Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku

Pengasuh Anakku, Mantan Kekasihku
Membuntuti Rubi


...BAB 57...


...Membuntuti Rubi...


Hari-hari pun berlalu, semenjak Fadil tahu jika akhir-akhir ini Rubi sering pergi keluar bersama Randi. Lelaki itu jadi selalu mencari alasan untuk menolak ajakan Sinta untuk pergi makan siang bersama atau pergi menemaninya shoping. Demi untuk membuntuti Rubi kemanapun pergi.


"Maaf Sinta, tapi hari ini Mas ada acara penting bersama rekan-rekan kerja. Jadi, lain waktu saja ya, kita makan siang barengan lagi..." ucap Fadil pada Sinta di telepon.


["Lain kali itu kapan sih Mas? Udah ke berapa kalinya ini, Mas sering nolak aku pergi jalan. Padahal dulu Mas Fadil tuh nggak pernah kayak gini! Jujur padaku Mas, apa sekarang Mas sudah mulai bosan pacaran denganku lagi ataukah sekarang Mas sedang bersama wanita lain?"] cerocos Sinta yang mulai mencemaskan dengan perubahan sikap Fadil padanya.


Sinta merasa ada yang tak beres dengan alasan Fadil yang terus saja menolaknya pergi jalan berdua.


Fadil pun mulai kebingungan harus menjelaskan apa lagi pada Sinta. Lama-lama Sinta juga pasti akan tahu kenapa dia selalu menghindarinya.


"Em, bukan begitu Sinta. Tapi Mas akhir-akhir ini memang sibuk, jadi Mas belum punya waktu lagi buat nemenin kamu. Tolong kamu mengerti ya, Mas mohon kamu jangan berpikir yang aneh-aneh. Oke kalau gitu, teleponnya udahan dulu ya... Mas sudah di tungguin nih... Assalamu'alaikum..."


Tanpa persetujuan Sinta, Fadil buru-buru menutup sambungan teleponnya, dan merubah pengaturan nadanya menjadi silent agar tak terganggu lagi oleh telepon Sinta.


Fadil menghela kasar. Lantas mengusap wajahnya beberapa kali.


"Entah sampai kapan aku terus berbohong dan menghindari Sinta? Aku tidak bisa begini terus, aku harus bisa tegas dan putuskan. Kalau aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini lagi. Tapi bagaimana caranya, agar aku bisa putus dari Sinta tanpa harus menyakiti perasaannya? Ya Tuhan, beri aku keberanian..."


Fadil mulai kalut, hubungan ini benar-benar sungguh menyiksa hatinya. Kian hari sikap Sinta semakin terlihat egois dan pemarah, dia seperti ingin membatasi ruang geraknya. Di sisi lain Fadil memang tak ingin menyakiti Sinta, tapi dia pun harus berkata jujur kalau sampai detik ini pun Fadil belum bisa mencintainya. Tak ada yang spesial dari Sinta, bahkan debaran di dadanya pun sama sekali tak pernah ia rasakan setiap kali berhadapan dengannya, dan jelas itu tidak seperti yang ia rasakan dulu pada Lyra.


Namun ada satu hal yang tak bisa di mengerti Fadil akhir-akhir ini, kenapa dia seperti tak pernah rela melihat kebersamaan Rubi dengan lelaki lain. Walau katanya mereka hanya berteman biasa. Tapi mereka selalu terlihat mesra di depan maupun di belakangnya, membuat hatinya terasa panas terbakar oleh api cemburu. Dan perasaan cemburu itu sama seperti yang ia rasakan dulu pada Lyra saat wanita pujaan hatinya itu dekat dengan Raffa.


Ada keinginan untuk menepis perasaan itu, tapi kian hari perasaan rindunya pada Rubi semakin besar. Rindu mendengar suara Rubi yang selalu berceloteh manja juga sikap perhatiannya padanya setiap hari. Namun sekarang tak pernah ia rasakan lagi semenjak dia menjalin hubungan dengan Sinta.


"Benarkah aku cemburu, oh Rubi kenapa harus padamu... Aku bisa jatuh cinta lagi...?"


Fadil memincing tajam, tangannya terkepal kuat mencengkram setir. Ketika ia melihat Randi merapikan rambut Rubi di depan parkiran mall. Lalu merangkul bahunya dan membawa Rubi masuk ke dalam mall.


Fadil bergegas turun dari mobil lalu mengikuti mereka pergi. Seperti biasanya, dia akan bertindak seolah-olah menjadi seorang mata-mata, mengawasi gerak-gerik mereka.


"Apa dia masih mengikuti kita?" tanya Rubi berbisik pelan pada Randi sambil berjalan santai tanpa melihat ke arah belakang. Rubi dan Randi sudah tahu kalau saat itu Fadil tengah mengikuti mereka.


"Ya, sepertinya lelaki itu tak pernah puas, dia semakin penasaran ingin tahu aktivitas apa saja yang kita lakukan berdua..." ucapnya tersenyum meledek.


