
Mengerjap-ngerjap mata hingga membulat sempurna, Kaesang meraba permukaan ranjang yang kosong.
Baru saja ia terbangun dari tidur setelah panasnya malam dan pagi harinya tadi.
Sedikit kaku seluruh badannya. Pergulatan perdananya cukup menguras tenaga: mereka mencoba berbagai banyak gaya dan sudut tempat yang tak biasa.
Rupanya Luna pergi setelah pembukaan segel Jaka-Dara mereka. Terik begini, jarum jam dinding sudah menunjuk angka 1.
Kemana wangi Cherry blossom Luna pergi, hanya tersisa sedikit saja semerbak yang tertinggal di sprei beludru miliknya.
"Sayang," panggilnya serak. Orang bilang serak tanda baginya yang baru saja meneguk sesuatu dari liang istrinya.
"Siang my husband."
Wanita itu tersenyum, membawa nampan berisi makanan, beserta rambut basahnya yang ikal. Kesimpulannya hanya satu: sangat sexy.
"Bangun, mandi, sarapan dulu."
Siang begini sarapan? Kaesang terkekeh menatap istrinya penuh damba. Tubuh polosnya masih berbalut selimut, ia duduk pada akhirnya.
Luna meletakkan makanan makanan mereka di atas meja bundar kecil. "Aku sengaja buat ini sendiri Kaes," ucapnya.
Sementara yang ada di otak Kaesang hanyalah, ujung dress tipis Luna yang mengayun mengikuti langkah paha.
Aroma damai yang terkuar hari ini bukan Cherry blossom, melainkan vanilla candy yang cukup manis merasuki hidungnya.
Bagaimana jika saat ini juga ia rusak dandanan rapi Luna? Mengacaukan rambut basahnya? Merobek dress tipisnya? Juga...
"Kapan mandinya kalau kau terus menatap ku seperti itu?" Luna menegur dan Kaesang berdecak lidah.
"Bisa tidak, kamu jelek sehari saja. Mungkin aku tidak perlu messum begini...," pemuda itu berkata putus asa. "Kau pikir, aku tidak lelah terus menginginkan mu?"
Luna memutar bola matanya, drama drama dan drama yang selalu Kaesang mainkan saat bersamanya, memang luar biasa suaminya ini.
Kaesang bangkit dari selimutnya, meraih satu celana yang tercecer di lantai kemudian mengenakannya seraya berjalan mendekati Luna.
Polosnya dada bidang itu menggelayuti punggung kecil istrinya, dagu miliknya menancap pada pundak berhias tali kecil, dekapan hangat pun ia belitkan pada perut rata Luna.
Wanita itu menghela, ia berbalik arah: menuntun suaminya duduk sebelum ia juga ikut melakukannya.
Kaesang terkikik kecil, sepertinya Luna takut ditagih jatah kembali. Padahal, ia juga lelah: tak mungkin mengajaknya setelah bertempur semalaman suntuk.
Bersyukur, Luna tak berjalan seperti pinguin hari ini. Meski amatir, Kaesang tak membuat Luna sesakit bayangannya.
"Oya, tadi ada temen kamu."
"Siapa?" Kaesang sedikit memicingkan mata.
"Brian Brian itu."
Kaesang menepuk wajahnya. "Ya ampun, aku sampai lupa Yank, dia semalam pulang nggak pamitan," sahutnya.
"Tidak pulang," geleng Luna.
"Lalu?"
"Tidur di sini...," Luna meraih mangkuk sup untuk di dekatkan pada piring nasi suaminya.
"Di mana dia sekarang?"
Luna mengangkat kedua bahu. "Dia pergi setelah aku bilang, Kaes masih tidur."
"Aku telepon saja, nanti."
"Emmh...," angguk Luna. "Sekarang Sayang makan," titahnya. Sebelum itu terjadi, Kaes wajib mencium bibir nude miliknya dahulu.
...----------------...
Malam ini, semua tamu kehormatan diajak makan bersama keluarga besar mempelai pria.
Salah satunya keluarga Mike tentu saja. Bastian membawa istri beserta anaknya, namanya Lukas, bocah kecil seusia kembar Damar dan Bulan itu sangat tampan, persis seperti ayahnya si mantan Casanova.
Sudah ada Lanie, Diana, dan Luna. Tiga wanita cantik itu duduk bersisian.
