
"Kak, coba lihat ini!" teriak Ethan di tengah-tengah kerumunan bumil yang juga cari baju bayi.
Keempat kakaknya pun sontak menoleh ke sumber suara, mereka yang tadi kompak memilih kereta dorong bayi kini berpindah mengikuti pergerakan Ethan.
"Yang ini lucu nggak?" Ethan memperlihatkan baju cewek model kelinci tepat di depan dada.
"Ih, Adik, masa dedek bayi disamakan binatang. Aku nggak suka, mending yang biasa-biasa saja modelnya." Abi menyampaikan pendapatnya.
"Modelnya 'kan lucu, Kak," sanggah Ethan yang kekeh dengan pilihannya.
"Ibu pasti juga nggak setuju model ini." tukas Boman.
"Mending kita pilih model yang ini, nih!" Charles mengambil satu model baju yang tergantung. Motif polkadot.
"Nah, ini cantik, pasti dedek bayi nya kelihatan lucu banget pakai yang ini!" Dave pun ikut menyumbang pendapatannya.
Merasa saudara -saudaranya tak mendukung pilihannya, Ethan pun terlihat sangat murung dan kecewa.
"Padahal, model itu terlihat sangat menggemaskan," gumamnya lirih.
Tanpa ia sadari, Abigail membuyarkan lamunannya.
"Dik, kita pilih sepasang model kelinci ya!"
Ethan seketika bak purnama wajahnya, "I-iya, Kak!" serunya kegirangan.
Setelah pandawa selesai memilih baju bayi, segera mereka menemui ibunya yang tengah sibuk memilih kasur bayi.
"Ibu, ini semua pilihan kami," ujar Abi mewakili saudaranya. Sambil memperlihatkan satu per satu model baju bayi yang lucu-lucu.
"Wah, kalian semua pintar sekali memilihnya, terima kasih sudah membantu ibu!" ujar Sherly memuji kelima putra nya.
"Sama -sama Bu," sahut pandawa kompak.
"Ibu sudah selesai memilih kasurnya?" tanya Boman yang mengikuti pergerakan mata Sherly yang masih fokus di satu titik.
"Ibu bingung, menurut kalian warna apa yang cocok, biru atau pink?" Sherly menawarkan warna pada pandawa.
"Pink saja, Bu!" sahut pandawa lagi -lagi kompak.
"Pink ya, ya udah deh, ibu ngikut kalian, tapi sebenarnya ibu sukanya warna biru," sahut Sherly yang masih bimbang dengan pilihannya.
"Ibu ambil dua warna yang berbeda saja, biru dan pink, tapi, model nya sama." Charles menyentuh dua model kasur bayi.
"Begitu ya, baiklah, ibu ambil yang ini!" setelah selesai memilih kasur bayi mereka menuju keberadaan Alva yang tengah mengamati kereta dorong bayi.
"Mas Alva, sudah selesai?" tanya Sherly menepuk pundak suaminya yang sedang sibuk meneliti kereta dorong.
"Sayang, nih, sepertinya cocok!" Alva menggandeng dua dorongan bayi.
"Wah, pilihan Mas Alva bagus sekali, aku suka!" seru Sherly menyampaikan tanggapannya.
"Iya, Ayah hebat, padahal ayah kan belum berpengalaman punya bayi, tapi seleranya boleh juga. Dulu kita waktu bayi, ibu juga milih dorongan seperti ini," seloroh ucapan Ethan menusuk Alva, namun Alva menangkis pendapat Ethan yang ia anggap biasa saja.
"Hehehe, maafkan ayah ya, di waktu kalian lahir, ayah tidak ada di samping kalian." ujar Alva sendu.
"Sudahlah Mas, omongan anak-anak tidak usah dimasukkan ke hati. Kalau sudah, ayo kita ke kasir!" Sherly menenangkan hati suaminya.
Merasa ucapannya menyinggung hati Alva, Ethan segera meraih tangan ayah nya.
"Ayah, maafkan ucapanku tadi. Aku tidak bermaksud untuk menyinggung hati Ayah, " terang Ethan dengan penuh penyesalan.
Alva duduk berjongkok seraya memegang kedua tangan Ethan. Kini posisinya sejajar dengan Ethan.
"Kamu tidak salah, Nak, jangan merasa canggung untuk mengomentari ayahmu ini. Ayo, kita pergi sekarang, kasihan ibu, pasti lelah sejak tadi berdiri terus!" Ethan mengangguk, Alva segera berdiri dan mengajak pandawa menuju ke kasir.
"Sayang, adakah sesuatu yang ingin kamu beli lagi?" tanya Alva mencoba mengingatkan istrinya.
"Sepertinya sudah tidak ada yang ingin aku beli, Mas."
"Baiklah, aku dan pandawa ke kasir dulu, kamu istirahatlah! Kasihan kamu, sejak tadi berdiri terus pasti capek." ujar Alva begitu perhatian.
"Iya Mas, aku ke toilet sebentar!" izin Sherly.
"Ke toilet lagi? Hati-hati ya, Sayang !" ujar Alva sebelum Sherly pergi.
Sherly hanya mengulum senyum dan segera mencari toilet, sudah ke empat kalinya dia ingin buang air kecil.
"Aduh, mendadak perutku mules!" Sherly mengaduh saat di depan pintu toilet. Dia segera masuk, saat ingin jongkok dia melihat lendir berdarah di kain segitiganya.
"Lendir, aku akan melahirkan, tapi ini terlalu maju dari prediksi?" gumamnya, setelah selesai menuntaskan hajat, Sherly segera keluar toilet.
