
Menjelang malam, kedua bayi bangun dan mereka sangat rewel. Sherly menggendong Salwa dan segera menyusui. Alva bingung sendiri ingin menenangkan Khalwa yang tengah menangis di box tapi ia tak bisa.
"Sayang, aku harus apa?" tanya Alva yang terlihat panik. Ini kali pertama dia mendapatkan masalah, menenangkan bayi di tengah malam.
"Mungkin popoknya basah, Mas. Coba Mas Alva lepas popoknya dan ganti dengan yang baru." sahut Sherly.
"Baik. Aku akan mencobanya." Setelah itu Alvarendra mendekati box bayi Khalwa.
Belum ada satu meter saja Alvarendra sudah bersin-bersin dan membuat bayi Khalwa semakin menjerit.
"Aku nggak bisa," Alva mulai putus asa dan mencoba cara lain. Dia segera berjalan ke arah lemari dan menarik laci. Mengambil tiga masker dan mengenakannya sekaligus. Berharap alerginya sedikit berkurang.
Alva kembali menuju box bayi Khalwa, dan benar saja ia tak bersin -bersin seperti tadi.
Perlahan tangisan bayi Khalwa mereda setelah Alva berhasil melepas popoknya. Dengan segera mengganti popok yang baru. Alva berkacak pinggang merasa berhasil.
"Jadi, kamu menangis karena popokmu basah." Alva melengkungkan tubuhnya untuk mengambil bayi Khalwa.
Betapa senangnya ia menggendong bayi Khalwa dan menimang, "Khalwa, kamu sangat cantik dan menggemaskan sekali!"
Sherly tersenyum, dan melihat ke arah Alva berdiri, "Salwa kelihatannya sudah kenyang, dia terlelap sekarang." Sherly menaruh dengan pelan Salwa di ranjang tempat tidurnya.
Alva bersenandung, "Oh ya, sekarang giliran Khalwa yang menyusu!"
Alva membawa Khalwa mendekat ke arah ibunya. Melengkungkan punggung dan menyerahkan Khalwa pada Sherly, ia menerima dan mulai memberikan ASI. Khalwa menyusu dengan sangat kuat sangking lapar dan hausnya. Mungkin dia lelah karena terus saja menangis tadi.
Dengan perlahan juga Alva mengambil Salwa, "Salwa, pipimu sangat merah!" Alva tak sabar ingin mencium bayinya untuk pertama kali. Dia membuka masker di wajahnya dan seketika itu juga alerginya kambuh.
Bayi Salwa merasa terusik tidur nya dan menangis. Alva panik dan segera menutup lagi mulut nya dengan masker.
Sherly sekilas merasa panik juga, tapi terjeda karena Alva berhasil menenangkan Salwa dengan menimang nya.
"Maafkan ayah ya, Nak! Gara -gara ayah bersin, tidur kamu jadi terganggu."
Salwa terpejam lagi dan mudah sekali tidur. Alva membawanya ke box bayi.
Sekitar setengah jam kemudian, Khalwa baru terpejam. Sherly yang tak tega membangunkan suaminya yang ternyata sudah terlelap di sampingnya, berusaha untuk membawa Khalwa ke box bayi.
Sherly berjalan pelan dan berbisik pada putri nya, "Khalwa, tidur yang cantik ya, ayah dan ibu mau istirahat!"
Setelah itu, sebelum meletakkannya ke dasar box bayi Sherly mencium pipi nya, "Selamat tidur Khalwa, mimpi indah ya!"
Tak lupa pula Sherly mengucapkan selamat tidur untuk Salwa, "Selamat tidur Salwa, semoga mimpi indah juga seperti kakakmu!"
Mengucapkan kata kakak yang ditujukan pada Khalwa karena lahir lebih dulu, Sherly jadi teringat dengan pandawa. Meski pandawa sudah duduk di bangku SD, baginya mereka berlima adalah pandawa kecilnya.
"Bagaimana dengan pandawa ya, apakah mereka juga bermimpi indah malam ini? Semoga saja!" Gumam nya setelah itu segera menyusul Alva tidur.
Merasa ada yang memeluk, Alva segera membuka matanya, dan bertanya dengan panik. "Loh, Sayang, Khalwa?" Alva hendak bangkit namun Sherly menahan nya.
