
Sherly merasakan sakit di bagian perut, perih dan ingin mual. Pijakan kurang 2 meter lagi dan dia bisa menang. Tapi rasa sakit di perutnya tak bisa tertahan lagi.
Sementara Alva melesat sangat cepat. Dia berhasil mendahului Sherly dan ...
"Pritt ....!!" Thomas meniup peluit kencang, pertanda perlombaan usai.
"Yuhu ....!" seru Alva kegirangan sambil mengangkat kedua tangannya. Semua pengawal yang berjaga pun ikut bersorak ria.
"A-aku sudah tak kuat lagi," Sherly hampir saja tenggelam, dia tak mampu lagi menuju finis.
Alva menoleh ke belakang bermaksud mengejek Sherly, tapi harapannya sirna. Dia bergegas menuju ke arah Sherly saat Sherly terlihat tak bisa menjaga keseimbangan di atas air.
Untung saja Alva cepat, kalau tidak Sherly sudah banyak menelan air. Dia kini tak sadarkan diri.
Alva menarik tubuh Sherly sampai di tepi kolam. Pengawal pun ikut membantu, mengangkat tubuh Sherly hingga ke daratan. Alva dengan cepat keluar dari air, ia segera membaringkan tubuh Sherly di tempat datar dalam posisi telentang.
"Thomas cepat panggil ambulan!" teriak Alva cemas.
"Baik Tuan!" Thomas segera merogoh ponsel dan menghubungi pihak rumah sakit.
"Sherly, bangun, ada apa denganmu?" Alva menepuk pipinya, dia sangat cemas. Yang ditanya tak kunjung sadar juga.
"Cepat bawakan aku handuk!" teriaknya pada pengawal. Tak lama kemudian pelayan wanita datang membawa handuk kering.
Alva mendongak menatap pengawal, "balikkan tubuh kalian!" perintah Alva, para pengawal termasuk Thomas juga segera balik kanan.
Alva meminta pelayan wanita itu untuk melepas pakaian basah dan sesegera mungkin menutupi tubuh Sherly dengan handuk kering.
Alva tak menghiraukan lagi bersin-bersinnya saat berdekatan dengan pelayan wanita itu. Kecemasan yang sangat kentara pada raut wajahnya.
Alva mengangkat sedikit kepala Sherly ke atas. Bertumpu pada pahanya. Dia mengecek pernapasan dengan mendekatkan telinga ke mulut dan hidung Sherly untuk merasakan adanya hembusan udara.
Alva segera menjepit hidung Sherly dan menempatkan bibirnya yang dalam posisi terkatup di atas mulut Sherly.
Dia mengambil nafas seperti biasa dan meniupkan udara secara perlahan ke dalam mulutnya. Sherly belum sadar juga.
"Ku mohon Sherly, bertahanlah! Sebentar lagi aku akan membawamu ke rumah sakit." Alva sontak mendekap tubuh Sherly yang terkulai lemas itu.
Tak lama kemudian ambulan tiba, Sherly segera diangkat dan dilarikan ke rumah sakit.
Alva meminta Thomas untuk pergi ke rumah Sherly, khawatirnya para pandawa kecil menantikan kepulangan ibunya.
Sebelumnya Alva berganti pakaian terlebih dahulu, dia tak menghiraukan rasa gatal yang mulai menjalar di tubuhnya, karena tak mandi.
Thomas dan sebagian pengawal langsung menuju rumah Sherly.
Saat di rumah sakit.
"Sonia, tolong periksa keadaan dia! Haciu, haciu, haciu ...!" pinta Alva dengan ekspresi yang masih sama, panik. Dia sesekali mengelap wajah dengan lengannya.
"Iya, kamu tenangkan dirimu. Siapa dia?" tanya Sonia, karena asing dengan wajah Sherly.
"Dia calon istriku. Haciu, haciu, haciu ...!" sahut Alva.
"Kamu akan segera menikah!" Sonia terhenyak kaget tak percaya. Kabar burung, dia hanya mendengar kalau Alva tengah menjaga jarak dengan pacarnya. Tapi, bukan wanita ini pacarnya.
"Itu tidak penting, Sonia, tolong selamatkan dia! Haciu, haciu, haciu ...!" Alva tetap mengiba.
"I-iya, baiklah, kamu jangan khawatir aku akan segera memeriksanya!" sahut Sonia sedikit cemburu. Dia bergegas memasuki ruangan di mana Sherly masih pingsan.
Tak begitu lama, Sonia keluar dengan semburat senyum yang dipaksakan.
