Pandawa Kecilku

Pandawa Kecilku
Sherly Terlihat Wow


"Wen, aku nggak mau tahu, pokoknya kamu harus tetap bisa bekerja di sana!" omel Imel saat Wendy sedang duduk santai di teras sambil menikmati udara sore hari. Sudah sekian kali sejak Wendy dipecat oleh Alvarendra, omelan Imel tak henti -hentinya.


"Sudahlah, Mel! Aku capek, setiap hari kita uring-uringan terus. Mau bagaimana lagi, kamu harus terima kenyataannya. Siapa suruh juga kamu menghabiskan semua uang yang aku beri."


"Oo, jadi kamu menyalahkan aku juga!" Imel berkacak pinggang. Sementara Wendy melengos mengabaikannya.


"Aku menbelanjakan uang itu juga untuk kebutuhan kita, kamu yang menikmati hasilnya sedang yang kena batunya malah aku!" Imel belum berhenti mengomel, Wendy mengusap wajahnya kasar lalu menjambaki rambutnya frustasi, kepalanya ingin pecah mendengar Imel selalu mengulangi perkataannya.


"Cukup Mel, aku bosan di rumah! Lama -lama aku bisa gila kalau setiap hari kamu mengomel terus!" Wendy beranjak dari kursi dan menuju kamarnya.


"Wen, Wendy, aku belum selesai bicara!" teriak Imel yang tanpa mendapatkan respon dari suaminya.


Wendy mengambil kunci mobilnya yang ada di laci kamar, kemudian dia hendak pergi keluar mencari udara segar.


Dia melewati Imel yang masih belum berpindah tempat.


"Loh, kok kamu pakai jaket, mau kemana kamu? Sebentar lagi gelap." Imel menarik lengannya, namun langsung ditepis.


"Wen, Wendy, kamu mau ke mana?" teriak Imel.


"Aku suntuk di rumah, bukan urusanmu aku pergi ke mana!" Wendy segera masuk ke dalam mobil, meski Imel tetap meneriakinya.


"Ada apa Mel, kamu teriak -teriak?" Anita turun dari lantai atas menghampirinya.


"Wendy Ma, dia pergi begitu saja," Imel terlihat cemas, dia sangat takut jika kehilangan suaminya.


"Paling juga ke bar," sahut Anita yang tak menghiraukan kecemasan putrinya.


"Itu malah bahaya Ma," Imel semakin panik.


"Apa nya yang bahaya?" Anita mengerutkan dahi.


"Wendy bisa saja mabuk lalu dia ... ah, aku tidak mau dia macam-macam dengan wanita lain." prasangka Imel.


"Ya kamu tinggal cari pengganti dia saja." sahut Anita santai.


"Loh, kok Mama bilang begitu?" Imel menyadari perubahan Anita yang tak mendukungnya.


"Dia itu kan jatuh miskin, sudah, buang saja dia, kan kamu masih muda bisa cari pria yang lebih mapan lagi!" saran Anita.


"Nggak Ma, sampai kapan pun aku tetap mempertahankan rumah tanggaku dengan Wendy."


"Terserah, mama sudah mengingatkan kamu. Dan jangan menyesal jika kamu sakit hati suatu saat nanti!" Anita pergi meninggalkan Imel menuju dapur menemui bik Kah untuk meminta sesuatu.


"Bahkan mama tak mendukung pernikahan ku yang hampir di ujung tanduk ini. Padahal aku kan anak kandung mama, mestinya mama bisa memberikan solusi, bukan malah menyuruhku untuk bercerai." Gumam Imel.


Wendy kini berada di sebuah supermarket ingin membeli satu toples selai kacang, karena stok di rumah tinggal sedikit. Pria 35 tahun ini sangat menyukai roti panggang dengan selai kacang.


Dia menyusuri deretan toples yang berjajar rapi, mulai dari sisi kiri hingga sisi kanan. Pandangannya tepat pada yang sedang ia cari.


"Nah, ketemu," serunya seraya hendak mengambilnya.


Saat bersamaan ada tangan putih nan mulus sedang mengambil toples selai kacang yang sama dengan yang Wendy ambil.


Sontak Wendy melihat sosok yang berada di sampingnya kini.


"Sherly," seru Wendy tak percaya bisa berjumpa dengan wanita yang berhasil menembus hatinya.


"Wendy," sapa Sherly, ekspresinya pun sama kagetnya.


