
"Antonio!" seru Kenzi, meski dia tahu cintanya bertepuk sebelah tangan tapi tetap saja dia ayah kandung dari janinnya. Kenzi menghambur ke arah jatuhnya Antonio. Buliran air mata jatuh begitu saja membasahi pipi. Dia memeluk sosok tubuh yang terkulai lemah itu.
"Ken-Zi," suara Antonio terdengar parau dan lemah.
"Jangan tinggalkan aku, ku mohon bertahanlah !" isak Kenzi seraya menggenggam tangannya.
"Maafkan aku, jaga anak kita," seketika itu juga Antonio memejamkan mata untuk selama - lamanya.
"Tidak ...!" Kenzi berteriak histeris, dia lebih terpukul dari siapa pun yang ada di sana, termasuk Alva.
"Kakak," ucap Alvarendra lirih.
"Tomi, mengapa kamu membunuh putraku!" hardik Andreas, rasa penyesalan dicampur kekecewaan menyergap hatinya. Andreas menarik kerah bajunya Tomi.
"Aku sangat membenci putramu, dan sungguh aku merasa senang sekarang." ujar Tomi seraya menyerahkan kedua tangannya, polisi segera memasang borgol. Dan polisi menyita senjata yang berhasil menghilangkan nyawa Antonio itu.
"Papa sungguh tega, Papa membunuh ayah dari anakku. Bagaimana dengan nasibku sekarang?" Kenzi terisak lagi seraya menatap pak Tomi yang kini siap di bawa ke kantor polisi.
"Maafkan papa Kenzi, ini juga demi kebaikan kamu. Pria itu tidak cocok untukmu." terang Tomi enteng seraya digiring polisi meninggalkan kebun jeruk.
Semua orang kini bersedih, bukannya senang Antonio mati tapi malah rasa berduka yang mendalam.
Sherly menghampiri Kenzi, " Kak, semuanya telah terjadi begitu saja. Biarkan kak Antonio beristirahat dengan tenang di sana." ujarnya seraya mengusap pundak Kenzi.
Kenzi hanya mengangguk, sementara Alvarendra menatap wajah saudaranya itu dengan cukup iba.
"Beristirahat dengan tenang," hanya itu yang Alva bisa ucapkan.
Wendy mendatangi Kenzi, "Aku akan menggantikan posisi Antonio. Setelah anak kamu lahir, aku akan segera menikahi kamu." ujarnya yang membuat semua orang tercengang tak percaya terlebih Alva.
.
Setelah acara pemakaman Antonio selesai, semua orang kembali ke rumahnya masing - masing.
"Sherly, ayo ke kamar!" ajak Alva genit.
"Bentar Mas, nih aku lagi bikin susu buat pandawa." Sherly menyiapkan 5 gelas susu di atas baki.
"Sini, aku bantu bawa!" Alva merebut baki.
"Aku bisa sendiri, Mas," rengek Sherly yang berusaha merebut baki.
"Sudahlah, biarkan aku sekali - kali melakukan ini, kamu jangan mencegahku! Kamu dulu sebelum menikah denganku, pasti repot bolak balik ke dapur untuk membuatkan susu baby pandawa?" ujar Alva seraya berjalan menaiki tangga.
"Enggak juga kok Mas, ada tante Ratna yang membantuku mengurus baby pandawa." terang Sherly seraya mengikuti Alva.
"Siapa dia?"
"Tante Ratna adalah adik almarhumah papaku. Dia seorang bidan di luar negeri. Meski gajinya pas - pasan, tapi cukup kok untuk menghidupi kami bertujuh." terang Sherly seraya memegang handel pintu kamar pandawa. Sebelumnya, Alva sudah menyuruh anak buahnya untuk mengganti pintu yang di rusak oleh Charles.
"Terima kasih Sayang," ujar Alva saat Sherly membukakan pintu.
Mereka berdua mengedarkan pandangan. Tak satu pun pandawa yang mereka temui di kamar.
"Kemana mereka semua?" gumam Alva seraya meletakkan baki di atas meja.
Sherly menaikkan bahu.
Seketika itu juga suara pandawa memecahkan keheningan.
"Duar!!"
Sherly dan Alva dikagetkan dengan kemunculan pandawa dari persembunyian.
"Ayah, Ibu," pandawa bergelanyut manja pada orang tuanya.
"Kalian mengagetkan ayah, ini ayah buatkan susu untuk kalian. Cepat diminum, mumpung masih hangat!"
"Benarkah Ayah yang membuatnya?" selidik Ethan tak percaya.
"Iya dong, benarkan Ibu?" Alva melirik istrinya.
