
Pukul 09.00
Sherly mengendarai mobilnya menuju perjalanan pulang, karena ada rapat wali murid, jadi pandawa pulang pagi.
Hasil rapat yang diikuti Sherly tadi yakni membahas tentang Hari Anak Nasional. Di mana semua anak harus mengikuti berbagai lomba yang akan diadakan oleh sekolah, selain itu sekolah juga menggalang dana untuk acara Jumat berkah yang mana kegiatan itu diisi dengan membagikan nasi bungkus di area jalan raya.
"Ciiiiitttt ... !"
Mendadak Sherly menghentikan mobilnya, membuat tubuhnya mengayun kedepan dan dahinya menatap setir mobil.
"Ada apa Ibu!" pekik Abi yang duduk di kursi belakang.
"Kita di hadang sekelompok orang tak di kenal Kak!" sahut Boman yang berada di samping kemudi.
"Siapa dan mau apa mereka?" gumam Sherly tampak gusar, "dari penampilan mereka terlihat bukan orang baik - baik." sambungnya.
"Cepat keluar!" bentak seorang preman sambil mengetuk keras kaca mobilnya.
Sherly sempat kaget juga dengan suara lantang si preman. Sherly segera keluar untuk menanyakan maksud mereka menghentikan mobilnya.
"Ada apa ya, kok kalian menghentikan mobilku, malah mendadak lagi!" omelnya.
"Serahkan dompet kamu!" bentak preman itu, sementara preman yang lain mengepung Sherly, khawatir nya akan kabur. Mereka berjumlah sepuluh orang.
"Tidak mau!" pekik Sherly seraya menggenggam erat tas kecil yang sejak tadi ia sandang.
"Bang, sepertinya ibu kita mau di rampok!" tukas Boman seraya menoleh ke belakang.
"Berani sekali mereka mau mengeroyok ibu, belum tahu apa kalau ibu memiliki bodyguard yang genius." ujar Charles seraya menyingsingkan lengan baju nya.
"Ayo Kak Charles, jangan kasih ampun mereka!" imbuh Dave.
"Aku akan segera menghubungi polisi dan pihak medis." ujar Boman yang sudah bisa memastikan akan banyak korban di sini. Dia segera mengambil ponselnya.
"Aku takut ..." Ethan memeluk erat abang Abi. Abi segera menenangkan si bungsu.
"Jangan takut Dik, ada kak Charles!" Abi menggosok punggung Ethan.
"Kalian tunggu di sini, biar aku yang akan menangani mereka!" Turun dari mobil.
Saat Charles turun, preman yang lain berhasil membuka paksa pintu belakang dan menyeret satu per satu pandawa keluar dari mobil.
Pandawa menjerit histeris. Abi menarik kuat lengannya, namun kalah tenaga dengan sosok pria sangar yang berhasil membawanya keluar. Boman yang duduk di posisi depan lebih cepat dan mudah mereka dapatkan. Dave tak henti - hentinya meronta untuk dilepaskan tangannya dari cengkeraman preman. Ia memukul lengan si preman dengan kepalan tangannya yang mungil, tentu tak berpengaruh bagi si preman. Sementara si bungsu, Ethan, semakin meninggikan jeritannya, ia berhasil merosot dan hendak berlari ke arah ibunya, namun tercekal kembali oleh pria besar bertato.
"Jangan sentuh saudaraku, atau kalian akan tahu akibatnya!" bentak Charles seraya menunjukkan kepalan tangannya.
"Masih sisa satu, tangkap bocah kecil itu!" teriak bos preman.
"Jangan panggil aku anak kecil, Paman, namaku Charles !" seru Charles seraya mundur beberapa langkah untuk mencari area yang pas. Dia sudah menyiapkan serangan. Charles mendapat penjagaan yang ketat, dua preman bertubuh besar itu sudah siap menangkapnya.
"Lepaskan semua putraku!" hardik Sherly, tangannya pun juga berhasil dicengkeram oleh preman. Bersamaan dengan itu, seorang pria datang dengan mengendarai motornya.
Ya, dia adalah pria buaya darat si Antonio, kini ia sedang memarkirkan motornya seraya berteriak menghardik mereka.
"Beraninya kalian sama perempuan dan anak kecil, sini lawan aku!" Antonio menggerakkan keempat jarinya seraya memasang kuda - kuda.
"Kak Antonio, syukurlah Kakak datang tepat waktu. Tolong selamatkan pandawa, mereka lebih berharga daripada nyawaku!" ujar Sherly, rasa paniknya mulai berkurang.
Dia mengedipkan matanya ke arah preman memberi syarat untuk menyerangnya lebih dulu.
Para preman pura - pura menyerang Antonio.
"Hati - hati Kak!"
Sandiwara baku hantam pun dimulai, empat orang menyerangnya, sedangkan sisanya menjaga pandawa dan Sherly agar tidak sampai lepas.
Antonio tersenyum tipis, " Tak ku sangka semudah ini bisa mendapatkan perhatiannya." batinnya.
"Aw, ampun!" pekik si preman pura - pura meringis saat Antonio memelintir salah satu tangannya dan menariknya ke belakang.
"Makanya jangan sok jadi preman!" umpat Antonio.
