
Ghaza masih berada di rumah ibu Ayudia, ia masih menghawatirkan ibunya, setidaknya mungkin nanti sore mereka akan pulang.
Ghaza melakukan sesuatu terlebih dulu Ghaza memastikan ibunya telah makan dan meminum obatnya.
"Bu, jika ibu mencari Ghaza berada taman belakang ya Bu. Em jangan mencari Ghaza. Jika ibu membutuhkan sesuatu telpon Ghaza saja."
"Iya Nak, ibu mengerti! semoga harimu menyenangkan."
Ghaza mengajak Kayla untuk memgadakan piknik di taman belakang rumah ibunya. Suasana yang asri dengan berbagai macam buah-buahan yang di tanam di taman seluas dua hektar itu begitu memanjakan mata, juga dengan bunga-bunga yang bermekasan membuat Kayla berasa di negri dongeng.
"Apa ibu Ayu yang menanam bunga-bunganya?" Kayla berlari dan memetik salah satu bunga mawar dan ia hirup dalam aroma.
"Mana ada. Tukang kebun yang menanamnya Kay."
Sepertinya Ghaza memang sudah mempersiapkan semuanya. Tikar dengan berbagai makan dan minuman sudah tertata dengan rapi. Entah siapa yang menyiapkannya, ada sepeda yang bisa di tunghangi berdua. Ada tenda juga rupanya, seperti mau menginap saja.
Rumput-rumput yang menghijau membuat Kayla tergelitik untuk membuka alas kakinya dan mencoba berjalan di hamparan rumput yang sepertinya memang sengaja di budi dayakan. Empuk serta geli terasa di telapak kakinya. Alas kakinya ia teng-teng menggunakan satu tangannya.
"Wah, seperti orang tengah piknik sekalian berkencan saja." Kayla cekikikan.
"Hari ini kita akan pacaran. Kay belum pernah pacaran kan?" tanya Ghaza, yang menurut Kayla ini adalah pertanyaan bodoh seumur hidupnya, bagai mana Kayla bisa pacaran? sedangkan baru remaja saja sudah di nikahi Gus tampan.
"Kay rasa Kay tak perlu menjawabnya."
Ghaza tertawa terbahak di sana. Ia memang berniat menggoda istrinya.
"Lalu menurut Kay Abang pernah pacaran tidak?"
"Pacaran sih belum sepertinya, tapi gagal nikah si pernah. Hahaha." Kayla berlari saat Ghaza berlari untuk mengejarnya.
Cuaca hari ini cukup cerah tapi karna banyaknya pohon di sana, udara masih tetap sejuk juga sangat teduh.
Setelah keduanya lelah berlarian baik Ghaza maupun Kayla keduanya duduk di bawah pohon di dekat kolam buatan. Mereka menduduki tikar yang sudah di siapkan sebelumnya.
Makanan yang terhidang di lahap dengan rakus oleh Kayla.
"Sayang makannya pelan-pelan tak akan yang ada yang akan meminta makananmu." Ghaza menyeka saus yang terdapat di ujung bibirnya, menggunakan ujung ibu jarinya. Ghaza kemudian menyesap saus itu dengan mulutnya.
"Ih, Abang jorok banget." Kayla mengambil tissue dan mengeka bibirnya.
"Jorok apanya sih Kay, biasa juga Abang raut semua mulutmu." Ghaza merebahkan kepalanya di atas pangkuan istrinya.
"Abang, Kay belum selesai makan. Lagi pula ngapain ngeliatin Kay sampai segitunya. Kelilipan remahan makanan Kay tau rasa Abang." Kayla merasa tak nyaman Ghaza memperhatikannya dari atas pangkuannya sendiri.
"Subhanallah Abang lihat itu!" Kayla menunjuk satu pohon yang di hiasa banyak buah berwarna merah menyala. Dan itu adalah jambu air, yang siap panen. Berkali-kali Kayla menenggak ludahnya.
"Abang Kay pengen buah jambu itu." Kayla bersorak dengan bertepuk tangan.
"Ya sudah Kay diam di sini biar Abang yang ambilkan." Ghaza segera beranjak dari rebahannya.
Bagi Ghaza keinginan Kayla adalah perintah untuknya, sehingga Ghaza buru-buru menuruti ingin istrinya.
Ghaza meraih satu kantong plastik bekas roti mereka untuk ia gunakan sebagai tempat buah jambu nantinya.