"Bagaimana keadaan calon istriku? Haciu, haciu, haciu ...!" Alva menghentikan langkahnya.
"Dia sudah sadar, dan dari hasil pemeriksaan yang aku lakukan, dia terkena maag." terang Sonia singkat.
"Maag, Ya Tuhan, kenapa aku baru tahu. Bisakah aku menjenguknya? Haciu, haciu, haciu ...!" pinta Alva dengan ekspresi antara senang Sherly sudah sadar dan sedih Sherly terkena maag. Dia mempercepat langkahnya memasuki ruangan Sherly.
Sonia mengangguk cepat dan segera pergi untuk menyelesaikan urusannya yang lain.
"Sherly," panggil Alva seraya meraih kedua tangannya. Sherly tengah duduk di ranjang.
"Selamat Presdir, kamu menjadi pemenangnya!" ujarnya dengan suara terasa berat.
"Sudah lupakan itu, bagaimana kamu bisa pingsan?" Alva bergantian mengusap pucuk kepalanya.
"Aku juga tak tahu, perutku terasa perih dan ingin muntah rasanya." terang Sherly jujur, dia sendiri tak tahu dengan penyakitnya.
"Apa kamu tak tahu penyakitmu?" Sherly hanya menggeleng, "kamu terkena maag." sambung Alva.
"Maag, aku ingat, kemarin aku telat makan pagi saat pandawa sakit. Aku terlalu sibuk mengurus mereka berlima." terang Sherly.
"Kasihan kamu, izinkan aku merawat dan menjagamu!" Alva menggenggam erat tangannya dan sesekali mengecupnya lembut.
"Aaaaarghhh, tidak ... penyakit jantungku kambuh lagi!" batin Sherly menjerit.
"Caranya?" tanya Sherly polos seraya menarik tangannya. Takut ketahuan kalau dia sedang grogi.
"Maukah kamu menikah denganku?" ujar Alva yang tak suka bertele-tele.
"Ya Tuhan, apa aku bermimpi di siang bolong. Presdir Alva melamar ku." batinnya lagi.
"Tapi, Presdir, bukankah kamu hanya menginginkan pandawa saja!" Sherly tampak gugup.
"Dasar bodoh kamu, mana ada ayah yang tega memisahkan ibu dengan anak-anaknya!" Alva menyentil dahinya dengan irama pelan dan lembut.
Seketika Sherly memejamkan kedua matanya, saat tangan Alva menyentil dahinya.
"Kenapa kamu merem?" sindir Alva.
"Eh, kok nggak sakit seperti biasanya, apa aku mati rasa ya," ucapnya lirih sambil mengusap dahinya.
"Kan aku, menyentil dahi kamu pakai perasaan," ujar Alva sembari tertawa kecil.
"Ih, Presdir bikin malu aku saja." ujarnya sembari mengerucutkan bibirnya.
"Setelah pulang dari rumah sakit, kamu dan pandawa akan tinggal bersamaku!" ujar Alva yang terdengar seperti perintah.
"Tapi Presdir, aku belum siap! Aku masih ragu untuk kedepannya, bagaimana jika publik nanti tahu tentang hubungan kita?"
"Malah semakin cepat mereka tahu, malah semakin bagus."
"A-aku ...,"
" Sherly, hilangkan rasa keegoisan kamu, pikirkan kebahagian pandawa. Mereka butuh keluarga yang lengkap. Kita akan membangun sebuah keluarga kecil."
"Kamu jangan merendah, semua yang terjadi padamu waktu dulu adalah kecelakaan yang tak kita sadari. Dan aku akan menebus kesalahan yang tak sengaja itu." ujar Alva lalu merogoh sakunya untuk mengambil ponsel.
"Thomas, kemasi semua barang milik mereka dan antar ke rumahku, sekarang!" ujar Alva lalu mematikan ponselnya.
"Tunggu Presdir, a-aku kan belum menyetujui permintaan kamu," ucapannya tak diindahkan Alva, dia sibuk menghubungi pihak rumah juga.
"Dasar tukang pemaksa, mirip sekali dengan Boman." Gerutunya pasrah sambil menyilangkan tangan di dada.
.
"Arghhhhh, ini tak bisa dibiarkan, mereka tak boleh menikah. Alva hanya boleh menjadi milikku!"
"Akan aku lakukan apa pun untuk membatalkan pernikahan mereka."
.
Malam ini Sherly boleh pulang, dia kini pulang ke rumah besar milik keluarga Andreas.