"Kamu sendirian?" tanya Wendy seraya mengedarkan pandangan di sekeliling Sherly.


Sherly mengangguk, pikirnya ini sebuah kesempatan emas yang tidak akan berulang kedua kali. Sherly berniat membalas perlakuan Imel dan Anita melalui Wendy.


Sherly tak mempermasalahkan atas kasus yang Wendy jerat, yakni korupsi. Baginya itu bukan sebuah urusan yang harus dibawa-bawa dalam kehidupan pribadinya.


"Kamu juga sendirian? Mungkin kamu bersama pacar, istri atau saudara?" tanya Sherly pura-pura tak mengenalnya.


"Oo, aku sendirian juga." sahut Wendy seraya menebarkan pesona playboy nya.


"Kamu suka juga dengan selai kacang?" Sherly mulai dengan basa-basi nya, padahal dia sendiri merasa jengah juga meladeni pria model Wendy. Kalau bukan balas dendam, dia tak perlu repot-repot untuk ngobrol dengan suaminya musuh.


"Suka, suka sekali," sahut Wendy, kini tatapannya nakal. Dia memandang tubuh Sherly dari atas ke bawah, lalu kembali lagi ke atas. Dia sangat tertarik dengan Sherly.


Wendy menawarkan pada Sherly untuk menemani minum di sebuah cafe yang tidak jauh dari lokasi di mana mereka saat ini. Awalnya Sherly menolak, namun saat melihat arloji di pergelangan kirinya menunjukkan belum terlalu malam akhirnya Sherly dengan senang hati menerima tawarannya.


Mereka mengobrol seputar keseharian masing -masing. Sherly menutupi kehidupan pribadinya. Saat di tengah obrolan, Sherly mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya untuk mengabadikan kebersamaan yang sesaat itu. Wendy pun senangnya bukan main. Dia mendekatkan wajahnya ke pipi Sherly saat akan berpose. Sherly tahu itu, agar tak curiga dengan niatnya, Sherly pun membiarkan saja ulahnya asal tak melewati batas.


"Cantik banget nih cewek, Imel saja kalah, udah dandanan dan bibirnya menor, beda banget lah sama yang ini, natural." batin Wendy tak henti-hentinya mengagumi kecantikan Sherly.


Karena sudah sangat malam, Sherly pamit undur diri, khawatir pandawa menunggunya terlalu lama. Sebelum Sherly pergi, Wendy meminta nomor ponselnya.


Mereka kini berpisah menuju rumah masing -masing.


Di tengah perjalanan, Wendy masih terngiang dengan senyuman Sherly. Dia telah jatuh hati padanya, meski ada Imel di kehidupannya.


Keesokan harinya.


"Pagi Lia," sapa Sherly.


"Ya Tuhan, ini benaran kamu Sherly," Lia memegang pundaknya seraya memutar balikkan badannya.


"Eits, kamu merusak tatanan rambutku," Sherly merapikan rambutnya yang terurai panjang.


"Kamu cantik banget pakai baju ini," seru Lia seraya tetap mengamati penampilan Sherly yang sedikit terbuka.


"Benarkah, aku kira biasa saja, cuman model bajunya saja yang aku ganti." terang Sherly.


"Aku sampai tak mengenalimu, benar -benar sempurna."


"Ah, Lia, kamu terlalu melebihkan, ya sudah, aku ke ruangan presdir dulu!" Pamit Sherly seraya meninggalkan Lia dan bergegas menuju ruangan Alva.


Sesampainya di depan ruangan Alva, Sherly terlebih dahulu mengetuk pintu. Setelah mendapat sahutan dari dalam, Sherly segera masuk.


"Pagi Presdir!" sapa Sherly ramah saat di depan pintu, seolah dia lupa dengan pertemuan dengan Alva di pantai kemarin.


"Pa-gi ," Alva seketika menoleh melihat siapa yang datang, dan benar saja saat pandangannya jatuh pada penampilan Sherly, Alva sedikit bernafsu tatkala memandang penampilan Sherly yang terbilang cukup wow itu.


Sherly berjalan mendekati meja Alva.


Alva semakin kencang degupan jantungnya. Dia segera berdiri.


"Pletak ...!" sontak Alva menyentil dahinya. Sherly sarapan dengan menu sentilan.


"Aduh sakit, kenapa sih Presdir selalu menyentil dahiku." gerutu Sherly yang terlihat sangat menggemaskan menurut Alva. Dia mengusap dahinya berulangkali.