Diana tak menyapa Lira yang tak mau menyapa dirinya. Di sebelah Lira, Mike tertegun, bagaimana tidak? Istri pertamanya tidak memilih tempat di sisinya juga.
Sambil menunggu Alula dan Rayden yang belum hadir. Pelayan menyiapkan jamuan makan malam sebaik mungkin.
Sesekali Luna mengusap perut Lanie, mencoba bercengkrama dengan calon keponakannya. Itu hal kecil yang berhasil membuatnya naik mood.
Lanie terkekeh, dan lihatlah sekarang, senyum bahagia Lanie mencetak sebuah rasa manis bagi yang memandang.
Ke mana perginya senyum itu selama ini? Mike hanya diam dalam tanyanya. Ia baru menyadari senyum itu begitu lembut. Senyum yang tak pula ia lihat selama bertahun-tahun.
Bukan harta, melainkan semungil bayi yang mampu menyingkap senyum Lanie kembali.
Wanita kotor, bukan berarti ia haus akan keglamoran. Ingat lagi bagaimana proses Lanie menjadi kupu-kupu malam.
Lanie dijual, dan keadaan ini tak mampu terelakkan. Menikahi Mike, salah satu bentuk usaha Lanie untuk meminta perlindungan.
Siapa yang mau dijadikan budak napzu oleh laki-laki hidung belang, mungkin ada sebagian orang, tapi bukan Lanie.
Mike membuka pikirnya, jika tanpa Lanie, mungkinkah ia bisa berdiri dengan sepatu seharga puluhan juta?
Bahkan, sekedar untuk duduk di meja makan yang sama dengan orang sekelas Rayden Mas Rafael saja tidak berkemungkinan.
Tak lama dari itu, Rayden dan Alula duduk di masing-masing kursinya, berikutnya Kaesang yang datang sembari fokus pada ponselnya.
Alula tersenyum, syukurlah keluar dari kamar Kaes tak memberikan bekas apa pun di leher mantunya.
Kaesang memang amatir, tapi untuk urusan cap merah, terlalu kampungan jika hanya leher sasarannya. Ada tempat lain yang lebih baik daripada itu.
Rayden mulai membuka obrolan sambutan dan terima kasih, lantas mempersilahkan para tamu undangan memulai makannya.
Tak ada percakapan di meja, terlebih jika ada Eyang Abimanyu dan Karlina. Mereka harus menyelesaikan ritual makan dahulu baru membuka kembali obrolan.
"Jet pribadi sudah siap, kalian boleh ikut mengawal liburan Kaesang dan Luna." Selesai makan Rayden menawarkan brosur liburan pada peserta meja bundarnya.
Diana menyengir, lihatlah satu putrinya ini sangat beruntung. Luna memiliki mertua yang royal, bahkan untuk bulan madu saja, mereka menyewa Airbus termahal di dunia.
Ingat, lagi-lagi horang kaya bebas...
Mengajak tidak hanya Luna dan Kaesang, melainkan seluruh anggota keluarga dan jajaran orang terdekatnya.
Terlebih, teman-teman sosialitanya juga bisa ikut serta dalam liburan gratisnya. Pamer, akan keberuntungannya mendapatkan mantu bangsawan.
"Jadi setelah ini, Luna harus tinggal di mana ya Tuan besan? Apa harus ikut mertua terus?" Diana menyeletuk ke arah Rayden.
Semua orang termasuk Luna dan Kaesang menatap wanita itu. "Ma...," tegur putrinya.
"Kaes punya banyak rumah tinggal, jangan khawatir Jeng," sahut ketus Alula. Rayden mengusap punggung istrinya, demi membuat wanita mungil itu lebih tenang.
Diana menyengir. "Syukurlah." Luna menggeleng ringan, ibunya ini tak cukup mampu menutupi sikap materialisme nya.
Kaesang sendiri tak pernah berpikir Diana berlebihan soal materi, toh dia mampu dalam hal apa pun. Terlebih, Luna lebih berharga dari semua hartanya.
Klik...
Ponsel Kaesang berdering kecil. Ada pesan masuk dari Brian yang segera dibacanya.
📥 "Thanks bantuan mu Kaes, aku berhutang budi padamu."
📤 "Santai saja."
📢 Huaaaaaaa maaf baru bisa up, kemarin ada mediasi sama editor tentang karya baru, makanya agak sedikit sibuk...