Menjebak Cinta Gus Tampan

Menjebak Cinta Gus Tampan
Memabukan


"Ayo Lexi jangan khawatir. Kau istrinya! Kahfi milikmu! Sampai kapanmu selama masih terikat pernikahan kau berhak atas dirinya." Lexi mensugesti dirinya sendiri agar ia tidak terlalu berburuk sangka akan masa depan yang belum tentu terjadi.


Lexi akan melakukan apapun agar Kahfinya tetap menjadi miliknya.


Pada akhirnya Lexi terlelap karna terlalu banyak berpikir sembari memegangi perutnya yang tak nyaman.


Kahfa yang pertama sampai di rumah, dia membawa berbagai jenis kue, juga menghubungi Kayla adiknya untuk datang kerumahnya. Kahfa membeli kue kesukaan adiknya itu, tapi sayang Kayla tengah perhi jalan-jalan dengan suaminya.


"Ibu mana sepupu bunglonku?"


"Sepupu bunglon?" Kimmy mengerutkan kening, bingung akan pertanyaan putra sulungnya.


"Ya, maksudku Lexi Bu. Dia persis seperti bunglon yang kerap kali berubah-ubah."


"Kau itu nakal sekali!" Kimmy turut tertawa dengan guyonan putranya, memang benar apa yang di katakan Kahfa jika Lexi selalu berubah-ubah saat berbicara dengan orang lain.


"Dimana Lexi Bu? Aku membawa banyak kue." Kahfa mengedarkan pandangan mencari keberadaan adik iparnya.


"Lexi tengah datang bulan, jadi ia sedikit demam, tadi juga Ibu sudah memberinya obat."


"Aaaaaa ...."


Terdengar teriakan dari kamar atas sampai Kimmy berlari meninggalkan Kahfa yang hanya bisa menatap undakan tangga fi hadapannya.


Ia juga khawatir apa yang terjadi pada sepupunya mengapa sampai berteriak dengan sangat kencang.


Setelah beberapa waktu menunggu di bawah tangnya Ibu dan adik iparnya turun dengan Lexi yang masih berlinang air mata.


"Ada apa Bu, mengapa ribut sekali."


"Bang wajahku jadi jelek. Bagai mana jika adikmu berpaling dariku?" Lexi menunjukan satu jerawat besar di pipi janannya yang putih. jerawat berwarna merah itu sangat kontras dengan kulit putihnya.


Bukan jerawat yang Kahfa lihat, melainkan wajah cantik yang di miliki gadis itu. Dalam hati Kahfa tertawa, Zahra sepertinya tengah melucu wanita itu ingin bersaing dengan Lexi, perbandingannya sangat jauh. Meski Zahra cantik tapi menurutnya jauh jika di bandingkan dengan Lexi.


Jika Kahfi sampai belibet hubungan dengan Zahra, Kahfa perlu memeriksakan Kahfi ke dokter mata.


"Sayang, jerawat ini karna perubahan hormon kau sedang datang bulan. Nanti juga sembuh sendiri." ucap Kimmy menenangkan.


Oh rupanya Lexi tengah datang bulan, pantas saja subuh tadi rambut gadis itu tak basah. Ngomong-ngomong Kahfa belum bertemu Kahfi dari tadi, kemana adiknya pergi? Jangan sampai Kahfi bertemu dengan Zahra, bagai manapun caranya.


"Tapi biasanya Lexi akan tetap cantik Bu. Meskipun datang bulan, tapi kali ini mengapa jerawat ini tidak sopan hinggap di pipinya."


"Cengeng sekali kau! Baru satu jerawat."


"Aku tak ingin Kahfiku berpaling karna jerawat ini."


Hahahaha


Pecah sudah tawa Kahfa, segitu bucinnya Lexi pada adiknya. Ya ampun remaja satu ini benar-benar.


"Abang, jangan tertawa!"


"Kau lucu Lexi. Lihat lah Bu, kupikir gadis teraneh adalah adikku ternyata Lexi malah lebih aneh." Kahfa masih terbahak.


"Aku rasa Kahfi cinta pertamamu." Jahfa menebak tepat sasaran.


"Wah, ternyata kau peka sekali Bang." Sambut Lexi ia berjalan mengikuti ibu mertuanya yang mendorong kursi roda Kahfa.


"Memangnya kau tak pernah berpacaran?" tanya Kahfa penasaran.


"Daddyku sangat kejam, kemana-mana aku di ikuti bodyguard jadi semua teman priaku menjauh bang." Lexi duduk dan membuka bingkisan yang di sodorkan oleh ibu mertuanya.


"Wah chese cake. Aku menyukainya."


"Makanlah sayang."


"Sebentar Bu. Aku akan membuat teh dulu."


"Memangnya Kau bisa membuat teh, jangan sampai teh buatanmu berasa asin." Ledek Kahfa. Entah mengapa Kahfa senang sekali meledek adik iparnya, rasa sayangnya sama terhadap Kayla meskipun ia serong kali mendebat gadis itu.