"Siapa yang menyuruhmu untuk berpakain seperti itu?" Alva tak suka dengan caranya berdandan. Ini akan membuat pengaruh buruk baginya. Bagaimana tidak, Sherly akan menjadi sorotan para lajang di perusahaan itu. Dan itu sangat membuat Alva cemburu.


"Apa ada larangan berpakaian seperti ini, tidak kan?" sangkal Sherly.


"Peraturan itu mulai berlaku detik ini juga!" tegas Alva.


Alva menuju lemari pakaian, di dalamnya terdapat banyak jas yang tergantung rapi. Dia mengambil jas biru dongker, warna favoritnya.


"Kenakan ini, aku tak mau melihat kamu masuk angin!" Alva mengenakan jas itu pada Sherly. Sherly bisa saja menolaknya, tapi entah mengapa tangannya terasa berat untuk menepis.


"Tapi, pakaian ku tadi lagi ngetren, Presdir!"


"Enggak, aku tidak mengizinkan sekretaris ku terlihat bersinar di mata orang lain. Cukup aku saja yang ...."


Belum selesai mereka berdebat dengan masalah pakaian yang Sherly kenakan. Datang seorang pria yang sangat familiar bagi mereka.


"Kakak," seru Alva tak percaya dengan kedatangan kakaknya itu.


"Toni," seru Sherly tak kalah kagetnya dengan Alva.


"Halo cantik, kita berjumpa lagi!" Toni mengulurkan tangannya menjabat Sherly. Dengan senang hati Sherly menyalaminya. Tapi tidak dengan Alva, darahnya terasa mendidih tatkala ibu dari anak-anaknya disentuh pria lain, termasuk Antonio kakak kandungnya.


"Kalian sudah saling kenal?" Alva mencoba menyembunyikan rasa kekecewaannya.


"Oo, Toni itu kakaknya presdir," Gumam Sherly.


"Dia yang menolongku di jalan, dia berhasil menarikku saat sebuah mobil hampir menabrakku." terang Toni seraya menunjuk Sherly. Dia juga sedikit tercengang saat melihat Sherly memakai jas adiknya.


"Itu alasan waktu aku terlambat 10 detik kemarin, Presdir." terang Sherly, mengingatkan Alva tentang pria yang mengantar Sherly kemarin, ternyata itu Antonio Rizki. Kakak kandung plus pesaingnya.


Presdir Alva mengangguk paham.


"Kapan Kakak sampai di Indonesia?" tanya Alva mengubah topik pembicaraan.


"Cukup lama, sekitar satu bulan yang lalu." terang Antonio, lalu dia duduk di kursi kebesaran Alva.


"Ternyata kakakmu lebih tampan dari mu ya," sindir Sherly sambil berbisik. Alva hampir saja menyentil dahinya lagi, dia ingat kalau di ruangannya mereka tak berdua lagi.


"Satu bulan? Mengapa Kak Toni tak mengabariku?" Alva menatap kakaknya yang sedang menikmati kursi hitamnya.


"Untuk apa?" sahut Toni sinis tak suka dengan keberhasilan Alvarendra.


"Papa sangat merindukan mu, Kak!" ujar Alva berharap kakaknya menemui papanya.


"Rindu? Sejak kapan papa mengharapkan kepulangan ku," Toni mengedarkan pandangan menatap ruangan Alva.


"Meski papa tak mengatakannya, aku tahu itu."


"Sudahlah Alva, kamu juga tak perlu bersikap sok peduli, kamu juga senang kan dengan kepergian ku." tukas Toni yang kini tengah mendekati Sherly.


Alva tetap menyakinkan Toni, namun Toni tak mengindahkan semua ucapannya.


"Sherly, sudah lama kamu bekerja di perusahaan ini?" tanyanya.


"Aku termasuk pegawai baru di sini." sahut Sherly. Alva diam saja memperhatikan sikap Toni.


"Alva, ku dengar ada kekosongan jabatan di sini." tanya Toni berpaling dari Sherly.


"Benar Kak," sahut Alva cepat.


"Aku ingin jabatan itu." terdengar tegas dan memaksa.


"Kalau Kakak menginginkan itu, ambillah!" Alva dengan sukarela memberikan pekerjaan yang dulu Wendy pegang.


"Dengan pulangnya kak Toni, aku berharap bisa membuat dia kembali ke rumah besar, aku sangat yakin kalau papa merindukan putra sulungnya. Dan dengan kak Toni bekerja sama denganku, mungkin bisa mendekatkan hubungan kami yang sempat memudar." batin Alva, Dia segera keluar untuk menunjukkan ruangan yang akan di tempati kakaknya.


