
Ranjang yang ditaburi kelopak bunga mawar merah, milik siapa lagi jika bukan milik Lanie dan Brian. Tanpa restu dari Galih Pramana, Brian memperistri anak sulung Diana.
Pernikahan digelar di rumah Diana, dan hanya di hadiri oleh segelintir orang, diantaranya kerabat dekat; Lira, Mike, dan teman-teman arisan Lanie.
Sayangnya acara yang digelar sederhana tersebut, tak dihadiri oleh keluarga Kaesang, termasuk Luna yang saat ini tengah berjuang di dalam ruangan bersalin.
Tidak direncanakan sebelumnya, disaat yang bersamaan dengan pernikahan Lanie, Luna sudah akan melahirkan.
Alula, Raden, Damar, Bulan, dan Kaesang yang semula ikut hadir memeriahkan pesta penyatuan status Brian dan Lanie, mereka semua bertolak ke rumah sakit.
Mike, orang yang saat ini berdiri tegap sambil menatap senyum wajah cantik mempelai wanita; mantan istrinya. "Semoga kau bahagia bersama anak ingusan."
Lanie terkekeh, ia merentangkan kedua tangannya. Menawarkan pelukan untuk pria tampan itu. "Peluk aku untuk yang terakhir kalinya, sebelum suamiku tak membiarkan aku memeluk mu."
Mike tarik tubuh Lanie dengan segera, dan membebankan kepala wanita itu ke belahan dada bidangnya. "Aku menyayangimu."
"Aku juga Adik ipar." Lanie tergelak. Punggung Mike ia tepuk-tepuk, dan menguraikan peluknya kemudian. "Semoga Lira bisa cepat punya Baby," ucapnya.
Mike tersenyum, menunduk, tidak banyak berharap dari Lira. Karena bagi Mike, asal wanita itu sehat saja sudah sangat cukup.
Tak perlu neko-neko, Mike sudah ingin menjadi pria setia meski nyatanya, jauh di lubuk hati yang terdalam, ia masih menginginkan Lanie dan seorang anak yang tampan seperti Clay.
"Aku selalu mengingat jasa-jasa mu. Dan berusaha melupakan kesakitan yang kau buat dalam waktu bersamaan," ucap Lanie. "Terima kasih atas waktu mu selama beberapa tahun terakhir, Mike."
Mike mempererat pelukannya. Ini akhir yang menyedihkan. Di mana dia mencintai seorang dan harus menerima bahwa orang itu milik orang.
...---------π---------...
Melihat kondisi penuh peluh di sekujur tubuh Luna, sungguh Kaesang tak berdaya. Bukan lenguh nikmat seperti yang dia dengar selama ini, lenguh itu terdengar menyakitkan.
Tangannya terus menggenggam tangan mungil wanita itu. Kaesang masih berharap Luna secepatnya menyerah dan mengakhiri persalinan dengan operasi.
Namun tidak, tekad melahirkan normal Laluna masih cukup kuat. Meski sedemikian mulasnya, Luna selalu menggeleng saat Kaes menawarkan SC.
Berjam-jam sudah mereka merutuk di dalam sana. Tak ada perubahan signifikan dari pada pembukaan yang seharusnya sudah bertambah tiga sampai empat bukaan.
"Satu jam lagi saja. Kalau pembukaan mu tidak bertambah. Kita pilih tindakan operasi!" dekrit Kaesang.
"Aku masih bisa sabar, Kaes!" Luna menggeleng sambil meringis, dan yah ringisan itulah yang membuat Kaesang tak kuat melihatnya.
"Sekali saja, untuk kali ini kau yang mengalah, Luna!" ketus Kaesang. "Aku tidak kuat melihat mu begini!" tambahnya lebih ketus lagi.
"Kau tahu, saat mau melahirkan secara normal semua wanita pasti merasakan seperti ini, aku bukan satu-satunya yang mengalaminya, tenanglah sedikit."
Kaesang terkekeh sumbang. "Kau pikir mudah, tenang disaat istri seperti ini? Kau tidak pernah jadi suami, kau tidak tahu apa-apa rasanya jadi aku melihat mu begitu!"
"Suster...," teriak Luna. Lalu wanita tersebut bangkit dari duduknya, mendekati Luna yang sedang dalam masa tinjauannya. "Iya Nyonya.
"Usir saja suamiku dari sini. Suruh dia keluar. Dia terlalu berisik di sini!"
Kaesang mendelik. "Luna... Ini tidak lucu."
"Gimana bisa bertambah bukaan, kau tak membiarkan aku konsentrasi."
"Satu jam lagi, kasih istri ku obat bius!" titah Kaesang. "Dia harus operasi!"