"Urusan manjat memanjat Abang jagonya. Manjat Kay aja Abang mahir apa lagi hanya pohon jambu itu." Bisa-bisanya Ghaza selalu menghubungkan keahliannya di tempat tidur dengan kedidupan sehari-hari.
"Abang."
panggilan Kayla membuat Ghaza menoleh lagi kerarah istrinya.
"Jangan naik dulu pastikan keamanannya, baik dari serangga ataupun lebah. Kay tak ingin Abang terluka."
Seberapa Kayla menginginkan sesuatu tetap yang paling ia inginkan adalah keselamatan Ghaza. Ia tak akan mampu membiarkan Ghazanya terluka apa lagi karna keinginannya yang tak seberapa. Di cintai oleh Ghaza Kayla merasa sempurna. Semua itu karna Ghaza.
Ghaza tersenyum lembut. Kaylanya masih sama, wanitanya itu selalu mengutamakan keselamatannya. "Ya sayang. Katakan seberapa banyak yang kau inginkan?"
"Seberapa banyak yang Abang berikan aku akan menerimanya. Aku tidak ingin membebanimu."
"Tunggu sebentar."
Pohon jambu air itu tidak terlalu jauh dari tempat mereka bersantai tadi. Banyak pohon dari jenis buah lain yang tengah berbunga ada pula yang sudah menampakan buah-buah muda. Seperi kelengkeng dan rambutan.
Tapi ada satu pohon yang tidak Kayla mengerti itu pohon apa tapi yang jelas dari kejauhan saja Kayla dapat menyimpulkan jika daun-daun pohon itu sudah banyak di makan ulat, membuat Kayla ngeri dan merasa gatal sendiri.
Dan saat Kayla melihat lagi ke arah Ghaza, pria itu sudah berada di pohon jambu aer tengan memilih dan memilah buah untuk ia petik dan persembahkan untuk istrinya.
"Kau beruntung Kayla memiliki suami se baik dan sepengertian Ghaza." tiba-tiba Berlian ikut bergabung dan duduk di samping Kayla.
Kayla hanya bergeming, ia tak tau harus merespon Berlian seperti apa? Ipar tirinya datang tanpa di undang dan malah duduk di sampingnya tanpa ia persilahkan.
"Ya aku beruntung." ucap Kayla pada akhirnya.
"Aku tak yakin saja seorang pria sesempurna Ghaza masih bertahan dengan seorang wanita yang banyak memiliki kekurangan sepertimu. Kau yakin Ghaza tak bermain gila di belakangmu?" Berlian berniat mendorong Kayla pada keraguan menjerumuskan wanita muda itu dalam cemburu yang tak beralasan.
Benar juga apa yang di katakan berlian. Tapi sedikitpun jangan sampain Kayla memperlihatkan kelemahannya di hadapan siapapun terutama kandidat yang bisa menjadi duri dalam pernikahannya.
"Bukan urusanmu suamiku mau bersikaf seperti apa di belakangku. Lagi pula aku mempercayai apa yang ku rasa saja. Aku juga tidak meminta pendapatmu. Jadi menurutku Mbak tidak usah ikut campur rumah tanggaku. Jangan mengguruiku seakan Mbak adalah master. Bagaimana aku bisa mempercayai ucapan mbak, sedangkan Mbak Berlian sendiri masih gak laku di usia yang sudah matang." Biarkan saja Berlian sakit hati suruh siapa ia memulai duluan.
"Jaga bicaramu! Dasar wanita mandul!"
Bukannya sakit hati akan perkataan Berlian justru Kayla malah tersulut emosi.
"Heh, yang seharusnya jaga bicara itu Mbak. Mengatakan orang lain mandul, kawin mbak, kawin jangan ampe mbak kawin di umur setengah abad. Monopous dah Embak sama kaya orang mandul." Kayla beranjak ia memilih pergi untuk menghampiri suami.
"Sebentar lagi aku yang akan menikahi Ghaza kau akan otewe jadi janda muda Kayla." Berlian mengepalkam tangannya dengan erat. Pun ia berjalan ke arah pasangan di hadapannya.
"Wah, sepertinya seger tuh. Minta boleh gak?" tanya Berlian basa-basi.
"Gak, boleh. Ini milik istriku. Aku tak berniat beramal padamu. Kau ambillah sendiri!"