Pandawa Kecilku

Pandawa Kecilku
Riset Ethan


Boman yang melihat ayahnya tersiksa merasa tak tega dan segera pergi menuju kamarnya. Menyalakan laptop dan mencari di google dimana tumbuhnya tanaman jinten hitam yang dimaksud adik bungsunya itu. Setelah berkutat dengan serius, akhirnya ia berhasil menghubungi seseorang yang berada di luar negeri untuk mengirim tanaman tersebut ke Indonesia.


Dulu saat tinggal di luar negeri, meski masih kecil pandawa cara bersosialisasi nya cukup tinggi, baik melalui media elektronik maupun dalam lingkungan sekitar. Dengan begitu dia bisa dengan mudah mencari sesuatu yang ia butuhkan di luar negeri.


Setelah selesai dengan pekerjaannya, Boman kembali ke kamar ibunya.


Mendekat ke arah Ethan dan berbisik, "Aku sudah mendapatkan tanaman itu."


Ethan terbelalak, "Sungguh, bagus Kak aku akan memulai risetnya!"


Boman menarik ujung baju adiknya saat Ethan ingin pergi. Berbisik lagi, "Benda itu belum datang. Karena aku mendapatkannya dari luar negeri jadi butuh waktu lama."


Ethan menjadi muram wajahnya, "Padahal tanaman itu akan lebih berfungsi dengan baik jika masih dalam keadaan subur."


Boman menarik nafasnya, menepuk bahu adiknya. "Tenang, aku akan memastikan tanaman itu cepat sampai dan kamu bisa melakukan riset kamu."


Abi mendengar pembicaraan mereka, menoleh dan berkata, "Riset apa?"


"Aku ingin membuat minyak dari jinten hitam." terang Ethan.


"Untuk apa?" tanya Charles yang juga ikut bergabung.


"Untuk obat kesembuhan ayah." imbuh Boman.


Dave yang sedari tadi fokus pada adik kembar yang sedang mandi, berjalan ke arah bak mandi. Berjongkok dan berkata, "Oma, dulu saat aku bayi juga seperti ini kah?"


Ratna yang juga ikut andil memandikan bayi kembar menyahut, "Tentu saja, bahkan oma juga melakukan pijat terapi seperti ini!" Ratna mengangkat bayi Salwa dan mengelap nya dengan handuk kering lalu memberikan pijatan lembut.


Sherly tersenyum mengingat pandawa saat bayi dulu. Betapa sangat repot karena ada 5 bayi saat itu.


Alva mengenakan masker untuk mengurangi rasa alergi nya, ia mendekati istrinya dan bertanya, "Tante kamu hebat ya!"


Sherly mendongak menatap suaminya dan membanggakan tantenya, "Tentu saja, dia kan seorang bidan dan sudah berpengalaman. Pandawa dulu juga seperti ini."


Alva mengangguk tanda mengerti.


Setelah tante Ratna selesai memandikan Salwa dan Khalwa, memberikan salah satu diantara keduanya kepada Sherly untuk disusui.


Melihat itu Alva senyum sendiri, betapa tidak? Karena hidupnya dikelilingi kebahagiaan.


Kedua baby sister keluar terlebih dahulu.


"Anda pasti Alvarendra Rizky, suami Sherly?" Ratna mengulurkan tangannya, "Saya Ratna, adik dari ayah nya Sherly."


Alva termangu menatap tangan yang terangkat itu, ragu untuk berjabat tangan.


Sherly melirik dan tersenyum.


"Anda benar, saya adalah suami Sherly. Tapi maaf, saya tidak bisa menjabat tangan Anda." Alva mengatupkan kedua telapak tangannya.


Ratna tidak tersinggung dan bersenandung, "Oh, maafkan saya, saya lupa kalau Anda alergi pada wanita."


Mendengar itu Alva melotot matanya seketika, menatap Sherly yang menahan tawanya. "Kamu membocorkan rahasia ku!"


Sherly berhenti tertawa, "Aku tak menyimpan rahasia ini pada orang yang sudah ku anggap ibuku sendiri. Maafkan aku, Sayang, aku tidak bermaksud merendahkan kamu."


Ratna memaklumi keadaan ini, "Tidak apa, jangan marah Nak Alva! Rahasia mu akan aman bersamaku. Aku tinggal sendiri dan tidak akan menceritakan ini pada siapa pun. Kamu bisa memegang ucapanku."


Alva mengangguk mengerti.


Mengingat itu, Sherly berkata, "Oh iya, Tante, hari ini menginap saja dulu di sini, besok aku akan mengantar ke rumah mendiang ayah."


Ratna ingin menolak tapi karena Sherly terus mendesak akhirnya setuju juga.


Alva meminta bik Tinuk untuk menyiapkan satu kamar untuk tamu.


***


Saat di ruang makan, keluarga Rizky menikmati hidangan dengan penuh syukur. Tiba-tiba saja di tengah acara makan Ratna tersedak makanan, makanan itu terlalu asin baginya. Buru-buru Andreas menyodorkan minuman untuknya. "Pelan-pelan!"


Ratna menerima dan meneguknya, "Terima kasih!"


Melihat kejadian langka itu, semua mata orang di ruang makan memperhatikan mereka berdua.


