
Lanie baru tiba di rumah ibunya, sedari tadi ia mendengus berkali-kali mengingat betapa kerasnya pemuda tampan yang tiga jam lalu menyekapnya di dalam mobilnya sendiri.
Masih jelas ia ingat bagaimana rasanya saat bibir plum penuhnya dimainkan indera perasa lelaki itu, terlebih ketika kulit-kulit mulusnya diraba dan diremas dengan gairah yang menyertainya.
Parahnya lagi, dia pasrah saat Brian membuat dirinya melayang di dalam mobilnya. Tuhan, ia mengaku, alangkah rapuhnya dia, selalu saja menyerah pada setiap sentuhan nikmat Brian-nya.
Ada rasa rindu, tapi tak sedikit juga rasa kesal dan jengkel sekaligus takut. Lanie takut jika sampai dirinya tak kuat lagi menepis segala rasa yang ia miliki teruntuk Brian Anggara.
Sambil menghempas tubuhnya di sofa, ia melempar serampangan tote bag miliknya ke sembarang arah. "Clay... Monic..." ia terpaku sejenak.
Tak mendengar sahutan, Lanie mengangkat kepala dengan pandangan yang mengitari seisi ruangan, biasanya di jam begini Clay selalu menyambut kedatangannya, bermanja, meminta perhatian.
Lanie terkekeh sekilas, jika dipikir lagi Clay sama persis seperti Brian. "Clay... Sayang..."
Lama tak jua mendapat jawaban, Lanie bangkit dari posisi nyamannya. Didatanginya dapur, lalu tempat bermain, kemudian kamar, bahkan di halaman belakang pun tak ada yang menunjukkan eksistensi Clay dan Baby sitter-nya.
"Ke mana mereka?"
Lanie urung untuk melangkah keluar setelah mendengar dering dari telepon kabel miliknya, dengan langkah segera ia mengalihkan ayunan kakinya menuju nakas yang dionggoki gawai putihnya.
π "Buk..."
Suara Monic terdengar cemas diseberang sana, sontak Lanie berkerut kening sedikit dalam. "Monic ... Kamu, di mana?"
π "Monic lagi sama Den Clay, Monic di bawa sama orang yang ngaku-ngaku ayahnya Clay!"
"Apa?" Sebegitu terlonjak Lanie hingga melotot dan mencengkeram erat genggaman teleponnya, sesak. "Kalian di mana?"
π "Monic nggak tahu, Buk. Tapi, Monic takut Den Clay kenapa-kenapa." Belum selesai kata cemas Monic, suara dahaman pria terdengar.
Lanie mengenal betul suara berat yang merebak dari seberang sana. "Jangan macam-macam kamu Brian!" ancamnya penuh penekanan.
π "Apa ada ayah yang tega macam-macam dengan darah dagingnya sendiri?"
"Bawa pulang Clay padaku!" Tak ada yang lebih Lanie takuti selain hilangnya Clay dari hidupnya. Meluap tak tertahankan genangan air di bingkai matanya.
π "Clay berhak tahu siapa ayahnya bukan? Dia akan aku ajak ke rumah utama keluarga ku."
"Jangan konyol!" Lanie terus berteriak. Tubuhnya bergetar, ia mencelos, seakan sulit mengambil napas di udara. "Kamu tidak berhak atas apa pun yang aku miliki, Brian."
π "Mulai sekarang, Clay akan tinggal bersama ku. Kau boleh menyusulnya, menjadi istri ku."
"Bercanda mu kelewatan..." Lanie mendelik setelah mendengar suara tut dari gagang teleponnya. "Brian!"
"Oh Tuhan!" Lanie membanting gawai putihnya ke lantai.
Disertai air mata yang mengucur deras, ia berlari keluar menyatroni mobilnya. Segera Lanie masuk dan melajukan kendaraannya dengan getaran tubuh yang masih kentara.
Di dunia ini, dia rela kehilangan siapa pun, terkecuali Clay. Setelah menghilang dan memiliki tunangan, seenaknya saja Brian mengambil alih Clay darinya.
Sembari menyetir, Lanie menepuk dadanya yang menyesak, mengedip pandangan yang acap kali melamur oleh air mata.
Apa pun akan ia lakukan demi bisa mengambil alih Clay dari siapapun termasuk Brian Anggara, sebab jika tidak, bisa dipastikan akan segera runtuh dunianya.
...---------Ο---------...
"Brian..."
Pria tegap tinggi yang dikenal dengan sebutan Pak Galih Pramana, menegur putranya yang kini datang mengendong semungil balita.