Jujur saja Randi pun tak menyukai sikap Fadil yang plin-plan. Setelah ia mendengar seluruh cerita dari Rubi, bahwa lelaki itu mempunyai hubungan dengan wanita lain namun seolah punya hak untuk menjaga dan melindungi Rubi selayaknya seorang pacar, padahal mereka tak ada hubungan spesial apapun.


"Oh ya Ran, bagaimana kalau setelah ini kau ajak aku ke apartemenmu. Aku ingin tahu seberapa besar marahnya ketika dia melihat kita berdua semakin terlihat intim..."


"Apa kau serius?" Randi membulatkan matanya. Menurutnya rencana Rubi kali ini benar-benar gila.


"Apa menurutmu aku terlihat bercanda?!" Rubi menggerak-gerakkan alisnya naik turun. Memberi kode bahwa dia benar-benar serius kali ini untuk mengerjai Fadil.


Randi membuang nafasnya lantas menggelengkan kepala. "Baiklah... Baiklah akan aku turuti kemauanmu... Tapi kalau dia sampai menghajarku, kau harus tanggung jawab..."


"Tenang, tak akan ku biarkan dia melakukan itu padamu..."


****


"Ada apa denganmu Mas, kenapa kau jadi sering menolak menemaniku pergi? Apakah karna ada wanita lain yang saat ini kamu sukai?" resah Sinta menggaruk rambutnya kesal.


"Aduh kemana juga nih orang, kenapa teleponku selalu nggak di angkat-angkat terus sih?!" gerutunya.


Sinta kesal karna Farah pun tak bisa di hubungi. Lantas ia pun pergi ke Rumah Sakit, Farah melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit. Daripada diam saja lebih baik dia mencari tahu kebenarannya.


Setengah jam Sinta sampai Rumah Sakit lalu bertanya pada penjaga kasir ternyata Fadil memang sedang pergi keluar.


"Oh kalau boleh saya tahu, sebenarnya ada acara apa ya suster? Kata Mas Fadil tadi, kalau hari ini dia ada acara penting dengan rekan kerjanya..."


"Maaf Mbak, tapi hari ini tak ada jadwal acara apapun. Pak Fadil memang selalu pergi keluar setiap kalau jam makan siang..."


"Apa?!" Sinta membulatkan matanya.Ternyata Mas Fadil sudah membohongiku?! tangannya mengepal menahan marah.


*****


Setelah makan siang di kafe Mall. Mobil Rubi meluncur pergi ke apartemen Randi. Dan Fadil masih setia mengikuti mereka.


Fadil terkejut, saat mobil mereka masuk ke dalam basement apartemen.


"Mau apa mereka ke tempat ini?" Fadil kembali mencengkram setirnya. Karna keingintahunya yang besar dia pun ikut masuk dan memarkirkan mobilnya disana.


Rubi dan Randi keluar dan menaiki lift. Fadil kelimpungan dia takut kehilangan jejak mereka. Lantas memilih menaiki tangga untuk mengikuti mereka. Fadil telah sampai di lantai dua, namun angka lift terus maju ke atas dan dia kembali menaiki tangga hingga akhirnya lift yang di naiki Rubi dan Randi berhenti tepat di lantai lima.


Fadil menyeka keringat di dahinya dan bernafas lega karna tak kehilangan jejak mereka. Ia pun bergegas mengikuti mereka yang berjalan di lorong, hendak masuk ke salah satu unit kamar apartemen.


Fadil berhenti di depan pintu apartemen yang sudah tertutup, ia yakin bahwa apartemen itu tempat tinggalnya Randi. Fadil mondar-mandir dengan perasaan semakin berkecamuk.


Fadil ingin mengetuk pintu, namun anehnya pintu itu tak tertutup rapat, lalu ia membukanya pelan.


Suara ******* nakal terdengar semakin jelas. Fadil semakin membulatkan matanya lebar, ketika ia melihat jelas Rubi di peluk oleh lelaki itu mesra disebuah kamar yang memang sengaja tak ditutup.


"Rubi!" teriaknya wajahnya memerah marah.


"Heh apa yang kau lakukan, jangan sentuh dia!" Fadil menarik kasar baju belakang Randi lalu menghempaskannya jatuh ke lantai.


"Kak Fadil, kenapa kau ada disini?" Rubi berlari dan mencegah tangan Fadil yang akan memukul Randi.


"Seharusnya aku yang bertanya padamu Rubi, sedang apa kamu di apartemen lelaki ini?!" tanyanya seraya menunjuk wajah Randi yang tersenyum meremehkannya.


Rubi menelan kasar ludahnya. "Bukankah sudah kukatakan kalau dia adalah temanku.. Teman rasa pacar..." jelasnya tersenyum sinis. Fadil menggeleng kepala.


"Kau sedang tidak bermain-main dengan perasaanku kan Rubi? Katakan padaku, siapa sebenarnya yang kamu cintai selama ini, lelaki ini atau aku?!" lontarnya tegas.


Bersambung....


...****...


Maaf readers beberapa hari ini author jarang update karna kurang sehat... 🙏🙏 bertambah lagi kesibukan di bulan ramadhan tapi author ucapkan terimakasih banyak yang selalu setia menunggu kisah cinta Fadil dan Rubi ☺️☺️☺️