Pandawa Kecilku

Pandawa Kecilku
Terbongkar


"Aku mau mencobanya!" Dave memegang handel pintu, dan mencoba membukanya namun gagal, pintu tetap tertutup.


"Biarkan aku mencoba membuka paksa pintu itu!" Charles meminta Dave untuk menjauh dari pintu.


"Cepat Kak, aku takut kalau terjadi sesuatu dengan kak Abi," ujar Ethan memelas.


"Tenang Dik," Dave mengusap punggung si bungsu agar tak risau.


"Bruak!"


Dengan sekali tendangan, pintu itu terbuka lebar. Keempat bersaudara itu segera menuruni tangga.


Sekeliling rumah tampak sepi, tak terdengar satu manusia pun bersuara di sana.


Boman berlari kecil menuju kamar kakek Andreas, setelah mengetuk pintu sekian detik, namun tak ada sahutan. Dia baru ingat kalau kakeknya tengah pergi ke suatu kota tempat dimana almarhumah istrinya dulu dilahirkan. Kakeknya sedang bersilaturahmi dengan keluarga almarhumah istrinya.


Charles berlari menuju kamar paman Antonio, belum sampai dia membuka handel pintu, terlihat pintu itu tak tertutup rapat. Charles mengintip kamar Antonio, namun kosong tak menunjukkan adanya tanda - tanda kalau pamannya ada di dalam.


Dave menuju kamar bi Tinuk untuk menanyakan keberadaan Abi, tapi bi Tinuk sedang tak ada di kamarnya, dia tengah pergi arisan di rumah tetangga.


Ethan berlarian tak tahu arah seraya memanggil abangnya, Abi.


"Kak Abi, abang ...!" teriaknya berkali - kali.


Security yang mendengar keributan segera masuk ke dalam rumah besar untuk mengecek keadaan.


"Ada apa Tuan Muda Pandawa?" tanya security heran, dia sama sekali belum hafal nama mereka.


"Pak Security, kak Abi hilang!" jelas Ethan yang segera menghentikan larinya ketika pintu rumah terbuka lebar.


"Hilang?" Security menjadi takut setelah mendengar penuturan Ethan, khawatir kalau bosnya nanti pulang dan menyalahkan dia karena tak bisa diandalkan. Apalagi nyonya rumah tadi sudah menitip amanat untuk menjaga pandawa.


"Apa Pak Security tadi melihat paman Antonio keluar rumah?" tukas Charles yang baru datang.


"Tidak Tuan Muda Pandawa, setelah nyonya Sherly pergi tadi, tak ada yang keluar lagi." terangnya.


.


"Paman Antonio, mengapa Paman membawa aku ke sini?" tanya Abigail tanpa panik. Dia mengedarkan pandangan, tampak barang - barang yang ada di sekitarnya adalah barang usang yang sudah tak digunakan pemiliknya. Dengan kegeniusannya dia mencoba menghadapi pamannya yang sudah sangat lama ia curigai.


"Aku salah menangkap tikus," geram Antonio seraya melempar karung itu ke sembarang arah. Abi masih dengan posisi berdiri, sementara Antonio menarik kursi yang sudah usang, namun masih bisa dipergunakan untuk duduk.


Abi tetap dengan ekspresi yang biasa.


"Tikus? Paman menganggap aku tikus?"


"Ya, kamu dan saudaramu yang lain termasuk Charles, si tikus nakal itu!" ujar Antonio kesal.


"Aku sudah menduga itu, di awal kita bertemu Paman Antonio sudah memberikan banyak petunjuk padaku, kalau Paman memiliki hawa negatif. Itu sangat buruk bagi ayah. Aku akan berusaha menjaga ayahku dari sesuatu apa pun itu yang membahayakannya." ceramah Abi.


"Kamu, masih kecil sudah berani berlagak seperti orang dewasa. Mirip sekali dengan ayah kamu yang sangat menyebalkan itu."


"Paman, kenapa Paman sangat membenci ayah?" tanya Abigail penuh selidik.


"Cih, dulu sejak kecil ibuku selalu memanjakan dia. Ibuku tak memperdulikan kesehatannya meski sedang sakit, lebih memilih menemani dia bermain, dan terus bermain. Aku tak menyukai ayahmu sejak dia datang ke dunia ini. Dia telah merebut hati ibuku." Antonio mulai curhat, tapi bukan pada tempatnya. Dengan begitu Abi dengan mudah bisa mengatasi masalah yang sedang terjadi.


