
...BAB 27...
...Mamamu Adalah Sahabat Kecil Tante...
Seorang wanita cantik berambut gelombang, memakai kacamata hitamnya. Melangkah lunglai seraya menggeret kopernya. Ia baru saja turun dari pesawat.
Dia keluar dari Bandara Internasional Juanda, kemudian menaiki taksi yang sudah ia pesan sejak tadi.
Di mobil taksi. Wanita yang berusia sekitar 25 tahun itu membuka kacamatanya, lalu mengambil tissue di dalam tas, mengusap air matanya yang terus saja mengalir di pipi putih mulusnya. Sejak di pesawat tadi dia tak berhenti menangis.
"Aku berjanji kamu pasti akan menyesal karna telah berselingkuh di belakangku, Wisnu!" isaknya kecil menahan rasa sakit yang menusuk-nusuk hatinya.
****
Raffa harus pergi ke perusahaannya karna ada pekerjaan penting. Sementara Ambar pulang ke rumahnya dahulu, setelah mendapat telepon dari Bi Sumi bahwa putri bungsunya tiba-tiba saja pulang mendadak, tanpa memberi kabar dulu pada Ambar sebelumnya.
Sehingga Lyra lah yang menunggu dan di percayai oleh mereka untuk menjaga Keyla.
Dua jam kemudian setelah Keyla di bawa ke Rumah Sakit. Akhirnya Keyla tersadar. Kelopak matanya perlahan terbuka dan ia terkejut melihat Lyra sudah ada duduk di sisi dekat ranjangnya.
"Tantee...." panggilnya lirih dengan suara parau.
Lyra yang sedikit mengantuk pun, sontak terperanjat mendengar suara Keyla memanggilnya. Lyra terharu dan lekas mendekati Keyla.
"Alhamdulillah kamu sudah bangun Key?" ucapnya lirih, seraya mengusap dan mencium lembut keningnya Keyla.
Keyla pun tersenyum tipis dengan bibirnya yang masih terlihat pucat.
"Tante, Key haus..." pinta Keyla, menelan ludahnya berkali-kali.
"Kamu mau minum sayang? Tunggu Tante ambilkan dulu ya.."
Keyla mengangguk pelan. Lyra beranjak dari kursi seraya mengusap sudut matanya yang basah. Lalu mengambil gelas baru dan mengisikannya dengan air di dispenser.
Lyra menghampiri lagi Keyla dan memberinya minum dengan memakai sedotan. Setelah minum beberapa teguk, Keyla pun bertanya-tanya bingung.
"Ini dimana Tante? Kok Keyla bisa tidur disini?" tanyanya polos.
"Ini di Rumah Sakit sayang. Kamu sakit, badanmu panas. Makanya Papamu dan Tante cepat-cepat bawa kamu kemari tadi." jawab Lyra. Keyla pun mengerutkan keningnya.
"Key, sakit apa Tante?" tanyanya lagi.
"Sakitmu itu karna kamu bandel, dari kemarin nggak mau makan terus. Badannya jadi lemes kan?!" gerutu Lyra, walau kesal dan marah, Lyra tetap menyayangi anak itu.
Keyla tersenyum sendu. "Maaf Tante, Keyla sudah buat Tante cemas. Itu juga karna Tante Rara nggak pernah mau ke rumah lagi..." ucapnya dengan wajah murung.
Lyra semakin berkaca-kaca. Lalu ia memeluk Keyla di sampingnya. Menempelkan pipinya dengan gadis kecil itu.
"Maafkan Tante sayang... Tante memang tidak bisa sering temani kamu. Tapi nanti, Tante akan usahakan datang ke rumah Keyla buat main sama-sama lagi..." ucap Lyra.
"Beneran Tante?"
"Iya sayang..."
"Tapi Tante kan, sebentar lagi mau nikah sama Om Dokter! Apa Tante ada waktu buat main sama Keyla lagi?"
Lyra menelan kasar ludahnya. "Em, kamu tahu darimana jika Tante akan menikah sama Om Dokter?" tanyanya gelagapan.
"Kemarin Om Dokter sendiri yang bilang sama Keyla! Jadi benar, Tante Rara mau nikah sama Om Dokter?" tanyanya lagi.