Charles tak tinggal diam, dia melancarkan aksinya, setelah setengah menit berpikir mana yang harus ia selamatkan terlebih dahulu. Charles mengarahkan tinju tepat pada perut seorang pria yang hendak menangkapnya tadi, preman satunya lagi menyerang Antonio.
Perkelahian antara pria besar dan Charles pun terjadi, Charles dengan sekuat tenaganya mengarahkan tinju ke arah perut hingga membuat si preman terpental jauh hingga jatuh di bawah Antonio yang sedang pura - pura berkelahi.
Antonio membelalakkan kedua kelopak matanya yang hampir copot itu.
"Gila, anak sekecil itu bisa mengalahkan kamu!" geram Antonio.
Antonio sempat melihat pergerakan Charles, matanya tampak membulat tak percaya dengan apa yang ia saksikan.
Dengan lincah, Charles melakukan salto dan berhenti tepat di depan bos preman.
"Kamu ternyata tak bisa aku remehkan, anak kecil,"
"Sudah ku katakan tadi, jangan menyebut aku anak kecil!" seru Charles seraya melayangkan tendangan kaki kanannya, ia arahkan pada kepala dan kaki secara membabi buta.
Bos preman tak ia beri kesempatan untuk bergerak, dan tentu saja tak ada satu menit, bos preman tumbang dengan mengucurkan darah segar pada hidung dan mulutnya.
"Rasakan, itu akibatnya jika kamu berani menyentuh ibuku !" Charles menyentuh ujung hidungnya dengan ibu jempol, mirip gaya Bruce Lie. Itu tokoh pahlawan favoritnya setelah Jet Lie.
Antonio semakin takjub dengan apa yang baru saja ia saksikan. Meski ia berpura - pura berkelahi, namun ia tetap memperhatikan Charles dari jauh.
"Ibu tidak apa - apa kan?" tanya Charles khawatir.
"Iya, Nak, ibu baik - baik saja, terima kasih sudah menolong ibu. Sekarang, cepat selamatkan saudaramu yang lain! Mereka tengah dibawa masuk ke dalam mobil." Menunjuk ke arah mobil yang ada di seberang jalan. Keempat saudaranya tengah mengarah ke sana.
Secepat kilat Charles melesat dan menghadang empat pria berbadan kekar lagi sangar.
"Hai anak kecil, kamu pikir dengan kamu melakukan salto bisa membuat kami gentar? Kamu salah besar jika kamu ingin mengalahkan kami, kami lebih kuat dan lebih hebat." ujar salah satu preman itu.
"Mari kita buktikan, Paman!" Memasang kuda - kuda.
Salah satu preman maju untuk adu kebolehan. Dia melayangkan tendangan ke arah Charles, dengan kilat Charles berhasil menghindar.
Kini giliran Charles, ia melayangkan tinju yang menjadi senjata pamungkas nya ke arah lawan. Dan tentu saja, si preman mengalami kesakitan, lebih lagi semua giginya jatuh bergantian.
"Semua gigi - gigiku copot!" keluhnya seraya menadahkan tangan, telapak tangannya penuh darah, semua giginya berada di sana.
Charles melayangkan pukulan lagi, salah satu dari mereka terpental jauh hingga tersangkut di atas pohon.
"Hebat juga, Kamu! Sekarang kita berdua yang akan melawan kamu, bocah kecil," seru salah satu dari mereka.
"Sudah berkali - kaki aku katakan pada kalian, jangan memanggilku dengan sebutan anak kecil !"
"Cuih, persetan dengan larangan kamu! Sekarang, rasakan ini!" Melayangkan tendangan.
Giliran dua preman berikutnya yang menyerang Charles.
"Kalian, akan bernasib sama dengan kawan kalian!" ujar Charles yang sudah siap memasang kuda - kuda.
Dan benar saja, tak ada hitungan menit kedua pria itu akhirnya tumbang tak sadarkan diri.
"Itu akibatnya jika kalian mencoba menyakiti saudaraku!" ujar Charles seraya menggiring saudaranya menuju ibu mereka.
"Wah, hebat, bagaimana ini Bos, kami tak mau bernasib sama dengan mereka!" ucap salah satu preman yang bersama dengan Antonio. Sempat kagum juga dengan kebolehan Charles.
"Sudah diam, lebih baik kalian pura - pura pingsan." bisik Antonio.
Antonio melayangkan pukulan palsu, hingga membuat keempat musuhnya tumbang.
"Ibu ... !" seru pandawa kompak seraya merentangkan tangan.
"Pandawa kecilku, kalian tak apa - apa kan?" Sherly mencium pucuk kepala mereka secara bergantian.
"Iya Ibu, kami baik - baik saja!" sahut Abi.
"Syukurlah, kalau begitu."
"Sherly, kamu tidak apa - apa kan?" Antonio datang dengan sedikit berlari.
"Iya Kak, aku baik - baik saja." sahut Sherly.
Antonio merasa hari ini dia telah menjadi pahlawan, namun siapa sangka kalau sebenarnya dia hanya pahlawan kesiangan.
"Paman Antonio, bagaimana Paman bisa tahu kalau kami berada di sini?" selidik Boman yang menaruh curiga.
Bersambung ....
Terima kasih, kalian semua telah menjadi pembaca setia Pandawa Kecilku.
Semoga terhibur ...
Tetap dukung selalu author tercinta kalian ini, dengan memberi like, vote dan jangan lupa komentarnya...
😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😁😁