
...BAB 31...
...Kecelakaan Menjelang Pernikahan...
Wisnu berusaha mengejar mobil istrinya sampai ke jalanan. Kebetulan sekali ia melihat motor ojek yang lewat. Wisnu bergegas menghentikannya lalu menaikinya, meminta bang ojek itu untuk mengejar mobil istrinya.
Ambar yang melihat putri dan menantunya pergi setelah pertengkaran, di depan pintu teras rumahnya, hanya menggeleng kepala. Lantas ia menyuruh Keyla untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Mereka kenapa bertengkar Nek?" tanya Keyla polos.
"Nenek tidak tahu sayang. Sudah, lebih baik kamu masuk ke kamarmu dan berganti pakaian." titah Ambar pada cucunya. Keyla pun mengangguk menuruti.
****
"Huh, berani sekali dia datang kemari!" sungutnya. Menepuk kesal setirnya.
Di perjalanan Rubi mengendarai mobilnya cukup kencang. Rubi benar-benar marah sekali, karna suaminya berani menyusul ke rumahnya.
Tapi saat Rubi akan berbelok ia nyaris saja menabrak orang tua di depannya yang ingin menyebrangi jalan. Spontan saja ia menginjak remnya secara mendadak.
Cekkkiiiiit
Rubi mengusap dadanya dengan nafas tersengal-sengal, hampir saja dia jantungan. "Ya ampun nyaris saja!" paniknya.
Rubi bergegas turun dari mobil, dan meminta maaf berkali-kali pada lelaki paruh baya itu.
Dari jauh Wisnu tersenyum senang, karna melihat mobil Rubi berhenti. Dia meminta tukang ojek untuk menghentikan motornya. Setelah Wisnu membayar tarifnya. Wisnu pun berlari cepat menghampiri Rubi.
"Mau kemana? Kita belum selesai bicara," bisiknya pelan di telinga Rubi seraya menyekal lengannya.
Rubi tersentak kaget. Sebab Wisnu sudah ada di belakangnya dan menarik tubuhnya, membawanya paksa masuk ke mobil.
"Kenapa masih mengejarku! Sudah kukatakan aku ingin bercerai darimu!" sentaknya dengan tatapan marah menatap suaminya.
Wisnu tak menjawab permintaan Rubi. Setelah Rubi masuk ke mobil, Wisnu mengambil alih mengendarai mobil istrinya. Wisnu pun membawa Rubi dan mobilnya pergi ke suatu tempat.
"Kau mau bawa aku kemana? Cepat hentikan mobilnya!" perintahnya.
Rubi memegang setir mobil yang di kendalikan Wisnu, dan itu membuat Wisnu tak fokus mengendarainya. Hingga mobilnya oleng sini oleng sana.
"Berhenti Rubi, kita bisa menabrak orang!" tegurnya dengan nada meninggi.
"Makanya, hentikan mobilku!" timpal Rubi.
"Kita perlu bicara, kamu hanya sedang emosi!" ucap Wisnu.
"Aku lelah dengan kebohonganmu. Lebih baik kita pisah saja daripada terus hidup bersama!" timpal Rubi.
Mobil Rubi berjalan ke kanan ke kiri, sebab Rubi dan Wisnu saling berebut kemudi. Hingga mobilnya berjalan meliuk-liuk bagaikan ular yang berjalan cepat. Para pengendara yang lain pun berteriak marah pada mereka karna hampir saja bertabrakan.
Di suatu tempat, Fadil yang baru saja keluar dari toko perhiasan untuk mengambil pesanan cincin pernikahannya yang sudah jadi. Seketika ia melihat mobil Rubi melesat cepat melewatinya.
"Bukankah itu mobil Rubi?!" gumamnya. Dahinya mengerut heran melihat mobil Rubi yang melaju tidak stabil.
