
Di kediaman Rayden Mas Rafael, Virza, Derry dan Amas melaporkan apa saja yang telah Kaesang lalui kemarin.
Rayden tak mengira, sudah lebih dari dua hari Kaesang putra manjanya tak jua mau pulang ke rumah utama.
"Awasi terus anak itu, jangan sampai terjadi sesuatu," titahnya. Meski begitu benci dengan kelakuan anaknya, tetap saja seorang ayah memiliki kekhawatiran.
Terlebih, Kaesang putranya memiliki banyak kekurangan, Kaesang dilahirkan luar biasa, tanpa bisa merasa, juga sering mengalami demensia.
Namun, tak seperti Rayden dan Alula yang ketar ketir, pemuda itu justru merasa baik-baik saja tinggal di tempat sempit.
Mengingat penyakit demensia yang ia miliki, sebelum tertidur Kaesang sempat menuliskan beberapa pengingat di bukunya.
Lantas setelah terbangun di pagi hari, Kaesang juga berusaha mengingat ingat kembali siapa nama teman sekamarnya.
Brian, dan yah ternyata Kaesang bisa mengingat tanpa membuka kembali buku catatan miliknya.
Selama ini, Kaesang hanya bergantung pada ke tiga asistennya, ia tak perlu mencatat apa pun, karena esok harinya ke tiga asistennya akan mengingatkan semua yang ia lupakan.
Bukankah ini berarti ada sebentuk pencapaian luar biasa yang Kaesang Narendra Wardhana usungkan?
Secorak momen di mana ia mampu mandiri, dimulai dari belajar mengingat tanpa ada yang mengingatkan dirinya.
Terkadang, ada penyakit yang terlalu disayang sayang dan sulit sekali menghilang, namun ketika melawannya dengan usaha yang kuat, lebih bisa membantu proses penyembuhan.
Brian baru saja keluar dari kamar mandi lengkap dengan pakaian kasual.
Pemuda tampan itu harus masuk kuliah pagi ini, ia lantas meraih sepatu sneaker dari bawah kolong untuk dikenakannya.
Sementara Kaesang masih sibuk dengan ponsel barunya. Jendela tempatnya duduk, berharap angin pagi menjadi pelarian terbaik.
"Malam ini jadi jemput Luna?" tanya Brian.
Kaesang menoleh, menghiraukan pemuda tampan beralis tebal itu. "Entah lah, sebelum punya pekerjaan, aku segan menemuinya," jawabnya. "Kau tahu, Luna juga sering meremehkan ku!" imbuhnya.
Brian terkekeh. "Wanita yang lebih dewasa, memang seperti itu, tapi mereka lebih asyik dari pada wanita seumuran yang suka spam chat kita," sahutnya.
Kaesang setuju, karena Valerie pun seperti itu. "Kau sendiri? Jadi menemui kekasih mu?" tanya baliknya.
Brian bangkit dengan sepatu putih dan tas ranselnya. "Malam ini dia minta ditemani sampai pagi, jadi, kemungkinan besar, aku tidak pulang," terangnya.
Mendengar itu, Kaesang menoleh penasaran, bukankah bermalam bersama berarti. "Kalian sudah pernah?" tanyanya terhenti.
Brian tergelak kecil. "Begituan, di atas ranjang?"
"Hmm," angguk Kaesang, jujur ia menjadi tak enak harus bertanya sejauh ini pada teman yang baru dikenalnya.
Brian tersenyum kecil. "Dia hanya meminta ditemani mabuk saja, setelah itu dia pergi," jawabnya.
Kaesang tak pernah bisa mengendalikan gejolak saat bersama Luna, apa ada hubungan yang hanya sebatas menemani mabuk saja? "Kau yakin tidak pernah kurang ajar padanya?" cecarnya.
"Selama dia tidak memintanya, aku tidak berani," sanggah Brian. "Dia istri orang," tambahnya.
Sudah Kaesang kira, Tante Tante yang memiliki hubungan dengan berondong, biasanya sudah memiliki suami.
"Tugasku hanya diminta menemani dan aku menikmati kebersamaan kami, itu saja," imbuh Brian.
...----------------...
Hari kini berganti, dua hari setelah Mike membesuknya, Lanie sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah.
Berapa kali Lanie berteriak 'jangan sok peduli padaku' namun begitulah Luna yang keras kepala, gadis itu tetap setia menemani Lanie sampai pulang ke rumah utama.
Secara pelan, Lanie dan Luna berjalan beriringan memasuki bangunan serba putih.