Alva yang memperhatikan jalan Sherly merasa tak nyaman dari jauh segera menghampirinya.
"Sayang, ku lihat kamu merasa tak nyaman, ada apa dengan perutmu?" Alva menatap perut buncit yang sedari tadi tak henti -hentinya Sherly usap.
"Hah, kamu mau melahirkan sekarang?" mendengar hal itu Alva tampak panik.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" ujar Alva yang ingin menggendong tubuh istrinya. Namun, setelah ia menimbang bobot tubuh istrinya yang terlalu berat, Alva mengurungkan keinginannya.
"Sebentar Mas, kita pulang dulu. Aku belum menyiapkan peralatan persalinan." tolak Sherly.
"Nanti keburu bayi nya lahir," Alva benar -benar cemas.
"Tenang Mas, enggak secepat itu kok, masih ada waktu 5 jam dari sekarang. Aku sudah berpengalaman, jadi Mas Alva enggak usah terlalu khawatir." terang Sherly menghibur suaminya yang tampak tegang.
"Tapi Sayang, kamu terlihat kesakitan sekali!" pekik Alva saat melihat Sherly beberapa kali mendesis.
"Perut aku mulai kontraksi. Ayo, kita pulang!" ajak Sherly yang ingin menghentikan perdebatan dengan suaminya yang terlalu mencemaskannya.
"Baiklah, aku akan memapahmu."
"Pandawa, cepat, ibu kalian mau melahirkan!" teriak Alva agar pandawa segera menuju ke arahnya.
Pandawa kecil setengah berlari ke arah mereka berdua.
"Ibu mau melahirkan?" Charles yang tiba lebih dulu merasakan kesenangan yang luar biasa. Sherly hanya mengangguk.
"Hore !" seru pandawa kompak. Keluarga Alva segera pulang ke rumah sesuai permintaan Sherly.
Sherly menyiapkan buku KIA, tas yang sudah ia isi beberapa peralatan bayi dan peralatan pribadinya. Alva yang menemani Sherly berbenah malah sibuk sendiri.
"Sayang, apa kamu tak ingin membawa ini?" Alva menunjuk sepatu bayi yang baru dibelinya tadi.
Sherly tersenyum melihat tingkah suaminya.
"Mas Alva, bayi baru lahir nggak pakai sepatu, tapi pakai sarung kaki bayi dan sudah aku siapkan di dalam tas. Mas Alva duduk saja deh, sini!" Sherly menepuk ranjang di sebelahnya.
Alva mengembalikan dua pasang sepatu bayi ke tempat semula dan berjalan ke arah istrinya.
Sherly memberi pengertian dan beberapa penjelasan singkat mengenai persalinan. Alva manggut -manggut mendengarnya dan sedikit paham dengan pengetahuan yang istrinya berikan.
Di rasa kontraksi Sherly semakin sering, Alva segera membawanya ke rumah sakit bersalin. Kakek Andreas bersama pandawa menyusul Alva beberapa menit kemudian.
Sherly mengalami persalinan yang sangat cepat dan aman. Dua baby girl telah lahir ke dunia dengan sempurna dan selamat.
Setelah semua bersih, Alva diperbolehkan menemui mereka lagi.
"Sayang, dua bayi kembar kita telah lahir. Dan mereka berdua sangat cantik dan menggemaskan seperti kamu." ujar Alva dengan wajah berseri-seri.
"Iya Mas, Mas Alva sudah menyiapkan nama untuk mereka?" tanya Sherly.
"Salwa Rizqi dan Khalwa Rizqi, apa kamu menyukainya?" ide Alva jauh -jauh hari akhirnya tertuang juga.
"Cantik Mas, aku suka."
"Ibu!" seru pandawa girang yang masuk ke ruangan Sherly diikuti kakek Andreas.
"Pandawa kecilku, sekarang kalian berlima menjadi kakak!" seru Sherly yang tak kalah bahagianya. Pandawa menepuk ibunya yang duduk di kursi roda.
"Aku pingin gendong adik bayinya." Dave yang sudah ada di pinggir box bayi berusaha menggapainya.
"Jangan Nak, adik bayi masih terlalu kecil untuk kau gendong!" lerai kakek Andreas memberi pengertian.
"Entar, kalau adik bayinya udah gede aku mau gendong ah!" imbuh Abi.
"Siapa Bu, nama adik bayinya?" tanya Boman.
"Salwa dan Khalwa."
"Yang mana yang Salwa dan yang mana yang Khalwa?" tanya Charles.
"Salwa yang memakai baju biru, dan Khalwa yang berbaju pink." sahut Alva.
"Apakah Ayah berani menggendong adik bayi?" celetuk pertanyaan dari Ethan yang lagi-lagi membuat Alva tercengang.
"Berani!" sahut Alva tegas.
Alva perlahan membungkukkan badan untuk menggendong Salwa.
Saat Salwa mulai dalam gendongan Alva, seketika itu juga Alva bersin-bersin.
"Mas Alva, alergimu juga ada pada bayi -bayi kita!" pekik Sherly tak percaya.
Alva sendiri tak tahu dengan kondisi tubuhnya. Meski demikian dia senangnya bukan kepalang, bisa merasakan kulit lembut bayi. Ia berjanji akan memperhatikan tumbuh kembang duo baby girl sebagai ganti atas kelalaiannya dulu pada bayi pandawa.
Jangan lupa mampir ke karya author terbaru, yang berjudul, Buih Jadi Permadani. Jangan lupa beri like, vote, hadiah dan komentarnya.
Terima kasih 😘😘😘😘😘