanda pun mengangguk dengan bibir membulat kecil.


"Ooh..."


"Keylaa?! Anak cantik.. Sini-sini kemari Nak! Mau kue bolu Nenek?" tawar Rukanda pada Keyla.


Keyla mengangguk senang, dengan senyumannya yang lebar. "Boleh Nenek..."


Mendengar Keyla yang memanggilnya Nenek padanya, Rukanda berkaca-kaca haru. Maka itu, Bu Rukanda jadi ingin sekali cepat-cepat menikahkan Lyra dengan Fadil. Agar mereka segera memberinya cucu.


Namun setelah ia tahu jika ternyata, Keyla putrinya Raffa dan Dania. Rukanda mendadak jadi tak menyukai Keyla. Padahal anak itu sama sekali tak bersalah apapun. Bu Rukanda pun melarang Lyra untuk menemui Keyla lagi, karna dia tak ingin jika putrinya itu berhubungan lagi dengan Raffa. Karna baginya Raffa bukanlah Pria yang baik.


****


Pagi itu Raffa dan Rubi ingin menjenguk Fadil di Rumah Sakit. Rubi memberi salam dan memberikan sebuket bunga dan buah tangan ke Ibunya Fadil. Turut sedih atas musibah yang menimpa Fadil.


"Terimakasih bunga nya Nak_?" Bu Marjuki menggantung ucapannya.


"Rubi Tante, nama saya Rubi... Saya adiknya Kak Raffa, temannya Kak Fadil" Rubi mengenalkan diri lagi pada Bu Marjuki setelah sekian tahun lamanya mereka juga tak bertemu.


"Hmm, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Bu Marjuki. Rubi mengangguk tersenyum.


"Iya Tante, waktu itu kita pernah bertemu di Restoran bintang lima saat Kak Raffa dan Kak Fadil tengah merayakan kelulusan SMA."


"Ooh iya iya..." Bu Marjuki mengangguk-angguk sambil mengingat-ngingat lagi. "Rubi itu kalau nggak salah, dulu masih kecil ya?"


"Aah iya- iya Tante baru ingat, sekarang kamu udah besar ya, cantik juga.." pujinya.


"Ah, biasa Tante. Terimakasih..." ucapnya kembali tersipu.


Rubi dan Ibunya pun berbincang cukup lama dan tak sangka mereka cepat sekali akrab. Sesekali Rubi pun melihat ke arah Fadil yang masih terbaring di ranjang. Hatinya ikut pilu. Semoga saja Fadil cepatq kembali siuman.


Sedang Raffa di luar kamar rawat Fadil, tengah duduk mengobrol di kursi tunggu dengan Pak Marjuki, ayahnya Fadil. Beliau menceritakan bahwa pelaku yang telah menabrak Fadil waktu itu, sudah berhasil di tangkap oleh polisi. Dan penabrak itu juga sudah di jatuhi hukuman penjara. Raffa menghela nafas lega setelah mendengarnya.


"Syukurlah jika begitu paman, ini akan membuat pelaku jera agar tidak lagi ngebut-ngebut saat berkendara." ujar Raffa.


"Iya, hanya saja pelaku itu mengatakan, kalau sebenarnya dia melakukan itu karna suruhan seseorang." terangnya.


Raffa menukik alisnya terkejut. "Maksud, Paman?" tanya Raffa menegakkan tubuhnya. Menatap antusias Ayahnya Fadil.


Pak Marjuki pun menghela nafasnya berat. "Iya sepertinya ada seseorang yang ingin mencoba mencelakakan Fadil, Nak Raffa.. Dan saat ini polisi masih terus mencari keberadaan orang itu. Kemungkinan besar pelaku yang ingin mencelakai Fadil adalah orang yang memiliki dendam besar terhadap Fadil. Tapi setahu Bapak, Fadil tidak pernah punya musuh. Lalu siapa kira-kira orang itu?" tanya Pak Marjuki terheran.


Raffa tampak berpikir dalam. Ternyata kecelakaan yang menimpa Fadil adalah unsur di kesengajaan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.


****


"Jadi ada orang yang memang sengaja menabrak Kak Fadil?!" Rubi tercengang mendengar cerita dari Kakaknya.


"Iya, katanya sih begitu. Siapa sebenarnya bajingan itu? Kakak harap pelakunya secepatnya bisa tertangkap dan di jebloskan ke dalam penjara." ucap Raffa menahan geram.


Rubi mengerut keningnya menatap ke depan jalanan kaca mobil. Tiba-tiba jantungnya berdetak kencang. Tak tenang.


****


Malam pun tiba pukul sembilan, Lyra baru saja ingin memenjamkan matanya. Namun ia dikejutkan oleh suara getar ponselnya di meja.


Lyra kembali bangun dan mengambil ponselnya. Melihat nomer Farah yang memanggil. Lekas Lyra mengangkat teleponnya.


"Hallo, assalamu'alaikum mbak Farah?"


"Waalaikumsalam, Lyra cepatlah datang ke Rumah Sakit. Satu jam lalu Fadil sudah tersadar, dan sekarang dia ingin menemuimu..."


Lyra sontak membulatkan matanya, lantas matanya berkaca-kaca haru.


"Alhamdulillah... Mas Fadil..." Lyra mengusap air matanya lagi.


Lyra pun bergegas memakai jaket dan membawa tas selempangnya. Setelah menutup sambungan teleponnya dengan Farah.


Lalu ia berpamitan pada Ibunya. Setelah Bu Rukanda di beritahu, beliau pun terus mengucap syukur, sebab doanya akhirnya di dengar Tuhan.


Cepat-cepat Lyra menaiki motornya dan pergi kembali ke Rumah Sakit. Dia sudah tak sabar ingin sekali menemui Fadil.


Selang empat puluh menit kemudian, Lyra telah sampai Rumah Sakit. Lyra memarkirkan motornya. Ketika ia hendak masuk ke lobby Rumah Sakit, tak sengaja ia pun berpas-pasan dengan Raffa yang juga sedang berjalan terburu-buru masuk ke dalam lobby.


"Lyra?!"


"Mas Raffa?!"


"Kamu sudah tahu jika Fadil sudah siuman?"


Lyra mengangguk cepat. "Iya Mas..."


"Tadi Ayah Fadil meneleponku juga, katanya Fadil ingin menemuiku..."


Lyra mengerutkan keningnya, tertegun. Sebab Farah pun tadi memintanya untuk datang kemari, karna Fadil ingin menemuinya.


Ada apa? Kenapa Mas Fadil juga ingin menemui Mas Raffa? gumam Lyra dalam hatinya bertanya. Perasaannya tiba-tiba saja tak enak.


Bersambung...


...****...