Di dalam sana manik keduanya disambut oleh Lira beserta kursi rodanya dan Mike berdiri di sisi wanita itu.
Hal yang berhasil menyulut amarah Lanie kembali. "Mau apa kalian di sini?" tanyanya bengis.
Luna menghela napas, kenapa pula Lira datang di waktu yang tidak tepat? Seharusnya Lanie tidak boleh stress dahulu.
"Lira datang untuk mu," kata Mike.
Lanie tergelak samar. "Untuk ku?" ia lalu beralih pada Lira. "Kau mau membuktikan bahwa aku gagal membunuh mu, begitu?"
"Lanie," tegur Mike.
"Katakan apa tujuan mu?" ketus, Lanie menatap tidak senang pada adik tirinya.
"Lira mau minta maaf," ucap Lira, tangannya meraih sebelah tangan Lanie yang lantas menepis kasar. "Kau mati pun, aku belum tentu memaafkan mu!"
"Lanie," Mike kembali menegur.
Lanie menoleh. "Aku jahat kan? Makanya hati-hati, jangan terlalu dekat dengan ku Mike," ancamnya. "Lebih baik, kau sembunyikan lagi saja pelakor ini dariku, supaya aku tidak bisa menyakitinya lagi!" berangnya.
Baru saja Lanie melangkah, Mike lebih dulu mencengkram lengannya. "Kau sudah mencelakakan Lira, dan setelah dia sadar, bukan melaporkan mu ke polisi, dia justru mau datang ke sini hanya untuk meminta maaf padamu, harusnya kau hargai,"
"Aku hargai, tapi jika dia enyah dari hadapan ku," potong Lanie, tajamnya tatapan menjadi tanda betapa perihnya hati wanita itu.
Mike melepas lengan Lanie kasar. "Kau sadar apa yang membuat mu minus di mata para lelaki? Sikap mu yang terlalu antagonis!"
Lanie terdiam sejenak, dia memang arogan, tak mau dikendalikan, lebih dominan, dan bukan wanita lemah, mungkin benar kata Mike, dia tidak pantas dicintai.
"Makanya permudah perceraian kita, jangan bertahan demi wanita yang tidak pernah kau Inginkan," pintanya, lalu pergi.
"Lanie!"
Sekeras apa pun Mike memanggil, Lanie tetap masuk ke dalam kamarnya, disusul oleh Luna yang terus mengekori sang Kakak pertama.
Melihat Luna masuk tanpa permisi, Lanie menjerit histeris. "Mau apa lagi kamu?"
Santai, Luna melangkah menuju nakas milik Lanie, di sana ia meletakkan obat-obatan yang perlu dikonsumsi Kakaknya.
"Sudah Luna bilang, Luna sendiri yang akan merawat Kakak di sini," katanya.
Lanie mengepal erat tangannya, namun untuk marah pada Luna, entah kenapa sulit sekali ia lakukan.
"Ini obat yang harus Kakak minum secara rutin, dua kali sehari sebelum makan, dan yang ini satu kali saja sebelum tidur," tutur Luna.
Gadis itu juga menuliskan note pada secarik kertas yang sengaja dia lingkarkan pada botolnya.
Begitu Luna pergi, Lanie terduduk di sisi ranjang kesepiannya, perlahan ia meraih tulisan tangan milik Luna.
...ᴛᴇʀᴋᴀᴅᴀɴɢ ᴋɪᴛᴀ ᴘᴇʀʟᴜ ᴍᴇɴᴀɴɢɪꜱ ꜱᴇᴋᴇᴅᴀʀ ᴜɴᴛᴜᴋ ᴘᴇʟᴀʀɪᴀɴ ꜱᴀᴊᴀ. ᴊᴀɴɢᴀɴ ꜱᴏᴋ ᴋᴜᴀᴛ, ᴛᴜʜᴀɴ ꜱᴜᴅᴀʜ ᴄɪᴘᴛᴀᴋᴀɴ ᴋɪᴛᴀ, ʟᴇɴɢᴋᴀᴘ ᴅᴇɴɢᴀɴ ᴋᴇʟᴇᴍᴀʜᴀɴ....
Membaca itu Lanie berteriak ke arah pintu yang baru saja tertutup. "Aku bukan wanita lemah! Kau dengar gadis kecil!" lalu air mata mengalir hingga ke bibir.
Nyatanya wanita tidak sekuat itu, karena wanita perlu menangis, wanita perlu mengeluh, dan mengaku kalah jika tak lagi mampu melanjutkan langkah.
Cerita ini terlalu berat nggak di kalian? Boleh sarannya yaaah, hihi, ... salam Pasha Ayu...