Menjebak Cinta Gus Tampan

Menjebak Cinta Gus Tampan
Keramas siang-siang


"Mandi? Om habis ngapain? Om berkeringat?" Mati Kahfa, kali ini ia benar-benar di sekak mati oleh seorang bocah lima tahun, tidak mungkin ia mengatakan bahwa ia habis mengerjai Mamanya kan?


"Emmm,,, Papa harus mandi dulu Zayn shalatnya dengan Kakek dan Om Ghaza dulu ya." Kahfa meminta dengan isyarat matanya agar ibunya mau membantu menjelaskan pada Zayn jika dirinya memang harus mandi.


Kimmy yang mengerti langsung mengangguk pelan, melihat tatapan putranya yang penuh maksud.


"Zayn sayang, Papa Kahfa perlu mandi tubuhnya bau dan berkeringat kau lihat bukan?" Kimmy meminta persetujuan cucunya, Zayn yang polos langsung mengangguk.


"Ya sudah Zayn pergi dengan kakek saja." Zayn berlari menghampiri Kakeknya yang sudah siap untuk pergi ke mesjid.


Ridwan menatap Kahfa dari ujung kakinya hingga ke atas dan menggeleng pelan. "Gercep sekali putraku." Dan segera berlalu menuntun Zayn.


Membuat Kahfa sangat malu dan menunduk.


"Baru kali ini Ibu lihat kau malu-malu." Ceplos Ibu Kimmy.


"Tapi sukseskan? Barusan sampai cetak gol kan?"


Kahfa mengangguk mengiyakan dengan semburat malu-malu yang tak bisa ia sembunyikan.


"Sana mandi dulu, shalat dzuhur dulu baru lanjut." Kimmy cekikikan, puas hati ia bisa meledek putranya.


"Iya Bu, Kahfa mengerti." Kahfa langsung masuk kembali dan kini melihat Lexi dengan seutas handuk yang membelit tubuh putihnya, dan berlalu memasuki kamar mandi


Kahfa hendak membereskan tempat tidur yang tadi sempat acak-acakan karna ulah Kahfa sendiri.


Beberapa waktu berlalu setelah Kahfa berhasil memberedkan semuanya, ia memunggu Lexi do depan pintu. Dan saat Lexi kembali dengan rambut basah yang di gulung handuk berwarna putih di kepala. Juga dengan kimono mandi berwarna senada.


Kahfa lanhsung memeluk tubuh mungil istrinya dari belakang juga mengecupi pipinya, "Terimakasih, tadi sangat indah. Perlu kau tau itu hal yang pertama untukku." Kahfa membemamkan wajahnya di ceruk leher istrinya.


"Aku sudah wudhu, kau malah menyentuhku. Ish menyebalkan." Lexi melepas pelukan Kahfa dan segera berlalu ke kamar mandi untuk mengambil wudhu kembali. Meninggalkan Kahfa dengan perasaan kesal karna wanita itu tak menanggapi ucapan terimakasihnya.


Lexi mengambil wudhu dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim untuk melaksanakan shalat, begitu juga dengan Kahfa, pria itu shalat setelah sebelumnya Lexi sudah shalat lebih dulu.


Lexi terlihat tak sabar menunggu Kahfa selesai berdo'a dan berdzikir, ia ingin keluar dan bebas dari kamar itu tapi pintunya lebih dulu di kunci dan di semnunyikan Kahfa sehingga Lexi terperangkap dengan suaminya sudah lumayan lama.


"Kahfa dimana kuncinya?" Lexi tak tahan ia sudah lumayan pegal berdiri sejak tadi di sana.


Kahfa mengulum senyum akhirnya Lexi mengajaknya bicara lebih dulu. Kahfa uang sebenarnya sudah menyelesaikan doanya sedari tadi segera melipat sejadah miliknya.


"Aku sebenarnya marah padamu Lexi, mengapa kau mengenalkan aku pada Zayn sebagai Om nya bukan Papanya." Kahfa turut duduk di tepi ranjang menatap Lexi dengan penuh kelembutan.


"Aku tak pandai berbohong! Kau memang Omnya bukan Papanya. Lagi pula Zayn itu sangat cerdas, yang ia ketahui setiap anak hanya memiliki satu ayah dan satu ibu."


"Kau bisa mengatakan padanya jika kau sudah menikah dengankubatas permintaan Papanya." ujar Kahfa, meski bicaranya pelan tapi ia bersungguh-sungguh.


"Macam-macam? Memangnya kita melakukan apa selain membuat adik untuk Zayn." kahfa mengulum senyumnya.


"Apa waktu 5 tahun dapat merubahmu menjadi pria tua yang mesum dan cabul." cibir Lexi.


Kahfa terkekeh renyah. "Aku masih belum move on dari rasanya."


"Hentikan Kahfa. Jangan sampai ada otang lain yang mendengar kaliman anehmu." Lexi mendelik.


"Ya Allah jangan sampai Ghaza tau aku melepas keperjakaan di usia 33 tahun atau aku akan habis jadi bahan candaannya." Kahfa menutup wajahnya malu-malu.


"Mama ..."


Suara panggilan dan ketukan pintu berasal dari luar kamar. Dan mereka yakin itu adalah Zayn, dan yang mengetuk pintu sudah pasti neneknya.


Lexi segera mencari di mana letak kerudungnya tadi dan segera mengenakannya dengan rambut yang masih setengah kering.


Kahfa membuka pintu dan mempersilahkan Zayn dan Ibunya untuk masuk.


"Ma, mari makan siang bersama." ajak Zayn.


"Ayo ..."


Lexi sudah berdiri. Tapi Zayn malah menatap ibunya dengan dahi berkerut dalam.


Ia melihat kerudung ibunya yang sedikit lembab. Memang Lexi tidak mengeringkan rambutnya lebih dulu, sehingga terlihat masih basah meskipun tertutup hijab.


"Mama keramas siang-siang?"


Hah ..


Lexi, Kahfa juga Kimmy tersentak akan pertanyaan random Zayn, entah pertanyaan atau pernyataan mereka tak tau pasti.


"Iya, sayang Mama gerah."


"Gerah, di luar tengah turun hujan Ma? Tadi saja Zayn payungan sama kakek waktu shslat kemesjid." ujar Zay polos membuat Lexi malu karna kehadiran ibu mertuanya, sehingga ia kesulitan mencari alasan.


Apakan semua anak kepo dan rasa penasaran sangat tinggi seperti Zayn, dan menuntut penjelasan yang masuk akal?


Atau hanya Zayn saja yang terlalu banyak bertanya.


"Mama kenapa keramas siang-siang?"


Zayn masih bertanya seakan jawaban gerah tak memuaskan untuknya.