Obsessi Tuan Billionaire

Obsessi Tuan Billionaire
Tercengang


Pilihannya hanya dua, menikah dengan Kaesang yang terbuang atau tidak sama sekali. Apa pun resiko ke depannya, Luna tetap kekeuh memilih Kaesang.


Begitu pula sebaliknya, Kaesang masih percaya diri bahwa ia mampu menjadi imam bagi Luna dengan atau pun tanpa harta orang tuanya.


Terdengarnya berita penghilangan nama Kaesang dari R-build group membuat Luna tersentuh.


Rupanya setegar itu Kaesang menerima keputusan Rayden Mas Rafael, hanya demi dirinya seorang.


Baru pernah ia melihat laki-laki yang rela berkorban terlalu banyak demi wanita yang dicintainya. Harta, tahta, keduanya diabaikan hanya demi seorang Laluna.


"Ini penghinaan, Rafael!" Diaz menyela dengan sentakan suaranya, mata melototnya, juga kekecewaannya.


Kaesang, Luna, Alula dan Rayden beranjak menatap pria itu, sementara Valerie meraih lengan ayahnya. "Kita dipermalukan Pa!"


Diaz berdecih. "Putra mu benar-benar seenaknya sendiri, kemarin dia mau dijodohkan dengan Valey, lalu hari ini, di depan mata kepala ku, dia meminta izin menikahi wanita lain," berangnya.


"Aku tidak mau tahu, aku menuntut ganti rugi!" tambahnya semakin nyaring.


Rayden terkekeh kecil. "Kau rugi apa? Katakan saja, semuanya akan ku ganti lima kali lipat jika ada kerugian yang kau alami," entengnya.


Mata Diaz mengosong, jika dipikir lagi, apa kerugian yang ia alami? "Kami rugi, ..."


Rayden menyeringai sombong, yah memang begitulah watak pria bangsawan itu. Sedari masih muda Rayden memang seangkuh itu.


Keras kepala, ambisius, semua yang dia ingin harus terlaksana, termasuk ketika ingin memiliki istrinya walau saat itu tanpa cinta.


"Semua acara yang digelar, dari pertunangan, transportasi, sampai di setiap pertemuan kita, semuanya disediakan dan dijamin R-build, bahkan aku juga menjamin kelulusan Valey sampai S3 nanti," lanjut Rayden.


"Tapi seharusnya Valey menikah dengan putra mu," potong Diaz kembali.


"Jika memang Valey mau, silahkan saja! Aku tidak pernah melarangnya," sambung Rayden.


Diaz menggeleng. "Tapi bukan berarti kau tetap memutuskan hubungan dengan putra mu," sanggahnya.


"Tidak usah berdebat lagi Diaz. Kita batalkan saja pertunangan mereka, aku sendiri resmi membatalkannya," cetus Rayden.


Diaz dan Valerie mendelik, rupanya Rayden sendiri yang menginginkan pembatalan ini.


Alula mendekati Valerie. "Kembalikan cincin mu Valey," katanya menagih. "Itu juga dari kami, bukan dari Kaesang," tambahnya.


"Tapi Tante, ..."


"Kau boleh memakainya kalau kau menikah dengan Kaesang, tapi jika tidak, ini Tante ambil saja." Alula sendiri yang melepas cincin dari tangan lentik gadis itu.


"Pa," Valerie menatap hiba ayahnya, kenapa sepertinya Alula dan Rayden sudah tidak lagi membelanya?


Berwajah murka, Diaz menarik lengan putrinya. "Kita pulang saja, masih banyak yang mau melamar mu di luar sana!" ketusnya.


Valerie menggeleng. "Tapi nggak mungkin seganteng Kaes," rengeknya.


"Sudah!" Diaz bersikeras untuk pergi, dengan membawa serta putrinya keluar.


Sebagai pengusaha kain batik, Diaz masih bisa mencari calon lain yang lebih baik dari Kaesang.


Sepeninggalnya Diaz dan Valerie, Kaesang tersenyum tipis saat menatap wajah datar ayahnya. Pemuda tampan itu mendekat, berdiri berhadapan dengan Rayden dan Alula.


"Kaes anggap kalian merestui hubungan kami," ujarnya.


Rayden dan Alula terdiam, mereka tetap sama datarnya. Bahkan ketika Luna memaksa untuk mencium tangan mereka pun, keduanya bisu.


Seolah mendapat lampu hijau dari Rayden dan Alula, Kaesang beserta Luna mengukuh- kan langkah untuk pergi dari rumah utama.


Rumah milik Diana lah yang akan mereka datangi berikutnya. Dengan taksi, Luna dan Kaesang berlalu.


...----------------...


