
Tak terasa pagi kembali menyingsingkan terangnya, Norwegia hanya memiliki 4 jam saja untuk menikmati malam.
Baru sekejap mata Lanie terpejam, mentari yang menerobos masuk ke dalam kamarnya membuat dahi mengernyit kuat.
"Pagi...," ucapan dari pemuda berparas tampan menyambut kerjapan sang netra.
Samar-samar bibir senyum itu menyemu, Brian duduk bersandar pada jendela yang terbuka membelakangi terpaan sinar.
Tampan, manis, menyenangkan, bahkan terlihat sangat segar kerupawanan calon ayah muda itu, seperti ada binar lain.
"Kamu masih di sini?" Lanie bangkit, menyapu mata hingga membulat sempurna kedua duanya. "Ngapain sih? Kurang kerjaan?"
Brian mendekat, menyodorkan nampan berisi sarapan paginya. Ada pancake, cokelat celup, macaron, semangkuk mayonaise, semangkuk saus, juga beberapa roti mini ala bintang lima.
"Aku di sini menjaga mu, menjaga calon Baby ku, bukankah itu juga kerjaan ku, Lanie?"
"Lanie?" Ia mengerut kening. "Aku lebih tua dari mu Brian, coba panggil aku lebih sopan lagi," protesnya.
"Sayang," gelak Brian.
Lanie kesal. Anehnya, tak ada kuasa baginya menolak. Dia bahkan hanya terdiam saat bibir itu dengan lancang menciumi seluruh wajahnya.
"Setelah perceraian mu, aku mau menikahi mu Lanie," ucap Brian. "Dan diam mu ini, aku anggap kamu setuju."
Lanie cukup dengan kediamannya beberapa detik, sebelum ia berseru. "Boleh aku jujur?"
"Hmm."
"Aku tidak berniat menikah lagi, apa lagi dengan pemuda yang sangat tampan seperti mu."
"Kamu trauma?" Setidaknya Brian mengakui, Mike bukan laki-laki yang digambarkan biasa biasa saja.
"Bukan soal itu," geleng Lanie. "Aku hanya ingin menikmati waktu kesendirian ku dengan berbisnis, mengurus anak, aku mau sibuk dengan kegiatan ku sendiri tanpa direpotkan dengan urusan suami," ujarnya.
Sedikit lirih suara yang biasanya garang itu, dari sini Brian mengklaim bahwa Lanie memang memiliki trauma berat dalam urusan percintaan.
"Aku lelah kalau harus membuang waktu untuk cemburu dan curiga," tambah Lanie.
"Akhiri hubungan ini, biar aku membesarkan Baby ku sendiri," imbuhnya lagi.
Brian memejamkan sekejap matanya, helaan napas berat terdengar darinya. "Bagaimana dengan ku?"
Lanie tersenyum. "Kamu masih muda, kamu bisa cari wanita lain yang lebih segalanya dari ku."
"Gimana kalau ternyata, aku tidak bisa hidup tanpa mu?"
Lanie terkekeh. "Mike juga berkata demikian pada ku," katanya.
Brian terdiam dengan kepercayaan diri penuh, dipastikan Lanie tahu Brian dan Mike berbeda sifat. Bicaranya barusan hanya karena trauma yang masih mendera.
"Kasih aku waktu untuk membuktikan bahwa aku akan selalu mencintaimu, bahkan setelah kita menikah," bujuk Brian.
"Impossible."
Brian menghela napas, tatapan tak percaya Lanie membuat dirinya setengah frustrasi.
"Berapa waktu yang akan kamu kasih, jika aku meminta mu menjadi istri ku?" tanyanya kemudian. "Lima tahun? Lima bulan? Atau mungkin selamanya?" cecarnya.
Lanie tergelak kecil. "Lima hari saja tidak mungkin aku berikan, Brian. Kau tahu kita tidak mungkin bersama," ungkapnya.
"Why?" Nadanya terdengar semakin frustrasi.
"Apa karena aku tampan? Masih muda? Atau karena aku putra dari Galih Pramana? Apa yang membuat mu sebegini kerasnya, bahkan setelah hamil anakku?"
"Ketiganya!"
"Aku mau kamu cari wanita lain." Ada sendu, ada pilu, ada banyak rasa kepahitan yang bisa Brian tangkap di mata wanitanya.
"Kau boleh mengakui anakmu, tapi tidak dengan menikah," pintanya. Kedua tangan itu bersatu, memohon. "Please, pergi, Brian."
Setelah semuanya terjadi, tentu gelengan kepala yang Brian ajukan. "Kasih aku waktu, aku mau tetap di sini bersama mu."
Terdiam Lanie cukup lama, tatapan keduanya selalu bersinambung, meski nyatanya, pikir tak tersambung.
"Satu hari?"