Karna khawatir akan terjadi sesuatu dengan Rubi, Fadil pun berinisiatif untuk menyusulnya. Fadil mengikuti mobil Rubi dari belakang menyelip kendaraan yang lain, beberapa kali pun ia mengklaksonnya, agar Rubi segera menghentikan mobilnya. Karna berbahaya dan bisa mengakibatkan kecelakaan lalu lintas.
Hingga di sebuah tempat sepi. Mobil Rubi akhirnya berhenti. Fadil ikut berhenti tak jauh dari belakangnya.
Rubi keluar dari mobil, disusul oleh Wisnu. Mereka lagi-lagi bertengkar disana.
"Walau bagaimanapun aku ingin bercerai darimu! Kau itu menjijikan sekali, Wisnu! Aku muak melihat tampangmu! Kenapa tak kau lanjutkan saja hubunganmu dengan wanita mu-rahan itu lagi hah?!" umpat Rubi emosi.
Wisnu geram dan menyekal kencang tangan istrinya lalu memberi tamparan keras pada Rubi.
Plaaaak
"Apa kau bisa diam sedikit saja Rubi! Dengarkan aku baik-baik kita tidak akan pernah bercerai, ingat itu! Aku tak akan pernah menyetujuinya!" tegasnya dengan penuh penekanan. "Ayo, sekarang juga ikut aku pulang ke Malaysia!" perintahnya.
Wisnu kembali menarik paksa tangan Rubi. Karna marah akhirnya ia lepas kontrol sehingga tega menampar istrinya. Wisnu bertekad harus bisa membawa istrinya kembali pulang ke Malasyia hari ini.
"Lepaskaan aku!! aku tak mau ikut denganmu! Pergilah dengan kekasih gelapmu itu!" jerit Rubi.
Fadil tercengang melihat Rubi yang di paksa seperti itu. Dia pun lekas turun dari mobil dan berlari menghampiri mereka.
"Lepaskan dia!" Fadil menarik tangan Wisnu agar melepaskan tangan Rubi.
"Kak Fadil!" Rubi menoleh terkejut.
"Siapa kau?! Berani sekali kau mencampuri rumah tangga kami hah?" maki Wisnu menatap marah pada Fadil.
"Lepaskan dia atau tidak, aku akan laporkan anda pada polisi, atas tindakan KDRT" ancam Fadil tegas.
"Aku tidak takut padamu!"
Wisnu mengepal marah, lantas ia ingin menghajar Fadil. Namun dengan gesit Fadil menghindar dari tinjuan Wisnu, dan Fadil membalas tinju perutnya Wisnu.
"Aaaarhhh!!" Wisnu pun mengerang kesakitan menahan perutnya yang sakit.
****
"Terimakasih banyak Kak, udah nolongin aku dari dia..." isak Rubi menyusut air matanya dengan tissue.
"Jika pernikahanmu sudah tidak lagi sehat, lebih baik segera ajukan perceraian ke pengadilan..." saran Fadil pelan. Tak tega melihat Rubi yang di kasari suaminya.
"Aku juga maunya begitu Kak, tapi Kak Raffa malah cuek saja, dan nggak mau bantuin Rubi buat mengurusnya. Kak Raffa malah nggak percaya dengan semua omonganku."
"Biar aku antar kamu pulang, dan nanti biar aku saja yang bicara pada Kakakmu. Aku khawatir suamimu itu akan terus memaksamu dan berbuat kasar lagi padamu seperti tadi." sindirnya seraya menatap sinis pada Wisnu di samping mobilnya Rubi.
Rubi mengangguk setuju. Lalu ia pulang di antarkan Fadil dan di belakangnya, Wisnu pun mengikuti mereka dengan mobil Rubi.
Fadil hanya berjaga-jaga agar Wisnu tidak bertindak macam-macam lagi pada Rubi.
Wisnu mencengkram kuat setir melihat kedekatan Rubi dan Fadil. Dadanya bergemuruh panas.
"Siapa sebenarnya lelaki itu? Berani sekali dia mendekati istriku!" geramnya menahan amarah yang bergejolak di dada.