Tiba di rumah minimalis bercat monochrome, keduanya bergandengan tangan memasuki ruang tamu.


Diana yang baru saja akan keluar arisan, wanita paruh baya bergaun merah itu membulat mata penuh ketika melihat kembali kekasih Luna.


Tidak kapok juga rupanya, Kaesang masih berani menunjukkan batang hidung setelah banyaknya caci maki yang Diana lontarkan.


Luna menghela napas berat. Mereka masih harus kembali berhadapan dengan orang tua yang menentang keras hubungannya.


Bahkan, Diana lebih nyalang saat menatap rendah Kaesang. Pengangguran yang hanya modal Twitter saja, begitu kira-kira hardikan keras Diana.


"Kamu lagi, kamu lagi, emang nggak punya malu kamu yah!" ketus sarkas Diana.


Kaesang sedikit membusung dadanya, mencoba bersikap lebih tenang, ayah dan ibunya saja mampu terdiam apa lagi hanya seorang Diana.


"Saya ke sini mau melamar putri Tante, malam ini juga, kami mau menikah," ujarnya tiba-tiba.


Bak disambar petir Diana tercengang. "Punya apa kamu mau menikahi Luna?" cacinya.


"Ma, kami saling mencintai," sela Luna. "Restu atau tidaknya Mama, kami berdua tetap akan menikah malam ini!"


Diana menatap Luna. "Gila kamu Luna? Lalu setelah menikah, kamu yang akan membiayai hidup kalian begitu?" tuduhnya.


Luna menghela, nyatanya pandangan orang tua selalu sama yaitu soal kesenjangan hidup.


Di usia muda, mereka tak peduli akan hal itu, asal bisa bersatu dengan yang dicinta keduanya cukup bahagia.


Pikiran pendek biasa dilakukan oleh banyak kalangan muda mudi, terutama yang sedang dilanda cinta mati.


"Kau pikir menikah tidak butuh biaya, begitu? Tanpa bawa apa pun, pacar mu melamar! Mau dikata apa Mama nanti?" histeris Diana.


"Tuan muda," derap langkah dari berbagai jenis sepatu besar terdengar. Sontak Kaesang menoleh, begitu pula dengan Luna dan Diana.


"Kau," tegur Kaesang. Rupanya Amas, Derry, Virza dan puluhan orang datang menenteng banyak bag dan kotak luxury mewah elegan.



Bukan hanya Kaesang, Luna dan Diana pun tergagu melihat orang-orang itu. Dari mana datangnya mereka? Siapa yang mengirim?


"Barang-barang ini mau diletakkan di mana Bos tuan muda?" tanya Amas. Cengiran gigi putih pemuda itu lumayan membuat tanda tanya besar di kepala Diana.


"Tuan muda?"


"Kau!" Kaesang mencekal lengan Amas, tatapan matanya begitu tajam. "Jangan becanda, mau apa kalian datang?"


"Semua belanjaan ini dari Nyonya besar," timpal Virza, Derry dan Amas juga mengangguk meyakinkan sang Tuan.


"Kau yakin asli hah?" Kaesang berbisik mendelik, jangan sampai kotak-kotak itu sengaja dikirim kosong hanya untuk menggagalkan acara lamaran sederhananya.


"Yakin lah, kami sendiri yang bantu Nyonya belanja semua ini," jawab Amas.


"Isi kotak ini sertifikat berlian, sertifikat tanah, sertifikat mobil dan kartu-kartu hitam jaminan R-build," jelas Derry.


"Jangan ngaco kalian!" Kaesang kembali menegur dengan bisikan menekan.


Amas meringis mendapati cengkraman kuat di tangannya. "Tidak sama sekali. Aku serius Bos, semua ini memang sudah disiapkan dari kemarin-kemarin," terangnya.


"Kaes." Setelah cukup lama kebingungan, Luna menegur kekasihnya. "Apa ini?" tanyanya.


"Ini," Kaesang sendiri tak tahu kenapa dan bagaimana bisa orang-orang ayahnya membawa banyak barang mewah ke rumah calon mertua galaknya.


"Yang ini diletakkan di mana Tuan muda?"


Satu rombongan lagi membawa kotak-kotak yang lebih istimewa. Terakhir, gaun dan kebaya cantik dipaparkan oleh beberapa pelayan.


Kaesang, Luna terlebih Diana terperangah melihat serangan orang-orang yang entah dari mana datangnya.


Ilustrasi



...Hey... maaf, Pasha lagi sombong, nggak bales komen wkwk, biasa real life lagi menyita waktu kooh, stay tune everyday kesayangan ❤️...


...Semoga hari ini bisa up lagi yaaaa,...