"Ada apa dengan kalian, lanjutkan makan!" titah Andreas yang tiba -tiba saja merasa canggung. Alva dan Sherly kompak memutar mata mengalihkan pandangan.


Selesai makan, pandawa segera menuju ke kamarnya. Karena mendengar suara tangisan bayi kembar yang melengking, Sherly pergi ke kamarnya.


"Pa, aku susul Sherly ke kamar dulu ya," izin Alva dan meninggalkan mereka berdua saja.


Merasa tak enak, Ratna segera bangkit dan membereskan piring yang kotor.


Andreas melarangnya, "Sudah, Nona Ratna, letakkan kembali piring itu! Ada bik Tinuk yang akan membereskan nya."


Ratna meletakkan kembali piring yang kotor, "Tidak apa-apa ini hanya pekerjaan mudah."


"Tapi Anda tamu di rumahku. Jadi, aku tak kan membiarkan tamuku melakukan pekerjaan itu."


Andreas pun merasakan kecanggungan yang sangat, ia membalikkan badan hendak melangkah pergi. Suara Ratna menghentikan langkahnya, "Maaf, bisa kasih tahu aku dimana kamarku?"


Andreas menoleh dan berbalik, sambil tersenyum, "Mari saya antar!"


"Tidak. Katakan saja!"


"Oh, dari sini lurus saja ke kanan. Ada kolam renang di sana, dan ada satu pintu berwarna silver, itu kamar Anda."


Ratna mengangguk tanda mengerti, "Baiklah, terima kasih, maaf sudah banyak merepotkan Anda!"


"Tidak. Jangan merasa sungkan di sini."


Kemudian Ratna meninggal tempat itu menuju kamarnya. Andreas menatap kepergian Ratna dengan perasaan yang sulit diartikan.


Keesokan harinya, Sherly meminta izin pada Alva untuk mengantar Ratna ke rumah mendiang ayahnya. Alva memberikan izin.


Sesampai di rumah lama, Ratna bertemu dengan bik Kah. Keduanya saling berpelukan dan melepas rindu.


"Nona Ratna, Anda masih terlihat tetap awet muda dan cantik! Padahal sudah puluhan tahun kita tidak bertemu."


"Bibik bisa saja, oh iya, mulai hari ini aku akan tinggal di rumah ini."


Sherly melihat bik Kah yang menatapnya tak percaya, "Iya, Bik, jadi tante Ratna akan menemani bibik di rumah ini." Sherly memperjelas keterangan Ratna.


Sungguh bukan main senangnya. Selama Sherly tinggal di rumah suaminya. Bik Kah sendirian tinggal di rumah itu.


Satu minggu kemudian.


Pandawa baru saja pulang sekolah dan mereka sedang berada di teras.


"Mana Kak paketnya, lama amat datangnya?" rengek Ethan yang tak sabaran.


"Sabar Dik, orang sabar makin ganteng loh ...." ujar Boman.


"Iya toh, kok aku baru dengar. Kebanyakan orang sabar itu di sayang Tuhan loh, " celetuk Dave.


"Boman kamu harus bertanggung jawab loh, dengan ucapan kamu barusan," tegur Abi.


"Bertanggung jawab gimana Kak?" Boman mengernyitkan dahi bingung.


"Aku kan termasuk paling sabar diantara kalian, jadi jika aku makin ganteng ketimbang kalian, jangan iri ya,"


Semua tertawa mendengar lelucon Abi.


"Ah, Kak Abi jangan percaya dengan Boman!" Timpal Charles.


Boman hanya cengar-cengir saja.


Tanpa mereka sadari, seorang kurir datang mengirim paket.


Ethan kegirangan bukan main. Setelah kurir itu pergi, mereka segera membuka bingkisan itu.


Tanaman jinten hitam masih terlihat subur. Ethan membawanya ke kamar dan segera melakukan riset.


Setelah semalaman ia melakukan percobaan dan ia berhasil membuat minyak jinten hitam.


Ethan memperlihatkan hasilnya pada saudara-saudaranya.


"Bagaimana cara penggunaan benda ini?" tanya Abi.


"Diminum kah?" tebak Charles.


"Ya, Kak Charles benar!" Ethan mengacungkan jempol.


"Aku akan memanggil ayah agar ke sini." Dave segera berlari menuju kamar ayah nya.


Alva yang hampir saja memejamkan mata harus terbangun karena teriakan Dave.


"Ssttttt .... Jangan berisik, adik baru saja tidur!" tegur Sherly sambil meletakkan Khalwa ke dalam box bayi.


"Ada apa memanggil ayah?" Alva bangkit dan berjalan ke arah Dave. Alva membungkuk kan badan dan Dave berbisik padanya.


Sherly menatap curiga ke arah dua pria di sampingnya.


"Sayang, aku keluar sebentar ya!" izin Alva dan pergi mengikuti Dave.


Di dalam kamar pandawa, Alva disodori segelas minuman. Minyak jinten hitam sudah di campur dengan ramuan lainnya.


"Ayah, coba minum ramuan ini!" Ethan menyodorkan gelas.


"Apa kalian yakin?"


"Iya, Ayah, semoga saja berhasil. Positive thinking!"


Kemudian Alva meminum ramuan itu.