
Dari resort R-build, Luna kembali ke rumah sakit tempat di mana ia bekerja.
Beruntung Luna masih memiliki rok ganti yang disimpan di lemari lokernya.
Sebelum kembali bekerja Luna mengganti pakaian terlebih dahulu.
Sekilas ia mengingat saat Kaesang berteriak MUNAFIK!
Yah memang ia akui, hati suka, cinta, sayang, candu namun berusaha merelakannya.
Selain tak ingin menyulitkan hidup Kaesang, Luna juga sadar diri akan perbedaan usia dan status sosialnya.
Kaesang pasti bisa melupakannya dengan mudah, Luna pikir bukan cinta yang Kaesang miliki untuk dirinya melainkan hanya obsesi semata.
Pagi ini Luna menuju kamar VVIP milik kakaknya, bukan Lira melainkan Lanie.
Inilah sebabnya, kenapa Luna harus kembali ke rumah sakit di sisa jam kerjanya yang sudah hampir habis.
Dua hari sudah Lanie dirawat di sini, minuman beralkohol dan asap rokok lah penyebab utama penyakit yang dideritanya.
Meski sedemikian galaknya Lanie, Luna tetap bersikeras untuk merawat sang Kakak.
Seperti Lira, Lanie pun sama-sama saudara seibunya, Luna juga berhak merawat wanita dengan tampang bengis itu.
"Kau yakin mau cerai dariku?" Baru saja membuka sedikit pintu kamar Lanie, Luna mendengar suara laki-laki dari dalam sana.
Luna mengurungkan langkah, namun rasa penasaran memaksa Luna untuk mengintip dari luar.
Rupanya Mike berdiri menyimpan kedua tangan ke dalam saku celana, tepat di sisi ranjang Lanie.
Dari celah pintu, untuk sejenak saja Luna menyimak percakapan sepasang suami istri itu.
Terlihat Lanie mengangguk tanpa mau menoleh pada suaminya. "Percepat saja semuanya, kalau kau berat melepas ku karena harta gono-gini, kau ambil saja semuanya."
Mike duduk di sisi Lanie, ada raut tak rela yang Luna tangkap dari Abang iparnya.
"Aku memang mencintai Lira, aku memang berkhianat, tapi bukan berarti aku mau bercerai darimu dan membawa semua harta mu," kata Mike.
Hal tirani yang membuat Lanie menoleh tajam pada lelaki itu. "Lalu apa mau mu?" tanyanya.
"Tidak usah bercerai, kenyataannya selama ini kau bebas berfoya-foya dengan uang-uang yang ku kembangkan di perusahaan kita, aku tidak pernah melarang mu berbuat ini itu, kau boleh berpesta, hura-hura,"
"Apa begitu arti pernikahan?" potong Lanie.
Mike mengangkat bahunya. "Ku pikir kau sangat menikmati hidup mu," entengnya.
"Aku tidak pernah mempermasalahkan ke mana uang-uang berjumlah besar yang kau habiskan hanya dalam satu malam."
"Jadi kau hanya bekerja untuk ku, begitu kan?" sela Lanie. "Kau bukan suamiku," cetusnya.
Mike menggeleng. "Kamu tahu aku sangat menyayangimu, tapi untuk cinta, entah lah, aku hanya bisa memberikannya pada Lira."
Lanie tergelak sumbang, mungkin baru Mike lah suami yang berani menyatakan cintanya teruntuk wanita lain. "Kau lelaki terjujur yang pernah aku kenal," ujarnya.
Mike usap kepala Lanie. "Batalkan gugatan mu, jalani hidup seperti biasanya, bukankah kita tidak pernah bertengkar selama ini?"
Lanie terdiam menahan sesak yang dirasakannya. Mungkin dia menyesal, kenapa pula ia harus dipertemukan dengan pria egois seperti Mike.
"Apa yang kau tuntut dariku? Kesetiaan? Kau pikir aku tidak tahu, kau juga selingkuh di belakang ku hm?" timpal Mike.
"Sebagai seorang suami, aku masih memenuhi tanggung jawab ku. Percayalah bahwa tidak ada yang bisa kau dapatkan dari perceraian kita," tambah Mike.
"Pikirkan lagi baik-baik," pungkasnya.
Perlahan Luna menjauh dari pintu, sedikit ia menyeka air yang membasahi pipinya. Entah kenapa, Luna ikut sakit kala mendengar percakapan mereka.
...----------------...
Senja mulai memamerkan keindahan jingganya, namun polusi masih saja beterbangan tanpa ada jeda.
Para pengendara motor membunyikan nyanyian bising berupa klakson, sahut menyahut dengan teriakan pak bakso, kang cireng, dan anak-anak pesepeda.