Lyra mengurai pelukannya dan memalingkan wajah sedihnya, lalu mengangguk dengan perlahan. "Iya sayang, Om Dokter benar."
Keyla kembali tertunduk sedih. Lyra menatapnya dengan sendu, lalu mengangkat pelan dagu Keyla. Untuk menatap lagi ke arahnya.
"Kamu tak perlu sedih. Walau nanti Tante sudah menikah, sayang Tante sama kamu tak akan pernah berkurang, dan Tante akan terus menyayangi Keyla sampai kapanpun..." hibur Lyra tersenyum.
Keyla berkaca-kaca, menatap haru wajah Lyra. "Beneran, Tante bakal sayang Key terus?"
Lyra mengangguk cepat. "Iya sayang. Kamu tahu kenapa, Tante bisa sayang kamu?" tanya Lyra. Keyla pun menggeleng cepat.
"Kenapa Tante?"
"Karna melihat kamu, Tante seperti melihat sahabat kecil Tante sendiri."
"Memangnya siapa sahabat kecil Tante?"
Keyla semakin antusias mendengarnya.
Lyra tersenyum, lalu mengambil sesuatu di dalam tasnya. Buku diarynya.
"Sahabat Tante adalah..." Lyra membuka diarynya perlahan. Lalu memperlihatkan foto di buku itu pada Keyla. Foto masa kecilnya dan Dania.
Bola mata Keyla membulat sempurna. "Ini siapa Tante? Kok wajahnya mirip Keyla sih?" tanya Keyla menunjuk foto pada gadis kecil seumuran Keyla dengan rambut di kucir dua.
Lyra menyungging senyumnya lagi. Lalu Lyra membuka lembaran diary paling belakang, di sana ada foto dirinya dan Dania, saat mereka masih remaja.
"Kalau ini kamu pasti tahu..." ujar Lyra memberi kesempatan Keyla untuk menebaknya.
Keyla pun terbelalak setelah melihat foto Mamanya di sana yang sedang merangkul bahu Lyra, dengan memakai seragam putih-abu-abu. Ia beranjak bangun.
Keyla mengambil buku diary di tangannya Lyra. Menatapnya tak percaya, lalu melihat ke arah Lyra yang terus tersenyum padanya.
"Tan-Tante kenal sama Mama Keyla?" tanyanya.
Lyra mengangguk cepat, dengan mata semakin berkaca-kaca. "Iya sayang... Mamamu, adalah sahabat kecil Tante..." lirihnya tersedu.
Keyla meneteskan air matanya semakin deras. Ia masih tak percaya jika selama ini Lyra adalah teman Mamanya sendiri. Lantas gadis kecil itu memeluk Lyra dengan erat. Mereka berdua pun menangis bersama, rasa sedih dan senang jadi satu.
"Kenapa Tante Rara nggak bilang kalau Tante temennya Mama?"
"Maaf ya Tante baru bilang..."
Langkah Fadil terhenti di depan pintu kamar rawat Keyla. Melihat mereka yang menangis di celah pintu. Hatinya ikut terenyuh melihat kedekatan mereka.
****
"Ada apa, kenapa tiba-tiba saja kamu pulang Rubi? Biasanya kamu akan kabari dulu sama Bunda."
Ambar mengusap lembut punggung putri bungsunya di kamarnya.
"Bunda, Rubi. Rubi akan menggugat cerai Wisnu. Rubi nggak kuat, Rubi ingin bercerai dengannya Bundaa!" isaknya. Ambar lekas mengurai pelukannya. Tersohok.
"Apa katamu?! Bercerai? Kenapa tiba-tiba saja kamu ingin bercerai Nak?"
"Wisnu ketahuan berselingkuh Bunda..." ujarnya, yang semakin menangis kencang lalu memeluki lagi Bundanya.
"Astagfirullah... Kenapa dia bisa begitu?"
"Rubi juga tidak mengerti Bun... Wisnu tega menghianati Rubi! Dia main sama perempuan lain..."
Ambar ikut sakit hati mendengar kesedihan putrinya.
