
Bulan madu Kaesang dan Luna tak hanya melibatkan sepasang suami istri, melainkan satu pesawat: termasuk Lanie, Diana, dan keluarga besar RMR.
Fasilitas jet itu lebih dari cukup jika dikatakan memanjakan para penumpang, sebelum akhirnya mereka semua sampai di tempat tujuan.
Norwegia, di sinilah Kaesang dan Luna mendarat dengan selamat. Hotel bintang lima yang menyambut kedatangan mereka tentu saja.
Kamar yang disinggahi pun cukup unik, mereka akan bisa melihat Aurora Borealis dari masing-masing balkonnya.
Cita-cita Luna terealisasi oleh kesanggupan Kaesang. Luna sempat menyebutkan negara ini saat keluarga RMR memilih list liburannya.
Lanie selalu bersama Diana, yah Diana yang sedang menebus dosa dosanya, ia bersyukur memiliki kesempatan mengurus Lanie yang tengah hamil: memasuki trimester kedua.
Masing-masing kamar mereka bersisian dengan kamar Lira dan Mike, awalnya Lira menolak, tapi Mike memaksa untuk ikut: berharap Lanie masih mau mengurungkan gugatan perceraiannya.
Sebelumnya Lanie pikir, kehamilannya akan membuat Mike menjauh dan menceraikan dirinya, rupanya justru berbanding terbalik dengan apa yang ia rencanakan.
Mike justru semakin melekat, berusaha menunjukkan bahwa tidak ada yang bisa menerimanya selain Mike saja.
Bukankah selama ini Mike seolah menutup mata atas apa yang Lanie lakukan. Hal itu Mike klaim sebagai bukti bahwa dirinya begitu menyayangi Lanie.
Dari kejahatannya meracuni Lira, berusaha menyingkirkan Luna, sampai perselingkuhan wanita itu pun, Mike masih tak mau melepas.
Sepertinya Lira tahu maksud tujuan Mike datang ke sini. Bukan untuk berlibur dengannya; melainkan untuk membujuk Lanie kembali.
Terlihat jelas saat di pesawat pun, Mike selalu mendekati tempat duduk Lanie, menawarkan perilaku berupa perhatian seorang suami yang istrinya tengah hamil.
"Sebenarnya siapa yang kau pilih Mike, aku atau Kak Lanie?"
Lira cukup lama mengumpulkan keberanian untuk menanyakan hal ini. Sampai sore ini, di kamar hotel ini, Lira menyeletuk bebas tanpa beban.
"Maksud mu?" Menoleh pada Lira, Mike mengernyit heran. Kenapa sepertinya Lira mulai terganggu dengan perasaan Mike.
"Kak Lanie meminta cerai kan?"
Lengar, Mike menggeleng pelan. "Kau tahu aku tidak akan pernah menceraikan dia, kau tahu dia juga berarti untuk ku," cetusnya.
"Lalu untuk apa kau nikahi aku? Kenapa aku tidak dibiarkan mati saja kemarin?" Bahkan di tengah liburan ala bulan madu, percekcokan masih tak bisa terelakkan.
Bagaimana bisa ada ketenangan di tengah kemelut hati yang tak saling berkesinambungan ini? Semua menganggap dirinya lah yang benar.
Mike duduk di sebelah wanita itu, meraih pipi juga membasuh sedikit air di sudut netranya.
"Karena kalian sama-sama berharga bagiku," ucapnya.
Tatapan Lira menajam. "Kau pikir ada wanita yang mau berbagi suami?"
"Jadi kau mau aku menceraikan Kakak mu?" tukas Mike.
"Setidaknya itu lebih baik daripada membuat kami semakin sakit," sungut Lira.
Mike menghela napas berat. Yah, seberat dirinya ketika Lira menuntut perceraiannya dengan Lanie.
Mungkin wajar kala Lanie memintanya menceraikan Lira, tapi pantaskah pihak ke dua yang menginginkannya?
Mike dilema...
...----------------...
Di lain pihak, Luna baru saja keluar dari kamar ala bulan madunya. Bosan terus berbaring tak melakukan apa-apa, lagi pun Kaesang tak ada di sisinya.
Kaesang bilang, ada tamu yang juga perlu dia temui di lantai bawah. Entah siapa, yang jelas laki-laki, kalau tidak relasi mungkin temannya.
Luna menyatroni kamar kakaknya. Mungkin saja, Lanie butuh sesuatu. Di pesawat, Lanie sempat kontraksi, beruntung turbulensi udara tak begitu membuat janinnya kenapa-kenapa.
Terbukanya pintu kamar bersamaan dengan munculnya sosok cantik itu. Lanie baru saja menyelesaikan mandinya.
Handuk kimono, rambut basah, syukurlah ini berarti Lanie sudah baik-baik saja. "Baby dalam perut gimana?" tanyanya.
"Ini apa?" Lanie menoleh pada Luna, wanita itu meraih kotak hitam lebar memanjang yang tergeletak di atas nakas. "Dari Mike?"