Gank sempit tempat Kaesang berdiri, satu paper bag berada di tangan kiri dan satu lembar brosur dia pegang di tangan kanan.
Pintu bertuliskan kost putra, tempat di mana ia harus singgah setelah seharian penuh ia ke sana kemari tanpa satu pun bodyguard.
Jam tangan luxury, sendal branded, beserta cincin berlian yang ia miliki sudah raib terjual dengan harga ratusan juta rupiah.
Mendapat bayaran satu tahun deposit tanpa tawar menawar, sang pemilik kost segera melayani Kaesang dengan baik.
Sayangnya kamar-kamar di kost ini tidak ada yang benar-benar kosong, dengan sangat terpaksa Kaesang menerima kamar yang sudah ada penghuninya.
Ibu kost berpawakan gemuk membawa Kaesang pada sebuah pintu kamar, di dalam sana pemuda tampan baru saja menyelesaikan mandinya.
"Brian!"
"Hmm," sahut pemuda itu. Handuk kecil masih rajin Brian gosokan di kepala.
Ibu kost menyengir. "Kamu punya teman baru, bule ganteng ini mau tinggal di kamar mu," katanya.
"Oh," Brian tersenyum pada Kaesang seraya menyodorkan tangannya. "Brian," perkenalnya.
"Rendra," sahut Kaesang. Lalu Ibu kost pergi menitipkan Kaesang pada Brian.
Tanpa keraguan Kaesang masuk ke dalam kamar kost barunya, kemudian mengedar pandangan ke sekeliling dengan dahi yang terkerut tipis.
Baru pernah Kaesang melihat kamar tidur berukuran empat kali tujuh, dengan satu kamar mandi kecil di dalamnya.
Dari atas hingga bawah, Brian menatap teman barunya. Dilihat dari gelagat, tampang, dan pakaiannya, pemuda itu bukan pemuda sembarangan.
"Tempat mu di situ." Brian menunjukkan dipan beserta kasur single milik Kaesang.
Kaesang tergelak kecil yang mana membuat Brian ikut terkekeh. "Kenapa, sempit?"
Untuk beberapa kali Kaesang mengusap filtrum bawah hidung. "Pengap, panas juga, apa nggak ada AC di sini?" tanyanya.
"Ada!" Brian melangkah menuju jendela, lalu membukanya lebar-lebar. "Ini AC alaminya."
Kedua pemuda tampan itu tergelak renyah bersamaan. Kaesang rasa Brian cukup ramah dan baik.
"Kau akan terbiasa dengan udara sini, tempat ini cukup bagus kok, air bersih, tetangga kita juga tidak panjang tangan, wilayah ini masih terbilang aman," jelas Brian.
Yah, kata sopir taksi yang mengantar Kaesang pun begitu, dan Kaesang tahu tempat ini dari sopir itu.
Kaesang menatap rak buku yang terpajang di atas ranjang Brian. "Kamu kuliah?" tanyanya.
Brian mengangguk. "Arsitektur, baru masuk semester tujuh," jawabnya.
"Lanjut S2 kah?"
"Mungkin!" Brian menghempas punggung pada ranjang miliknya. "Kau sendiri?"
"Aku anak terbuang."
Kaesang juga menjatuhkan punggung pada ranjangnya, namun tidak sesuai ekspektasi, rupanya kasur ala kadarnya itu cukup membuatnya meringis.
Brian tertawa. "Kau pasti anak bangsawan yang kabur dari rumah, siapa nama orang tua mu? Biar aku dapat tebusan dari mereka," candanya.
"Percuma saja, jangankan tebusan, bahkan nama ku sudah dicoret dari daftar ahli waris mereka!" sanggah Kaesang.
Kriiiiiing...
Mendengar suara panggilan, Brian bangkit dari posisinya, segera ia ambil ponsel dari atas nakas kecilnya.
Sebuah kontak bertuliskan Tante galak tertera di layar. "Hmm Tante," sapanya.
Cukup lama Brian terdiam, mendengar suara dari seberang sana, sebelum akhirnya Brian mengangguk dan menutup panggilannya.
"Siapa?" Kaesang bertanya penasaran, percakapan Brian cukup intens tapi ada kejanggalan di setiap penyebutannya.
"Kekasih ku," ungkap Brian.
Kaesang terkekeh. "Tante-tante? Barusan kau menyebutnya Tante," cecarnya.
"Kenapa?"
"Ku kira cuma aku yang menyukai wanita lebih dewasa," gelak Kaesang.
"Kekasih ku sudah 32 tahun," kata Brian yang membuat Kaesang membulat mata dengan bibir 'WOW' nya.