Suster hanya memijit pelipisnya yang sedikit pening. Ini bukan kali pertama ia mendengar pertengkaran sepasang suami istri Bucin itu.
Sudah berjam-jam dari semenjak Luna datang dan memiliki pembukaan ke dua. Mereka tak henti-hentinya berdebat. "Sabar dulu Tuan, Nyonya... Memiliki semungil balita memang harus berproses."
Kaesang mendengus, lalu memutar maniknya secara malas. Luna dalam keadaan seperti ini pun masih sanggup garang di hadapannya.
Ia berjanji pada dirinya sendiri, Luna tidak akan pernah hamil lagi. Mengalami lagi proses melahirkan tidak sekalipun terpikirkan olehnya.
"Aaaaa...." Tiba-tiba Luna berteriak, ada dorongan dari dalam yang membuatnya ingin mengejan. "Suster!"
Segera panggilan itu diindahkan beberapa orang, dan salah satunya dokter yang mana semuanya perempuan. Rupa-rupanya Luna sudah dalam keadaan yang siap melahirkan.
"Kamu kenapa Yank?" Kaesang merangsek pada wajah Luna, dikecupnya kening, pipi dan pucuk kepala, menggenggam tangan istrinya, sambil membiarkan para medis memandu jalannya persalinan.
"Euugh...." Kaesang berdesir. Lenguhan Luna semakin membuatnya takut, Luna pasti sangat kesakitan, tapi entahlah, dia tak bisa marah dalam keadaan yang seperti ini.
"Luna..."
Tak lama terdengar suara bayi menangis. Satu dua. Bayi-bayi cantik Luna Kaesang dipindahkan ke tempat lain untuk segera dibersihkan.
Rupanya memiliki bayi kembar masih menurun kepada Kaesang.
"Bayinya Perempuan kembar." Dokter itu tersenyum pada Kaesang. "Sekarang, Tuan tidak perlu lagi khawatir. Nyonya sudah tidak apa-apa."
"Terima kasih Tuhan." Kaesang sampai kelepasan ingin mencium dokter. Beruntung Luna mengingatkan dirinya walau dengan sisa suara yang lirih.
"Aku hanya menggoda mu." Kaesang berkilah, padahal barusan saja ia tak sadar saking bahagianya tiada tara. "Kau tak apa-apa?"
"Telinga ku tidak mendengar satu." Luna mengeluh pada akhirnya. Sebelumnya telinganya sempat berdenging keras saat bayi cantiknya merosot ke bawah.
"Ini karena kau sangat pembangkang. Kau tidak akan mengalami itu kalau kau ambil langkah operasi dari awal!"
Sambil menunggu dokter dan perawat membersihkan sisa persalinan, mereka tak menyia-nyiakan waktu untuk berdebat.
"Jadi kau tidak menerima kekurangan ku sekarang? Aku tuli," keluh Luna.
"Amit-amit. Kau harus sembuh! Kalau kau tuli, tidak seru Luna. Gimana bisa aku bisikan aku mencintaimu lagi?"
Luna tersenyum tipis mendengarnya. "Kalau begitu dengarkan, Kaes. Aku yang sangat mencintaimu."
Kaesang mendengus, ia menarik kepala Luna untuk dipeluknya. "Bodoh... Kau istri yang sangat mengerikan, sangat pembangkang!"
"Kau suami yang kekanak-kanakan." Luna tersenyum selalu, kebahagiaan tiada Tara tengah menyertainya. Usai sudah rasa mulas yang sedari beberapa hari terakhir mendera.
Setelah sembilan bulan penuh. Luna sudah menjadi seorang ibu dari putri kembarnya, benih dari hasil cinta kasih suami Bucin akut sejenis berondong billionaire.
Meski perdebatan tak terelakkan, cinta mereka tumbuh lebih besar seiring dengan berseminya semua kata-kata ketus itu. Dan Kaesang harus selalu mengaku kalah di hadapan istri tercintanya yang pembangkang.
"Tidak ada yang mencintai mu lebih banyak dari Kaesang kepada mu, Luna." Untuk kali ini nada Kaesang terdengar lirih, Luna dapat merasakan betapa tulusnya laki-laki itu.
"Jadi siapa nama putri kita?" tanya Luna.
"Mara Dona."
Luna mengernyit. "Aku tidak menyukai nama itu Kaes!" tepisnya.
Sekarang dokter dan perawat yang menghela napas mereka. Sudah jelas debat soal nama akan lebih panjang dari debat yang terjadi di sepanjang persalinan.
📌 Thanks KK readers Sayang... Menemani Luna sampai melahirkan... Hanya tinggal beberapa part saja, untuk spesial Claynya...