Lanie mengernyit, seingat yang dia ingat, Mike belum masuk ke kamarnya. Lagi pula tidak semudah itu Lanie membiarkan Mike masuk setelah gugatan perceraiannya.
"Coba ku lihat," kata Lanie. Wanita itu mendekat, lalu mengambil dan membuka kotak yang entah milik siapa.
Ada sebentuk hati berupa kertas ucapan di dalamnya. Di bawah kertas itu, se-juntai kalung berlian melengkapinya.
[I love you] Yah, hanya itu saja yang tertulis di kartu ucapan tanpa nama bahkan inisial.
"Dari siapa Kak?" Luna menyeletuk kembali, jujur ia penasaran, apakah Mike mulai dengan aksi manipulatif nya?
"Entah lah," geleng Lanie. Lebih terheran lagi ketika mata-mata cantik mereka menangkap bunga-bunga yang berserakan di sisi jendela.
Ada sebuket bunga mawar, sebuket lagi bunga baby's breath, juga satu pot kecil bunga Azalea.
Tunggu, Luna menemukan kertas berbentuk hati kembali, kali ini ia yang membuka lantas membacanya.
...[Bunga bunga ini bagus untuk ibu hamil, lewat mekarnya bunga-bunga ini, I just want to say I love you.]...
"Mike seromantis ini kah?" Luna menatap Lanie, penasaran. "Ku pikir, dia bukan laki-laki yang melankolis seperti ini," tambahnya.
Lanie menghela pelan, sudah bisa di-simpulkan bahwa bukan Mike yang mengiriminya. Tapi, mengharapkan Brian pun sama gilanya.
Lanie tak sewajarnya jika mengharap Brian mengejarnya. Bagaimana dengan cita-cita, kasta, perbedaan usia, ini benar-benar polemik bagi mereka.
Accident di antara mereka tak seharusnya terjadi, meski sesungguhnya ia begitu senang akan hadirnya sang buah hati yang kini bernaung di rahimnya.
"Kakak serius kan mau cerai dari Mike?" Luna berharap, tatapan sendu itu bukan karena Lanie terpengaruh oleh perbuatan Mike.
"Aku mau sendiri saja." Setelah cukup lama terdiam, Lanie mengusir adiknya. Tentu tidak mudah, Luna pikir wanita hamil perlu didampingi.
Sementara Diana, masih sibuk membawa teman arisannya ke mana-mana. Wajar, Diana baru pertama kalinya datang ke Norwegia.
Pamer, menjadi hal yang ingin sekali Diana lakukan. Lagi pun, Lanie masih merasa risih dengan perhatian ibunya.
"Aku bisa tidur sendiri Lun, lagian kamu ke sini untuk berbulan madu, jangan sampai suami mu kecewa," pinta Lanie kembali.
Kali ini Luna mengangguk setuju, dengan catatan Lanie akan segera menelepon jika butuh sesuatu.
Menutup pintu kamar, Lanie menghela sekali lagi, pikirnya; siapa pun yang mengirim kotak kalung, bunga mawar, bunga Azalea, dan bunga baby's breath itu, semoga bukan Brian.
Besok, beberapa destinasi wisata akan mereka kunjungi. Maka malam ini, Lanie bersiap istirahat, ia mengganti pakaian tidurnya sebelum memasuki selimut tebal.
Oktober, bulan yang pas untuk melihat Aurora Borealis. Akan Lanie jadikan momen ini, sebuah cerita yang menyenangkan di kala ia menidurkan anaknya kelak.
Bukan tertidur, mata Lanie justru enggan terpejam. Di semester ke dua memang sudah tidak lagi mual, tapi punggung bagian bawah sering mengalami nyeri yang sedikit ekstra.
Lanie duduk, berdiri, berbaring, duduk, berdiri, berbaring, belum lagi rasa ingin pipis yang lebih sering cukup membuatnya meringis.
Nikmatnya seorang calon ibunda, jadi seperti ini kah rasanya, kala Diana hamil dirinya. Tak ada yang menanggung jawab, terlebih saat hamil, Diana masih belasan tahun usianya.
Tok tok tok...
Suara itu membuat Lanie mendengus, Luna keras kepala sekali. Sudah dia bilang dia tidak mau mengganggu bulan madunya.
Namun, lihatlah Luna kembali datang. Meski demikian kesal, Lanie tetap beranjak membuka pintu kamarnya.
Bukan Luna, melainkan pria tinggi yang nyelonong masuk tanpa izin darinya.
"Bri...," matanya membulat seketika pemuda tampan itu membekap mulutnya. "Ssstt!" Pintu tertutup oleh hentakan satu kaki.
Sejurus saja, Lanie menepis. "Ngapain kamu?" Tubuhnya melayang diangkat ke dua tangan pelindung pemuda itu.
"Aku yang akan menemani mu tidur, percaya saja, aku tidak akan macam-macam," katanya.