"Jadi, paman Antonio dirundung cemburu sejak kecil ..." terka Abigail dalam hati.


Setelah panjang lebar Antonio berkeluh kesah, kesempatan ini Abigail gunakan untuk mempraktekkan pengetahuannya mengenai ilmu hipnotis.


Dirasa waktu yang tepat ini, Abigail mulai dengan aksinya, ia menepuk pundak sang paman.


"Paman, tatap mataku!" ujar Abigail, sontak Antonio terdiam dari ocehannya dan beralih menatap Abi. Kini keduanya tengah beradu pandang.


"Dalam hitungan ketiga Paman Antonio akan tertidur, dan akan terbangun jika mendengar petikan jari dariku. Jika Paman Antonio mengerti maka anggukan kepala!" begitulah yang Abi katakan sehingga membuat Antonio kini tak sadarkan diri.


"Yes, berhasil, tak sia - sia aku kemarin belajar ilmu hipnotis!" ujar Abi sambil berjingkrak.


Abi segera berlari menuju pintu gudang. Dia bergegas pergi khawatir adik - adiknya mencarinya.


"Kak Abi!" pekik mereka tatkala melihat Abi berjalan menuju ruang tamu, security nampak lega sekarang.


"Kak Abi, tidak apa - apa kan, darimana saja?" berbondong pertanyaan dari Ethan yang sangat menyanyangi si abang.


"Paman Antonio mencoba menangkap Charles, tapi salah, malah aku yang ia tangkap." terang Abi.


"Paman Antonio?" Charles terlihat bingung.


"Kenapa yang diincar hanya aku?"


"Lalu, dimana paman Antonio sekarang?" tanya Boman seraya menatap arah Abi datang tadi.


"Dia sekarang sedang tertidur, karena aku baru saja menghipnotisnya."


"Keren, Abang dapat ilmu dari mana?" Dave menunjukkan dua jempolnya.


"Dari hp," sahut Abi singkat.


"Aha, bagaimana ilmu hipnotis Kak Abi kita gunakan untuk menolong teman ibu, tante Kenzi." tukas Boman.


"Itu benar, ibu bilang tante Kenzi terkena fitnah. Kita harus segera menolongnya." imbuh Dave.


"Tapi, aku tak suka dengan tante itu," celetuk Ethan.


"Sudahlah Dik, lupa kan yang lalu, terdengar dari cerita ibu tadi, tante Kenzi sebenarnya baik. Tidak salahnya kita mencoba trik hipnotis pada para preman itu, dengan begitu kita akan tahu siapa sebenarnya yang menyuruh mereka." jelas Abi.


Pukul 20.00


Pandawa tiba di kantor polisi.


"Ibu ...!" panggil pandawa kompak.


Sherly segera menoleh dan menyambut kedatangan mereka.


"Kalian kenapa menyusul ibu?" Sherly terlihat heran.


Pandawa menceritakan peristiwa yang ada di rumah. Sherly membulatkan matanya tak percaya. Ingin sekali dia marah, dan mencakar habis muka si buaya darat itu.


Sherly mendatangi Kenzi yang sudah berada di ruang tahanan.


"Kak Kenzi, Kakak tenang dulu ya, salah satu dari putra kembarku akan mengungkap siapa pelaku yang sebenarnya."


"Benarkah, terima kasih Sherly, aku berhutang budi padamu."


"Sudahlah Kak, yang terpenting Kak Kenzi cepat keluar dari sini dan segera beristirahat dengan nyaman di rumah." hibur Sherly.


.


.


.


"Antonio, jadi dia yang memfitnahku!" pekik Kenzi dengan geramnya. Kenzi sudah terbebas dari tuduhan itu. Dia dengan cepat keluar dari ruang tahanan. Tangannya mengepal seakan ingin meninju seseorang.


"Papa akan menghajar pria itu! Dia sudah berani memfitnah kamu." Pak Tomi terlihat sangat murka. Dia adalah mantan preman dulu, jadi tak segan - segan ingin menghajar orang yang telah melukai anggota keluarganya.


"Jangan Pa, ku mohon jangan lakukan apa pun padanya!" rengek Kenzi mengiba.


"Kamu masih membela pria brengsek itu!" pak Tomi menunjuk jarinya ke atas.