"Sherly, kamu bekerja sebagai apa di sini?" Toni penuh selidik menginterogasi Sherly.


"Aku sekretarisnya presdir Alva," sahutnya singkat.


"Andai aku tak jadi pergi ke luar negeri waktu itu, tentu aku yang sekarang menempati ruangan ini." ucap Toni lirih lalu segera keluar mengikuti Alva.


"Apa maksudnya dia mengatakan hal itu padaku?" Sherly juga segera mengikuti atasannya.


.


"Siang nanti kita ada jadwal apa?" tanya Alva saat sedang menandatangani surat edaran mengenai Bantuan Subsidi Upah.


"Pukul 11.00 nanti ada pertemuan di Hotel Raya, mereka akan mempromosikan keunggulan hotel." Sherly membaca jadwal yang ada di note book nya.


Sherly segera mempersiapkan dirinya, saat meraih anting mix sebelah kanannya, dia baru tersadar kalau anting mix sebelahnya hilang. Dia membungkukkan badan, siapa tahu benda itu jatuh di sekitarnya.


Alva sedari tadi risih dibuatnya, Sherly mondar -mandir, bahkan dia sampai mencarinya di kolong meja Alva.


"Ngapain kamu?" tanya Alva penasaran sambil melihat ke bawah mejanya.


"Duak ....!"


"Aduh," kepala Sherly membentur meja akibat kaget dengan suara lantang itu. Alva cekikikan melihat ulahnya, yang terkadang menggemaskan dan tingkahnya yang terbilang aneh.


Sherly segera berdiri setelah pencariannya tak membuahkan hasil.


"Anu, aku sedang, itu, e ...," sahut Sherly sambil mengusap bekas benturan di kepalanya.


"Anu, anu, apa?" Alva semakin penasaran.


"Itu presdir, bisa tidak kita membatalkan jadwal siang nanti?"


"Batal, memangnya kamu mau mengganti rugi atas pembatalan acara yang sudah mereka persiapkan?"


"Bukan begitu maksudku, kalau begitu Presdir ajak saja Lia!" tawar Sherly yang langsung mendapatkan pelototan dari atasannya.


"Memangnya kamu mau kabur kemana? Atau mungkin, kamu mau menggoda kakakku?" Alva mulai tersulut emosi dengan pikiran yang dikuasai rasa cemburu.


"Memangnya aku wanita apaan, bukan itu ...." Sherly menarik nafasnya panjang dan menghembuskan perlahan.


"Lalu .... Jangan membuatku pusing dengan kalimatmu yang bertele-tele seperti itu!" Alva menunjuk pelipisnya sendiri.


"Aku kehilangan anting -anting ku yang sebelah." jujur Sherly, meski masih berat untuk mengakuinya. Dia juga takut Alva akan marah kalau sudah tahu kebenaran tentang dirinya.


Alva teringat dengan benda hitam yang ia injak kemarin.


"Berhargakah benda itu?" tanya Alva sebelum ia mengatakan yang sebenarnya kalau benda itu sudah hancur. Alva sendiri baru tahu fungsi benda hitam kecil itu ternyata sebuah anting.


"Itu, Boman yang membuatkan untuk ku." Sherly menundukkan kepalanya.


Alva terasa terpojok, "Boman yang merakit benda itu?" Alva tak percaya kalau benda hitam itu ternyata sebuah anting yang unik.


"Bagaimana bisa dia menciptakan alat komunikasi yang sangat unik itu, dia sangat hebat." batin Alva.


"Maaf, aku tidak jujur padamu Presdir, pandawa lah yang dulu memaksa aku untuk bekerja di perusahaan ini. Sebenarnya aku orang yang sangat bodoh, Abi yang pandai menguasai 5 bahasa itu. Kini Presdir sudah tahu semuanya, terserah Presdir mau melakukan apa terhadap ku." Sherly mulai merasakan panas di area matanya.


Alva menghentikan pekerjaannya, dia berjalan menghampiri Sherly yang sejak tadi menundukkan kepalanya.


Bersambung...


❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️


Teman-teman reader, tetap dukung karya ku yang satu ini ya, Author hanya pemula tak kan berhasil tanpa semangat dan dukungan dari kalian.


Terima kasih untuk semuanya, semoga terhibur...😘😘😘