"Aku tidak bodoh Bang, aku bisa membedakan gula dan garam. Lagian aku heran kenapa di sinetron seseorang kerap kali tertukar antara garam dan gula padahal mereka bisa mencicipinya terlebih dahulu." Lexi menyuapkan satu potong penuh potongan kue hingga mulutnya terasa penuh, dan menggembung lucu.


"Itu sudah di atur sutradara sayang." Pada akhirnya Kimmy lah yang membuat minum, bukan ia tak percaya pada keponakannya, tapi Kimmy ingin membuatkan keponakannya teh rempah.


Lagi pula menantunya itu tengah datang bulan, sehingga ia tak tega membuat Lexi semakin lelah.


Saat Lexi mulai menyesap teh bikinan ibu mertuanya tiba-tiba saja air matanya menganak sungai di kedua matanya.


Lexi merindukan Daddynya.


"Lexi kau kenapa?"


Kimmy di buat panik saat keponakan sekaligus menantunya menangis.


"Minumannya persis seperti buatan Daddy, aku jadi merindukannya." Lexi mendekat dan memeluk tubuh Kimmy. hari ini banyak sekali hal yang membuatnya meneteskan air mata. Entah mengapa ia merasa lebih emosional hari ini.


"Ya Ibu mendapat resep minuman ini juga dari Daddymu." Semenjak kemarin Kimmy meminta Lexi untuk memanggilnya ibu.


"Ayang kau kenapa?" Kahfi setengah berlari saat mendapati Lexi menangis.


"Abang jahatin istriku ya?" Kahfi menuduk Kahfa dengan tiba-tiba.


"Jaga bicaramu! Ngomong jangan seenak udelmu." Kahfa mencebik ia juga minum teh di gelasnya. Kahfa menatap pengantin baru itu, ia tengah menimang-nimang haruskan ia mengatakan jika Zahra telah kembali?


Tidak, tidak ia tak ingin hubungan adik dan sepupunya renggang, untuk itu ia tidak akan mengatakan apapun pada adiknya.


Lexi berlari menuju kamarnya, dengan menutup wajahnya yang di tumbuhi satu jerawat besar. Sungguh ia tak siap menampilkan jerawat itu pada suaminya.


Kahfipun turut menyusul istrinya.


Kahfa bisa menebak jika Lexi akan bertingkah aneh lagi.


"Bu, mau taruhan gak? Pasti menantu ibu bertingkah random lagi."


"Iya ibu juga berpikir begitu."


"Astagfirullah, kuenya di bawa oleh Lexi Bu. Benar-benar tak mau rugi." Kahfa bingung, mau heran tapi ini Lexi tindakannya sangat di luar nalar.


"Ih, ko Ayang pakai masker sih. Kan Mas susah silaturahminya." Kahfi mendekat ke arah Lexi.


Apa katanya? Silaturahmi, silaturahmi seperti apa yang di maksud suaminya. Lexi menyembunyikan wajahnya di balik masker, untung saja Lexi masih memiliki koleksi masker bekas pandemi covid waktu itu. Sebenarnya akan lebih estetik jika Lexi pakai Cadar tapi ia tidak memilikinya.


"Si-silaturahmi?"


"Iya lah Abang belum Kiss-kiss Ayang dari tadi." merah sudah seluruh wajah Lexi termasuk yang di lindungi masker.


Malu dan juga ingin bercampur.


"Apa Ayang sakit? Apa kita perlu ke dokter?" Kahfi mendekat sedang Lexi malah mundur menjauh. Kahfi selalu peka dengan setiap perubahan orang di sekitarnya.


"Ayang kenapa? Apa tubuh Mas Bau?" Kahfi mencium ketiaknya sendiri, meski sudah seharian beraktifitas tapi ia masih wangi.


"Bukan Mas, aku habya tidak percaya diri, kali ini aku tengah jelek." Papar Lexi.


"Jelek bagai mana Ay?" Kahfi terus mdndekat dan sekali tarikan masker itu terlepas menampilkan satu jerawat besar yang memerah.


"Mas."


Hehehehe


"Kau tak percaya diri hanya karna satu jerawat?"


Lexi mengguk.


"Justru kau terlihat lebih manusiawi di saat ada jerawat seperti ini."


"Manusiawi? Memangnya selama ini aku terlihat seperti apa,?"


Hehehe


Lagi-lagi Kahfi tertawa horse.


"Kau sangat cantik, aku yakin bidadari saja akan menunduk karna kecantikanmu."


Cup.


Kahfi tak tahan akan bibir ranum Lexi yang menggodanya sedari tadi.


"Mas."


"Rasanya masih sama memabukan."


Duh jika Mas Kahfi tau Zahra kembali akankan pria itu memuji dan menyanjungnya lagi? Batin Lexi bertanya.