"Dua hari?"
Hanya gelengan kepala Brian yang terus Lanie dapatkan. "Satu Minggu atau tidak sama sekali," pungkasnya.
Brian meraih kepala wanita itu untuk dilekatkan pada belahan dadanya, ia dekap dengan mata yang terpejam frustrasi.
Bukankah ini sangat tidak adil? Orang yang benar-benar mencintai hanya diberikan waktu satu Minggu bersama, sedang Mike yang menyakiti memiliki waktu bertahun-tahun lamanya.
"Sama seperti ku. Aku mau kamu berusaha melupakan hubungan kita, Brian. Masa depan mu masih panjang, aku hanya masa lalu mu, seperti embun yang harus rela kau lepas saat mentari mu terbit," pinta Lanie.
Brian tergagu, karena tak semudah itu baginya rela. Mungkin Lanie bak musim yang datang dan pergi, tapi ia tetap mencintai di setiap momennya.
"Satu Minggu temani aku, setelah itu pergi, gapai mimpi mu, Brian. Demi anak mu, jadi arsitek terkenal seperti yang pernah kamu bicarakan dulu ... Bagaimana pun, jadi ayah yang hebat."
Brian mengangguk meski tak sepenuhnya setuju. Setidaknya, bagian sukses menjadi arsitek, benar-benar ingin ia gapai.
Brian melerai pelukan, memotek setengah pancake untuk dicelupkan ke coklat, lalu menyuapkan pada kekasihnya.
"Sekarang makan," titahnya, dan itu tanpa pembahasan lebih lanjut.
Lanie menurut untuk sarapan. Lagi pun, mau apa lagi memangnya? Toh dia senang dengan kedekatan ini.
Tidur ditemani, dipeluk, bahkan didengar ketika ia mencurahkan isi hati sebelum memejamkan matanya.
Kemudian pagi hari, ia disambut senyum dan kecupan manis oleh bibir pemuda tampan itu. Lanie menikmatinya; bahkan jauh sebelum ia meminta cerai dari suaminya.
...----------------...
Tak seperti yang lain, Kaesang dan Luna belum sempat tertidur walau hanya sekedarnya. Percakapan mereka masih seputar Lanie dan Brian.
Luna cukup shock mendengar kabar yang Kaesang siarkan semalaman. Bagaimana bisa Lanie hamil dengan pria yang usianya dua belas tahun lebih muda.
Bukan berbulan madu, mereka justru asyik memikirkan bagaimana kelanjutan cerita Lanie dan Brian. Bukankah kisah Lanie terlalu plot twist?
"Dari semua cerita ku, mungkinkah mereka saling mencintai?" tanya Kaesang.
"Entah," sahut Luna. Wanita itu nyaman dalam dekapan hangat suaminya. "Yang pasti, kasihan Kak Lanie."
Kaesang mendengus. "Terus kapan aku dikasihani juga?" protesnya.
Luna mendongak menatapnya. "Apa anak sultan seperti mu masih perlu dikasihani?"
"Anak sultan juga butuh sentuhan, Sayang."
Luna tersenyum, rupanya itu yang Kaesang butuhkan. Yah, dia manggut-manggut sok tahu, setidaknya di pagi hari, sebelum tertidur, mereka bisa berolahraga terlebih dahulu.
Luna mendekati wajah tampan suaminya, melabuhkan kecupan lembut pada area kening, ujung hidung, dan bertahan di bibir.
Di tengah cumbu panas mereka, di sela pelucutan pakaian keduanya. Sebelah tangan Kaesang menggerayangi laci nakas.
Luna mengerut kening. Yah benar, seperti malam-malam kemarin, sebungkus pengaman Kaes siapkan sebelum peraduan.
"Kaes," protesnya. Sekejap ia akhiri pergulatan bibirnya, membidik tatapan heran pada wajah tak bersalah suaminya.
"Hmm?"
"Ngapain pake pengaman terus?"
Kaesang menyengir. "Aku masih kuliah, Sayang."
"What?" delik Laluna. Kaesang terkikik melihat ekspresinya, ia menganggap dirinya tidak melakukan hal yang salah.
"Jadi kamu enaknya ajah gitu?"
"Bukan gitu," jeda Kaesang. "S2 ku di Inggris, kalau kamu hamil, gimana bisa kita hidup berdua di sana?"
Luna terkekeh samar. "Kamu nggak mau repot ngurusin kehamilan ku, jadi ngapain kemarin ngajak nikah?"
"Biar halal." Kaesang melebar senyum. Tak peduli wanita di depannya menghela napas keberatan.
...📌 Test... sorry, puasa kok bawaannya pengen tidur Mulu yak... jadi telat up... Oya, Nopel ini akan tamat, setelah kisah Lanie pun terselesaikan, so jangan bosen yaaak......