"Kedua kakakmu harus di beritahu, biar mereka yang akan mengurus perceraianmu dengan Wisnu! Huh, Bunda kan pernah sering katakan sama kamu sejak dulu. Belum tentu Wisnu itu tulus mencintaimu. Tapi kamu begitu yakin akan menikah dengannya. Kamu bilang Wisnu itu lelaki yang bertanggung jawab. Sekarang apa buktinya? Dia malah tega nyakitin kamu!" tegur Ambar dengan sorot tajam menahan amarah, tak rela putrinya di sakiti oleh menantunya itu.
Rubi sesenggukan, mengangguk mendengar perkataan Ambar. Setahun lalu sebelum mereka menikah, memang Rubi lah yang meminta Ambar dan kedua kakaknya untuk merestui pernikahan mereka. Padahal Ambar pernah akan menjodohkan Rubi dengan pria dari anak sahabat mendiang suaminya. Ayah dari Raffa, Rano dan Rubi.
****
Setelah Lyra bercerita panjang tentang Dania. Keyla tiba-tiba ingin makan dan meminta Lyra untuk menyuapinya. Lyra pun dengan senang hati menyuapi Keyla. Satu mangkuk penuh bubur ayam habis olehnya. Lyra puas dan ikut senang, melihat nafsu makan Keyla kembali.
Tak hanya makan bubur, Keyla juga minta puding dan kue brownies yang Lyra pesan di online.
Raffa yang baru datang melihatnya juga ikut senang.
"Jadi sore ini, Keyla bisa pulang kan Pa?" tanyanya dengan semangat setelah mendengar Tante Rubi ada di rumah dari Papanya.
"Yakin emangnya kamu sudah kuat pulang?!"
"Sudah Pa, Key mau pulang. Nggak sabar mau ketemu sama Tante Rubi!" teriaknya lagi ceria.
Raffa mengusap puncuk kepala Keyla, lalu tersenyum ke arah Lyra yang sedang membereskan pakaian kotor Keyla ke dalam tas. Sebab tadi Lyra sudah mengelap badan Keyla dengan air hangat dan mengganti pakaiannya dengan yang baru.
Raffa menghampiri Lyra setelah meminjamkan ponselnya pada Keyla untuk main game.
"Terimakasih, sudah membuat putriku kembali tersenyum..." ucapnya pada Lyra.
Lyra mengangguk. "Sama-sama..." ucapnya membalas tersenyum.
"Ehm-ehm.."
Fadil mendeham pelan setelah membuka pintu kamar rawat Keyla.
Lyra dan Raffa pun menoleh terkejut dan gugup. "Maaf aku mengganggu kalian bicara." ujarnya dingin.
"Mas..." Lyra menunduk.
Fadil pun menghampiri Keyla dan menyapanya tanpa melihat Lyra. "Hai gadis kecil, bagaimana sekarang? Masih lemes?"
"Udah nggak, Om Dokter..." jawab Keyla tersenyum.
Sore itu Keyla di perbolehkan pulang setelah pemeriksaan terakhir. Namun Keyla sedih karna Lyra tak bisa ikut pulang dengannya ke rumahnya. Mereka pun berpisah di parkiran rumah sakit.
Di dalam mobil Keyla terdiam seperti tengah melamun.
"Ada apa sayang, kenapa melamun?" tanya Raffa meliriknya sekilas seraya mengusap kepalanya.
"Tadi Keyla baru tahu Pa, kalau ternyata Tante Rara itu adalah sahabatnya Mama. Kok Papa nggak pernah cerita-cerita sama Key sih? Berarti Papa dan Tante Rara juga udah saling kenal kan?!" celetuknya polos.
Raffa tersenyum kikuk. Lantas menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal. "Em, itu iya... Heheh bahkan Papa dan Tante Rara dulunya satu kampus." jawab Raffa jujur.
"Beneran Papa?! Uuh Papa jahat kenapa nggak pernah ngasih tahu kalau Papa dan Tante Rara pernah deket!" renggutnya.
Kami bukan hanya pernah dekat Key, tapi Papa dan Tante Rara pernah pacaran... gumam Raffa dalam hatinya.
Bersambung....
...*****...