"Mas Alva tenang saja, Khalwa sudah tidur kok!"
Tidak puas dengan jawaban istrinya Alva bertanya, "Kamu sendiri yang membawanya ke box bayi?"
Sherly mengangguk.
"Kamu kan masih sakit, seharusnya kamu bangunkan aku!" Alva merasa bersalah karena tertidur saat menunggu Khalwa menyusu tadi.
"Aku enggak apa-apa kok Mas, kasihan kamu tidurnya pulas banget tadi jadi, aku enggak tega buat bangunin, pasti Mas Alva capek."
Alva bangkit dan mengusap bahu istrinya, "Sayang, aku enggak capek kok, lain kali kalau aku tertidur, tolong bangunin aku ya,"
Alva mengangguk dan kembali tidur dengan memeluk istrinya. Istri yang telah berjuang melahirkan 7 anak di usia yang sangat muda.
Keesokan paginya.
Pandawa kecil sedang asyik mengobrol di kamar.
"Bagaimana Ethan?" tanya Boman perihal tawarannya kemarin.
"Aku membutuhkan Jinten hitam, sedangkan yang aku miliki saat ini sangat sedikit dan pasti kurang."
Boman menepuk pundak adiknya, "Tenang saja aku akan mencarikan Nigella Sativa itu!"
Ethan melengkung senyum, "Sungguh, tapi pohon itu hanya ada di Timur Tengah!"
"Kamu bercanda!" Boman melotot i adiknya.
Ethan terpingkal melihat reaksi kakaknya, begitu pula pandawa yang lain.
"Di apotik banyak orang yang menjual jintan hitam, tapi sudah dalam keadaan kapsul. Aku bisa meracik ramuan untuk menyembuhkan ayah dengan membuat minyak dari biji jinten hitam."
"Aku akan mencarinya meski ke ujung dunia sekali pun. Ini demi ayahku." ujar Boman bersemangat.
Dia mulai membuka laptopnya dan mencari keberadaan Nigella Sativa itu.
Sementara dua baby sister sudah mempersiapkan peralatan mandi untuk Khalwa dan Salwa. Mereka berdua berdiri agak jauh untuk memperhatikan dan memandu tuan Alvarendra Rizki memandikan bayi nya.
Alva menarik nafasnya dalam -dalam sebelum mengambil Khalwa dari box bayi, "Aku pasti bisa!"
Setelah mengambil ancang-ancang dan mengenakan masker lapis tiga, Alva menggendong Khalwa.
Khalwa yang sangat pintar tentu saja menangis karena terganggu tidurnya.
Alva panik dan menoleh ke arah istrinya yang juga memperhatikan dia.
"Tenang dan jangan panik!"
Khalwa kini sudah polos dan mulai dicelupkan ke dalam bak bayi.
Khalwa berhenti menangis dan menikmati berendam di air hangat.
Dengan arahan baby sister, Alva mulai membasuk bayi nya dengan lembut. Menggunakan sabun yang licin dan hampir saja pegangan di tangan nya merusut. Sherly cekatan menahan tubuh Khalwa agar tidak lepas.
"Maafkan aku Sayang, bayi ini benar -benar licin!" pekik Alva dengan panik.
Sherly tak marah dan terus menyemangati Alva, "Tenang Mas, kita lakukan bersama -sama, oke!"
Alva mengangguk dan perlahan rasa paniknya memudar.
Dengan bantuan Sherly, Alva berhasil memandikan putrinya untuk pertama kali dalam hidupnya.
Setelah Khalwa memakai baju yang dibantu oleh baby sister, Khalwa segera menyusu.
Kemudian Alva dengan kenekatan batinnya, memandikan bayi Salwa. Setelah polos, bayi Salwa dimasukkan ke dalam bak bayi. Berbeda dengan bayi Khalwa tadi, bayi Salwa justru menjerit dan melengking tangisannya saat menyentuh air. Padahal air itu hangat.
Alva tak memperdulikan tangisannya, "Salwa Sayang, tenang ya, ayah sedang belajar memandikan bayi,"
Dengan cepat setelah membasuh tubuh putri nya, Alva dengan bantuan baby sister mengangkat nya dari bak.
Salwa sudah cantik sekarang dan sedang mengantri untuk diberikan ASI.