Raffa bergegas pulang setelah tadi di telepon Rubi. Di rumahnya Rubi dan Wisnu di adili. Fadil sebagai saksi di antara mereka, dan melihat langsung kekerasan Wisnu terhadap Rubi.
Awalnya Wisnu masih tak mengakui tentang perselingkuhannya di depan Raffa dan juga Ambar. Namun pada akhirnya dia pun mengaku juga, setelah Rubi mengancam perusahaan miliknya akan di ambil alih olehnya lagi. Ternyata Wisnu lebih memilih harta satu-satunya.
Raffa benar-benar marah setelah pengakuan Wisnu. Ia pun akhirnya percaya dengan perkataan adiknya, dan dia akan mengurus perceraian adiknya secepat mungkin.
Wisnu berpamitan pada Ambar dan Raffa. Lalu ia beralih pada Rubi hendak bersalaman untuk yang terakhir kalinya sebelum persidangan mereka, namun Rubi segera memalingkan wajahnya dan menolak jabatan tangan Wisnu. Rubi melipat kedua tangannya di dada dengan wajah angkuhnya.
"Pergilah dan jangan lagi menampakkan wajahmu di hadapanku. Aku sudah ikhlaskan uang yang pernah ku berikan padamu untuk mengelola perusahaanmu. Asalkan kau tak lagi kembali mengusik hidupku!" ucap Rubi dingin.
Rubi sama sekali tak menyesal dengan keputusannya berpisah dengan Wisnu. Justru dia bersyukur sekali karna Tuhan telah memperlihatkan sifat asli suaminya sebenarnya.
Wisnu menghela nafas berat dan mengangguk lesu. Dia pun pergi dengan membawa kekalahan. Tapi hatinya masih tak terima karna pernikahannya dengan Rubi harus berakhir dengan perceraian. Walau begitu Wisnu masih mencintai Rubi.
Rubi berterimakasih pada Fadil. Karena sudah banyak membantunya.
"Terimakasih Kak Fadil, lagi-lagi kamu sudah berjasa padaku..." ucap Rubi.
"Ini hal sepele buatku..."
"Tapi ini berarti bagiku Kak.." Rubi menatap lekat Fadil dengan tatapan lembutnya. "Kalau tidak ada Kakak tadi, aku tidak akan mungkin bisa bercerai dari Wisnu..." sambungnya lagi.
Fadil mengangguk tersenyum pada Rubi lalu dia pamitan pulang.
*****
Tak terasa, satu minggu berlalu begitu sangat cepat. Hari ini tepatnya hari pernikahan Lyra dan Fadil.
Satu minggu yang lalu. Fadil memang pernah memberi kesempatan lagi Lyra untuk kembali berpikir ulang sebelum semuanya terlambat. Fadil hanya tak ingin ada keterpaksaan di antara mereka.
"Sebelum aku menyebar luaskan undangan pernikahan kita. Aku ingin bertanya padamu. Apa kamu yakin, mau menikah denganku Lyra?"
Fadil menatap dalam Lyra. Mencari keseriusan di bola matanya yang bulat. Bulu mata yang lentik, menambah keindahan di matanya. Itulah yang membuat Fadil jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap Lyra.
Lyra mendongak menatap Fadil dengan mata yang berkaca-kaca. Lalu menarik nafasnya dalam.
"Aku hanya ingin memberi kebahagiaan untuk Ibuku. Jika memang menikah denganmu membuat Ibuku bahagia. Akan kulakukan, dan aku ikhlas menikah denganmu Mas..."
"Baiklah, berarti kamu memang sudah siap dengan menerimaku sebagai suamimu..." ucapnya dingin.
Lyra mengulas senyum tipis di bibirnya lantas mengangguk kecil. Menerima semua yang sudah di gariskan Tuhan, termasuk perihal jodohnya.
Lyra berusaha menahan air matanya yang ingin tumpah keluar. Sebab seorang MUA tengah merias wajahnya, dan dia tak ingin merepotkannya lagi, khawatir riasannya akan jadi luntur oleh air matanya sendiri.