"Aku malu, Presdir!" ujarnya saat Alva sedang menyetir.
"Kenapa harus malu? Santai saja, papa aku orangnya baik kok!"
Sesampainya di kediaman Andreas.
"Ibu ...!" seru pandawa menyambut ibunya pulang dari rumah sakit.
"Pandawa kecilku!" seru Sherly yang segera turun dari mobil menyambut pelukan dari putra-putranya.
Andreas yang berdiri di depan pintu, merasakan sebuah kehangatan keluarga yang akan melengkapi hidupnya.
Sherly segera mengkondisikan dirinya saat melihat sosok pria paruh baya sedang memperhatikannya.
Alva menggandeng tangan Sherly dan menuju Andreas.
"Selamat datang Sherly!" sambut Andreas ramah.
Sherly kikuk, dia langsung meraih tangan yang mulai berkeriput itu untuk salim.
"I-iya Om, terima kasih atas sambutannya." ujar Sherly dengan ciri khas malunya. Kini penyakit jantungnya kambuh lagi. Semakin cepat berdetak melebihi ketika bersanding dengan Alva.
"Kok kamu panggil papa dengan sebutan om?" Andreas mengklarifikasi kalimat Sherly.
"I-itu, aku, anu, eh ..." Sherly benar-benar malu banget.
"Papa," Alva mendekatkan wajahnya tepat di depan Sherly agar dia menirukan.
"Aduh, bagaimana ini, aku malu banget!" dumelnya dalam hati.
"Sudahlah, nanti kamu akan terbiasa juga. Ayo masuk!" pinta Andreas yang berhasil menghilangkan rasa groginya. Dia terlebih dahulu masuk lalu diikuti Alva.
"Alhamdulillah," batin Sherly sambil mengelus dada. Terdengar hembusan kasar dari nya.
"Ibu, apakah Ibu masih sakit?" tanya Abi mendongakkan kepalanya.
"Tidak sayang, ibu sudah sembuh." Sherly duduk sejajar agar tingginya sama dengan Abi.
"Kata om Thomas, tadi siang Ibu pingsan ya?" Boman ikut mendekat.
"Iya, tapi sekarang ibu sudah sehat."
"Maaf kan kami Ibu, gara-gara kami, Ibu jadi masuk rumah sakit." Charles menundukkan kepalanya.
"Siapa yang bilang kalau ibu sakit karena kalian?" Sherly mengangkat dagu Charles agar bisa menatap wajahnya.
"Aku sangat merindukan Ibu," Ethan langsung memeluknya lagi.
"Di mana Dave?" sejak Sherly memeluknya tadi, kini ia tak melihatnya lagi.
"Ibu ... lihatlah!" Dave membawa bingkisan.
"Apa ini, Nak?" Sherly menerimanya dan segera membuka bingkisan itu.
Alangkah terkejutnya dia.
"Ini ...."
"Aku melukis wajah ayah," ujar Dave, dia mengambil kado miliknya dulu yang pernah ia berikan saat Sherly berulang tahun. Dia melengkapi lukisan itu.
"Wah bagus sekali, Dave!" Sherly memeluk lagi pandawa kecilnya.
Alva dari balik pintu menyaksikan sendiri, keberuntungan berpihak padanya. Dia akan segera menikahi Sherly dan menjanjikan kehidupan yang layak untuk pandawa kecilnya.
"Sherly ayo masuk!" ajak Alva, membuat Sherly melepaskan pelukan para pandawa.
Sherly mengangguk pelan seraya melangkah pun juga pelan.
"Kamu anggap saja rumah sendiri, dan ini ..." Alva mempertemukan dengan bik Tinuk. "Bik Tinuk, pembantu di rumah ini." sambungnya lagi.
"Selamat datang, Nona Sherly!" sapa bik Tinuk ramah.
"Terima kasih Bik," sahut Sherly seraya mengekor Alva menuju tangga.
Sesampainya di atas.
"Sherly, untuk sementara kamu dan pandawa akan tidur di ruangan ini!" Alva membuka pintu kamar yang sangat luas.
Sherly hanya mengangguk pasrah.
"Besok kita akan menikah." ujar Alva.
"Apa, besok?" pekik Sherly tak percaya.
Bersambung....
Dukung selalu Pandawa Kecilku, author hanya seorang pemula takkan berhasil tanpa adanya dukungan dari kalian.
Dukung terus dengan memberi like, vote, favorit dan jangan lupa komennya.
Semoga terhibur dan terima kasih.
😘😘😘😘😘😘😘❣️😘😘😘😘😘