Ada Shinta ibunya, tak terkecuali Clara tunangannya. Gadis itu tampak kesal, setelah dengan begitu saja Brian pergi meninggalkan dirinya.
"Dari mana saja kamu Nak? Clara bilang, kamu ninggalin dia di salon sendiri, bayar salon sendiri, pulang sendiri," tegur ibunya.
Brian melirik sinis ke arah Clara yang selalu mengadu di setiap kondisi apa pun. Clara tahu Brian kesal padanya, tapi jika tidak di adukan, Brian akan semakin semena-mena.
"Kamu bukan anak kecil yang pergi begitu saja saat bosan kan Bri? Setidaknya bicara, aku mau pulang, bisa kan?" Clara kecewa.
"Terus, ini anak siapa?" Shinta mengalihkan fokusnya pada si tampan mungil yang terdiam menurut dalam dekapan putranya.
"Ini Clay, dia cucu pertama Mami Papi."
Shinta menatap suaminya yang juga menatapnya penuh tanya. Cucu yang mana, anak siapa, karena setahunya tak ada saudara yang memiliki balita seumuran anak itu.
"Brian harus jujur kan, Pi?"
Mendengar itu, Galih mengerut kening lebih kuat dari sebelumnya. Anak yang dia hadapi ini, anak yang selalu membuatnya murka.
Galih dan Shinta sedikit merinding membayangkan hal terburuk yang akan Brian berikan pada mereka. Dan mungkin itu yang dinamakan firasat.
"Jujur apa sih Bri? Aku lagi ngomong serius sama kamu, kamu malah ngurusin anak yang nggak tahu punya siapa ini!" Clara menyela ketus.
"Itu makanya kau harus tahu Clara, sebelum kita menikah, kau harus tahu, anak yang kau bilang tidak tahu punya siapa ini, dia darah daging ku, dia pewaris pertama kekayaan ku."
"Brian!" Galih mendelik. "Jangan keterlaluan, jangan lupa batasan mu!" sentaknya.
Aliran darah seketika berdesir, dia tahu putranya tak pernah bermain-main, jika Brian berani bersuara itu berarti kebenaran yang ada. Tapi, tidak mudah menerimanya.
Clara terkekeh. "Hal seperti ini, bukan bahan lawakan Brian!"
"Aku serius, Clara..." Brian menyela. "Clay darah daging ku, dua tahun yang lalu, aku sudah pernah menjalani hubungan yang lebih serius daripada bersama mu. Aku sempat mau menikahinya, dengan atau tanpa restu Papi Mami."
"Kamu gila Brian!" Clara melotot.
"Bahkan lebih gilanya lagi, aku masih sangat mencintai ibu dari putraku, Clara."
Tamparan keras mengenai pipi kiri Brian yang kian memerah. "Kamu tahu, kamu menyakiti ku," tukas Clara. Sekejap ruangan menjadi hening.
"Aku sudah mempercayai mu, aku acuhkan semua rumor yang mengatakan kau simpanan Tante Tante, dan sekarang, kau benar-benar mengecewakan ku, Brian!" histerisnya.
Tahu akan nyata itu, Galih mengepal kuat tangannya. Jika tidak ada bayi mungil yang menghalangi putranya, mungkin sudah dia layangkan bogem-nya saat ini juga.
Shinta mengusap lembut pipi putranya, berusaha menjadi penengah. "Bilang ini cuma candaan Brian. Kamu nggak serius kan? Kamu pasti..."
"Kenyataannya Clay memang darah daging Brian, Mam, Clay cucu Mami!" sela Brian.
Pengakuan itu terdapat kejujuran, dan Shinta paling mengerti putranya, Brian tidak akan menangis dan tertawa secara bersamaan jika tidak dalam keadaan yang membuatnya gila.
"Clay..." Lanie berlari merebut Clay, lalu sesaat kemudian dia melayangkan tamparan pada pipi Brian. Tak peduli di mana dia berpijak, Lanie menatap nyalang pemuda itu.
"Kamu tidak berhak mengakuinya, Brian! Sebelum keluargamu menghina putraku, mencaci makiku, perlu kamu sadar diri dulu, kamu bukan siapa-siapa bagi Clay ku!"
Ada yang ingin meledak saat tiba-tiba wanita cantik itu menampar putranya. Sebagai pria elit yang bergaul di kelab malam elit, ia tahu masa lalu kelam dari Lanie tentu saja.
Bukan perkara itu, masalahnya sekarang, bagiamana bisa, putranya berhubungan dengan wanita yang tidak pantas. Bahkan sampai menghasilkan satu orang putra yang sangat tampan.
Sesuai request nih... di up...