"Apa istimewanya dia, kamu bisa mencari pria lain yang bisa membahagiakan kamu." sambungnya.


"Karena, karena dia adalah ayah dari janin yang aku kandung, Pa!" akhirnya terbongkar sudah kelicikan Antonio.


Pak Tomi membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.


"Apa! Pria brengsek itu juga yang telah menghamili kamu! Papa tak rela, dunia akhirat sekalipun papa tak bisa memaafkan perbuatan biadabnya! Aku akan membunuh dengan tanganku sendiri." umpat pak Tomi, amarahnya semakin meletup - letup.


Melihat sikap pak Tomi yang sangat menyanyangi Kenzi, membuat Sherly iri. Begitu besar rasa kepeduliannya pada putrinya, ia membayangkan sosok ayahnya dulu ketika belum wafat.


"Demi aku Pa, ku mohon, aku tak ingin anakku lahir nanti tak memiliki ayah. Aku tak mau itu terjadi!" rengek Kenzi seraya bersimpuh di kedua kakinya.


Sherly memeluk pandawa. Di tengah - tengah suasana haru, tiba - tiba ponsel Sherly berdering. Dia segera mengambil ponselnya.


"Sherly, sepuluh menit lagi aku akan tiba di rumah, siapkan dirimu, kita bikin adik buat pandawa."


"Hallo, hallo, Mas Alva ... yah mati," gerutu Sherly, padahal dia ingin mengatakan kalau dia tak ada di rumah.


"Siapa yang menelpon, Ibu?" tanya Ethan.


"Ayah kalian, katanya sepuluh menit lagi akan tiba di rumah. Sedangkan kita masih di sini, tidak mungkin juga kita sampai di rumah sebelum ayah tiba."


"Hore, ayah pulang!" teriak pandawa kompak. Mereka bergandengan tangan membuat lingkaran sambil berjingkrak ria.


Sherly mencoba menghubungi Alva, tapi sudah puluhan kali tidak diangkat.


.


Sementara Alva sudah berada di gerbang pintu, dia segera masuk menaiki tangga menuju lantai atas. Saat membuka pintu, didapatnya kamarnya kosong. Padahal dia sudah membawa kado kecil untuk istrinya.



"Dimana kamu?" gumamnya seraya matanya berkeliling, dia menuju kamar pandawa.


"Apa yang terjadi, mengapa pintu kamarnya jebol?" pekik Alva seraya mengamati pintu.


Dia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Sherly. Terlihat di layar ponselnya sudah puluhan kali istrinya memanggil. Sangking senang nya, Alva sengaja memode pesawat hp nya tadi.


Alva hendak menuju garasi, dilihatnya mobil Sherly tak ada. Pak Security datang dan menceritakan kejadian yang baru saja terjadi.


"Lalu di mana kak Antonio sekarang?" Alva terlihat sangat marah. Tangannya mengepal.


"Ada di gudang Tuan," sahut si security seraya mengekor Alva yang lebih dulu berjalan mendahuluinya.


Saat akan membuka pintu gerbang, tiba - tiba ponselnya berdering, ternyata dari Sherly.


"Sayang, mengapa kamu tak menceritakan padaku?"


"Bagaimana aku mau bercerita, Mas Alva memutus sambungan telepon begitu saja tadi." Sherly terdengar kesal.


"Bagaimana dengan pandawa, apa mereka baik - baik saja?" tanya Alva penuh kekhawatiran.


"Mereka baik, Mas Alva tetap di rumah saja, Om Tomi sudah tahu kalau kak Antonio yang telah menghamili kak Kenzi, dan beliau ingin sekali membunuh dia. Tolong Mas Alva berjaga - jaga di sana! Aku tidak mau urusan ini berbuntut panjang," terang Sherly panjang lebar. Sherly mematikan hp nya.


Alva kaget mendengarnya, " Baru aku tinggal tiga hari saja, sudah banyak kejadian di sini, kak Antonio, kini saatnya kamu menerima pembalasan dari orang - orang yang sudah kamu sakiti."


"Semua rahasia dan kebusukan hatimu sudah aku ketahui, kamu tidak akan bisa berkutik lagi." Alva berjalan membuka pintu gudang.


Dilihatnya Antonio sedang tertidur dengan posisi duduk karena masih berada dalam pengaruh hipnotis Abigail.