Lyra pun telah siap dengan gaun putihnya dan di tuntun keluar oleh Bu Rukanda dan kedua anak buah Lyra menaiki mobil jemputan.
Begitu pula Fadil yang sudah jalan lebih dulu dari rumahnya, berserta keluarga dan rombongannya menuju mesjid besar untuk melangsungkan ijab qabul mereka.
*****
"Kamu yakin akan menghadiri pernikahan mereka Raffa?" tanya Ambar di kamar putra keduanya.
Raffa menghela nafasnya berat. Mengusapi wajahnya bimbang. Rasa sakit dan hancuritu masih terasa. Tapi mau bagaimana lagi. Dia harus menerima jika Lyra bukanlah jodoh yang di gariskan Tuhan untuknya.
"Sebenarnya aku tidak kuat melihatnya, Bunda. Tetapi aku sudah di undang, dan aku tak enak bila tak datang..."
"Papa..."
"Keyla..."
"Papaa... Keyla kangen sama Tante Rara..." isaknya menangis deras lantas berlari memeluk Raffa.
Raffa menggendong putrinya. Lalu mengusap air matanya. "Ayo kita pergi temui Tante Rara ya..."
Keyla mengangguk kecil.
Rubi yang melihat Keyla menangis pun ikut sedih. Lalu menghampiri Ambar dan memeluknya dari samping.
"Bunda, aku dan Keyla pamit pergi." ujar Raffa.
"Iya sayang, pergilah titip salam untuk Lyra dan Ibunya."
Raffa pun pamitan pada Bundanya. Begitupun Rubi yang turut ikut menghadiri pernikahan Fadil karena kemarin dia pun sempat di undang olehnya.
****
Fadil memandangi jalanan di sampingnya dengan menggenggam kotak merah yang berbentuk hati, di dalamnya terdapat sepasang cincin emas.
Aku berharap lambat laun kamu akan mencintaiku Lyra... gumamnya dalam hati.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan. Hingga beberapa kilometer ke tempat tujuan. Tiba-tiba saja ban mobil yang di naiki Fadil pecah. Mobil itu berhenti mendadak di tempat yang sepi orang dan di sekelilingnya hanya ada pepohonan yang rimbun.
"Ada apa?" tanya Pak Marjuki tiba-tiba cemas.
"Maaf Bu, sepertinya ban belakangnya pecah..." sahut supir mobil.
"Ya ampun ada ada saja ini. Apa masih sempat di perbaiki?" tanya Bu Marjuki.
"Bisa Pak Bu, kebetulan saya punya ban serepnya."
"Biar aku bantu!" Fadil turun dari mobil dan ikut membantu supir untuk memperbaiki bannya yang pecah.
"Nang wes wes biar pak supir saja sendiri, nanti badan kamu jadi keringetan!" sahut Bu Marjuki menengok di jendela mobil.
"Nggak apa-apa Bu, cuma begini kok biar cepat selesai..." Fadil kekeh ingin membantu Pak supir memasang ban baru. Sesekali ia mengusap keningnya yang berkeringat.
Fadil menghela nafas lega, karna bannya sudah terpasang yang baru. Lalu dia dan Pak supir kembali masuk ke mobil.
Namun tiba-tiba terlihat motor kencang dari arah selatan dan melintas cepat menabrak Fadil yang berjalan ingin membuka pintu depan mobilnya.
Bruaaaakkk
Tubuh Fadil terhempas jauh dan kepalanya terbentur keras tepat pada batu di tepi jalan. Bersamaan itu kotak cincin dalam saku jas pernikahannya pun terjatuh disana.
"Fadiiiillll..." teriak Bu Marjuki histeris.
Mereka yang di mobil pun tercengang. Melihat Fadil yang sudah jatuh tergeletak tak berdaya dengan kepalanya sudah berlumuran darah.
Bersambung...
...****...
Bagaimana nasib Fadil?? Yuk komenin dong biar rame nih 🤧🤧🤧 🥰