"Benar, ayah kalian yang membuatnya." bohong Sherly sengaja menyenangkan hati Ethan.
"Setiap mau tidur, aku mau Ayah yang membuatkannya untuk kami." imbuh Dave.
"Baguslah kalau begitu, setidaknya pekerjaanku berkurang." tukas Sherly.
"Hei Ibu, ini bukan pekerjaan tapi keharusan," ujar Alva penuh penekanan.
Sherly hanya menampilkan senyumannya.
Pandawa segera meneguk susunya hingga habis tak bersisa.
"Tentu saja, ayah siapa?" ujar Alva seraya menyentuh ujung hidungnya, menirukan gaya Charles.
"Ayah kita!" seru pandawa kompak.
"Ayah, terima kasih, andai sejak dulu Ayah yang membuat susu untuk kami setiap malam," ujar Boman dengan aura kesedihannya.
"Hei, jagoan ayah!" Alva memegang kedua pundaknya seraya duduk dengan bertumpu pada lututnya.
"Maafkan ayah yang tidak tahu kehadiran kalian ke dunia. Ayah berjanji pada kalian akan menjadi orang tua laki - laki yang baik." sambungnya.
"Aku sayang padamu, Ayah," Abi mengusap matanya yang sedikit berair.
Alvarendra melepas pegangannya pada Boman dan beralih pada Abigail.
"Si Abang, kenapa kamu menangis?" Alva memeluknya. Seketika itu juga tangisan Abi pecah. Semua pandawa menghambur memeluk Alva juga.
Sherly yang menyaksikan betapa sayangnya pandawa pada ayah mereka, ikut terharu.
"Kalau tahu begini, aku sejak dulu tak memisahkan kalian dengan membawa kalian ke luar negeri." batin Sherly seraya mengusap matanya yang terharu dengan pemandangan di depannya.
Sherly juga memeluk pandawa.
"Maafkan ibu, ini semua salah ibu yang terlalu egois." ujar Sherly.
"Tidak Sayang, kamu tidak sepenuhnya salah. Memang takdir yang merencanakan ini semua, kita baru bisa bertemu untuk sekian lamanya, dengan kamu membawa pandawa kecilku yang genius ke dalam hidupku aku sangat berterima kasih." Alva meraih tubuh istrinya setelah pandawa melepaskan pelukan.
Alva hendak menyerang bibir yang merekah itu. Alva melirik si abang.
"Balik kanan, gerak!" seru Abigail memberikan komando pada saudaranya. Mereka semua kompak balik kanan.
Alva langsung saja ******* habis bibir itu.
"Mas malu!" pekik Sherly.
"Kalau begitu kita lanjut di kamar ya," bisik Alva yang dengan gerakan cepat membopong Sherly.
"Kyaaa ...! Aku bisa berjalan sendiri!" pekiknya seraya ingin terlepas dari gendongan Alva.
Alva menggendong Sherly keluar kamar pandawa menuju kamar pencetak adik buat pandawa.
Setelah orang tua pandawa pergi. Mereka cekikikan bersama.
"Ayo kita balapan tidur!" ajak si abang.
"Ayo!" sahut yang lain. Mereka segera menaiki kasur masing - masing dan memejamkan mata.
Sementara di kamar Alva. Alva menurunkan Sherly di atas ranjang.
"Kok kamu belum membuka kado dari ku?" Alva melirik kotak kecil yang ada di atas meja rias.
"Iya Mas, belum sempat." sahut Sherly seraya menggaruk tengkuknya. Dia menggapai kotak kecil itu.
"Apa isinya Mas?" Sherly mulai membuka bungkusnya.
"Lihat sendiri," sahut Alva seraya menaikkan bahunya.
Dengan cepat Sherly mengeluarkan isi dari kotak kecil itu.
"Apaan ini Mas, kok koloran semua!" ujar Sherly setelah berhasil mengeluarkan dua benda dari kotak tersebut.
"Pletak!"
"Aduh, sakit!" keluh Sherly seraya mengusap dahinya.
"Kamu itu polos banget atau nggak tahu banget. Itu lingerie, baju tidur!" Alva mendengus kesal.
"Hah, kok barang rusak begini kamu beli, Mas!"
"Apanya yang rusak?"
"Nih, bolong semua kainnya!"
Alva menepuk jidatnya.
"Itu sudah dari pabriknya begitu,"
Sherly hanya cengengesan saja, "Terima kasih Mas, aku akan mencobanya sekarang!" Sherly hendak berdiri.
"Jangan, dicuci dulu baru bisa pakai! Isss, jorok kamu ya!" larang Alva seraya mencekal kedua pergelangan tangannya.
"Hehehe, Mas Alva, kan aku hanya ingin mencobanya,"